SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
Eps 59


__ADS_3

Jhon melangkahkan kakinya semakin cepat, hingga tak terasa langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar.


"Huuffff" Jhon menghela nafas kasar, setelah itu ia membuka pintu dengan perlahan.


Saat ia masuk ke dalam kamar, terlihat Adinda yang sedang duduk di pinggir kasur empuk di sana, dengan posisi membelakangi pintu kamar hotel.


Jhon berdiri sejenak, menatap tubuh Dinda.


Setelah itu ia melangkah kan kaki nya kembali mendekat ke arah Dinda.


Jhon duduk berhadapan dengan Dinda yang sedang menundukkan kepala.


Jhon mengangkat dagu Dinda sedikit, agar raut wajah Dinda terlihat olehnya.


"Apa kau terluka?!" tanya Jhon lembut sambil menatap lekat bola mata Dinda.


Dinda menjawab dengan menggelengkan sedikit kepalanya.


"Lalu kenapa kau diam seperti ini?!" Jhon kembali bertanya, masih dengan nada yang sama.


"Jhon..!! kelihatannya wanita itu sangat mencintai mu, kenapa tidak kau nikahi saja dia?!" Ucap Dinda memecah kebisuannya.


"Hahahaha...." Jhon tertawa menggelar, hingga tubuhnya bergetar.


"Apa yang kau bicarakan sayang?!" Jhon balik bertanya.


Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh calon istrinya.


Dinda kembali terdiam membisu.


"Sudahlah, kau harus istirahat." Lanjut Jhon yang tidak mau berpanjang lebar.


Jhon beranjak dari duduknya, dengan perlahan ia menarik tubuh Dinda agar sama-sama berdiri.


"Besok pernikahan kita, aku tidak mau kau kelelahan." Ucap Jhon lembut, sambil membelai rambut Adinda (sang calon istri).


"Aku akan pulang ke rumah, kau beristirahatlah." Ucapnya lagi.


Dinda menatap raut wajah Jhon yang sudah tampak kelelahan.


"Kau juga istirahat." Jawab Dinda pelan.


Jhon tersenyum lebar.


"Baiklah, sampai ketemu besok sayang! cup."


Jawab Jhon dan di akhiri dengan kecupan lembut di kening Adinda.


Jhon pun beranjak, diantar oleh Dinda hingga ke pintu kamar.


"Sayang! kau jangan khawatir, aku akan menyuruh Zack dan yang lain untuk menjaga mu di sini.


Dinda tersenyum lebar, mendengar ucapan Jhon.


"Aku pulang ya..!!" pamit Jhon sekali lagi.


"Iya hati-hati." Jawab Dinda pelan sambil terus melempar senyum kepada Jhon.


Jhon pun berlalu pergi meninggalkan Adinda, sementara Adinda masuk kembali ke dalam kamar.


Dinda beristirahat sejenak hingga ia tertidur pulas sampai hari menjelang sore.


****


Di sisi lain...


Ada Mario yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


Bayang-bayang Adinda sungguh sulit untuk ia lupakan.


Namun ia juga berfikir, kepergian sang kekasih karena sebuah kecerobohan yang ia lakukan.


Menyesal pun sungguh tidak berguna, semua sudah terjadi.


Bahkan kini, sang kekasih akan menjadi milik orang lain.


"Maafkan aku Adinda!!" lirih Mario dalam hati.

__ADS_1


Mario menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya kembali.


Setelah itu ia beranjak dari duduknya, ia mengambil koper dan membuka lemari pakaian .


Ia mengambil beberapa pakaian di lemari dan langsung memasukkan nya ke dalam koper.


Seperti yang sudah di rencanakan, ia akan membawa Dinda untuk pergi jauh.


Jauh dari Jhonatan tentunya.


Setelah selesai menyiapkan beberapa keperluan nya, Mario bergegas untuk mandi.


