
Hari berganti hari minggu pun berganti keadaan Annisa semakin lama menjadi semakin membaik. Kini ia sudah tak perlu menggunakan kursi roda untuk bergerak, ia menggunakan kruk untuk menopang tubuhnya yang masih sedikit lemah.
Seperti biasa dia hanya duduk kebosanan dirumah karena kesibukan Zaid dalam bekerja yang mengharuskan lelaki itu berkerja sekalipun di hari minggu. Tapi Zaid selalu meluangkan waktu jika ada jadwal pemeriksaan rutin dan terapi di rumah sakit. Tanpa ba bi bu ia akan meninggalkan pekerjaannya dan baru kembali setelah istrinya selesai terapi.
Annisa sendiri semakin yakin laki-laki itu adalah suaminya. Ia sedikit terkesan atas kesabaran laki-laki itu dalam menghadapinya. Pun tentang penolakannya dalam urusan ranjang sampai saat ini suaminya masih bersabar untuk menunggunya siap. Zaid tak pernah memaksanya. Hari demi hari dia semakin luluh atas perhatian suaminya. Annisa mulai menerima Zaid. Entah karena cinta yang sedari awal sudah mendalam atau bagaimana, hanya dalam satu bulan Annisa yang amnesia jatuh cinta lagi kepada laki-laki tersebut. Ia mulai nyaman ketika pria itu memeluk atau mencium pipi dan kening, tak ada perasaan risih seperti dulu.
"Sayang, mas nanti pulang agak malam. Nanti mas orderkan makanan saja ya? "kata Zaid sambil memasukkan berkas ke dalam tasnya.
"Iya mas nggak papa, aku masak aja. Bahan makanan dikulkas banyak kok, "jawab Annisa yang duduk ditepi ranjang memandang punggung lebar milik suaminya.
"Nanti kamu kecapekan lagi? "Zaid yang telah selesai dengan kegiatannya kini duduk berjongkok di depan istrinya. Ia menggenggam tangan Annisa dengan lembut.
"Nggak papa. Biar Nisa ada kegiatan,daripada kebosenan, "jawab Annisa tersenyum.
"Ya udah mas berangkat ya"Zaid mengacak rambut istrinya dengan gemas.
Zaid berbalik dan mengambil tas kerja. Tiba-tiba Annisa memanggilnya kembali.
"Mas, "
"Iya, kenapa sayang? kamu butuh sesuatu? "
Zaid menghampiri Annisa lagi.
Dengan tangan yang sedikit bergetar Annisa mengambil tangan sang suami dan mengecup lembut, "mas hati-hati ya dijalan. "
Annisa tersenyum dengan lembut. Ia mendongakkan kepala menatap suaminya intens.
"Aku tunggu mas pulang, kita makan sama-sama ya? "
Perbuatan dan kata-kata istrinya membuatnya terharu. Buah kesabarannya selama ini berbuah manis.Istrinya yang biasa hanya menjawab ya dan tidak kini mau berbicara lagi padanya. Bahkan yang paling mengejutkan, mau mengajaknya makan malam.
terimakasih ya Allah, biarkan aku menebus dosaku padamu sayang.
"Mas nggak mau ?" tanya Annisa karena Zaid diam saja.
"Ha? "
"Mas, marah karena sikap Nisa selama ini buruk ya? "
"Ah, tidak.. tidak.. "
__ADS_1
"Mas mau, mas akan selesaikan pekerjaan secepatnya dan akan segera pulang "kata Zaid gembira.
"Oke, Annisa tunggu. "
"Ya udah mas berangkat ya, takut macet "
"Assalamualaikum "
"Waalaikumsalam "
***
Zaid menyusuri koridor kantor dengan bahagia. Sikap dan perbuatan istrinya pagi tadi berhasil mengubah mood buruknya akhir-akhir ini. Semua bawahan yang berpapasan dengannya sampai heran. Biasanya dia seperti sebuah gunung es, tapi hari ini senyum tak hentinya menghilang dari wajah tampannya.
"Mas, "
Sebuah suara yang sangat dikenalnya sangat mengejutkan.
"Mau apa lagi kamu Maya? "kata Zaid ketus. Senyum diwajahnya menghilang digantikan ekspresi yang sangat dingin.
"Kita harus bicara atau kamu mau semua karyawan dikantor mendengar pembicaraan kita ini? "kata Maya menyeringai.
"Baiklah, makan siang di cafe depan "Zaid langsung meninggalkan wanita itu dan masuk ke ruangannya. .
kamu tak akan pernah bisa lepas dariku mas, aku akan pastikan itu.
***
"Bicaralah " Zaid melipat tangan dengan wajah yang dingin.
"Mas mau makan apa? " tanya Maya membuka-buka buku menu.
"Aku pergi saja, " Zaid berdiri karena Maya terlihat tak serius.
"jangan, duduklah mas. Maya akan bicara "
Zaid duduk kembali dengan malas.
"Kapan mas menikahiku? "
"Hei, apa maksudmu? kamu gila? "
__ADS_1
"Mas, aku mengandung anak kamu. Kamu harus bertanggungjawab. " Maya menggenggam erat jemari Zaid.
"Apa-apaan sih, Nggak.. " Zaid menarik tangan kasar.
"Oh.. jadi kamu nggak mau bertanggung jawab. Apa perlu aku mengemis pada istri cacatmu itu? Coba kita lihat reaksinya bagaimana, "kata Maya licik.
"Jangan berani lakukan itu !! jangan menghina istriku, dia jauh lebih baik darimu yang sok sempurna "ancam Zaid.
"Kenapa? kamu selalu lemah jika berurusan dengan Annisa. "
"Annisa mengalami amnesia, jadi aku mohon jangan katakan apapun padanya yang bisa membuat ia shock, keadaannya belum stabil. "
"Nggak, aku nggak mau anakku nggak punya ayah.. "kekeuh Maya.
"Aku janji kalau Annisa sudah mengingat semuanya aku akan menikahi kamu, puas? "kata Zaid.
"Bener ya mas? "kini Maya mengelayut manja.
"Iya, tapi jaga sikapmu sebelum aku benar-benar berpisah dengan Nisa." perintah Zaid dan mendorong tubuh Maya dengan kasar.
"Ya udah aku duluan ya mas, biar nggak ada yang curiga"Maya melengang keluar dari kafe.
"Arggghhh.. gila, baru aja mau baikan sama Annisa. Wanita itu malah kembali dan beraninya mengancamku. Tapi bagaimana jika ia benar-benar hamil? Biarlah cepat atau lambat Annisa pasti akan segera menceraikan aku jika ingatannya kembali. Walau artinya aku juga tidak hidup jika berpisah dengannya "
.
.
.
.
.
.
.
menuju episode-episode terakhir. Moodku menulis novel ini agak kacau. Enggak tahu susah dapat inspirasi dan aku kurang puas dengan hasil tulisan aku. Jadi aku memutuskan untuk mengakhiri novel ini dengan cepat.
Semoga ada yang suka😂😂
__ADS_1