SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Mengetahui Kebenaran


__ADS_3

Setelah kepergian Annisa dari kafe itu, Ferdi juga ikut berpamitan pulang. Tak lupa dibawanya tas makanan dari Annisa. Ia meninggalkan Zaid yang masih melamun duduk disamping Maya.


" Mas.. kok diem aja.. Apa mas lagi nggak enak badan?? " tanya Maya sambil mengelus lembut lengan laki-laki yang ada disampingnya.


" Nggak papa kok May.. tapi kayaknya aku harus pulang deh May..Aku capek banget. Kita nonton lain kali aja ya..Maaf... " Zaid berdiri dan menepis tangan Maya yang tadi bergelayut manja. Kemudian ia melangkahkan kaki keluar dari kafe itu meninggalkan Maya begitu saja.


"Tapi mas.. tunggu..Mas.. Mas Zaid.. " Maya berdiri dari duduknya dan berteriak memanggil Zaid yang melangkah pergi. Ia bahkan tak mau menoleh sama sekali seakan tak mendengar teriakan Maya.


" Nisaa... Kamu mengacaukan segalanya.. Aku benci kamu Nis... " Maya berteriak marah di kafe itu setelah Zaid pergi. Ia tak menghiraukan tatapan aneh pengunjung kafe yang ada disitu.


Zaid mengendarai mobilnya menuju apartemen Ferdi dengan kecepatan penuh dan dengan emosi yang memuncak. Ia akan memberi pelajaran pada sahabatnya yang sudah berani main belakang dengan istrinya. Karena Zaid yakin Ferdi dan Annisa berbohong soal pertemuan mereka. Dan tentunya ada sesuatu yang disembunyikan Ferdi dan Nisa. Karena dia sempat melihat mereka bertukaran paper bag.


Setelah memarkirkan mobilnya ia buru-buru menuju apartemen Ferdi. Sesampainya di apartemen Ferdi ia segera masuk dan mencari cari sahabatnya. Namun orang yang dicari tidak juga dijumpai dan itu semakin membuatnya kesal . Dia mencari di dalam kamar tidak ada, dikamar mandi juga tak ada. Kemudian ia mencari ke dapur. Ternyata Ferdi sedang menata tupperware berisi makanan ke dalam kulkas.


Buggh


Zaid melayangkan tinjunya pada Ferdi dengan tiba-tiba membuat Ferdi terjungkal ke belakang.Satu tupperware berisi sambal teri tertumpah karena belum sempat menjangkau kulkas terlempar akibat pukulan Zaid.


" Apaan sih lo?? datang-datang mukul orang? Sudah sinting lo ya? " Ferdi marah tak terima dipukul tanpa tahu salah apa. Ia menyeka sudut bibirnya yang berdarah dengan lengannya.


" Lo masih tanya? Lo temen macam apa sihh? Nikung temen lo sendiri dari belakang, Apa ini artinya persahabatan kita yang sudah berpuluh tahun? " Emosi Zaid memuncak mengalahkan akal sehatnya.


" Maksud lo apa?? Siapa yang nikung lo?? " tanya Ferdi ikut emosi karena merasa tak bersalah.


" Nggak usah pura-pura bego deh.. Lo diem-diem ketemu istri gue kan .. gue tahu lo tadi sengaja ketemuan sama Annisa bukan hanya kebetulan. Dan gue yakin kalian sering ketemu " Zaid masih marah tak jelas.


"Ha.. ha.. ha.. "


Ferdi malah tertawa dan itu membuat Zaid makin murka.


" Nggak usah ketawa lo.. Nggak ada yang lucu.. " Zaid mencengkeram kerah baju Ferdi yang berani menertawakannya.


" Gue bener-bener heran sama lo.. Lo sendiri yang nggak peduliin istri lo..Emang mungkin Nisa ada salah sama lo.. tapi sebesar apapun kesalahan dia nggak sebanding dengan kebahagiaan yang dikasih ke lo.. Lo sendiri yang salah tinggalin dia begitu aja, dan dengan santainya lo jalan sama Maya.. Lo yang udah hianatin Nisa.. Dan gue sama Nisa sumpahh nggak ada hubungan apa-apa..Gue cuman kasihan sama dia... " Ferdi menggantung kata-katanya, ingin ia menepati janji untuk merahasiakan pertemuan mereka tapi Ferdi rasa dirinya sudah tak bisa lagi merahasiakannya dari Zaid. Ia tak bisa lagi melihat Nisa tersakiti oleh penghianatan Zaid yang baru ia ketahui akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Maksud lo apa?? Heh? " Zaid tersinggung walau memang pada kenyataannya dia menghianati Nisa walau cuman sebagai pelarian atas sakit hatinya.