Nanti malam ia akan pergi untuk memastikan bagaimana situasi tempat yang akan digunakan untuk resepsi pernikahan Jhonatan dan Adinda.


Tidak terasa malam hari pun tiba.


Saat ini, Dinda sudah mandi dan berganti pakaian. Ia terlihat sangat cantik dengan memakai mini dress berwarna pink muda, sangat cocok untuk kulit nya yang putih dan bersih.


Dinda berjalan-jalan melihat dekorasi ruangan yang akan di gunakan.


Suasana begitu ramai, karna ruangan itu di penuhi dengan beberapa rekan Jhon.


Serta ada juga beberapa anggota dari keluarga Jhon.


"Dinda...!! kenapa kau keluar?!" Sapa salah satu dari anggota keluarga Jhon.


"Kembalilah ke kamar mu, Jhon tidak mau kau terlalu lelah." Lanjutnya.


Dinda tersenyum lebar.


"Tidak apa-apa kak..!! aku hanya bosan saja jika harus di kamar terus." Jawab Dinda.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama." Ucap orang itu lagi sambil tersenyum.


Adinda menjawab dengan sedikit anggukan kepala sambil tersenyum manis, lalu melanjutkan langkahnya untuk mengamati kesibukan orang-orang di sekitar.


Setelah beberapa lama mengamati kegiatan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu, Adinda pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Sementara Jhon, ia tampak sedang asik bercengkrama dengan sanak saudaranya di rumah.


"Om Jhon! jika nanti om punya adik bayi... aku ingin dia perempuan seperti ku!!" ucap khaira salah satu keponakan Jhon.


"Calon istrimu juga sangat cantik...!! dia saaangat cantik! hemm.." Ucap Khaira di akhir dengan senyum yang imut.


"hehehe" Jhon beserta keluarga tertawa kecil secara bersamaan mendengar celotehan Khaira.


"Tentu saja Tante Dinda mu sangat cantik, kalau dia tidak cantik...!! om Jhon tidak mungkin mau menikah dengannya." Sambut Mama dari Khaira (saudara sepupu Jhon).


"Kau benar, Adinda sangat cantik. Bukan hanya wajah nya saja yang cantik, tapi kepribadian nya juga cantik." Jawab Jhon, dengan bangga.


Jhon begitu bahagia menyambut pernikahan nya bersama Dinda, ia sudah tidak sabar menanti hari esok.


Hari di mana dia dan Adinda dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan.


Tapi bagaimana dengan Adinda?


Sungguh Adinda di hadapkan dengan hati yang gelisah, memilih antara cinta dan kebaikan.


Jauh dari dalam lubuh hatinya, Adinda masih sangat mencintai Mario(cinta pertama).


Namun karena sebuah kesalahan Mario di masa lalu, membuat ia terus berusaha membuang rasa itu.


Lalu ... bagaimana perasaan Adinda terhadap Jhon?


Adinda menyukai Jhon, bahkan ia juga merasa telah jatuh cinta kepada Jhon.


Namun ia sedikit tidak mengerti, apa arti cinta yang ia rasakan terhadap seorang Jhonatan.


Apakah benar-benar cinta? ataukah hanya sebatas rasa balas budi karna kebaikan dan ketulusan dari Jhon.


Ketika malam sudah semakin larut, semua berhenti dari kesibukan masing-masing.


Mereka semua pun beristirahat, kecuali rekan-rekan Jhon yang harus tetap berjaga di lokasi tempat acara esok hari.


****


Sampai akhirnya, hari yang di nanti pun tiba.

__ADS_1


Tempat resepsi sudah di penuhi dengan keramaian.


Tampak beberapa dari para tamu undangan sudah hadir untuk menyaksikan pernikahan antara Jhon dan Dinda.


Sementara itu, kedua mempelai masih sibuk merias diri di tempat yang terpisah.


Jhon dan beberapa anggota keluarga nya masih berada di kediamannya.


Sedangkan Dinda berada di kamar hotel di temani dengan Bella.


