
"Sore mas.. Udah lama nunggu? " wanita yang memakai dress berwarna tosca selutut itu duduk di sebuah bangku cafe berkonsep oudoor. Tempat itu begitu asri dan teduh. Terdapat kolam ikan koi di tepi area cafe. Terdapat beberapa pohon rindang di sudut kafe membuat suasana semakin sejuk dan menenangkan.
"Belum kok May, aku juga baru dateng.. " Zaid mengulas senyumnya sehingga menampakkan lesung pipit di wajah tampannya. Senyum yang sudah menghilang selama setahun itu mulai nampak lagi.
" Mas... " Zaid memanggil pelayan kafe dengan melambaikan tangannya, kemudian memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu makanan datang mereka bercengkerama. Terdengar gelak tawa keduanya. Zaid seolah melupakan luka hatinya, dan juga melupakan istrinya yang yang menjadi sebab luka hatinya yang begitu perih dan dalam.
" Gimana kerjaan kamu May, " Tanya Zaid sambil menyesap jus alpukat yang dipesannya tadi.
"Baik sih mas.. lancar-lancar aja sihhh.." kata maya sambil mengaduk jus jambunya.
" Mas, gimana? udah pulang kerumah? udah ketemu Nisa belum? " tanya Maya ingin tahu perkembangan hubungan mereka. Dalam hati ia berharap mereka berdua tak akan berbaikan lagi.
"Belumm.. Aku belum siap untuk bertemu dengannya. Mungkin aku tak akan bisa menahan emosiku lagi kalau aku berhadapan dengannya. Aku masih sangat marah padanya. Aku perlu mendinginkan kepala ku dulu. " Zaid menjawab dengan malas. Sudah seminggu Zaid tidak pulang ke rumah. Dia selalu pulang dan tidur di apartemen Ferdi.
Ada luka kecil lagi dihatinya ketika nama itu disebutkan Maya. Walau sebenarnya ia sangat merindukan wanita yang masih sah menjadi istrinya, ego dan harga diri lebih menguasai pikirannya. Ia takkan pulang sebelum Annisa menghubunginya. Dia masih menunggu penjelasan Istrinya. Namun jangankan menjelaskan minta maaf pun tidak. Sehingga Zaid semakin berasumsi bahwa Nisa memang tak mengharapkannya lagi. Mungkin benar nama "Ryan" yang meneleponnya waktu itu adalah selingkuhannya.
" Ya sudah deh mas.. Nggak usah dibahas lagi...jangan sedih lagi ya?? kan ada Maya disini.. " Maya menggenggam tangan Zaid dengan erat, berharap laki-laki itu sadar akan perhatiannya. Zaid hanya tersenyum hambar.
" Mas, nonton yukk.. ada film baru yang bagus.. daripada boring. " Maya yang ingin semakin dekat dengan Zaid melancarkan aksi pendekatan secara halus.
" Bolehhh, ya sudah kita habiskan makanan terus kita pergi nonton ya.. "Zaid ingin melupakan kegalauan hatinya, biarlah saat ini Maya menjadi tempat pelariannya.
***
Mereka berjalan menyusuri mall menuju bioskop dengan kikuk. Zaid hanya diam membisu. Sebenarnya pikirannya tak sedetikpun bisa berpaling dari istrinya. Benar raganya berada disini bersama Maya, namun pikirannya entah melayang kemana.
__ADS_1
Maya ingin sekali menggandeng lengan pria pujaan hatinya itu. Namun ia takut empunya marah. Melihat lelaki itu seperti melamun akhirnya ia memberanikan mendekat dan menggandeng lengan pria beristri itu. Tak mendapat penolakan ia semakin bergelayut manja seperti dengan kekasihnya sendiri. Hatinya membuncah bahagia yakin sebentar lagi akan mendapatkan pria itu. Ia akan memepet Zaid sesering dan sedekat mungkin.
Sampai di depan bioskop Zaid segera membeli dua buah tiket film untuknya dan Maya. Tak lupa dia juga membeli popcorn dan softdrink. Mereka akhirnya menikmati nonton film berdua. Persis seperti kencan. Namun lagi-lagi hanya Maya yang menikmati sendirian. Zaid malah sibuk melamun mengingat momen-momen romantis bersama istrinya dulu saat masih pacaran.
Selesai nonton film Zaid mengantarkan Maya pulang. Lagi dan lagi sepanjang perjalanan dia terdiam membisu. Maya semakin merasa dari awal bertemu di kafe pikiran laki-laki itu tidak bersamanya tapi ditempat lain. Ia sebenarnya sedikit kesal. Kenapa Zaid tak bisa memberikan sedikit saja cinta untuknya. Kenapa malah kepada wanita yang tak menghargai cinta suaminya. Kalau saja ia tak tergila-gila pada Zaid. Takkan sudi ia merendahkan dirinya untuk mendekati suami orang lain yang bahkan itu adalah suami sahabatnya sendiri.
