
Annisa Pov
Suara takbir bersahut-sahutan dari arah masjid. Sungguh menentramkan pendengaran setiap insan yang mendengarkan. Suasana hari raya mulai terasa. Suara petasan mulai terdengar disana-sini. Riuh anak-anak yang bermain bunga api juga terdengar dihalaman dan jalan depan rumah. Aku sedang membantu bunda menata kue kedalam toples untuk hari raya besok. Sebenarnya bunda tak menyuruhku melakukan, tapi aku yang berinisiatif sendiri agar tidak bosan dan juga tidak selalu memikirkan mas Zaid. Orang yang aku cintai. Ya, aku tak dapat memungkiri jika aku masih sangat mencintainya dan juga merindukannya. Apakah ia akan datang untuk merayakan hari raya bersamaku?Ataukah ia merayakan bersama Maya? Ah, aku tak tahu.
"Ayah, gulanya habis.. Boleh belikan ke warung sebentar? "suara bunda yang sedang memasak menghentikan lamunanku.
"Ah.. bunda ini kebiasaan. Nggak sekalian tadi waktu beli tepung, " kudengar ayah menggerutu, namun tetap pergi juga membelikan gula untuk bunda. Aku tersenyum melihat kemesraan mereka. Ah, aku jadi semakin rindu pada mas Zaid.
Tiba-tiba aku teringat dengan ponsel milikku yang sudah ku nonaktifkan selama tiga hari ini. Aku mengambil dan mengecharge ponsel milikku seraya mengaktifkan kembali. Begitu ku aktifkan ada beratus notifikasi panggilan telepon, panggilan whatsapp juga pesan whatsapp yang sangat banyak jumlahnya. Tentu keseluruhan panggilan dan pesan dari suamiku tersayang.
Aku mulai membuka pesan whatsapp satu per satu sampai pada video yang dikirimkan suamiku.
Aku ingin memutar video itu tapi ragu, tapi disatu sisi juga penasaran. Akhirnya aku beranikan untuk melihat video tersebut. Aku menangis. Menangis karena sudah tak mempercayai suamiku. Padahal benar kata bunda kebaikan suamiku tak perlu diragukan lagi. Jika dulu berjalan bersama tak sekalipun ia memandang wanita selain diriku. Aku sendiri yang membuat rumit tanpa membuktikan segalanya. Segala yang sudah direkayasa. Tapi hatiku lega sungguh lega, ternyata suamiku benar-benar menyayangiku dan setia kepadaku. Aku ingin meminta maaf padanya.
Aku memutuskan untuk meneleponnya. Sekali dua kali tak diangkat. Akhirnya aku putus asa. Mungkin ia memang tak akan datang pikirku. Mungkin dia kecewa mempunyai istri yang tak mempercayainya.
Tubuhku lemas, sakit kepala yang lama tak kambuh kini datang lagi dengan rasa yang berpuluh kali sakitnya. Kuhentikan pekerjaanku menata kue. Aku merebahkan di karpet lantai depan Tv.
"Sayang, jangan tidur disini ! Nanti masuk angin lho sayang.!" larang bunda melihatku mulai memejamkan mata.
"Lho kok kamu pucat banget sayang? Kamu nggak papa? "tanya bunda cemas. Bunda memegang keningku yang sedikit panas.
"Ah..kamu demam nak, "kata bunda lagi.
"Annisa nggak papa bun.. Annisa cuman sedikit ngantuk bun, sebentar saja Annisa mau berbaring nanti juga sembuh, maaf ya bun.. kuenya bunda lanjutin ya "jawabku memejamkan mataku yang serasa di beri lem.
"Iya nggak papa sayang, biar bunda lanjutin. Ya sudah bunda ambilin selimut dan obat demam, kamu tunggu ya jangan tidur dulu "bunda berlalu ke kamarku mengambil selimut.Aku hanya menanggapi dengan anggukan.
"Sayang, kenapa tidur disini? " tanya pria berwajah tampan yang sangat aku rindukan. Aku mengerjap pelan takut ini hanya mimpi.
"Ah.. mas Zaid, ku kira mas nggak akan datang, "ucapku bangkit dan memeluknya erat.
Dia terlihat lebih tampan dari biasanya. Dia tak henti menyunggingkan senyum untukku seraya mengelus kepalaku dan punggungku.
"Mas, maafkan Annisa ya mas. Annisa sudah suudzon dan tak percaya pada mas, "ucapku mengambil tangannya dan berulang kali aku mengecupnya sayang.
"Nggak papa sayang, yang penting semuanya sudah jelas sekarang, "katanya masih tersenyum manis. Ia mengecup keningku mesra. Dapat kurasakan bibir dinginnya menyentuh keningku.
"Aku merindukanmu mas, mas rindu padaku nggak? "tanyaku menggelayut manja.
"Aku juga sayang, "ucapnya lembut.
"Mas, aku nggak jadi minta cerai, kita bersama lagi ya? jangan tinggalkan aku, " kataku penuh permohonan. Namun dia diam saja.
"Bu.. Bu Lukman..." sayup-sayup ku dengar banyak orang memanggil bunda.
__ADS_1
Aku bangkit dan mencari orang yang tadi mendatangiku namun hampa tak ada siapapun disini. Aku berlari kedepan ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Ada apa ini pak? "tanya bunda cemas.
"Pak Lukman jatuh dari motor bu, karena hampir terserempet oleh mobil. Motornya masuk ke selokan, "kata salah satu warga menjawab pertanyaan bunda.
Terlihat dua orang memapah ayah yang penuh dengan luka lecet di pipi kanan dan kedua sikunya. Ayah menangis.
