SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Apa Kamu Ada di Hatiku?


__ADS_3

Annisa POV


Aku tak menyangka pengintaianku pagi ini berakhir seperti ini. Rasanya jantungku akan meledak. Sangat mengejutkan, ternyata si gunung es yang mengirimiku hadiah dan ungkapan kata cinta setiap hari.


Dia?? Orang yang dingin itu? Orang yang bahkan tak pernah tersenyum kepada orang lain. Tuan perfeksionis. Ia yang selalu terlihat sempurna wajah tampannya, kulit putih bersihnya. Badannya tegap dan kekar dilihat dari otot yang terlihat samar dibalik kemeja kerjanya itu. Juga dengan pakaian yang dikenakan selalu membuat ia makin tampan. Ups, kenapa aku malah jadi berpikir yang tidak-tidak.


Sungguh aku tak menyangka dia tertarik padaku. Aku juga tak percaya bahwa tadi aku dengan percaya diri memojokkannya dengan kata-kata menuduhnya mengerjai aku. Ini si gunung es lhoo ... besarnya nyaliku. Padahal tadi rasanya jantungku mau meledak ketika mengomelinya. Ketika menuduhnya mengerjaiku. Seluruh tubuhku gemetaran entah apa yang aku rasakan. Takut, malu ataukah aku juga tertarik padanya? Rasanya tubuhku lemas seperti tak bertulang. Ah aku tak tahu, aku belum siap dengan segala pengakuannya. Bahkan dia sangat frontal.


Apa tadi katanya? Ia ingin datang meminangku? Belum sampai satu bulan ia ingin menjadikan aku istrinya? Bahkan aku hanya sekedar mengenal ia sebagai bos killer. Lalu apakah dia tidak memikirkan, bagaimana susahnya punya istri dipandang dari mana pun tidak ada nilai plusnya.


Apa lebihnya aku yang hanya gadis biasa. Tampang pas-pasan, body pun tidak seksi. Apa yang diharapkan dari wanita seperti aku. Jika mungkin aku bersanding dengannya, bukankah hanya akan mempermalukan diriku sendiri? Yang tidak sebanding dengan dirinya yang hampir sempurna tanpa cacat dan cela. Kenapa harus aku? di luar sana ada banyak wanita yang jauh lebih baik lebih cantik dan menarik daripada aku. Uhh, Entahlah ... kepalaku pusing memikirkan hal yang kukira mustahil ini. Dan berani- beraninya aku meninggalkan dia tanpa menjawab. Mampuslah aku, bagaimana aku akan menghadapi dia selanjutnya.


Dan bagaimanakah dengan perasaanku? Apakah aku tertarik padanya? Bahkan aku sendiri tak tahu. Tapi mengapa ketika dia mengatakan ingin menjadikan aku istrinya, jantungku rasanya mau meledak. Wanita mana yang sanggup menahan pesonanya yang luar biasa? Atau mungkin perasaan ini hanya sebuah rasa kekagumanku saja kepadanya.


Dan di sini, di toilet kantor aku masih bersembunyi menghindar darinya. Aku masih berusaha menetralkan degup jantung yang menggila menghianati pemikiranku. Gemetar di tubuhku berangsur-angsur menghilang. Aku melirik jam di pergelangan tangan kiriku. Sudah hampir waktu masuk kerja. Segera ku basuh wajahku yang tadi sempat memanas. Setelah kurasa sudah tenang aku melangkah keluar menuju ruanganku. Apapun itu aku akan menghadapinya.


Annisa POV End


***


Sesampainya di ruangan kerjanya, Annisa terduduk lemas dikursinya. Ia menatap kosong kearah komputer yang bahkan belum ia nyalakan. Ia memikirkan bagaimana menghilangkan kecanggungannya dengan Pak Zaid nanti. Karena mau tidak mau, pasti hubungan dirinya dan managernya akan berbeda dari sebelumnya. Pasti kecanggungan tidak dapat dielakkan.


"Pagi darling," sapa Maya melingkarkan kedua tangannya di leher Annisa dan membuatnya tersadar dari lamunan panjangnya.


Maya menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah dirasa tidak ada yang memperhatikan ia semakin mendekatkan tubuhnya ke Annisa. Dengan setengah berbisik ia bertanya kepada sahabatnya itu. "Nis, gimana rencana kita? Ketahuan nggak, siapa yang ngasih kamu hadiah-hadiah itu?" tanya Maya penasaran.

__ADS_1


"Nisss ... ih kok aku dicuekin sih!" Maya geram karena pertanyaannya tak digubris sahabatnya.


"Sudah deh, nanti saja pas makan siang aku ceritanya. Sekalian kita makan di luar. Lebih baik kamu kerjain tugasmu tuh. Kalau sampai nggak selesai, kena semprot baru tahu kamu." Nisa memilih untuk menceritakan nanti pas jam makan siang karena takut akan ada yang mendengar perbincangan mereka.


"Siap Makcik!" kata Maya dengan semangat.


Akhirnya mereka segera memulai pekerjaan yang sudah menjadi makanan sehari-hari mereka. Annisa sangat bersyukur untung saja tidak ada briefing hari ini atau ia akan salah tingkah di depan managernya.


***


Saat jam makan siang Annisa mengajak Maya makan di luar. karena kalau makan di kantin kantor takut akan ada yang mendengar perbincangan mereka berdua.