Sesampai di rumah kontrakan Maya, Zaid ikut turun mengantar Maya sampai depan pintu. Suasana sekitar kontrakan sudah cukup sepi karena waktu sudah pukul sepuluh malam.
"Mas.. nggak mau mampir dulu mas.. " Maya menawari untuk mampir. Dalam hati ia berharap Zaid mau mampir sebentar.
"Nggak May lain kali aja..udah malem juga.. Ya udah ya aku pulang.. " Zaid berbalik badan ingin menuju mobilnya. Namun langkahnya terhenti ketika Maya menahan tangannya.
" Mas... Ak aku mau bicara bentar.. "Maya menghela nafas mencari keberanian kemudian melanjutkan kata-katanya, "Sebenarnya aku suka sama kamu.. Sejak pertama kali bertemu.. Ku mohon mas.. terima cintaku.. sekedar menjadi pacar bahkan simpananmu pun aku mau.." Maya mengungkapkan perasaannya tanpa malu seakan tak punya harga diri mengemis cinta dari pria beristri.
" Nggak mas, please.. kasih aku kesempatan buat deket sama kamu. Kamu masih mengharapkan wanita yang suda
h melukai hatimu? Aku yakin aku bisa lebih baik dari Nisa, kamu pikirin dulu ya?? hemm.. " Maya menghiba rasanya ingin menangis mendapat penolakan.
" Baiklahh.. kita coba jalani dulu" Zaid yang sedang dalam kebimbangan menjawab tanpa memikirkan akibat dari perkataannya suatu saat nanti akan menyakiti dua wanita.
"Aku cinta kamu mas.. " Maya menghambur ke pelukan Zaid dan memeluk pria itu erat.
"Maaf Nis, kamu duluan yang menyakiti aku dan kamu juga yang menghianati aku terlebih dulu. "Batinnya mencari pembenaran untuk penghianatannya .
***
__ADS_1
Dirumah Zaid.
Annisa masih menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang begitu malang. Haruskah ia menderita seperti ini sebelum ia mati. Dalam keadaan sakit parah ia harus menjalani kehidupannya sendirian tanpa suami sahabat atau keluarga yang menemani. Dan suaminya meninggalkan ia sendiri dirumah karena amarah. Namun ini adalah sebuah konsekuensi yang harus ia tanggung, karena ini sudah menjadi keputusannya sendiri untuk menyembunyikan penyakitnya dari siapapun.
Ia merasa lelah sekali lelah akan penyakitnya, juga lelah akan kehidupannya yang sulit. Padahal ia sudah lelah berpura-pura selama setahun ini menahan rasa pada suaminya. Kini ketika ia ingin egois hanya ingin bersama suaminya sebelum ia pergi, semua hancur gara-gara insiden pil KB.Mengapa cobaan silih berganti menerpa hidupnya.
Sudah seminggu Zaid tak pulang kerumah. Seminggu pula Annisa menangis dan sangat terpuruk. Hatinya sakit sekali tak dapat menjelaskan tentang pil KB yang menjadi sebab suaminya pergi. Karena kalau Ia jujur pada suaminya maka suaminya otomatis akan mengetahui penyakitnya. Ia tak mau itu terjadi, ia tak ingin suaminya bertambah sedih dan khawatir.
Tiba-tiba Annisa teringat pada Ferdi. Ia ingin menelepon sahabat suaminya itu berharap tahu keadaan suaminya. Ia menekan nomor Ferdi dan menunggu jawaban dari seberang sana.
Ferdi: "Halo nis, ada apa ya? tumben telepon aku.. "
Annisa : " Halo mas Ferdi, aku ingin ketemu sama kamu sebentar boleh nggak? Ada hal penting yang mau aku omongin tapi jangan kasih tahu mas Zaid ya. "
Ferdi: "Ya Nis kita ketemu di kafe queen besok ya..pukul 5 sore sehabis aku pulang kerja bisa?
Annisa: "Oke mas aku bisa makasih ya.. "
Ferdi :" Oke sama-sama sampai jumpa besok"
Setelah menutup panggilan Annisa pergi kepasar membeli macam-macam bahan makanan. Ia ingin membuatkan makanan untuk suaminya yang nanti akan dititipkan pada Ferdi.
Selesai belanja ia membuat berbagai macam lauk pauk yang bisa di simpan di kulkas dan tinggal menghangatkan di kompor atau microwave ketika ingin dimakan. Ia memasak cukup banyak agar cukup dimakan berdua dengan Ferdi.
Ia sedikit melupakan kesedihannya karena sibuk di dapur. Ada sedikit harapan untuknya walau mungkin sekedar memberi perhatian untuk sang suami dengan membuatkan makanan karena ia tahu suaminya takkan semudah itu memaafkannya. Bahkan mungkin tak bisa memaafkannya.
__ADS_1