
Akhirnya malam panas mereka pun berakhir.
Dinda begitu lelah, dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Dia terus meringis kesakitan, sehingga membuat Jhon mendekatkan tubuhnya berbaring disisi Dinda.
Jhon tersenyum menatap raut wajah cantik Dinda.
"Apa yang kau rasa kan?! sangat sakit kah?!" tanya Jhon lembut kepada Dinda sembari memegang lembut pipi Dinda.
Dinda mengalihkan bola matanya, melihat raut wajah tampan Jhon yang sedang tersenyum sembari menganggukkan sedikit kepalanya.
Jhon mengubah posisinya, mengarahkan wajahnya pada lubang sempit milik Dinda.
Jhon melihat-lihatnya di sana, lalu ia menyunggingkan senyum manisnya, ia memainkan lidahnya dengan lincah di bagian sensitif milik Dinda.
Sehingga membuat tubuh Dinda menggeliat seperti ulat.
"oooouuuuhhh sssstttt Jhoooonnn hentikhaaaaannnn sssstttt"
Desah Dinda kembali terdengar sembari meremas erat bantal putih di kepalanya.
Setumpuk daging milik Jhon kembali mengeras, Jhon mengulang kembali aksinya.
Waduh, dua kali cuuuk... wkwkwk
Jhon memasukkan kembali miliknya ke lubang sempit milik Dinda.
"oooouuuuggghhhh"
Dinda menggigit erat bibir bawahnya sembari meremas bantal putih di kepala nya.
"aaahhh sakiiiit.." ucap Dinda pelan masih merasakan sakit di bagian sensitifnya.
"Tidak apa-apa, tahan sedikit sayang.. keluarkan punya mu." ucap Jhon lembut.
Kemudian Jhon mulai membuat hentakkan demi hentakan dengan perlahan sembari mengarahkan kedua telapak tangannya meremas-remas kedua gunung kembar milik Dinda.
Dinda mengejan merasakan hentakan dari Jhon, sembari mengerang keras.
"aachh aaachh aaaachhh"
Mendengar itu membuat Jhon semakin bergairah, hentakannya semakin menguat.
"Haah haah haah haah"
Oouuhhh Jhon seperti terbang ke awang-awang.
Dinda tak henti-hentinya mengerang kesakitan, sembari mendesah kuat.
"aaahh aaaahh aaaahh"
"Aku akan mengeluarkannya lagi." ucap Jhon merasakan cairan miliknya akan segera keluar, sembari terus menghentakkan miliknya.
"haahh haahh haahh"
Dinda terus mendesah kuat, sampai akhirnya
"aachh aaachh aaachhh aaaaaaaaaacchhhhh ooooouuuuugggghhhhh" Dinda merasakan klimaks, tubuhnya seketika melemah.
Sedangkan Jhon terus saja menghentakkan miliknya ke lubang milik Dinda yang licin.
Hentakkan Jhon semakin kuat.
"haahh haahh haahh haahhh...
__ADS_1
oooouuugggghhhh sit"
Croooootttt
Cairan kental milik Jhon kembali keluar.
Jhon kembali merasakan klimaks untuk kedua kalinya, hingga cairan kental itu masuk dengan leluasa menyapu setiap rongga milik Dinda.
Kini mereka berdua terkapar, nafas yang tidak beraturan diantara keduanya. Mereka benar-benar merasa kelelahan setelah pergumalan panas itu.
Tubuh Dinda terkulai lemah di atas kasur, sementara Jhon menyelimuti tubuh polos Dinda dengan selimut.
Jhon mengecup lembut pucuk kepala Dinda sembari berkata, "terima kasih" ucap Jhon.
Dinda memejamkan mata, ada air mata yang mengalir di sana.
Jhon menatap raut wajah Dinda, "kenapa kau menginginkannya?!" tanya Jhon lembut.
Dinda membuka matanya kembali, menatap Jhon seraya menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya.
"Aku terpaksa." jawab Dinda sembari mengubah posisinya menjadi duduk sambil bertekuk lutut.
Jhon mengerutkan kedua alis tebalnya, "ada masalah apa?!" tanya Jhon singkat.
"Ibuku sakit, aku butuh uang untuk biaya pengobatannya." jawab Dinda dengan suara parau menahan tangis sembari menundukkan kepalanya.
Mendengar itu seketika hati Jhon terenyuh,
entah mengapa Jhon merasa iba.
Lalu Jhon beranjak dari kasur empuknya, dia mengenakan kembali pakaiannya.
Jhon meninggalkan Dinda keluar dari kamarnya.
Dinda mengangkat kepalanya sembari menatap punggung Jhon sampai Jhon menghilang dari pandangannya, kemudian mengalihkan pandangannya kearah sprey.
