SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 31


__ADS_3

Dinda kembali menatap ibu yang sedang tertidur.


Lalu ia kembali lagi ke kamarnya, hatinya begitu sedih sangat teramat sedih.


Dinda duduk di atas kasur, lalu meraih ponsel miliknya.


Dia mengamati layar ponsel, namun yang di tunggu tak kunjung tiba.


"Kenapa belum ada panggilan untuk ku?!" ucapnya pelan.


Lalu ia kembali meletakkan ponselnya di atas kasur dan segera ia merebahkan tubuhnya hingga ia tertidur.


*****


Tak terasa Dinda tidur sangat pulas, hingga menjelang sore.


Dinda terbangun dari alam mimpinya, lalu ia segera beranjak keluar dari kamarnya.


Dinda pergi menuju kamar mandi, hendak membersihkan tubuhnya.


Setelah selesai, "aahh segarnya..!!" ucapnya, merasa nyaman.


Dinda masuk kembali ke kamarnya, untuk berganti pakaian. Dia hanya mengenakan pakaian santai, celana jeans pendek di atas lutut sedikit dan memakai kaos oblong berwarna pink.


Walau pun Dinda berpenampilan seadanya, namun dia terlihat sangat cantik dan cocok memakai segala jenis warna di kulit putih mulusnya.


Setelah selesai berpakaian, Dinda segera keluar dari kamarnya.


Namun dia tidak mendapati ibunya dan tidak mendengar suara milik ibunya.


Seketika perasaan Dinda tak nyaman, lalu ia segera menghampiri kamar ibunya.


Setelah masuk ke kamar ibu, dia mendapati ibunya yang masih tampak tertidur pulas.


Dinda tersenyum, sembari mendekat ke arah ibunya, lalu ia duduk disisi kasur ibu.


Dia menatap raut wajah ibu, namun seketika senyumnya memudar.


"Kenapa wajah ibu pucat sekali?!" tanya Dinda dalam benaknya.


Lalu ia mencoba membangunkan ibu.


"Buk! ibuk..!!" panggilnya dengan perlahan sembari menepuk lembut pipi ibu.


Namun ibu tak kunjung bangun, bahkan tak ada sedikitpun gerakan dari tubuhnya.


Dinda semakin cemas, dia merasa sangat ketakutan.


"Buk...!! ibuk...! ibuuuuk...!!!" tangis Dinda pecah, dia mengguncang-guncang tubuh ibunya dengan sangat kuat.


Namun ibu masih saja terdiam, tak ada jawaban bahkan tak ada sedikit pun gerakan dari tubuh sang ibu.


Wajah Dinda memucat, dengan bersusah payah ia menggendong tubuh ibunya menuju luar kamar.


Dinda membaringkan tubuh ibu di sofa sejenak, lalu ia mengambil tas kecil dan helm miliknya.


Tak lupa ia mengambil selendang panjang milik ibunya, lalu ia kembali menggendong tubuh ibu dan membawanya naik ke atas motor.


Dinda mendudukkan tubuh ibunya dengan posisi duduk mengangkang, lalu dia pun segera naik ke atas motor dan mengikat tubuh ibu ke tubuhnya menggunakan selendang milik sang ibu.


Setelah selesai, Dinda pun segera melajukan motor maticnya. Dia membonceng ibu dengan sangat berhati-hati.


*****

__ADS_1


Tak lama kemudian, Dinda pun sampai di rumah sakit.


Dinda segera menggendong tubuh ibu, masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Sus! tolong ibu saya sus." ucap Dinda kepada beberapa suster di sana.


Ibu pun segera dilarikan keruang ICU untuk segera ditangani.


Dinda menangis menatap ruang ICU yang tertutup rapat, hatinya terluka melihat kondisi ibu yang semakin parah.


"Ibuuuk..!! maafkan Dinda..!! lirihnya dalam tangis.


Lalu ia mendudukkan bokongnya di kursi sembari memejamkan mata.


" Nona Adinda Larasati!" suara seorang suster menyapa Dinda.


Dinda segera membuka matanya, lalu menatap suster yang sudah berada didepannya.


"Iya sus!" jawab Adinda singkat, sembari beranjak dari duduknya.


"Nona Adinda! mari ikut saya, sebaiknya Nona menyelesaikan administrasinya terlebih dahulu." ucap suster lagi.


Deg


Jantung Dinda seketika berdegup, dia tersadar bahwa dia tidak mempunyai uang untuk biaya administrasi.


"Nona! ini resep obat yang harus ditebus terlebih dahulu, karna secepatnya obat ini akan digunakan." ucap suster itu lagi.


"I_ iya sus, akan saya tebus." jawab Dinda dengan terbata.