Bella yang di temani oleh beberapa rekannya tampak sibuk merias dan membantu calon pengantin wanita untuk mengenakan baju pengantin.


Dinda tampak begitu anggun dan cantik, dengan memakai kebaya modern berwarna putih dipadukan dengan kain batik khas Indonesia.


Begitu juga dengan Jhon, ia juga terlihat semakin gagah dan tampan dengan memakai stelan jaz modern berwarna putih.


Kedua mempelai itu terlihat berbeda dan sangat istimewa.


Dan bagaimana dengan Mario?


Mario juga tak kalah tampannya dengan Jhon, ia sengaja memakai setelan Jaz berwarna grey lengkap dengan dasi yang sesuai.


Mario sudah siap untuk menjalankan aksinya sendiri, tanpa di temani oleh Aldo dan Yudha.


Setelah semuanya selesai, Mario pun bergegas untuk pergi ke acara tersebut.


Ia melajukan kendaraannya dengan sangat cepat.


Sementara di tempat resepsi, tampak Adinda yang baru saja selesai di rias, ia pun sudah siap menunggu kedatangan sang calon mempelai pria dari kediamannya.


Begitu juga dengan Jhon, ia beserta keluarga nya juga sudah siap untuk segera pergi ke tempat resepsi pernikahan.


Di tempat itu, para tamu undangan pun sudah hadir memenuhi ruangan. Mereka sudah tidak sabar untuk menyaksikan acara yang sangat sakral bagi Jhonatan dan Adinda Larasati.


"Kau tampak begitu cantik nona...!! aku yakin, Jhon tidak akan berhenti menatapmu." Ucap Bella, kagum dengan kecantikan Adinda.


Dinda tersenyum mengembang.


"Terimakasih Bell..! ini semua berkat bantuan mu!" Jawab Dinda dengan lembut.


"Ah...! kau tidak perlu begitu nona...!! ini memang sudah tugas ku." Jawab Bella di iringi dengan senyum bahagia.


"Kalau begitu aku tinggal sebentar, kau tunggulah di sini nona...! sebentar lagi calon mu akan sampai." Lanjut bela sambil melangkah menuju keluar dari kamar, dan di jawab Dinda dengan sedikit anggukan kepala.


****


Di tempat lain...


Ada Mario yang baru saja tiba di lokasi.


Akan tetapi, ia tidak memarkirkan mobilnya di area parkir yang sudah tersedia.


Mario sengaja memarkirkan kendaraan nya di tempat yang agak jauh, agar ia mudah untuk segera membawa Dinda pergi dari tempat resepsi tersebut.


Sebelum ia turun dari mobil nya, ia terlebih dahulu mengamati area di sekitar.


Setelah merasa aman, barulah ia turun dari mobil dan melangkah dengan santai agar tidak ada orang yang mencurigai nya.


Setelah begitu dekat dengan tempat tujuan, Mario mengambil jalan lain untuk dapat masuk tanpa melalui pintu utama.


Sebab, di pintu utama sudah terlihat beberapa orang rekan Jhon yang berjaga di sana.


Mario masuk dengan sangat berhati-hati, ia berjalan sambil sesekali melihat ke arah belakang, samping kanan dan kiri.


Mario terus berjalan, ia mencari-cari dimana letak dan nomor kamar sang pengantin.


Sampai akhirnya, langkahnya terhenti di depan pintu kamar dengan nomor 106 yang berada di lantai tiga.


Terlihat pintu kamar yang di hiasi dengan hiasan bunga serta aksesoris lainnya.


Sebelum masuk, lagi-lagi Mario memastikan terlebih dahulu keadaan di sekitar kamar.


Setelah ia dapat memastikan bahwa situasi aman, ia pun tidak menunggu lebih lama lagi.


Tok tok tok


Mario mengetuk pintu dengan perlahan.

__ADS_1


Bersambung eps terakhir


__ADS_2