
Saat Jhon dan Dinda sudah berada di dalam mobil, Dinda masih saja menangis.
Hingga Jhon tidak fokus menyetir mobilnya.
"Sayang, apa yang terjadi?! apa ada orang yang menyakiti mu?! Jhon bertanya, sesekali mengarahkan pandangannya kearah Dinda dan sesekali mengarah kearah jalan.
Dinda mengarahkan pandangannya kearah Jhon dengan raut wajah sedih, ia terus saja menatap Jhon tanpa menjawab pertanyaan dari Jhon.
" Apa aku harus memberitahu nya? bagaimana jika Jhon mengetahui Mario menemui ku? dia pasti akan marah." Dinda berkata dalam hatinya masih dengan tatapan yang sama.
"Huuufff" Dinda menghela nafas panjang.
"Kenapa? apa ada yang kau sembunyikan dari ku?!" Jhon sedikit curiga.
"Tidak, tidak ada yang ku sembunyikan." Dinda mencoba mengelak, lalu mengarahkan kembali pandangannya kearah depan.
Cukup lama ia terdiam, akhirnya Dinda membuka mulutnya dan berkata "maafkan aku Jhon, aku tidak tau kenapa aku begitu sedih." Dinda berbohong, sambil mengalihkan kembali pandangannya kearah Jhon.
" Jhon tertawa kecil mendengarnya, "ha ha.. kau aneh sekali sayang!! apa semua wanita hamil selalu bertingkah aneh." ucap Jhon sambil terus saja tertawa kecil.
Dinda tersenyum paksa, ia merasa sedikit lega karna Jhon mempercayai ucapannya.
Namun di hati kecil Jhon, dia tau bahwa Dinda saat ini menyembunyikan sesuatu dari nya.
Akan tetapi dia belum mau membahasnya panjang lebar, berhubung saat ini mereka masih dalam perjalanan pulang ke rumah.
Lalu, bagaimana dengan Mario?
Mario terduduk lemas di kursi taman, pikirannya masih saja tertuju dengan ucapan Dinda. Aku hamil! aku hamil anak Jhon..!! kata-kata itulah yang membuatnya merasa putus asa, harapannya untuk mendapatkan kembali cinta Adinda kini musnah, sangat mustahil bagi dirinya untuk merebut cintanya kembali.
Aldo yang sejak tadi menunggu Mario kembali ke restoran, akhirnya ia mencari-cari keberadaan Mario.
Dia melihat dari kejauhan, Mario yang sedang duduk sendirian di taman, Aldo pun menghampiri.
"Yo.. gua cari kemana-mana ternyata lu malah nongkrong di sini." Aldo mendudukkan bokongnya di kursi taman, lebih tepatnya di samping Mario.
"Kenapa lu? ada masalah?" tanya Aldo sambil menatap raut wajah lesu Mario.
Mario menghela nafas panjang "huuuffff" lalu mengalihkan pandangannya kearah Aldo.
__ADS_1
"Gua ketemu Dinda." Jawab Mario dengan nada lemah.
"Ketemu Dinda? dimana?" Aldo mengerutkan keningnya, masih menatap Mario.
Lagi-lagi Mario menghela nafas panjang, "huuuuffff." Kemudian dia menelan saliva nya.
"Tadi gua sama Dinda ngobrol di sini, tapi sekarang dia udah pergi." Tanpa mau memberitahu kejadian yang sebenarnya, Mario beranjak dari duduknya meninggalkan Aldo.
Sementara Aldo, ia mengerutkan keningnya menatap Mario, lalu ia segera menyusul langkah Mario.
Aldo mengejar langkah Mario yang belum terlalu jauh, "Yo.. lu mau kemana?" Aldo mengikuti langkah Mario yang menuju halaman restoran.
"Gua mau minum." Jawab Mario singkat, tanpa mau menghentikan langkahnya menuju mobil.
"Oke oke, lu tunggu di mobil, ini kuncinya. Gua mau bayar makanan kita dulu." Aldo menyerahkan kunci mobilnya kepada Mario, lalu meninggalkannya berbalik menuju restoran.
Mario pun menuruti, dia masuk ke dalam mobil dan menunggu Aldo di sana.
...****...
Sementara di kediaman Jhon, ada Dinda dan Jhon yang baru saja tiba.
Jhon melangkah menjurus dari belakang mengamati gerak gerik Dinda, kecurigaannya semakin kuat, bahwa telah terjadi sesuatu dengan calon istrinya.
