SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 26


__ADS_3

Setelah kejadian itu, Dinda mulai menjaga jarak dengan Mario. Dinda sedikit bersikap acuh terhadap Mario.


Tentu saja hal itu membuat Mario menjadi bingung, dengan sikap yang ditunjukkan oleh Dinda kepada dirinya.


Sementara Aldo yang mengetahui kerenggangan hubungan mereka, mulai berani mendekati Dinda.


Dua hari kemudian


Tampak Dinda di ruangannya sedang bersiap-siap untuk istirahat siang.


Aldo dengan sengaja menghampiri Dinda, bermaksud ingin mengajak Dinda untuk makan siang di restoran.


"Din!"


Dinda menoleh, "eh pak Aldo.. ya pak, ada apa..?" tanya Dinda.


"emmm.. aku mau ngajak kamu makan siang, mau yaa." ucap Aldo.


Dinda berpikir sejenak, "emmm gimana ya pak." saut Dinda, sedikit ragu menerima tawaran Aldo.


"Ayo dong temani aku, sekali iniii aja." ucap Aldo merayu.


Dinda tersenyum paksa, "baiklah." jawabnya singkat.


Dengan sangat terpaksa Dinda akhirnya menerima tawaran Aldo untuk menemaninya makan siang.


Dinda pergi bersama Aldo dengan raut wajah malas, sesekali terlihat senyum tipis dari bibirnya.


"Pak Aldo, kalau bisa kita cari tempatnya gak usah jauh-jauh dari kantor ya pak, soalnya saya harus cepat-cepat balik lagi ke kantor." ucap Adinda. "Saya lagi banyak pekerjaan pak." Lanjutnya yang tak ingin berlama-lama bersama Aldo.


"Oh gitu.. ya sudah, kita ke restoran yang didepan saja." jawab Aldo menuruti permintaan Dinda.


Akhirnya mereka memilih restoran yang berada diseberang kantor.


Setelah mereka berada tepat didalam restoran, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Mario dan Yudha yang juga berada di restoran yang sama.


"Yo, Yud, kalian disini juga?" tanya Aldo merasa tak enak hati.


"Iya Tuan, kita berdua sudah sejak tadi berada disini." jawab Yudha.


Sedangkan Mario tak menjawab sedikitpun, pandangan matanya tertuju kepada Dinda dengan tatapan yang sangat tajam, bak pisau yang menancap tepat di jantung Dinda.


"Jadi ini, alasannya menjauhiku." Mario membatin.


Dinda tak berani menatap lekat bola mata Mario, hanya berani sesekali mencuri pandang.

__ADS_1


Dinda bersikap demikian melainkan hanya untuk membatasi dirinya, agar tidak terlalu larut dalam buaian Mario yang tampak begitu agresif terhadap dirinya.


Namun Mario sudah salah menilai, dan menganggap Dinda sudah berpaling dari cintanya.


"Kalau gitu ayo, kita duduk disebelah sana." ucap Aldo kepada Dinda sembari menunjuk meja yang berada agak jauh dari meja Mario dan Yudha.


Dinda menganggukkan kepala, sembari mengikuti langkah Aldo menjurus dibelakang.


Namun sempat melirik ke arah Mario yang masih saja menatapnya dengan tatapan yang sama.


Dinda duduk berhadapan dengan Aldo, Dinda merasa sangat tidak nyaman duduk satu meja bersama dengan Aldo, sementara pikirannya tertuju kepada Mario.


Din.. kamu gapapa kan?" tanya Aldo lembut, mengerti dengan perasaan Dinda saat ini.


Dinda tersenyum paksa, "saya gapapa kok pak." jawab Dinda datar.


Aldo menyunggingkan senyum, "aku tau, kau sangat mencintainya." ucap Aldo. "Kau tenang saja, aku tidak akan merebut mu dari nya, sekalipun aku menyukaimu." lanjut Aldo mengakui tentang perasaannya.


Tentu saja hal itu membuat Dinda menjadi sangat terkejut.


"Apaa.. apa maksud bapak? bapak menyukai saya..?" tanya Dinda tak percaya.


"Iya Adinda, aku menyukaimu." jawab Aldo dengan pasti sembari tersenyum tipis.


"Tapi kau tidak usah khawatir, aku tidak akan merebut mu darinya. Karna aku tau, cintamu hanya untuknya, bukan untukku." ucap Aldo dengan ketidak egoisannya membuat Dinda kagum.


Sementara dimeja lain, ada Mario yang tampak sudah tak nyaman berada di restoran yang sama.


"Ayok, kita kembali kekantor." ajak Mario kepada Yudha.


"Tapi Tuan, makanannya belum habis." jawab Yudha yang tidak rela meninggalkan makanannya begitu saja.


"Aaahh kau ini, kalau begitu kau susul aku di kantor." ucap Mario sembari berlalu meninggalkan Yudha yang masih tetap berada di meja.


"Baik Tuan.." jawab Yudha singkat sembari melanjutkan aksi makannya.


*****


Beberapa menit kemudian, seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi beberapa makanan dan minuman.


"Silahkan pak, buk." ucap seorang pelayan sembari menyusun makanan dan minuman di atas meja.


"Iya terimakasih.." jawab Aldo.


"Ayo Din, silahkan dimakan." ucap Aldo kepada Dinda.

__ADS_1


"Iya pak." jawab Dinda singkat sembari tersenyum tipis.


Dinda dan Aldo pun mulai menyantap makanan mereka.


****


Di kantor, ada Mario yang sedang berada di ruangannya.


Dia terlihat sangat marah, dia kecewa terhadap Dinda yang sudah menduakan cintanya.


"Apa salahku Dinda, apa salahku.." ucapnya lirih, air matanya mulai menggenang.


Saat ini hatinya sangat terluka.


"Aaaaackh..." Praaankk


Mario marah, dia membanting gelas kopi yang berada di atas meja hingga pecah berderai dilantai.


Dia memukul dadanya dengan kepalan tangan, hatinya sangat teramat sakit.


Desiran darah yang bergemuruh menandakan emosi yang sangat menggebu-gebu.


Tak lama kemudian, Yudha datang menghampiri ruang Mario.


Yudha sangat terkejut melihat pecahan gelas yang berserakan di lantai.


"Apa yang terjadi Tuan?" tanyanya sembari memungut serpihan gelas.


Mario tak menghiraukan kehadiran Yudha, dia menyandarkan kepalanya di sofa sembari memejamkan mata.


Pandangan Yudha sesekali tertuju kepada Mario, namun tak berani untuk bertanya kembali.


Yudha keluar memanggil salah satu OB untuk membersihkan lantai, setelah itu dia mencari keberadaan Aldo.


Yudha kembali ke restoran tadi, dilihatnya tempat yang tadi diisi Dinda dan Aldo, namun mereka sudah tidak berada di sana.


Lalu Yudha kembali lagi ke kantor untuk menemui Aldo.


Setelah berada di kantor, Yudha langsung menghampiri ruangan Aldo.


Di sana tampak Aldo yang sedang duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


"Tuan!" sapa Yudha yang masuk tanpa mengetuk pintu.


"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu? dimana sopan santun mu?" ucap Aldo sedikit kesal.

__ADS_1


"Maaf Tuan, tapi ada yang harus kita bicarakan." jawab Yudha tanpa berbasa-basi.


Bersambung epd 27


__ADS_2