
Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Jhon dan Dinda pun akhirnya sampai di tempat tujuan.
Mereka turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam butik, terlihat seorang desainer bernama Bella yang sudah menunggu mereka di sana.
"Hallo Jhon! apa kabar?!" Bella mengarahkan pandangannya kearah Jhon seraya tersenyum lebar.
"Hallo Bell, lama tidak berjumpa dengan mu." Jhon juga tersenyum kepada Bella.
"Sepertinya kau sangat sibuk Jhon." Bella melirik kearah Dinda. "Ternyata calon istri mu sangat cantik, kau sangat pintar memilih calon istri." Bella mengamati raut wajah Dinda dengan senyum lebarnya.
Begitu pula Jhon, ia mengalihkan pandangannya menatap Dinda sambil merangkul pinggang ramping milik Dinda.
"Ya, kau benar Bell, calon istri ku memang sangat cantik." Jhon tersenyum mengembang, dengan sengaja ia memuji kecantikan Dinda di depan Bella.
Seketika raut wajah Dinda merona, karna merasa malu.
Bella tersenyum sumringah, melihat kemesraan yang ditunjukkan oleh Jhon kepada Dinda.
Kemudian Bella mengajak Jhon dan Dinda untuk segera melakukan fitting gaun pengantin.
Jhon dan Dinda pergi ke ruang ganti yang terpisah.
Jhon di bantu oleh salah satu rekan Bella, ia mencoba 3 pasang setelan jas pengeluaran terbaru di sana.
Sementara Dinda, ia dibantu langsung oleh Bella, mencoba 3 pasang gaun pengantin yang juga keluaran terbaru dan paling indah.
Setelah mencoba beberapa setelan, Jhon akhirnya memilih setelan jas berwarna hitam, kemeja putih dan dasi kupu-kupu berwarna hitam untuk acara resepsi, dan setelan jas berwarna putih untuk acara akad nikahnya.
"Bagaimana Jhon?!" Bella datang menghampiri Jhon yang berada di ruang ganti lain, Jhon yang saat itu baru saja selesai memilih setelannya.
Jhon tersenyum kepada Bella, "aku rasa ini lebih cocok dengan ku, ukurannya juga pas dan terasa nyaman saat aku memakainya." Jhon menunjukkan dua setelan jas kepada Bella.
"Oke! baiklah jika kau memilih yang itu, sekarang cepatlah keruang ganti sebelah, apa kau tidak ingin melihat calon istri mu?! dia terlihat semakin cantik." Bella tersenyum senang kepada Jhon dan tidak sabar ingin Jhon melihat Dinda.
"Benarkah?!" mendengar perkataan Bella, Jhon pun segera beranjak dari tempatnya, ia juga sudah tidak sabar melihat Dinda.
Jhon mengikuti langkah Bella menuju ruang ganti Dinda. Saat Jhon dan Bella tiba, terlihat Dinda yang sedang menghadap cermin besar di sana.
Dinda mengenakan gaun pengantin berwarna putih, dengan bagian dada membentuk huruf V dan bagian belakang sedikit terbuka sehingga menampakkan punggungnya yang putih dan mulus. Gaun itu juga memiliki bagian bawah yang panjang kebelakang, sehingga membuat penampilan Dinda bak putri dari negeri dongeng, terlihat sempurna.
Jhon perlahan mendekat kearah Dinda, dia melangkah sambil menatap, penuh kagum.
Sementara Dinda, ia tersenyum dengan raut wajah merona menahan malu, saat ia melihat Jhon yang sedang mendekat sambil tersenyum menatapnya dari pantulan cermin.
Jhon berdiri dibelakang Dinda, sambil memposisikan kedua tangannya masuk ke saku celana. Jhon mengamati raut wajah Dinda dari pantulan cermin.
"Kau sangat cantik, benar-benar wanita yang sempurna." Jhon berkata dalam hati, ia terus saja menatap Dinda dengan tersenyum.
Dinda mengubah posisinya menghadap Jhon, "kenapa kau menatap ku seperti itu? apa gaun ini tidak cocok untuk ku?!" Dinda mengarahkan pandangannya kearah Jhon, sesekali mengarah ke gaun yang ia kenakan.
"Tidak sayang! kau terlihat sempurna." Jhon semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Dinda, sangat dekat hingga tak ada jarak antara mereka.
