SANG PENAKLUK HATI

SANG PENAKLUK HATI
epd 32


__ADS_3

Langkah Dinda terhenti di sebuah mini counter.


Tanpa berpikir panjang, dia langsung mengeluarkan ponsel yang berada didalam tas kecil miliknya.


Dinda berniat untuk menjualnya, demi menambah biaya pengobatan sang ibu.


*****


Ditempat lain, ada Mario dan Aldo yang masih saja sibuk di ruangan Mario.


"Hoooaaaaammm" Aldo menguap lebar.


"Balik yuk, capek banget tau ngga." ucap Aldo kepada Mario sembari merebahkan tubuhnya di sofa.


"Enak aja loe balik, kerjaan belum selesai." jawab Mario, kesal.


"Kerjaan kan udah gak terlalu banyak lagi yo..! masa gak bisa istirahat..!" ucap Aldo memelas.


Tiba-tiba saja dari arah lain, Yudha datang menghampiri mereka.


"Tuan Aldo, sisi tv diruang divisi 3 sudah selesai diperbaiki Tuan!" ucap Yudha yang membuat Aldo reflek beranjak bangun.


Sementara Mario terperangah mendengar kabar dari Yudha.


"Mana?! coba buka rekamannya." ucap Aldo yang sudah tidak sabar mengetahui pelaku aslinya.


wooww


Yudha pun segera membuka rekaman sisi tv itu dari layar laptopnya.


Jreng jreng jreng...


Ketika Yudha hendak membukanya, Mario - Aldo dan Yudha saling melempar pandang.


Setelah itu, Yudha pun segera memutar rekaman sisi tv sesuai hari dan tanggal kejadian.


Ketiganya terdiam, suasana menjadi hening saat melihat rekaman itu.


Dimulai dari Dinda yang baru saja datang, dan duduk di meja kerjanya.


Deg


Jantung Mario berdegup, saat bola matanya menatap Dinda.


Tak dapat di pungkiri, bahwa Mario masih menyimpan rasa kepada Adinda.


Rekaman itu terus diputar, sampai detik dimana tampak Dinda sedang menangis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya di sana.


Aldo pun mengalihkan pandangannya ke arah Mario, begitu juga Mario yang menatap Aldo dengan mata yang berbinar, lalu mengarahkan kembali pandangan mereka ke layar laptop.


Detik berikutnya, tampak Dinda sedang beranjak dari duduknya, karna pada saat itu Dinda hendak kembali ke ruangan Mario.


Setelah itu, Mario - Aldo dan Yudha terperangah secara bersamaan.


Mereka sangat terkejut saat mendapati bahwa Sella lah yang telah mengambil flashdisk milik Aldo yang berada di meja kerja Dinda.


Rekaman masih berlanjut sampai Sella meletakkan kembali flashdisk ketempat semula.


Seketika tubuh Mario menjadi lemas, air matanya mulai menggenang.


"Sejak awal gua udah yakin, bukan Dinda pelakunya." ucap Aldo merasa kecewa dengan Mario.


"Benar Tuan, Sella yang menjebaknya." jawab Yudha.


Detak jantung Mario semakin kuat, seketika Mario mengingat apa yang sudah dilakukannya kepada Dinda.


Aldo beranjak dari duduknya, dan mengarahkan pandangannya ke arah Mario.


Aldo menatap tajam bola mata Mario.


"Sekarang loe udah tau kan?! siapa pelakunya?!" tanya Aldo kepada Mario.


Namun Mario hanya terdiam, pikirannya tertuju kepada Dinda.


"Jangan merasa bersalah loe sekarang..!! loe inget, Dinda bilang apa?!" tanya Aldo.


Mario menatap Aldo dengan perasaan bersalah.


"Kenapa diam?! loe nyeselkan?! loe udah bentak-bentak dia.. loe caci maki dia.. loe samaain dia dengan perempuan jalang..!!" ucap Aldo dengan kasar.


"Loe inget Yo..!, loe udah ngusir dia dari sini..!!

