
Satu minggu kemudian
Saat malam masih belum terlalu larut, Dinda dan Jhon sedang asik berkumpul di teras rumah Jhon bersama beberapa anak buah Jhon.
Terlihat Zack yang sedang memainkan sebuah gitar di sana.
Dinda mengamati permainan gitar Zack, merasa senang.
Sementara itu Jhon beranjak masuk kedalam rumah, namun tak lama kemudian Jhon kembali lagi ke teras.
"Sini, gantian aku yang main." ucap Jhon menghentikan permainan Zack dan mengambil alih gitar tersebut.
Zack pun tak menolak, dia memberikan gitar di tangannya kepada Jhon.
"Kamu mau lagu apa sayang?" tanya Jhon lembut kepada Dinda.
Dinda pun tersenyum lebar menanggapi aksi Jhon yang tak mau kalah dengan Zack.
"Apa ajalah, terserah mu saja mau lagu apa." jawab Dinda.
"Oke, aku persembahkan sebuah lagu untuk mu, berjudul yang pertama kali." ucap Jhon.
Raut wajah Dinda seketika merona seraya tersenyum manis. Sementara yang lain, mengulum senyum melihat Jhon dan Dinda.
Lalu mereka pun mulai mengamati dan mendengarkan.
Jhon pun mulai memetik gitarnya, memainkan sebuah irama lagu.
Jhon mulai bernyanyi mengikuti irama lagu dari petikan gitar nya.
๐ธ๐ผ Denyut jantung di dada
Berdebar tak menentu
Karna kehadiran mu..
Diam-diam hatiku..
Mengagumi diri mu
Bahkan menyayangi mu..
Untuk pertama kali
Itu pun ku akui..
kau begitu berarti..
Rasanya ingin slalu..
Dekat-dekat dengan mu
Tak ingin pisah lagi..
Reff:
Yang pertama di dalam hidup ini
Rindu dan sayang menyiksa diri..
Yang pertama di dalam hidup ini
Kasih dan sayang menerpa diri..
Terkadang tak sadar bibir ku ini..
Menyebut dan memanggil nama mu.. sayang..
__ADS_1
Pertama kali di dalam hidup ku ini
Menyayang diri mu..
Petikan gitar Jhon pun terhenti dan mendapat tepuk tangan serentak dari Dinda dan anak buah nya.
"Bagus banget suara nya.." ucap Dinda, senang.
Jhon tersenyum dan langsung meletakkan gitarnya di kursi sembari beranjak dari duduk nya, berdiri di hadapan Dinda.
Jhon tak memperdulikan anak buahnya yang memandanginya, menanti aksi berikutnya.
Jhon mulai menggenggam erat kedua tangan Dinda dan menatap lembut bola mata Dinda.
"Aku merasa lengkap, meski kita belum sempurna. Aku merasa senang, meski hati mu belum juga ku genggam." ucap Jhon membuat Dinda tersipu malu.
Kemudian Jhon melanjutkan kata-katanya lagi, namun tetap pada posisi yang sama.
"Sudah lama aku menutup hati ini, tapi entah mengapa.. hati ku perlahan mulai terbuka saat mengenal mu. Namun bibir ku sudah terlalu kaku untuk mengatakan, aku cinta pada mu Adinda."
"Aaaaa haha.." Dinda tertawa saat mendengar ucapan Jhon, wajahnya semakin merona menahan malu.
Demikian pula dengan Zack, Erik dan yang lainnya.
"Swit swiiitttt.. ciiieeee"
Begitulah kira-kira mereka menyoraki Dinda dan Jhon.
Kemudian Jhon melepaskan genggaman tangannya, dan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.
"Will you want to marry me?" ucap Jhon sembari memberikan kotak cincin yang telah terbuka yang isinya adalah sebentuk cincin berlian putih dan mewah.
Tentu saja hal itu membuat Dinda sangat terkejut sekaligus senang.
Dinda tersenyum mengembang sembari menatap Jhon dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Jhon tersenyum, masih menatap lembut bola mata Dinda.
Dinda menarik nafas panjang, lalu menghembuskan nya.
Kemudian Dinda menelan saliva nya, "yes of course, i want to marry you."
Jhon memeluk Dinda, merasa sangat senang dengan jawaban Dinda.
Jhon mengecup lembut pucuk kepala Dinda, dan langsung memakaikan cincin tersebut ke jari manis Dinda.