Jhon mengikuti langkah kaki Dinda hingga ia ikut masuk ke dalam kamar utama yang di tempati oleh Dinda.
Dinda melangkah mendekati kasur empuknya dan merebahkan tubuhnya di sana, Dinda memposisikan tubuhnya tengkurep, mendekap kan wajahnya di bantal.
Jhon pun menghampiri dengan mendudukkan bokongnya di atas kasur. Jhon terdiam, sambil memandangi Dinda yang membelakangi nya.
Setelah lama terdiam, Dinda membalikkan tubuhnya, lalu mengubah posisinya menjadi duduk berhadapan dengan Jhon.
"Jhon! aku mau secepatnya menikah." Dinda menatap Jhon, sedikit memaksa.
"Kenapa? apa yang terjadi dengan mu? kita memang akan segera menikah, tapi aku harus mempersiapkannya terlebih dahulu! tidak mungkin membuat pesta besar hanya dalam waktu semalam." Jhon menjadi semakin bingung.
"Sayang! katakan pada ku, apa yang terjadi di restoran tadi?" Jhon menatap lembut raut wajah Dinda, sambil memposisikan kedua tangannya menempel di pipi Dinda.
"Aku_ aku_ aku tadi_" Dinda berkata dengan terbata-bata, namun ia belum melanjutkan ucapannya, ia menatap lembut bola mata Jhon, ada perasaan takut di hatinya.
__ADS_1
Jhon mengerutkan keningnya, menunggu Dinda untuk kembali berucap.
"Kamu tadi apa, hem?" Jhon tak sabar ingin secepatnya tau apa yang terjadi.
"Aku_ aku bertemu Mario di sana." Dinda menjawab dengan perlahan.
Saat Jhon mendengar pengakuan dari Dinda, Jhon menjadi geram namun menahan sedikit emosinya.
Tanpa terucap sepatah kata pun, Jhon langsung melepas tangannya dari pipi Dinda.
Ia beranjak dari duduknya, dan segera melangkah menuju keluar tanpa memperdulikan Dinda.
"Sudah ku duga, ada yang di sembunyikannya sejak tadi." gumam Jhon dalam hati sambil terus melangkah.
Sementara Dinda, ia hanya terdiam menatap punggung Jhon yang semakin menjauh, hingga Jhon menghilang dari pandangannya.
Setelah Jhon benar-benar menghilang, Dinda kembali menangis. Ia sadar jika Jhon marah padanya, tapi ia tidak tau apa yang harus ia lakukan.
Saat Jhon sudah berada di luar kamar, Jhon melanjutkan langkahnya kembali masuk ke dalam mobilnya.
Jhon mengendarai kendaraannya melaju dengan sangat cepat, hingga tak butuh waktu terlalu lama Jhon pun akhirnya sampai tepat di depan markas.
Jhon memarkirkan mobilnya dan segera keluar dari dalam mobil, ia langsung melangkah masuk dengan raut wajah emosi.
Tampak beberapa anak buah Jhon yang sedang berkumpul di sana, pandangan mata mereka mengarah kepada Jhon.
Ada pertanyaan dalam benak mereka, apa yang sedang terjadi dengan Jhon? mengingat beberapa hari ini Jhon selalu terlihat senang.
Jhon duduk bersantai di sofa, sambil menatap raut wajah mereka satu persatu.
"Kalian semua, dengarkan aku. Aku beri waktu kalian 2 hari dari sekarang, siapkan keparluan untuk acara pernikahan ku. Jangan sampai ada yang tertinggal, Karna aku tidak ingin menundanya lebih lama lagi. Buat undangan sebanyak-banyak nya, dan sebar ke semua rekan ku termasuk musuh ku, Mario." ucap Jhon dengan senyum menyungging.
"Baik bos, akan segera kami laksanakan." Tanpa berlama-lama lagi, mereka pun berkumpul untuk membagi tugas masing-masing.
Jhon merasa puas, karna sebentar lagi Dinda akan seutuhnya menjadi miliknya. Dengan begitu, Mario tidak akan pernah bisa mengganggu apa lagi merebut Adinda dari nya.
Beberapa saat kemudian, Jhon pun memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Ia ingin memberitahu Dinda bahwa pesta pernikahan akan di laksanakan dalam 3 hari ke depan.
Bersambung epd 56
__ADS_1