Setelah memilih tempat duduk dipojokan dekat dengan jendela. Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang. Annisa mulai menceritakan kejadian tadi pagi. Maya yang mendengarnya melongo hampir tak percaya.


"Beruntung banget sih kamu. Kalau aku jadi kamu, langsung aku terima tanpa ba bi bu. Sok-sokan nolak sih, padahal pak Zaid kan perfect. Idaman para wanita banget. Siapa yang nggak mau jadi kekasihnya apalagi istrinya? Bisa pingsan aku kalau aku yang diajak nikah." Maya menanggapi dengan panjang lebar.


"Sudah deh Nis. Kamu coba tanya ke hatimu sendiri. Apakah kamu suka Pak Zaid atau nggak? Nggak usah mikirin pandangan atau penilaian orang lain. Asalkan kamu bahagia itu sudah cukup. Kalau kamu nggak mau buat aku juga nggak papa," kata Maya meyakinkan sahabatnya sambil sedikit bergurau.


"Nggak tahu ah May. Aku masih ragu, mungkin aku harus memikirkan masak-masak. Mengingat aku juga belum pernah menjalin hubungan dengan laki-laki," kata Annisa sambil melahap makanan yang sudah dipesannya.


"Jangan kelamaan mikirnya. Nanti menyesal lho kalau sudah diambil orang. Coba buka hatimu! Nggak mungkin selamanya kamu akan menjomlo," goda Maya.


Tak ada jawaban dari Annisa. Yang terdengar hanya suara dentingan sendok dan garpu yang mengalun ditengah keheningan mereka. Mereka segera menghabiskan makan siang dan kembali bekerja.


***

__ADS_1


Di sudut kantin, Zaid tengah menikmati makan siangnya seorang diri. Berkali-kali ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Mencari-cari sosok gadis yang selalu dirindukannya. Tapi jangankan melihat wajah gadis itu, batang hidungnya pun tak nampak. Apakah gadis itu benar-benar akan menolaknya? Ia merasa kecewa dan hampa. Dengan wajah murung ia mencoba memakan makanannya. Tapi dalam hatinya dia berkata tak kan semudah ini menyerah, Ia akan memperjuangkan cintanya.


***


Waktu istirahat hampir habis, Annisa melangkahkan kaki menuju ruangan tempat ia bekerja. Hanya seorang diri karena Maya tadi berpamitan ingin ke toilet terlebih dahulu.


Takdir memang lucu, saat kita menginginkan untuk tidak bertemu dengan seseorang. Maka semakin orang itu sering muncul dihadapan kita. Seperti itulah yang dirasakan Annisa, berkali-kali ia bertemu Zaid. Orang yang seharian ini ingin ia hindari. Sedari pagi ketika ia ingin ke toilet mereka berjumpa di depan ruangan Annisa. Sekembalinya dari makan siang ia juga terjumpa di depan kantor. Bahkan tak sengaja bertabrakan. Hal itu membuat Annisa semakin salah tingkah.


Seperti saat ini banyak sekali laporan yang harus diantar Annisa ke ruangan Zaid sang manager. Sungguh Annisa sangat malas, tapi ia tetap harus profesional. Ia harus bisa membedakan antara urusan pribadi dengan pekerjaan.


" Maaf Pak, ini saya mengantarkan laporan yang Bapak minta, saya permisi dulu," kata Annisa sambil meletakkan file di atas meja kerja Zaid.


"Nisa, tunggu sebentar. Apakah nanti sore sepulang kerja kamu ada waktu? Aku ingin bicara serius sama kamu. Bisakah luangkan sedikit waktu untukku?" tanya Zaid.


"Maaf Pak, saya tidak bersedia jika hal itu tidak berkaitan dengan pekerjaan. permisi pak saya harus kembali bekerja," tolak Annisa dengan halus.


"Kumohon Nis ...." Zaid tidak sabar dan menghampiri Annisa. Ia sungguh tidak sabar dengan penolakan gadis itu. Ia mencengkeram tangan Annisa. Ia bingung banyak wanita yang mengemis cintanya. Tapi wanita di hadapannya ini selalu mencari alasan untuk menolaknya, bahkan hanya untuk sekedar bicara.


" Maaf Pak tangan saya sakiit," kata Annisa meringis menahan sakit di tangannya akibat cengkeraman Zaid.


"Ah ... maaf," ucap Zaid melepaskan tangan Annisa. Setelah lepas dari cengkeraman Zaid, Annisa segera kabur menghindar dari manajernya itu.


***


Berbagai cara Zaid lakukan untuk memikat hati Annisa, namun tidak ada satu pun yang berhasil. Ia duduk di mejanya dengan murung.Di tengah lamunannya, Ferdi sahabat Zaid datang. Ia menceritakan kegalauannya kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


"Bro, gue ada satu ide. Bagaimana kalau gue pura-pura merampok dia. Terus lo selametin deh tu cewek. Kan nanti dia jadi jatuh hati tuh," kata Ferdi memberikan saran kepada sahabatnya.


Zaid berpikir sebentar menimbang ide dari temannya. Tak lama kemudian senyuman mengembang di wajahnya. Dia mengiyakan saran dari sahabatnya. Ia akan menyusun rencana sempurna untuk mendapatkan hati Annisa. Semoga kali ini berhasil, batinnya dalam hati.


__ADS_2