__ADS_1


loe inget itu, loe nuduh dia padahal dia gak tau apa-apa Yo..!! dimana otak loe Yo?! dimana.. hah?! lanjut Aldo lirih.


Namun Mario masih saja diam tak bisa berkata apa-apa.


" Sekarang loe mau apa?! loe mau nyuruh dia balik lagi ke sini?! iya..?! dia gak bakalan balik Yo."


"Loe inget, dia bilang apa?! sekali saja dia pergi.. dia gak akan kembali." lanjut Aldo lagi.


"Gua gak bisa bayangin, gimana perasaannya saat itu. Dia dipojokkan untuk kesalahan yang gak pernah dilakukan." lanjut Aldo lagi.


"Gua akan cari dia." jawab Mario singkat


Aldo menyunggingkan senyum tipisnya.


"Loe mau cari dia kemana?! nomernya aja udah gak aktif." ucap Aldo membuat mario semakin merasa bersalah.


"Gua udah berkali-kali hubungin nomernya Yo..! tapi hasilnya tetap sama." lanjut Aldo.


"Gua kecewa sama loe, harusnya loe bisa nahan emosi loe saat itu Yo..!" ucap Aldo lagi.


Mario tertunduk, seketika air matanya menetes.


Teringat jelas kata-kata kasarnya kepada Adinda.


"Gua emosi Do..! gua nyesel banget." ucap Mario enteng.


Mario menghela nafas panjang, "gua masih cinta sama dia Do..!! gua akan terus cari dia, gua pasti temuin dia dan gua bakalan nikahin dia..!! lirih Mario sembari menatap raut wajah Aldo.


"Semoga loe berhasil nemuin dia." jawab Aldo sembari melangkah pergi meninggalkan ruangan Mario.


Kini hanya tinggal Mario dan Yudha yang masih berada di ruangan yang sama.


"Besok pagi seret bajingan itu ke sini." ucap Mario kepada Yudha.


"Baik Tuan, dengan senang hati." jawab Yudha yang memang sangat tidak menyukai Sella.


Mario kembali memutar rekaman itu, tampak Dinda yang sedang dipeluk oleh bu Sandra di sana.


Seketika tangis Mario pecah, "maafkan aku sayang, maafkan akuu..!! lirihnya.


Yudha yang mendengarnya pun seketika meneteskan air mata.


Tiba-tiba saja Mario mengingat akan satu hal, dia mengingat saat Dinda memergokinya yang tengah bercumbu mesra dengan Sella.


"Sudahlah Tuan! besok kita akan mulai mencarinya." ucap Yudha menenangkan.


"Aku sudah menyakitinya Yud..! dia melihatku berciuman dengan Sella.." ucap Mario lirih, mengakui kesalahannya di depan Yudha.


Sontak membuat Yudha kaget, "apaa..?! kalau begitu saya tidak yakin Tuan, kalau Nona Adinda mau kembali lagi dengan mu." ucap Yudha membuat Mario semakin menyesal.


*****


Ditempat lain, Dinda yang sudah berada di sebuah kamar mewah milik seseorang.


Dinda yang saat itu pulang dari sebuah mini counter berjalan dengan langkah gontai, secara tak sengaja mendengar percakapan seorang wanita yang ingin menjual dirinya karna keadaan mendesak.


"Aku ingin bertemu bos mu." ucap seorang wanita.


"Jhon sedang sibuk." jawab seorang pria.


"Aku butuh uang malam ini, katakan padanya aku akan melayaninya sepuas nya."


"Baiklah, kau tunggu disini, aku akan memberitahunya."


Saat itulah, Dinda berpikir bahwa tidak ada cara lain lagi selain menjual kesuciannya.


Dinda tidak bisa menunda lagi, mengingat kondisi ibunya yang kian melemah.


Sementara biaya yang terkumpul masih sangat jauh dari kata cukup.


*****


Didalam kamar milik lelaki itu, tampak Dinda yang sedang merasa sangat ketakutan.


Dia bersembunyi di balik tirai jendela kamar.


"Hei, kenapa kau malah disitu?! ayo cepat layani aku." ucap lelaki yang bernama Jhon.