"Ya Allah ayah.. "bunda menghampiri ayah yang menangis.
"Mana yang sakit ayah? Sakit sekali ya sampai ayah menangis? "tanya bunda khawatir karena seingatku seumur hidupku ayah tak pernah menangis.
"Huhuhuhu huhuuu.. "tangis ayah malah menjadi-jadi.
"Kenapa ini pak? "tanya bunda pada warga yang menolong ayah.
"Tidak tahu bu.. Dari tadi pak Lukman menangis seperti itu bu, mungkin karena pengendara mobilnya meninggal seketika di tempat kejadian bu, bapak mungkin merasa bersalah, "warga lain menjawab.
"Pak.. kenapa? bukan bapak yang salah kan? " tanya bunda semakin khawatir suaminya tak mau berhenti menangis. Ayah menggelengkan kepala.
" Assalamualaikum .."beberapa warga yang mengusung jenazah seseorang yang entah itu siapa.
Jangan-jangan ayah dituntut karena menyebabkan orang itu meninggal sehingga ayah tak henti menangis.
Bunda terkejut karena ada jenazah yang dibawa pulang kerumahnya. Kami bingung kenapa tak dibawa ke rumah sakit saja.
Aku berlari menghampiri jenazah yang dibawa warga. Dan ketika aku melihat wajah orang itu aku berteriak-teriak histeris.
"Mas... Mas... "teriakku kehilangan akal.
"Mas, nggak lucu tahu, "aku menggoyang-goyangkan tubuhnya yang tak bernyawa tadi.
"Ini semua bohong, bukannya barusan mas datang dan bicara padaku? Ini tidak masuk akal..Kamu pembohong mas.. " aku masih berteriak dan menangis sehingga para tetangga berdatangan.
"Istigfar nak.. istigfar. Semua sudah menjadi ketentuan Tuhan nak.. " bunda memelukku berusaha menyadarkan aku.
Para warga yang berkumpul semakin banyak dan mereka berbisik -bisik entah mengatakan apa aku sudah tak mendengar lagi karena pandanganku yang menggelap.
***
"Aaa.... Zaid... " mama Rahma memeluk dan menggoncangkan tubuh putranya yang sudah dingin.
"Jangan tinggalkan mama nak.. Mama minta maaf. Mama akan memperlakukan istrimu dengan baik nak, jangan lakukan ini..Bilang kalau ini bohong nak.. "mama Zaid masih menangis memeluk anaknya yang sedang dibacakan ayat-ayat suci oleh warga.
Annisa sudah tak menangis. Ia terdiam dipelukan bunda yang tak henti menyuruhnya istigfar dan kuat. Pandangan Annisa kosong, tak ada lagi semangat hidup.
__ADS_1
Papa Zaid sendiri minta penjelasan pada besannya tentang apa yang terjadi . Ayah menceritakan dengan linangan air mata. Dan papa yang mendengar juga menangis. Tapi kini tak ada lagi kebencian diantara dua keluarga tersebut. Mereka sudah menyerahkan semua pada Yang Maha Kuasa.
"Yang kuat ya nak.. istigfar.. istigfar.. Semua akan kembali padanya nak, "nasehat bunda tak henti-henti terdengar ditelinga Annisa. Kedua tangan bunda menggenggam erat tangan Annisa.
Annisa memejamkan matanya yang sudah lelah menangis. Ia tersenyum manis masih dengan bersandar di bahu bunda. Namun tiba-tiba tubuh Annisa terhuyung ke depan dan ambruk. Genggaman tangan bunda juga terlepas.
"Sayang, bangun nak.. sadar nak.. istigfar, " bunda menepuk pipi putrinya pelan mencoba membangungkan putrinya yang pingsan kembali.
Namun berkali-kali bunda bangunkan tak juga bangun. Minyak kayu putih juga sudah diusap-usap agar anaknya bangun. Namun bunda kaget ketika mendekatkan jemarinya ke hidung Annisa. Tak ada lagi nafas disana. Ayah yang melihat raut wajah bunda yang pias mendekat dan memeriksa denyut nadi ditangan anaknya.
"Innalillahiwainnailaihiroji'uun" ucap ayah menangis.
"Aa.. Sayang, jangan tinggalkan bunda nak, " sekarang gantian bunda yang histeris.
Mereka sekeluarga menangis. Menangis kehilangan dua orang sekaligus dalam satu hari. Dan lebih menyedihkan lagi bertepatan dengan hari raya mereka harus kehilangan anak dan menantu mereka.
Akhirnya Annisa dan Zaid dimakamkan berdampingan di kampung ayah bunda Annisa. Dua keluarga saling minta maaf dan memaafkan. Namun yang paling menyesal adalah Rahma, yang sempat memisahkan mereka. Kini Tuhan pun berencana lain mereka hidup dan mati bersama. Rahma menyadari jika Zaid tak dapat hidup tanpa Annisa. Dan begitu pula Annisa juga tak dapat hidup tanpa suaminya.
THE END
.
.
.
.
.
.
.
.
Huaa... Akhirnya selesai juga novel ini. Aku menulis dengan berkaca-kaca dan hati yang sakit. Sedih.. Semoga tidak ada yang kecewa dengan endingnya karena emang dari awal aku berencana buat begitu sehingga judulnya pun "SATU HATI SAMPAI MATI"
Jangan lupa ya mampir ke karyaku yang lain
1 Cinta Tuan Sempurna
2 Bunga-Bunga Cinta
Jangan lupa juga kasih like vote dan komen kalian. Terimakasih atas dukungan kalian selama ini. 😘😘😘
__ADS_1
Salam Hangat dan Sayangku
Amy Larahati