
Sepulangnya dari pemakaman, Mario memilih pulang ke rumah orang tuanya.
Mario langsung masuk ke kamarnya dan mengurung diri di sana.
Tak lama kemudian, Mama masuk menghampiri Mario, ia menatap Mario seraya mengkerut kan ke dua alis tebalnya.
"Yo.. kamu kenapa?" tanya Mama yang melihat raut wajah sendu sang putra.
Mario menghela nafas panjang, tanpa menjawab pertanyaan Mamanya.
"Masalah Dinda lagi? kamu bisa gak sih Yo.. gak mikirin Dinda terus..? lupain dia Yo.. perempuan gak cuma satu, masih banyak perempuan lainnya diluar sana." ucap Mama lagi.
"Ma, Mama tau sendiri kan? aku gak mudah jatuh cinta Ma.. cuma Adinda yang bisa singgah di hati aku." jawab Mario, sedikit kesal.
"Lah terus, sekarang apa dia mau balik lagi sama kamu? apa dia masih cinta sama kamu hem?" tanya Mama lagi.
"Aku sudah berjanji pada ibunya Ma.. aku akan selalu menjaganya, sebelum ibunya meninggal."
"Apaa? ibu Dinda meninggal? kapan Yo..? trus Dinda sekarang dimana?" tanya Mama, terkejut.
"Entah lah Ma.. aku juga tidak tau dimana dia tinggal sekarang." ucap Mario lemah.
"Dia akan segera menikah dengan orang lain, hati aku sakit, sakit banget Ma.." lanjutnya.
Mama menghela nafas panjang, "jadi dia mau nikah sama orang lain?" tanya Mama. "Kalau begitu belajarlah melupakan nya Yo.. sebentar lagi dia akan menjadi istri orang." lanjut Mama.
"Ikhlaskan dia, biarkan dia bahagia dengan pasangannya, jangan pernah berniat menghancurkan rumah tangganya Yo.. gak baik." timpal Mama.
"Pikirkan itu baik-baik Mario." lanjut Mama lagi, sembari berlalu meninggalkan Mario sendiri di kamarnya, membiarkan Mario untuk berpikir tenang tentang ucapannya.
Sedangkan Mario, ia hanya terdiam menanggapi ucapan sang Mama, dia bingung apa yang harus dilakukannya.
Jika dia membiarkan Dinda menikah dengan orang lain, maka dia akan kehilangan Dinda untuk selamanya.
Namun jika dia tidak melepaskan Dinda, apakah Adinda akan mau kembali padanya lagi?
"Aaahhh aku tidak sanggup jika harus melupakan mu Adinda." gumamnya dalam hati.
****
Ditempat lain, ada Jhon dan Dinda yang sudah berada di rumah lama Dinda.
Dinda masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya sejenak di kasur.
Sementara Jhon, ia menyuruh Erik untuk membeli makanan untuk mereka.
"Rik, kau pergilah cari makanan untuk kita." ucap Jhon sembari mengulurkan beberapa lembar uang kertas merah kepada Erik.
"Baik bos, tapi makanan apa yang harus ku beli?" tanya Erik.
"Apa saja, terserah. Bukannya kau tau apa yang aku suka?" tanya Jhon balik.
Erik tersenyum lebar, "oke bos, siap." sahut Erik yang langsung beranjak pergi meninggalkan Jhon.
Setelah itu, Jhon masuk ke kamar menghampiri Dinda.
"Sayang, aku sudah menyuruh Erik untuk membeli makanan untuk kita." ucap Jhon sambil mendudukkan bokongnya di kasur milik Dinda.
Dinda pun mengarahkan pandangannya kearah Jhon.
"Aku tidak ***** makan." ucap Dinda, malas.
"Hey.. kau tidak boleh seperti itu, aku tidak mau kau sakit. Apa kau tega jika terjadi sesuatu dengan bayi kita hem?!" ucap Jhon.
"Sudah lah Jhon.. jangan memaksa ku, aku tau apa yang harus aku lakukan." ucap Dinda sembari mengubah posisinya menjadi duduk.
Jhon mengerutkan kedua alisnya, "kenapa kau bicara seperti itu, hem? aku hanya tidak ingin kau sakit dan aku juga tidak ingin terjadi sesuatu dengan calon buah hati kita, paham?"
__ADS_1
Dinda tersenyum, paksa.
"Iyaa baik boss, aku paham." jawab Dinda sedikit bercanda.
Jhon tertawa kecil menanggapi ucapan Dinda, seraya mengusap lembut kepala Dinda.
Dinda menatap lembut bola mata Jhon, mencari apa kah ada cinta yang tulus di sana.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Jhon, heran.
"Apa_ apa kah kau mencintai ku?" tanya Dinda tiba-tiba membuat jantung Jhon berdegup, deg.
Jhon menelan saliva nya, "iya, aku mencintai mu."
"Sejak kapan?" tanya Dinda lagi.
"Sejak awal pertemuan kita." jawab Jhon tanpa ragu.
Dinda menghela nafas panjang, "Jhon! jika kau melakukannya karna terpaksa, kau boleh menceraikan ku saat bayi ini lahir."
Jhon terkejut mendengar ucapan Dinda.
"Apa maksudmu? siapa bilang aku terpaksa? aku melakukannya dengan tulus, karna aku sadar kalau aku mencintai mu." jawab Jhon dengan lantang.
"Lalu bagaimana dengan mu? apa kau juga mencintai ku hem?!" tanya Jhon, balik.
"A_ aku_ aku.." jawab Dinda terbata dan tak mampu melanjutkannya.