"Nggak usah pura-pura deh Za.. Gue tahu kok selama ini lo jalan sama Maya ..Gue kenal lo. bukan setahun dua tahun men.. Gue nggak mempan lo tipu.." Ferdi menghela nafas sebentar menghilangkan emosinya yang ingin menghajar balik Zaid karena menyakiti Nisa.


"Lo aja yang nggak tahu.. Bagaimana sayangnya Nisa sama lo.. Dan gue nggak rela lo sakitin wanita sebaik dia.. " Kata Ferdi dengan murung ia iba dengan keadaan Nisa selama ini. Zaid sudah melepaskan cengkeramannya. Kini Ferdi beringsut duduk sambil memeluk lututnya.


" Jangan berbelit-belit deh Fer.. Maksud lo apa? Apa lo nggak tahu kalau Nisa duluan yang udah hianati gue.. " Zaid ikut duduk disamping Ferdi.Pikirannya menerawang jauhh.


" Bahkan saking bencinya dia sama gue dia nggak mau mengandung anak gue.. sampai-sampai ia meminum pil KB" Zaid mengungkap semua masalahnya pada Ferdi.


" Gue nggak yakin dia selingkuh dan gue makin nggak yakin kalau dia benci lo.. " Ferdi berkata dengan lirih. Entahlah mengingat wajah Nisa yang semakin kuyu tiap harinya ia makin simpati kepadanya.


"Gue lebih kenal dia daripada lo Fer... Gue mergokin seorang cowok telepon ke nomor dia, begitu gue yang angkat langsung dimatiin. Apa nggak mencurigakan itu? Terus gue sendiri yang nemuin pil KB nya sendiri nggak mungkin gue cuman salah paham. " Zaid kekeuh dengan pendapatnya.


" Lo udah tanya ke dia siapa peneleponnya? Lo tanya sebab dia minum pil KB? Gue yakin lo marah-marah nggak jelas kayak gini bukannya minta penjelasan. "Ferdi sangat tahu sifat sahabatnya. Zaid hanya menggeleng lemah.


" Gue udah janji sama Nisa buat rahasiain pertemuan kami tapi.. kayaknya gue.. " Zaid mencengkeram kedua bahunya tak sabar sehingga Ferdi menghentikan kata-katanya.


" Fer.. ceritain ke gue selengkap-lengkapnya tanpa ada yang di tambahi atau dikurangi.. gue mohon.. " Zaid menghiba pada Ferdi.


"Maaf.. tapi gue mohon lo ceritain semua.. " Kini Zaid menunduk lemah.


Ferdi menghela nafas kemudian mulai bercerita.


" Seminggu setelah lo tinggal disini Nisa mengajak gue ketemu. Sekadar untuk menanyakan kabar lo.. Dan gue udah ceritain semua tentang lo.. termasuk kejadian lo mabuk di bar itu.. terus dia menangis.. "


" Gila lo. .pake cerita kalo gue mabuk.. Jatuh citra baik gue dimata Nisa. " Zaid emosi lagi.


" Emang kenyataannya begitu songong..kalau lo bawel mending gue nggak usah cerita.. " Ferdi menoyor kepala Zaid.


"Iya.. iya.. sorry.. lanjutin.. "


" Dia berpesan sama gue buat jagain lo.. biar lo nggak telat makan dan jangan begadang, dan lo liat tupperware setumpuk di kulkas yang selalu penuh di setiap hari minggu ini? Lo kira ini punya gue? " Zaid hanya mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


" Bukan, ini semua Annisa yang masak khusus buat lo.. dan agar lo mau makan dia ngelarang gue kasih tahu lo... Alhasil gue bohong kalo itu dari nyokap.. Karena gue ngomong itu dari nyokap mau nggak mau gue ikut makan deh.. " lanjut Ferdi.


