SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 51


__ADS_3

"Yo, itu Dinda kan?" tanya Mama kepada Mario seraya menunjuk ke arah Dinda.


"Mana Ma.." tanya Mario balik, tak melihat sosok Dinda.


"Itu.. yang duduk di sana.. diruang tunggu itu lho Yo.." ucap Mama lagi masih menunjuk kearah Dinda.


Mario pun mengarahkan pandangannya kearah yang di tunjuk Mama.


"Iya Ma, sepertinya itu Dinda." jawab Mario setelah memastikan pandangan Mamanya benar.


Mario segera beranjak menghampiri Dinda, disusul oleh Mama yang menjurus dari belakang.


"Dinda! hai." sapa Mario setelah berdekatan dengan Dinda, seraya tersenyum lebar.


Dinda terkejut saat melihat Mario yang sudah berdiri di dekatnya.


"Ma_ Mario.. kamu ngapain di sini?" tanya Dinda.


"Hallo Dinda! kamu apa kabar sayang?!" sapa Mama setelah berada diantara Mario dan Dinda, sembari mencium pipi Dinda kiri dan kanan secara bergantian.


"Hallo juga tante.. Alhamdulillah baik.. tante sendiri apa kabar?" tanya Dinda balik.


"Tante juga sama Din, baik juga.." jawab Mama.


"Kamu disini sama siapa? siapa yang sakit?" lanjut Mama bertanya.


"A_ aku_ aku kesini.." jawab Dinda terbata namun terputus.


"Sayang.." panggil Jhon terhenti saat melihat ada Mario di dekat Dinda.


"Ah kau lagi." kesal Jhon.


"Ada perlu apa kau dengan calon istri ku hem?" tanya Jhon mulai emosi.


"Sayang, kenalin ini Mamanya Mario." ucap Dinda tiba-tiba, merasa tak enak hati kepada Mamanya Mario.


Mama Mario pun tersenyum kecil kepada Jhon, begitu juga dengan Jhon, namun senyum Jhon terlihat sangat terpaksa.


Sementara Mario, die terkejut saat mendengar Dinda memanggil Jhon dengan panggilan sayang.


"Secepat itu kah dia melupakan ku?" gumam Mario dalam hati.


"Ooh.. jadi ini Din calon suami mu?!" tanya Mama Mario.


Dinda tersenyum tipis, setipis mungkin.


"Oh iya, perkenalkan saya Jhonatan, calon suami Adinda." ucap Jhon dengan lantang.


"Saya Mamanya Mario."


"Sayang, ayo kita pulang." ucap Jhon yang tak ingin berlama-lama melihat wajah Mario.


Dinda pun tersenyum, seraya menganggukkan kepala.


"Tante, kita duluan ya.." pamit Dinda.


"Oh iya silahkan Din! hati-hati di jalan."


"Iya tan, makasih." sahut Dinda. "Mario, aku permisi." lanjutnya pelan, kepada Mario.


"Iya Din." sahut Mario lemah.


Jhon tersenyum licik kepada Mario, ia langsung merangkul pundak Dinda dan membawanya menjauh dari Mario.


Sementara Mario, ia menatap tajam kepada Jhon.

__ADS_1


"Kita lihat saja nanti Jhonatan, apa kau masih bisa tersenyum seperti ini? aku pastikan kau akan menderita." gumam Mario dalam hati.


"Yo.. kamu gapapa kan?!" tanya Mama.


Mario mengalihkan pandangannya ke arah Mama seraya tersenyum tipis, "Mama tenang saja, aku gapapa kok." jawab Mario. "Aku akan baik-baik saja." lanjutnya.


"Bagus lah kalau begitu, ya udah yuk.. kita keruangan om mu." ajak Mama.


Mama dan Mario pun melangkah pergi menuju ruang rawat saudara Papa nya.


****


Sementara di dalam mobil, saat perjalanan pulang ke rumah, Jhon terus saja menatap Dinda.


Begitu banyak pertanyaan dalam benak nya, namun dia tak ingin menambah beban pikiran Dinda yang akhirnya akan membahayakan sang calon buah hati.


Dinda mengerut kan kedua alisnya menatap Jhon, "kau kenapa Jhon..?! kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Dinda tak mengerti arti tatapan Jhon.


Jhon tersenyum lebar, "aku tidak kenapa-kenapa sayang, aku cuma mengagumi kecantikan mu." ucap Jhon menggoda, berusaha menyembunyikan perasaan nya.


"Aaah, kau terus saja seperti itu Jhon.. berhentilah menggoda ku. Aku ini hanya gadis biasa.." ucap Dinda, sedikit kesal.


"Tidak sayang, kau wanita luar biasa, wanita istimewa yang pernah ku temui." jawab Jhon seraya menatap lembut bola mata Dinda.


Sementara Dinda, dia juga menatap Jhon dengan tatapan yang sama.


"Jhon! aku Adinda larasati, wanita yang terlahir dan dibesarkan dengan sangat sederhana, jauh dari kata istimewa. Apapun yang terjadi pada ku, aku harus tetap tegar meski terkadang aku ingin menyerah. Aku harus tetap sabar, meski terkadang aku ingin sekali mengeluh. Tapi aku harus kuat, meski aku hampir saja terjatuh.


Bimbing aku Jhon.. agar jangan sampai kehilangan arah, ajari aku agar lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih baik lagi." ucap Dinda.


"Itu yang aku inginkan dari mu Jhon, bukan hanya sekedar gombalan dan kata-kata manis, yang akhirnya hanya akan membuatku terluka untuk ke sekian kalinya." lanjut Dinda.