Oooouuu sederhana tapi bikin baper๐๐
Gelak tawa senang dan suara sorakan terdengar jelas dari mereka yang menyaksikan dua sejoli yang sedang jatuh cinta.
Suasana malam yang sangat romantis yang dipenuhi dengan kebahagiaan diantara keduanya.
Zack mulai memainkan kembali gitarnya, mengalunkan nada-nada cinta yang membuat hati Jhon dan Dinda semakin bahagia.
Setelah beberapa menit kemudian, Jhon meminta Dinda untuk masuk ke kamarnya, berhubung malam sudah semakin larut.
"Sayang, sebaiknya kamu tidur saja. Besok kita akan fitting baju pengantin, aku sudah ada janji dengan desainernya." ucap Jhon.
"Baiklah, aku juga sudah mengantuk." jawab Dinda.
Jhon pun mengantar Dinda masuk.
Saat sudah di depan pintu kamar, Jhon menghentikan langkah Dinda sejenak.
"Heii" ucap Jhon.
Dinda mengerutkan kedua alisnya menatap Jhon.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Dinda, tak mengerti.
Jhon mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda.
"Berikan aku ciuman mu." ucap Jhon pelan.
Tentu saja hal itu membuat Dinda membulatkan kedua bola matanya, seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Dinda menggelengkan kepala, tanda tak mau memberikan ciumannya.
Namun Jhon memaksanya dengan membuka kasar tangan Dinda dan langsung merangkul pinggang ramping Dinda.
Jhon pun mulai mendaratkan ciumannya Dibibir mungil Dinda.
Ciuman lembut namun sangat lama sehingga membuat keduanya hampir kehabisan nafas.
Setelah itu Jhon melepas ciumannya dengan nafas yang tidak beraturan.
Detak jantung keduanya berdegup kencang, diiringi dengan desiran darah yang semakin kuat.
Jhon menyapu bibirnya dengan lidah, "manis." ucapnya seraya tersenyum lebar.
Sementara Dinda, ia merasa kesal dengan kenakalan Jhon.
"Dasar otak mesum." ucap Dinda yang langsung masuk ke dalam kamar meninggalkan Jhon yang tertawa kecil.
Jhon pun akhirnya bergabung kembali di teras bersama Zack, Erik dan yang lainnya.
Saat sudah berada di dalam kamar, Dinda langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuk.
Dia tersenyum seraya menggigit sedikit bibir bawahnya saat mengingat aksi yang dilakukan Jhon tadi.
"Kenapa aku menyukai nya?apa aku jatuh cinta pada nya?" gumam Dinda pelan.
"Aah, mungkin karna aku mengandung anaknya saja dia bersikap manis seperti itu." lanjutnya.
Kemudian Dinda mulai memejamkan mata, hingga dengan perlahan dia mulai tertidur.
Beberapa saat kemudian, Dinda masuk ke alam mimpi.
Di dalam mimpinya, Dinda memakai gaun pengantin putih yang begitu indah, dan berada di suatu tempat yang terang. Dari arah lain, tiba-tiba muncul sosok Ayah dan Ibunya yang sedang tersenyum memandang ke arah Dinda, namun tak lama mereka menghilang menjauh dari Dinda.
"Ayah, ibu.. tunggu Dinda, Dinda mau ikut. Kalian mau kemana? Ayah.. ibu.." teriaknya.
"Ayaaahh.. ibuuuuu.."
"Hah hah hah"
Dinda tersadar dengan nafas yang tak beraturan dan keringat dingin yang bercucuran dari seluruh tubuhnya.
"Kenapa aku memimpikan mereka?" gumamnya pelan seraya mengelap lembut keringatnya.
Dinda beranjak dari kasur empuk dan berjalan menghampiri pintu.
Ceklek (pintu di buka)
Dinda pun keluar menuju dapur, dia mengambil segelas minuman di sana, lalu meneguk nya.
"Kenapa aku memimpikan mereka?" gumamnya pelan, masih mengingat akan mimpinya tadi.
Kemudian Dinda memutuskan untuk kembali ke kamar lagi dan melanjutkan tidurnya.
Sementara di teras, Jhon yang masih berkumpul menyudahi obrolannya dan beranjak masuk.
Jhon masuk ke dalam kamar, dan merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, hingga tak lama kemudian Jhon pun tertidur karna sudah merasa matanya terlalu berat.
Bersambung epd 50
__ADS_1