
Seperti biasa, Dinda selalu menunggu ibunya diruang tunggu.
Dia duduk sambil menyandarkan kepalanya, seraya memejamkan mata sejenak.
Pikirannya tertuju kepada Mario, namun tiba-tiba saja dia tersadar jika dia sedang mengandung anak dari Jhonatan.
Dinda menangis sambil mengelus-elus lembut perutnya.
"Kenapa ini harus terjadi..!! aku belum bisa mencintai Jhon, aku cinta sama kamu Mario..!!" lirihnya sembari menangis pelan.
"Nona! anda kenapa?apa yang terjadi?" tanya Zack yang tiba-tiba saja sudah duduk di samping Dinda.
Dinda menoleh sambil mengerutkan kedua alis tebalnya, "ka_ kamu siapa?!" tanyanya dengan sedikit terbata, seraya mengusap lembut air matanya.
"Aku Zack, aku diperintahkan oleh bos Jhon untuk menjagamu di sini." jawab Zack.
"Kenapa harus menjagaku? untuk apa?" tanya Dinda, bingung.
"Sudahlah Nona, ini perintah." sahut Zack
"Apa anda sudah makan? biar aku bantu mencari sesuatu, jika ada yang anda butuhkan." lanjutnya.
"Tidak usah, aku bisa mencarinya sendiri." sahut Dinda.
"Tidak Nona, anda tidak bisa keluar sendirian." ucap Zack, melarang.
Mendengar ucapan Zack, seketika bola mata Dinda membulat.
"Apa maksudmu melarang ku seperti itu? memangnya siapa kau?" tanya Dinda dengan nada sedikit tinggi.
"Maaf Nona, tapi kami sudah diperintahkan oleh bos Jhon." jawab Zack.
Dinda mendengus kesal.
"Kalau begitu telpon bos mu, aku ingin bicara." ucap Dinda.
"Baik Nona." sahut Zack yang langsung meraih ponselnya dari dalam saku celana miliknya.
Zack menatap layar ponsel, sembari menggeser layar ponsel untuk mencari nomer bos Jhon yang tertera dilayar ponselnya.
Setelah didapati, Zack segera menekan tombol hijau.
Tut.. tut.. tut.. (Terhubung)
"Hallo bos"
"Ya" jawab Jhon singkat
"Bos, calon istrimu ingin bicara.
" Serahkan ponselmu padanya."
"Baik bos."
Jawab Zack sembari memberikan ponsel miliknya kepada Dinda.
Dinda pun segera menyambutnya.
"Jhon..! kenapa kau menyuruh anak buah mu untuk menjaga ku?!"
"Dengar sayang, itu ku lakukan agar kau lebih aman di sana."
"Aman bagaimana maksud mu..?! aku merasa terganggu. Aku tidak boleh ini, tidak boleh itu.. keluar saja aku tidak boleh."
"Hahahahaha.. justru dengan kehadiran mereka kau lebih aman, jika kau tidak bersama ku."
"Tapi Jhon..!!"
__ADS_1
"Sudahlah sayang, mintalah mereka mencarikan makanan untukmu, nanti aku akan menjemputmu di sana."
Jawab Jhon sembari memutus sambungan telpon.
Tut tut tut... (sambungan terputus)
Dinda pun kembali memberikan ponsel kepada Zack dengan raut wajah kesal.
"Jadi bagaimana Nona?! apa yang anda inginkan?" tanya Zack seraya tersenyum kecil.
"Tidak usah, aku tidak ingin apa-apa." cetus Dinda.
"Baiklah, jika anda menginginkan sesuatu, panggil saja aku Nona!" ucap Zack sembari melangkah meninggalkan Dinda.
"Tunggu.." teriak Dinda sedikit kencang.
Membuat Zack secara tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Dinda.
"Ada apa Nona?! anda memanggil saya?!" tanya Zack sembari melangkah mendekati Dinda.
"Tentu saja aku memanggilmu Zack.. siapa lagi?!" jawab Dinda, jengkel.
Zack tersenyum kecil sembari mendudukkan bokongnya di kursi, lebih tepatnya di samping Dinda.
"Ada apa? anda menginginkan sesuatu?!" tanya Zack.
"Aku tidak menginginkan apa-apa, nanti saja." jawab Dinda.
Zack mengerutkan kedua alisnya sejenak, "lalu, kenapa anda memanggil ku?!" tanya Zack lagi.
Dinda tersenyum lebar, "apakah aku boleh berteman dengan mu Zack?!" tanya Dinda.
Mendengar permintaan Dinda, Zack kembali mengerutkan kedua alisnya.
"Berteman?" Zack balik bertanya.
Tentu saja hal itu membuat Zack tertawa geli.
"Hihihihihi.. yang benar saja Nona.. anda ingin berteman dengan ku?!" tanya Zack memastikan ucapan Dinda.
Dinda mengerutkan kedua alisnya, "kenapa kau tertawa? tentu saja itu benar." sahut Dinda sedikit kesal.