"Benarkah?" Dinda tersenyum, menatap Jhon. Raut wajahnya semakin merona, masih menahan malu.
"Tentu saja!" Jhon mengecup lembut pipi Dinda di depan Bella, Jhon benar-benar tidak memperdulikan orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Bella dan beberapa karyawannya mengulum senyum, mereka saling melempar pandang saat melihat Jhon dan Dinda yang begitu mesra.
Setelah merasa gaun yang di kenakan Dinda sangat cocok dan pas di tubuhnya, Jhon menunggu diluar dan membiarkan Dinda di ruang ganti untuk melepas gaunnya.
__ADS_1
Setelah selesai, Dinda keluar menghampiri Jhon. "Lama nunggu ya?!" Dinda mendekat kearah Jhon.
Jhon tersenyum, "gak kok! pulang sekarang yuk." Jhon merangkul pundak Dinda.
"Yuk." Dinda pun menjawab seraya menganggukkan kepala.
"Bella, terima kasih ya! untuk waktunya." Jhon dan Dinda mengarahkan pandangannya kearah Jhon.
"Sama-sama Jhon! ditunggu juga undangannya." Bella tersenyum kearah keduanya.
"Bagaimana bisa aku tidak mengundang mu Bell..! gaun pengantin saja aku memesannya khusus dengan mu."
Bella dan Dinda tertawa kecil bersamaan, mendengar ucapan Jhon.
"Terima kasih sudah mempercayakannya kepada ku Jhon!" Bella menjabat tangan Jhon kemudian beralih kepada Dinda.
"Sama-sama Bell." Jhon dan Dinda pun menanggapinya.
Setelah itu, mereka pun meninggalkan Bella.
Jhon dan Dinda memutuskan untuk pulang, namun sebelum itu Dinda mengajak Jhon mampir ke sebuah restoran yang tidak terlalu mewah, namun lokasi restoran itu sangat strategis, dekat dengan taman kota.
Jhon pun menyetujui, dan langsung melajukan kendaraannya dengan cepat.
...****...
Ditempat lain, ada Mario yang di temani Aldo berbincang di teras rumahnya.
"Yo, kita keluar aja yuk, cari angin." Aldo berdiri mengajak Mario.
"Okee.. tapi kita mau kemana?" Mario pun berdiri berhadapan dengan Aldo.
"Bagaimana kalau kita ke restoran yang dekat dengan taman kota? tempatnya strategis."
Mario dan Aldo segera menuju ke tempat tujuan, Aldo mengendarai mobilnya dengan sangat cepat.
Suasana jalan saat malam hari sangat ramai, sehingga butuh waktu lebih dari 30 menit untuk sampai di tempat tujuan.
Beberapa saat kemudian, mobil yang di kendarai Aldo dan Mario pun sampai tepat di halaman restoran.
Di sisi lain, ada Jhon dan Dinda yang juga berada di restoran yang sama.
Namun Dinda dan Mario tidak menyadari, jika mereka berada di tempat yang sama.
Jhon dan Dinda sedang duduk berhadapan di satu meja.
"Sayang, apa kau sering kemari?" Jhon bertanya memandang kearah Dinda, sambil menikmati makan malam mereka.
"Tidak! sebelumnya aku belum pernah ke sini, tapi gak tau deh, kenapa tiba-tiba aku pengen banget makan di sini." Dinda menjawab, dia juga sedikit tidak mengerti kenapa tiba-tiba hatinya mengarah ke restoran ini.
Jhon tersenyum, masih menatap Dinda.
"Mmm.. mungkin itu bawaan bayi yang ada di dalam perut mu sayang..! makanya kamu ngajak aku ke sini."
"Dinda tersenyum, senang. " Iya ya, emang bawaan bayinya mungkin." jawabnya seraya tertawa kecil sambil mengelus lembut perutnya.
"Sayang, aku tinggal ke toilet sebentar ya! gak lama kok, gapapa kan aku tinggal sebentar?" Jhon beranjak dari duduknya.
"Iyaa! gapapa." Dinda menjawab sambil mengangguk.
__ADS_1
Jhon pergi meninggalkan Dinda sendirian, ia melangkah menuju toilet.
...****...
Sementara di sisi lain, Mario berada di meja lain bersama Aldo, secara tidak sengaja mengarahkan pandangannya kearah Dinda yang sedang duduk sendirian.
