SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Pertemuan Pertama


__ADS_3

Hiruk pikuk di pesta pernikahan itu tak menyulutkan niat gadis itu untuk berburu makanan lezat. Meski peluh di pelipisnya mulai bercucuran, ia tak gentar untuk menikmati semua hidangan yang tersedia.


Kini suasana tempat itu cukup panas dan menyesakkan. Bahkan pendingin ruangan tak mampu untuk sekedar memberikan rasa sejuk untuk para tamu yang datang.


Karena aula yang sebenarnya cukup luas itu, sekarang sudah dipenuhi dengan segala macam manusia. Dari laki laki perempuan tua muda maupun anak-anak yang berpasangan maupun yang single. Tentu saja ramai ini kan pesta pernikahan.


Ini adalah pesta penikahan Amalia dengan seorang pengusaha bernama Amran. Sedangkan gadis yang sedang berburu makanan tersebut adalah Annisa dengan sahabatnya Maya.


Annisa gadis cantik bertubuh tinggi semampai, berusia dua puluh tiga tahun itu adalah adik sang mempelai wanita. Ditengah kesibukan orang tua dan kakak serta kakak iparnya menyalami para tamu, ia malah asyik mencicipi semua hidangan satu per satu. Sungguh gadis yang aneh bin ajaib.


Ditengah kesibukannya mencicipi ini itu, sahabatnya Maya asyik mengomel. Gadis itu sangat heran, melihat sang sahabat dengan badan sekecil itu bisa menghabiskan banyak makanan. Sedangkan dirinya hanya dengan melihat segitu banyaknya makanan, membuat ia mual. Maya hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah absurd sahabatnya itu.


"Hei! Kamu ini lapar apa kalap sih? Ya ampun, perut sekecil itu kok muat menampung makanan sebanya itu. Kamu nggak muak?" tanya Maya. Annisa hanya menggelengkan kepala.


"Lap mulutmu, Nis. Belepotan kayak anak kecil begitu. Semua orang menatapmu dengan pandangan yang aneh tuh," ucap Maya menyerahkan tisu pada sahabatnya. Annisa segera menerima dan mengelap mulutnya.


"Kamu ini kayak nggak makan setahun aja sih, Nis." Maya mengomentari Annisa yang saat itu masih melahap berbagai macam makanan tanpa henti. Annisa malah cengar cengir dengan mulut yang penuh makanan.


Setelah menelan makanan di dalam mulutnya dia baru menjawab omelan sahabatnya itu."Biarin saja. Tahu nggak May? Aku dari pagi kelaparan gara-gara kakak tuh ... dari kemarin sudah kayak ratu. Dia yang mau nikah, eh aku yang sibuk ini itu. Mana dari kemarin aku yang disuruh- suruh melulu sama mama."

__ADS_1


Setelah berkata demikian mulutnya manyun- manyun sebal. karena sejak dua hari menjelang pernikahan kakaknya, dia ikut super sibuk membantu menyiapkan segala sesuatunya.


"Iya, iya bawel amat sih? Baru begitu saja sudah mengeluh. Tenang saja, nanti kalau kamu yang nikah kan gantian kamu jadi ratunya," jawab Maya mencubit pipi cabi imut milik Annisa. gadis itu terkekeh melihat tingkah manja sahabatnya.


"Ih sorry ya. Aku mau have fun dulu. Aku mau menikmati masa mudaku. Aku masih suka jalan-jalan, aku masih ingin kerja. Aku suka kebebasan. Kalau aku punya suami, sudah diri nggak keurus. Nggak bisa bebas kemana saja lagi. Apalagi kalau sudah punya anak makin ribet. Kalau masih diizinkan kerja sih mendingan. Tapi kalau nggak, bisa mati kebose ...." Anissa terhuyung kedepan tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.


jedugg


"Aduhhhh ... siapa sih ngawur banget. Nggak punya mata apa? Lihat nih baju aku kan jadi basahh ...." Annisa mengomel karena tiba tiba dari arah belakang ada yang menabraknya sehingga jus jeruk yang ia pegang membasahi gaun berwarna peachnya. Kini gaun cantiknya menjadi basah dan kotor. Warna peach manisnya kini bercampur aduk dengan warna orange dari jus.