Dinda semakin takut, tubuhnya gemetar. Ingin sekali dia menangis dan berlari saat ini juga, tapi keadaan harus memaksanya tetap berada bersama Jhon.


Jhon mendekat ke arah Dinda yang masih saja bersembunyi.

__ADS_1


"Hei! apa yang kau lakukan disini hem?! kau tenang saja, aku tidak akan menyakitimu." ucap Jhon sembari merangkul pinggang ramping Dinda dan menuntunnya ke kasur empuk milik Jhon.


Seketika air mata Dinda menggenang, dia


merasa hancur berkeping-keping.


"A_ aku_ aku belum pernah melakukannya." ucap Dinda pelan.


Jhon tersenyum sembari mengangkat tubuh mungil Dinda dan membaringkannya di kasur empuk miliknya.


"Kau jangan khawatir, aku akan membayar mahal untuk harga keperawanan mu." jawab Jhon membuat hati Dinda bagai tersambar oleh petir.


Dinda memejamkan mata, debaran jantung yang sangat kuat.


Saat ini dia merasa sangat ketakutan.


Jhon mulai membuka baju dan celana milik Dinda.


Dinda memejamkan matanya sangat kuat, sembari menggigit bibir bawahnya.


Jhon tersenyum mengembang, saat didapatinya tubuh Dinda yang hanya tinggal memakai pakaian dalam.


"Waw.. sangat indah" ucap Jhon dalam hati.


Kemudian Jhon membuka pakaian dalam Dinda, sehingga menampakkan tubuh polos milik Dinda.


"Uuuuhhh perfect" ucap jhon pelan sembari tersenyum menyungging.


Gundukan gunung kembar yang besar dan bulat membuat Jhon semakin bergairah.


Jhon beranjak dari tubuh Dinda, dia melepas semua pakaian miliknya.


Sementara Dinda masih saja terpejam, ia tidak berani untuk membuka matanya.


Jhon kembali menindih tubuh Dinda, seketika membuat Dinda membuka matanya saat setumpuk daging menyentuh miliknya.


Dinda menangis saat Jhon mulai menggerayangi tubuhnya.


Jhon mencium bibir mungil Dinda dengan beringas, lalu kemudian Jhon beralih kebagian leher hingga turun ke dua buah gunung kembar milik Dinda.


"mmmhhhhhh"


Desahan pertama milik Dinda terdengar oleh Jhon.


Namun seketika wajah Mario berada dalam pikiran Dinda, sehingga membuat Dinda menjerit.


"aaaaaaaaaaaaahhh" tangis Dinda pecah.


Dinda menangis sehingga membuat Jhon menghentikan aksinya.


"sssttt.. jangan menangis, aku akan melakukannya dengan perlahan." ucap Jhon dengan lembut.


Kemudian Jhon mulai memasukkan setumpuk daging miliknya, masuk kedalam lubang kecil dan sempit milik Dinda.


"aaaaahh.. sakiiiiiiiiiiit..."


Dinda menjerit merasa sangat kesakitan.


Namun Jhon tidak memperdulikannya, dia tetap memasukkan setumpuk daging miliknya secara perlahan ke dalam milik Dinda.


Jhon memasukkannya sedikit demi sedikit, sampai benar-benar masuk.


"ooooouuuhhhh ssssstttt aaaaaahhhh"


Milik Jhon benar-benar masuk tepat sasaran.


Dan terjadilah malam panas bersama Dinda.


Jhon begitu bergairah menikmati permainannya, sedangkan Dinda..??


Air matanya terus saja mengalir, menahan sakit.


"aahh aaahhh aaaahhhh saakiiiiiiiiiiit"


Dinda terus saja merasa kesakitan, tangis yang diiringi dengan desahan-desahan kecil milik Dinda, membuat goyangan Jhon semakin lincah dan kuat.


"aahh aahh aahh"


Sampai akhirnya Jhon benar-benar merasakan klimaks.


"oooouuuggghhh ssit"

__ADS_1


Bersambung epd 33


Stop dulu ya shaayyy, bahaya😂


__ADS_2