Jhon tersenyum lebar, "kenapa sangat sulit bagi mu untuk mengatakannya hem?! apa kau masih mencintai pria itu dan ingin kembali padanya?"
Dinda menghela nafas panjang, "sudahlah Jhon, aku tidak mau membahasnya." ucap Dinda, menolak untuk menjawab.
"Kau sendiri yang memulainya, aku tau kau tidak mencintai ku." ucap Jhon, sembari beranjak keluar meninggalkan Dinda.
Terlihat raut wajah kecewa dan kesal yang ditampakkan oleh Jhon, membuat Dinda merasa bersalah atas sikapnya kepada Jhon.
Jhon duduk di kursi yang berada di teras, dia mencoba menahan emosinya.
"Jhon! aku tidak mau bertengkar di hari kematian ibu."
"Kita pulang ke rumah mu, dan bicarakan hal ini baik-baik." ucap Dinda.
"Baiklah, kalau itu mau mu. Tapi kita tunggu Erik kembali, baru setelah itu kita pulang ke rumah." ucap Jhon.
"Iya." sahut Dinda singkat.
Dinda kembali masuk ke dalam rumah untuk mengemasi barang-barang dan membereskan rumahnya yang terlihat berantakan.
*****
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Erik pun kembali ke rumah Dinda dengan membawa beberapa kantong makanan.
"Bos, ini makanan nya." ucap Erik sambil memberikan beberapa kantong makanan itu.
Jhon meraihnya dan langsung beranjak dari duduknya.
Jhon masuk kedalam menghampiri Dinda.
"Sayang! ayo makan dulu, setelah itu kita pulang." ucap Jhon.
Dinda yang sedang sibuk di dapur menghentikan aktifitasnya, dan mengarahkan pandangannya ke arah Jhon.
"Iya, aku siapin piringnya dulu ya.." sahut Dinda.
Jhon meletakkan kantong makanan itu ke atas meja, sedangkan Dinda langsung menyiapkan beberapa piring di meja.
"Jhon! Erik mana? kenapa dia tidak di ajak?" tanya Dinda.
__ADS_1
"Ada di luar." sahut Jhon singkat.
Setelah selesai menghidangkan makanan dan menyiapkan beberapa piring di meja, Dinda keluar menghampiri Erik.
"Rik, ayo makan. Kita makan sama-sama." ajak Dinda seraya tersenyum.
"Haah" Erik sedikit terkejut mendengar ajakan Dinda.
"Makan sama-sama? berarti satu meja dong?" Erik balik bertanya.
"Ya iya lah.. namanya juga makan sama-sama." sahut Dinda.
"Maaf Nona, tapi kami belum pernah makan satu meja dengan bos."
"Haah.. benar kah?" Dinda sedikit terkejut.
"Iya Nona, itu benar. Kami belum pernah makan satu meja dengan nya."
"Mmm tunggu sebentar ya Rik, nanti aku ke sini lagi." ucap Dinda sembari beranjak masuk menghampiri Jhon yang berada di meja makan.
Dinda menghampiri Jhon, lebih dekat.
"Jhon.. Erik gapapa kan kalau makan satu meja dengan kita?! gak enak kalau makan gak bareng-bareng." rayu Dinda sembari memegang lengan Jhon.
Jhon mengerutkan kedua alisnya menatap Dinda.
"Kau terlihat manis jika seperti itu sayang..hehe" bisik Dinda menggoda seraya tertawa kecil.
Tentu saja hal itu membuat bola mata Jhon membulat.
"Kau menggoda ku jika ada mau nya." ucap Jhon sedikit jengkel.
"Aku akan mengizinkan nya jika kau terus-terusan memanggil ku dengan panggilan sayang." lanjut Jhon sembari tersenyum, senang.
"Aah, kau mengambil kesempatan." ketus Dinda seraya beranjak meninggalkan Jhon yang tersenyum mengembang.
Dinda menghampiri Erik dan beberapa rekannya yang berada di teras.
"Erik, ajak teman-teman mu kita makan sama-sama." ajak Dinda.
Erik dan beberapa rekannya saling melempar pandang.
"Apa bos tidak keberatan?" tanya Erik.
"Tentu saja tidak.. jika aku yang bicara." sahut Dinda. "Sudah.. jangan menolak, apa kalian tidak mau makan?" ucap Dinda.
Erik dan beberapa rekannya tersenyum lebar dan segera mengikuti langkah Dinda, masuk menuju meja makan.
Terlihat Jhon yang sudah duduk di sana, menunggu mereka semua berkumpul.
"Bos." sapa Erik, merasa tak enak hati.
"Duduklah." ucap Jhon singkat dan datar.
Erik dan beberapa rekannya pun duduk dalam satu meja dan makan bersama.
Dinda mengambilkan makanan untuk Jhon terlebih dahulu.
"Ini sayang, habis kan makan mu." ucap Dinda sembari meletakkan piring di depan Jhon.
Jhon tersenyum lebar, "terima kasih sayang.." sahut Jhon lembut.
Erik dan beberapa rekannya mengulum senyum mendengar kemesraan mereka.
Sementara Dinda, ia tersenyum paksa.
Dinda kembali mengambil makanan untuknya seraya duduk di samping Jhon, di lanjutkan dengan Erik dan beberapa rekannya yang juga ikut mengambil makanan setelah Dinda.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya makan bersama-sama dalam satu meja, sehingga menambah kesan lebih akrab diantara Jhon, Dinda dan beberapa orang anak buah Jhon.
Bersambung epd 49