"Eh maaf Mbak, nggak sengaja ...."


Laki-laki itu menggantungkan kalimatnya dan menoleh ke arah pria di belakangnya


"Maaf banget ya Mbak saya nggak sengaja, sumpah ...." Laki-laki itu kembali menggantungkan kata-katanya. Pria itu terpana memandang gadis di hadapannya. Ia terpesona pada gadis yang sekarang wajahnya terlihat masam dan kesal itu. Namun, terlihat imut dan manis di matanya.


"Ya sudah. Lain kali hati-hati makanya," jawab Annisa sambil bersungut-sungut setengah tidak ikhlas. Gara-gara pria itu, kegiatannya harus terhenti. Karena tak mungkin ia harus memakai bajunya yang lembab dan kotor.


"Bagaimana kalau Mbak kasih nomor telepon. Nanti biar saya ganti baju Mbak. Mbak mau diganti dengan gaun sama persis atau sebutkan nominalnya berapa saya ganti." Laki-laki tersebut membujuk Annisa.

__ADS_1


"Nggak perlu Mas, terimakasih," jawab Annisa ketus karena masih kesal gara-gara laki-laki di depannya itu gaunnya menjadi basah dan lengket.


"Mbak perkenalkan saya ...." Belum habis laki laki itu bicara, Annisa sudah menarik tangan Maya. Kedua wanita itu meninggalkan kedua cowok yang terbengong-bengong.


"Galak banget, tapi cantik siihh," gumam Zaid dalam hati menatap punggung Annisa yang semakin menjauh.


"Hoi! ngelamun aja lo!" Ferdi sahabat Zaid yang menyebabkan kejadian tadi menepuk pundaknya sehingga ia terkejut.


"Makasih bro. Kalau bukan karena lo, gue nggak akan nabrak cewek tadi. Dan nggak mungkin gue akan lihat cewek seimut itu." Zaid berkata sambil senyum-senyum sendiri.


"Huu ... dasar! Tadi saja ngomel-ngomel ke gue." Ferdi berkata sambil menjentikkan jarinya ke dahi Zaid. Sedangkan empunya dahi malah senyum-senyum sendiri.


"Eh, tapi kayaknya ada yang aneh. Biasanya lo nggak tertarik sama cewek mana pun. Gue kenalin cewek cakep kek, seksi kek, lo nggak pernah terpengaruh. Jangan bilang lo suka sama cewek galak tadi," tebak Ferdi sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Zaid diam saja tak menanggapinya, di dalam pikirannya hanya dipenuhi sosok Annisa yang menyita perhatiannya sedari pandangan pertama mereka. Ia sendiri pun belum pernah benar-benar merasakan yang namanya jatuh cinta. Baru pertama kali ini ia merasa berdebar-debar bertemu dengan wanita. Padahal dari masa kuliah banyak wanita yang mengejar-ngejar cintanya. Namun tidak ada satu pun wanita yang mampu menyita perhatiannya yang membuat jantungnya berdegup kencang seperti saat bertemu dengan gadis itu.


"Lo kenal nggak sama cewek tadi? Atau temannya tadi itu mungkin? Kalau kenal kasih nomornya dong." Zaid malah tidak mendengarkan kata Ferdi.


"Ya kali gue kenal sama cewek galak kayak gitu. Lagian selera lo aneh. Memang cantik tapi galak begitu," jawab Ferdi ketus karena merasa di cuekin sahabatnya itu gara-gara seorang cewek asing.

__ADS_1


"Ya mau gimana. Aku suka. Sekali-kali berguna napa? kalo ngenalin cewek selalu saja yang nggak bermutu. Pakai baju kurang bahan lah, yang bedaknya lima senti lah. Giliran cewek imut gitu malah nggak kenal." Zaid berkata sesuka hatinya.


"Dasar gila!" ucap Ferdi menoyor kepala temannya sambil berlalu pergi mengambil minuman. Zaid hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena merasa menyesal tidak sempat berkenalan dengan gadis tadi. Pikirannya hanya dipenuhi dengan wajah gadis imut yang sudah meninggalkan pesta.


__ADS_2