Jhon tersenyum mendengar setiap perkataan Dinda, hatinya merasa kagum akan kesederhanaan dari seorang Dinda, yang tidak memandang cinta atau sebuah hubungan hanya dengan materi saja.


"Iya sayang, aku mengerti. Aku semakin mencintai mu, aku janji kita akan selalu bersama-sama hingga ajal memisahkan kita." ucap Jhon sembari memeluk erat tubuh Dinda dan mencium lembut pucuk kepala Dinda.


*****


Beberapa saat kemudian, mobil yang mereka kendarai akhirnya sampai di halaman rumah.


Zack menghentikan mobilnya, mereka pun segera turun dari mobil.


Jhon dan Dinda langsung masuk ke dalam rumah.


"Sarapan dulu sayang, setelah itu minum obat mu." ucap Jhon.


Dinda menanggapi dengan anggukan kepala, dan langsung pergi menuju dapur.


"Kau mau apa ke dapur?" tanya Jhon, mengikuti Dinda dari belakang.


"Aku mau bikin nasi goreng. Aku kangen sama nasi goreng buatan ibu." sahut Dinda.


"Minta dibuatin sama bibi saja, kau tidak boleh capek. Ingat gak sih pesan Dokter?"


"Kalau cuma bikin nasi goreng gak bikin aku capek Jhon.."sahut Dinda, sedikit kesal. "Lagian bibi ada kerjaan lain, kasian kan belum selesai kerjaan yang satu sudah di suruh kerja yang lain lagi." lanjutnya.


"Iya iyaa.. terserah kau saja, aku cuma tidak ingin kau sakit." sahut Jhon yang langsung beranjak dari dapur menuju ruang tengah.


Tanpa menghiraukan Jhon, Dinda meneruskan pekerjaannya membuat nasi goreng ala almarhum ibu nya.


Tak butuh waktu terlalu lama, nasi goreng buatan Dinda pun jadi dan siap di hidangkan.


Dinda membawa nasi goreng tersebut untuk di hidangkan di meja makan, setelah itu ia menghampiri Jhon untuk mengajaknya makan bersama.


"Jhon! kita makan sama-sama yuk, nasi gorengnya udah jadi." ajak Dinda.

__ADS_1


Jhon tersenyum kearah Dinda, "iya sayang." sahut Jhon singkat.


Mereka pun langsung menuju meja makan.


Setelah di meja makan, terlihat ada dua piring nasi goreng di sana.


"Waaah.. kelihatannya enak." ucap Jhon yang melihat nasi goreng lengkap dengan daging, sayur, dan telur berbentuk hati.


Jhon tersenyum lebar, sehingga menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.


"Nasi goreng apa nih namanya?" tanya Jhon seraya mendudukkan bokongnya di kursi.


"Ini namanya nasi goreng cinta." sahut Dinda yang juga ikut duduk di samping Jhon.


"Nasi goreng cinta? spesial banget..?!" ucap Jhon, senang. "Boleh cobain sekarang gak?" tanya Jhon.


"Boleh dong.. coba aja." sahut Dinda.


Jhon pun langsung menyantap nasi goreng cinta buatan Dinda.


Baru saja satu suapan yang masuk ke mulut Jhon, seketika bola mata Jhon membulat saat merasakannya.


"Mmmm enak banget nasi goreng nya.." ucap Jhon, ke enakan.


Dinda tersenyum mengembang.


"Itu resep dari ibu." sahut Dinda. "Dulu ibu sering buatkan ini untuk ku." lanjut Dinda, mengenang.


"Berarti kalian sama dong.. nasi goreng kalian sama-sama enak." sahut Jhon, senang.


"Ya udah habisin makannya." ucap Dinda.


Jhon pun segera menyantap makanannya dengan senang hati, diikuti oleh Dinda yang juga ikut menyantap nasi gorengnya.


Ketika sedang seriusnya dengan makanan mereka masing-masing, tiba-tiba saja Dinda teringat dengan mimpinya tadi malam.


Dinda menghentikan makannya sejenak.


"Jhon! tadi malam aku mimpi in ibu sama ayah." ucap Dinda.


"Oya?! kamu terlalu merindukan mereka sayang.." sahut Jhon yang juga menghentikan sejenak makannya.


"Iya, aku memang merindukan ibu dan ayah." sahut Dinda, pelan.


"Memangnya mimpi mu seperti apa?" tanya Jhon.


"Di dalam mimpi ku, aku memakai gaun pengantin Jhon.. aku melihat ibu dan ayah tersenyum kepada ku setelah itu mereka menghilang." ucap Dinda.


Tentu saja hal itu membuat bola mata Jhon membulat, seakan tak percaya saat mendengar tentang mimpi Dinda.


" Mimpi itu, gaun pengantin?" ucap Jhon dalam benaknya.


Bersambung epd 52


NB:


Isi hati seorang penulis receh.


Dengan hasil karya yang tidak seberapa, kami para author selalu berusaha keras untuk menciptakan dan menghadirkan sebuah karya yang bisa diminati para reader.


Walau terkadang hasil dari karya kami sangat tidak memuaskan, tapi kami tidak pantang menyerah, tetap semangat berpikir, menulis, mengarang, hingga terkadang kami lupa jika kami belum makan.


Sakit pun tidak kami hirau kan, demi menulis untuk sebuah karya yang bisa memuaskan dan di hargai.


Janganlah pelit wahai para reader, berikan dukungan mu untuk kami, karna dengan hal itu kami tetap semangat dan semakin semangat menghadirkan karya-karya baru.

__ADS_1


Terima kasih sudah mampir di karya receh ku, maaf jika ceritanya kurang bagus atau kurang memuaskan.🙏🙏🙏


__ADS_2