Mario beranjak dari duduknya, dengan cepat ia meninggalkan Aldo melangkah menghampiri Dinda.
"Dinda! hai." sapa Mario lembut, saat sudah berada di dekat Dinda.
Tentu saja hal itu membuat Dinda terkejut.
"Mario! kamu_ kamu ngapain di sini? kamu gak lagi ngikutin aku kan?!" Dinda merasa takut kalau Jhon tiba-tiba datang dan melihatnya berbicara dengan Mario.
"Din! aku mau bicara sama kamu, ikut aku sebentar." Mario menarik tangan Dinda dan membawanya menjauh dari meja Dinda.
"Mario lepasin.. kamu mau bawa aku kemana..?! aku ke sini sama Jhon..!! aku gak mau dia salah paham." Dengan bersusah payah Dinda mencoba melepaskan tangan Mario dari tangannya.
Namun Mario masih saja menarik tangan Dinda, dia tidak mau melepaskan Dinda dan terus saja melangkah semakin menjauh.
"Mario..!! aku bilang lepasin tangan ku.." Dinda terus saja berontak.
Namun Mario tetap tidak memperdulikannya.
Sampai akhirnya, langkah Mario dan Dinda berhenti di sebuah bangku taman.
"Mario, maksud kamu apa bawa aku kesini..?!" Dinda mengerutkan keningnya, dia mengarahkan pandangannya menatap Mario, begitu juga dengan Mario.
Kini mereka saling berhadapan dan saling menatap.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Dinda, Mario menahan kepala Dinda. Dengan cepat ia mengecup lembut bibir mungil Dinda.
Bola mata Dinda membulat saat merasakan sentuhan lembut dari bibir Mario. Ciuman yang dulu pernah ia rasakan, kini telah ia rasakan kembali namun disaat yang tidak tepat.
Plakk!!! Seketika Dinda menampar pipi Mario, ia menjadi geram dengan perlakuan Mario terhadap dirinya.
Mario menatap Dinda, dia hanya terdiam menahan tamparan yang mendarat di pipinya.
"Apa ini yang nama nya cinta?! apa cinta hanya diungkapkan dengan sebuah ciuman?! kamu nyadar gak sih, kamu udah bikin aku menderita..!! kamu udah bikin hidup aku hancur..!! apa ini yang namanya cinta..!! kamu usir aku Mario..!! kamu usir aku dari hidup kamu..!! kamu inget gak sih..?!! Dinda membentak, ia menangis mengeluarkan rasa kecewanya sambil memukul-mukul dada bidang milik Mario.
" Sayang!! dengarkan aku, aku emang salah, kamu boleh pukul aku sampai kamu puas, tapi aku mohon, kita kembali seperti dulu. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku mohon kembalilah pada ku." Mario berusaha membujuk sambil memegang tangan Dinda, ia menatap Dinda penuh harap.
Dinda terus saja menangis, "tidak bisa..!! aku tidak bisa kembali lagi pada mu Mario..!! aku hamil! aku hamil anak jhon..!! puas kamu?! puas udah bikin aku hancur..?!" Dinda berkata dengan sangat lirih dalam tangisnya.
"A_ apa?" Mario tersentak saat mendengar ucapan Dinda, tubuhnya seketika melemah, debaran jantung terasa sangat kuat, air matanya pun mulai menggenang.
Dengan deraian air mata, Dinda pergi meninggalkan Mario yang berdiri mematung.
Dinda masuk kembali ke dalam restoran, ia menghampiri Jhon di sana.
"Sayang kamu kemana aja? aku mencari mu kemana-mana." ucap Jhon saat ia melihat Dinda yang baru saja masuk.
"Jhon! ayo kita pulang." ajak Dinda sambil mengusap air matanya.
"Hei! kamu kenapa nangis?!" Jhon menatap lekat bola mata Dinda yang basah.
"Ayo kita pulang..!!" rengek Dinda yang sudah tidak ingin berlama-lama di sana.
"Iya iya baiklah, ayo kita pulang." Jhon pun akhirnya menuruti permintaan Dinda.
__ADS_1
Ia meninggalkan beberapa lembar uang kertas merah di meja, lalu kemudian ia membawa Dinda pulang ke rumah.
Bersambung epd 55