" Kalo omongan lo bener.. tadi lo nyerahin paper bag besar tadi buat apa? Lo kasih istri gue apa? "selidik Zaid masih curiga dan penasaran paper bag yang dibawa Annisa isinya apa.


" Hahhahhaha.. " Ferdi tertawa terbahak-bahak mengingat isi bag itu pakaian kotor.


" Apaan sih lo ketawa mulu.. nggak jelas.. "


" Tuh paper bag.. isinya sampah punya lo tu.."


" Ngawurr.. seriusan Fer.. isinya apa? " Zaid semakin penasaran.


"Tuh paperbag isi kemeja celana dan boxer kotor lo..Lo kira apa? Hadiah dari gue buat Annisa gitu.. sebagai tanda cinta gitu menurut prasangka lo? " Lagi-lagi Zaid hanya mengangguk.


" Coba deh Za.. pikir sedikit aja.. selama kalian berumah tangga seberapa banyak Nisa bahagiain lo.. Dia ngalah nggak kerja buat ngurusin lo.. Dan gue yakin dia istri yang baik buat lo.. Dan kalo lo mikir dia selingkuh pernah nggak lo lihat dia jalan sama cowok? Lo marah dan nggak peduli lagi aja dia baik banget sama lo.. Buatin makanan lah.. Ambil baju kotor lo dan dia yang cuci setrika.Siap diantar ke sini.. mana mau wanita yang punya selingkuhan mau ngerjain pekerjaan ribet kayak gitu.. dan apa selama ini dia minta imbalan? Apa dia minta lo puji? bahkan dia nggak mau tahu lo tahu dia melakukan semua itu? Masih ada prasangka kalau dia selingkuh? Dan parahnya lagi lo mencurigai sahabat lo yang super tampan ini? " Ferdi menceramahi Zaid panjang kali lebar seakan tak ada habisnya.


" Za.. gue sedikit merasa bersalah sama Annisa karena gue nggak bisa bilang lo jalan sama Maya, gue nggak sanggup melihat dia hancur dihianati suami dan sahabatnya. Kalau lo emang masih sayang sama istri lo.. segera putuskan Maya. Jangan hubungi dia lagi. " Lagi-lagi Ferdi memberikan nasehat.


Kini Zaid hanya bisa menangis menyadari semua kesalahannya. Benar semua kata Ferdi Sebanyak apapun kesalahan istrinya tak ada seujung kuku pun jika dibandingkan dengan kebahagiaan yang diberikan kepadanya. Dan dia sangat merasa bersalah telah berpaling ke Maya. Walaupun hanya pelarian yang tak melibatkan hati ia sangat merasa bersalah dan menyesal.


" Lebih baik lo pulang...Lo minta maaf sama dia..Gue tahu lo sama tersiksanya dengan apa yang dilalui istri lo.. sebelum lo menyesali semuanya.. " Ferdi menepuk kecil pundak temannya. Ia bangkit dari duduknya kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mengganti bajunya yang kotor terkena sambal teri. Zaid masih menangis, namun pikirannya kini terbuka untuk minta maaf kepada istrinya.


Setelah puas menangis, ia segera bangkit dan meraih kunci mobilnya. Ia ingin pulang meminta maaf pada istri yang sudah di rindukannya selama sebulan lebih ini. Tak peduli lagi jika Annisa memang belum siap mengandung, maka ia akan ikhlas bersabar sampai Annisa siap. Ia tak ingin kehilangan istri yang sangat ia cintai. Semoga semuanya belum terlambat. Semoga Annisa masih mau memaafkannya.


Haiiii... kembali lagi dengan cerita gaje aku.. Hanya tulisan seorang yang amatir ini..


Maaf jika jauh dari kesempurnaan. banyak typo ataupun cerita gaje.. Mohon dimaklumi ya..Saya masih harus banyak belajar..


Oh ya aku ada 2 novel lagi lho..Selain Satu Hati sampai mati ini.. Diantaranya


1 Cinta Tuan Sempurna


2 Bunga Bunga Cinta

__ADS_1


Kalau ada waktu silakan singgah ya..


Terimakasih buat yang sudah mau membaca tulisan saya..


__ADS_2