Seketika Dinda menangis merasakan sakit di sekujur tubuhnya, batin dan jiwanya sangat terluka.
"Marioooo...!!" lirihnya dalam tangis seraya meremas erat rambut di kepalanya.
Tak berapa lama Jhon pun kembali dengan membawa koper yang berukuran sedang.
Jhon menghampiri Dinda sembari meletakkan koper itu di atas kasur, kemudian ia membukanya.
Setelah terbuka, Jhon langsung mengarahkan isi koper itu kepada Dinda.
Terlihat ada banyak lembaran-lembaran uang kertas berwarna merah di sana.
Dinda mengarahkan pandangannya kearah koper, lalu beralih kearah Jhon.
"Ambillah, semuanya untukmu." ucap Jhon kepada Dinda seraya tersenyum lebar.
Dinda menggelengkan kepala, membuat Jhon tak mengerti.
Jhon mendekati Dinda, mendudukkan bokongnya di atas kasur tepat disisi Dinda.
Kemudian Jhon menggenggam erat tangan Dinda sehingga jari-jemari mereka saling bertautan.
"Kenapa kau tidak mau?" tanya Jhon lembut.
"Aku hanya butuh untuk biaya pengobatan ibu saja." jawab Dinda. "Aku tidak menjualnya demi diriku, tapi aku melakukannya demi ibu." lanjutnya.
Jhon tersenyum menanggapi, dia tidak menyangka jika Dinda benar-benar berbeda dari sekian banyak wanita yang dikenalnya.
"Kalau begitu ambillah seberapa banyak yang kau butuhkan." ucap Jhon.
__ADS_1
Dinda terdiam, dia tidak berani mengambil uang itu.
Lalu Jhon beranjak dari duduknya, ia mengambil tas kecil milik Dinda namun tidak terlalu kecil, yang berada di atas meja.
Kemudian Jhon memasukkan beberapa tumpuk uang kertas ke dalam tas milik Dinda.
Lalu menyerahkannya kepada Dinda.
"Apa ini cukup?" tanya Jhon.
Dinda hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Kemudian Jhon mengambil beberapa tumpuk uang kertas lagi.
"Ini ambillah, anggap saja ini hadiah perkenalan kita." ucap Jhon membuat Dinda menatapnya dengan mengerutkan kedua alisnya.
"Ayo ambiilah.. kumohon jangan menolak." ucap Jhon lagi.
Merasa Dinda tidak mengambil uang pemberiannya, Jhon pun langsung memasukkan uang itu ke dalam tas Dinda.
Setelah itu Jhon mengambil pakaian milik Dinda.
"Pakailah kembali bajumu." ucap Jhon seraya mengarahkan tubuhnya membelakangi Dinda.
Dinda pun segera mengenakan kembali pakaiannya satu persatu.
Sedangkan Jhon membiarkan Dinda memakainya tanpa mau menatap kembali tubuh polos Dinda.
Setelah sudah, Dinda pun berniat akan segera kembali ke rumah sakit.
Namun Jhon tidak mau membiarkan Dinda pulang sendirian, mengingat hari sudah hampir menjelang pagi.
Akhirnya Jhon dan Dinda berada dalam satu mobil, Jhon melajukan mobilnya dengan sangat cepat.
Suasana di dalam mobil begitu hening, Jhon fokus kepada stir mobilnya sembari mengarahkan pandangannya kearah jalan.
Sementara Dinda, dia terdiam duduk disisi Jhon sembari mengarahkan pandangannya kearah luar jendela.
"Kau mau aku antar kemana?" tanya Jhon memecah keheningan.
"Dinda menoleh, " antar aku ke rumah sakit saja." jawab Dinda.
"Okee" ucap Jhon singkat dan kembali fokus kearah jalan.
****
Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Jhon berhenti didepan area rumah sakit.
Jhon keluar terlebih dahulu, lalu ia membukakan pintu untuk Dinda.
Dinda pun segera keluar dari dalam mobil. Namun ketika Dinda hendak beranjak meninggalkan Jhon, tiba-tiba saja Jhon menghentikan langkah Dinda.
"Siapa namamu?!" tanya Jhon singkat.
Dinda pun menoleh seraya tersenyum kecil, "panggil saja aku Adinda." jawab Dinda sembari melanjutkan langkahnya.
Jhon tersenyum ke arah Dinda yang berlalu pergi meninggalkannya, hingga Dinda menghilang dari pandangannya.
Jhon masuk kembali kedalam mobilnya dengan senyum yang mengembang, ada rasa berbeda yang dirasa kan Jhon kepada Dinda.
Apakah Jhon jatuh cinta?!
Tunggu di cerita selanjutnya, babang Jhon akan hadir di season 2.
__ADS_1
Bersambung epd 34