Zack tersenyum lebar, "Baiklah.. kalau itu mau mu, kita berteman." jawab Zack sembari menjabat uluran tangan Dinda.
"Yeeyy gitu dong.." ucap Dinda, senang.
Setelah mereka selesai bersalaman, Dinda kembali bertanya kepada Zack.
"Zack..! bolehkah aku bertanya?" ucap Dinda.
"Ya, tentu saja boleh.. memangnya apa yang ingin anda tanyakan Nona?!" Zack balik bertanya.
Dinda mendengus kesal, "kau tidak perlu memanggilku Nona, panggil saja aku Dinda." ucap Dinda.
Zack terperangah, "haah, kenapa begitu? maaf, kalau itu aku tidak bisa." ucap Zack menolak.
"Kenapa tidak bisa?! bukankah itu akan terlihat lebih akrab?" tanya Dinda.
"Anda itu calon istri bos Jhon, jadi aku tidak bisa memanggil hanya dengan nama saja." jawab Zack menjelaskan.
Dinda tersenyum tipis, "kau boleh memanggilku Nona jika didepan Jhon, dan memanggilku Dinda saat tidak ada Jhon okey?! ucap Dinda.
Zack tersenyum lebar, "okeeyy.. siap." sahut Zack, senang.
"Lalu.. apa yang ingin kau tau dariku hem?!" lanjut Zack bertanya.
"Apa kau sudah lama mengenal Jhon?!" Dinda balik bertanya.
__ADS_1
"Tentu saja.. aku sudah sejak lama bekerja dengannya." jawab Zack.
"Benarkah?" tanya Dinda lagi.
"Ya.. begitulah." jawab Zack singkat.
Dinda terdiam sejenak seraya menghela nafas pendek, lalu kembali bertanya.
"Zack.. apa Jhon punya kekasih? atau istri?!" tanya Dinda pelan.
Zack tersenyum lebar menanggapi pertanyaan Dinda.
"Belum, dia belum punya kekasih dan belum pernah menikah." jawab Zack.
"Selama ini.. dia hanya menganggap wanita-wanita itu sebagai hiburan saja, tidak seperti kau yang sudah membuatnya takluk." lanjut Zack.
Dinda mengerutkan kedua alisnya, "kenapa bisa seperti itu?" tanya Dinda tak mengerti.
"Mana aku tau.. tanyakan sendiri pada dirimu, kenapa kau bisa menaklukkan hati dari seorang Jhon." ucap Zack, sangat terdengar jelas di telinga Dinda.
Dinda kembali terdiam sembari menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya kembali.
Kemudian Dinda melanjutkan ucapannya.
"Tapi aku tidak mencintai Jhon." ucapnya lemah seraya menundukkan kepala.
"Apa kau mencintai pria lain?!" tanya Zack pelan.
Dinda mengangkat kembali wajahnya dan mengarahkan pandangannya kearah Zack.
Dinda menghela nafas pendek, "sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Itu masa lalu ku, dan Jhon masa depan ku." jawab Dinda, pasti.
Zack mendengus, "ya sudah kalau begitu, katakan sekarang kau ingin makan apa? aku juga sudah lapar." tanya Zack menghentikan obrolannya.
"Aku ikut Zack.." pinta Dinda.
"Jangan..!! kau disini saja, kalau terjadi sesuatu dengan mu.. aku yang akan dihabisi oleh Jhon." ucap Zack dengan tegas.
Dinda mendengus kesal, "separah itu kah?!" tanya Dinda.
"Calon suamimu itu seperti singa jantan, kalau dia marah maka akan mengeluarkan taringnya dan siap memangsa." celetuk Zack.
Tentu saja hal itu membuat Dinda tertawa geli.
"Hihihii.. kau bisa saja mengatainya seperti itu Zack.. aku akan melaporkan mu padanya. hahahahahaaa.." canda Dinda dan di akhiri dengan tawanya yang lebar hingga tubuhnya bergetar.
Zack menjadi kesal dengan ulah Dinda.
"Silahkan saja lapor padanya, jika kau tak ingin berteman lagi denganku." cetus Zack.
Sementara Dinda, ia masih saja tertawa melihat raut wajah kesal Zack.
"Sudahlah.. berhenti menertawai ku, cepat katakan kau ingin apa?" lanjut Zack.
Dinda pun akhirnya menghentikan tawanya.
"Mmm aku ingin bakso saja, jangan lupa kasi sambel yang banyak." ucap Dinda.
"Apaa?! jangan terlalu banyak pakai sambel.. nanti perutmu sakit." ucap Zack, terkejut.
"Alaah.. kau terlalu banyak melarang ku, kalau begitu aku gak mau makan." ucap Dinda, ngambek.
Zack menghela nafas kasar, "iya iyaa..terserah kau saja, kalau begitu aku carikan dulu." jawab Zack mengalah sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Dinda.
Sementara Dinda, tersenyum bahagia sambil duduk bersantai menunggu Zack mencarikan pesanan untuknya.
Bersambung epd 42
__ADS_1