Dinda menghela nafas panjang, lalu kembali berucap.


"Sus, bisa saya tinggal ibu saya sebentar?! saya ingin mengambil uang di rumah." ucap Dinda, berbohong.


"Iya bisa Nona! tapi jangan terlalu lama, karna ibu anda membutuhkan obat itu." jawab suster seraya tersenyum tipis.


*****


Setelah keluar dari area rumah sakit, Dinda duduk sejenak di atas motornya, sembari berpikir agar bisa mendapatkan uang dengan cepat.


Seketika pandangan Dinda tertuju kepada motor yang didudukinya, dia mendapatkan ide untuk menjual motor satu-satunya peninggalan sang ayah.


Dinda segera beranjak, lalu melajukan motornya hingga terhenti di sebuah bengkel motor.


"Permisi bang!" Dinda menyapa seorang laki-laki di sana.


Laki-laki yang sedang sibuk mengotak-atik mesin motor pun menoleh dan menghentikan pekerjaannya.


"Iya..! ada apa mba?!" tanyanya.


Dinda menelan saliva nya, "saya ingin ketemu pemilik bengkel bang." jawab Dinda.


"Iya, saya sendiri." ucap laki-laki tersebut yang ternyata sang pemilik bengkel.


Dinda tersenyum kearahnya.


"Saya mau jual motor saya bang." ucap Dinda dengan pasti.


Pemilik bengkel pun segera beranjak dan menghampiri motor matic milik Dinda.


"Motor ini mba?!" tanya pemilik bengkel sembari melihat-lihat motor Dinda.


"Iya bang." jawab Dinda singkat.

__ADS_1


"Mau dijual berapa mba?!"


Dinda belum menjawab, dia tampak berpikir sejenak.


"Emmm.. kira-kira kalau dijual lakunya berapa bang?!"


Pemilik bengkel itu pun mengira-ngira harga motor Dinda.


"Emmm.. kalau dilihat dari luar.. paling dapet murah mba..! soalnya ini motor udah terlihat sangat kusam. Kalau dijual kembali harus banyak polesan, baru laku." ucap pemilik bengkel.


"Coba saya dengar mesinnya dulu mba." ucapnya lagi.


Kemudian Dinda pun menyerahkan kunci motornya kepada pemilik bengkel.


Dengan segera pemilik bengkel itu menyalakan mesin motor Dinda.


Bruumm bruumm bruumm...


Setelah itu mesin motor Dinda pun dimatikan.


"Wah.. kalo ini sih banyak banget yang harus diganti mba..!" ucap laki-laki itu setelah mendengar bunyi dari mesin motor Dinda.


"Paling saya berani ambil 3 juta mba!." lanjutnya lagi.


"Apaa..!! cuma 3 juta?! yang bener aja bang..! ini motor, bukan sepeda..." cetus Dinda yang terkejut saat mendengar harga motornya.


Oalaahh ilmu perbengkelan memang mantul.


"Ya itu sih terserah mba aja.. jadi dijual apa ngga?! kalau mau segitu, berarti saya ambil." ucap laki-laki tersebut.


"Kalau gak mau ya udah." lanjutnya.


Dinda menghela nafas kasar.


"Ya udah deh bang, dari pada gak laku sama sekali." jawab Dinda, terpaksa.


Akhirnya transaksi pun dilakukan dan Dinda segera kembali menuju rumah sakit.


*****


Sesampainya Dinda di rumah sakit, dia segera menuju apoteker untuk menebus obat untuk ibunya.


Setelah mendapatkan obat, dia langsung menuju ruang administrasi.


Dinda pun akhirnya menemui seorang suster di sana.


Suster itu pun menjelaskan biaya obat yang harus ditebus beserta biaya perawatan dan ruang rawat ibu.


Dinda hanya menganggukkan kepala mendengar setiap ucapan dari suster.


Saat ini isi kepala Dinda sudah penuh dengan jumlah-jumlah biaya pengobatan ibu, sehingga dia merasa sedikit pusing.


Ibu masih berada diruang ICU, tampak beberapa suster yang mondar-mandir keluar masuk ruangan.


Dinda kembali keluar dari area rumah sakit.


Dengan raut wajah bingung dia berjalan dengan langkah gontai.


Saat ini dia hanya memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan uang secepatnya,


mengingat biaya rumah sakit yang tidak sedikit.


Dinda harus segera menyiapkan biaya tersebut, agar ibu bisa secepatnya mendapatkan penangangan yang lebih baik.

__ADS_1


Dinda berjalan tak tentu arah, hingga tak terasa hari sudah semakin gelap.


Bersambung epd 32


__ADS_2