SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Siapa Kamu?


__ADS_3

Detik demi detik yang dilalui oleh Zaid serasa di neraka. Ia begitu tersiksa melihat wajah istrinya yang semakin kurus tak kunjung bangun juga. Sudah sebulan lebih istri tercintanya masih menikmati tidur lelapnya yang nyaman. Zaid sungguh ketakutan. Takut jika dalam lelap tidurnya Annisa tak akan pernah terbangun lagi. Ia tak akan sanggup untuk hidup sendirian di dunia ini apalagi diliputi dengan semua rasa bersalahnya.


Zaid sendiri kini semakin kurus dan tak terurus.Wajah tampan itu kini tak ada lagi.Yang ada hanya wajah sayu dengan jambang dan kumis yang tak terurus. Bagaimana mau mengurus diri? tak sedetikpun ia berpaling dari istrinya. Ia selalu berada di sisi Annisa setiap waktu. Bahkan kini ia menyerahkan semua tugas mengurus rumah pada seorang wanita paruh baya yang menjadi asisten rumah tangganya .Hal yang dulu tak disukai Annisa, Annisa tak nyaman menggunakan asisten rumah tangga. Zaid memanggil asisten rumah tangga barunya itu bi Tini. Tugas bu Tini selain mengurus rumah juga harus bolak-balik mengantar makanan dan pakaian ganti Zaid. Jadi Zaid bisa selalu memantau keadaan Annisa.


Bunda yang kadang datang sangat sedih melihat keadaan putrinya. Ia juga iba terhadap menantunya yang terlihat pucat dan kelelahan. Bunda tahu Zaid capek lahir dan batin melihat menantunya itu juga semakin kurus dengan kelopak mata menghitam seperti panda. Bunda juga sudah mulai putus asa dan pasrah dengan apa yang akan terjadi pada putrinya. Bunda menyerahkan kepada Allah ta'ala, jika Tuhan berkenan bunda berdoa agar putrinya segera bangun. Tapi jika memang sudah garis hidup putrinya seperti itu, bunda sudah mengikhlaskan Annisa kembali pada -Nya agar tidak lagi merasakan rasa sakit dan penderitaan.


Berbeda dengan Zaid, ia selalu memiliki keyakinan bahwa istrinya akan bangun walaupun entah kapan. Ia tak pernah mengeluh lelah dan tak pernah berputus asa atas istrinya. Hari-harinya dipenuhi doa dan harapan agar istrinya segera terbangun dari komanya. Walau yang dikatakan dokter tiga minggu yang lalu sedikit mengecewakan.


Flashback On


"Dokter, bagaimana kondisi istri saya? Selepas operasi dokter berkata istri saya sudah tidak kritis lagi, tapi kenapa sampai sekarang istri saya tak bangun juga? "tanya Zaid di hari ke sebelas Annisa koma.


"Maaf tuan, kami sudah berusaha sebisa kami, namun Tuhan yang menentukan tuan. Menurut perkiraan kami sebelum operasi semua akan berjalan dengan baik. Dan kasus seperti ini jarang terjadi tapi entah mengapa istri tuan seakan tak mau bangun. Ini semua diluar kuasa kami. Kita hanya bisa terus berdoa tuan. Saat ini nyonya Annisa hanya bisa terus hidup dengan bantuan alat-alat itu tuan.Kalau tidak mungkin istri tuan sudah kembali pada -Nya. Sekali lagi kami minta maaf. Atau anda mau pindahkan pasien ke rumah sakit lain kalau anda kurang mempercayai kemampuan kami? Tapi setahu saya ini adalah rumah sakit terbaik di negeri ini. "Dokter menjelaskan sekaligus minta maaf.


"Argghhh.. maaf dokter saya hanya khawatir dan putus asa. Saya hanya takut terjadi apa-apa dengan istri saya "Ucap Zaid mengusap wajahnya kasar.


"Semoga ada kemajuan ya tuan. Semoga istri anda segera sadar..Kami akan melakukan yang terbaik.. permisi tuan"ucap dokter yang kemudian pergi meninggalkan Zaid.


Flashback off


Dari jauh istrinya tersenyum dan melambaikan tangan pada Zaid. Annisa sangat cantik dengan balutan gamis berwarna putih dan jilbab warna senada.


Zaid berlari mendekat dan terus mendekat, dan ketika Zaid sudah berada di hadapan istrinya tiba-tiba kedua mata, mulut dan hidung Annisa mengeluarkan darah yang sangat banyak.


"Mas kamu jahat... kamu yang sudah membunuhku"

__ADS_1


"Kamu juga membunuh anak kita "


"Sakit mas..sakittt " Annisa berteriak kuat hingga memekakkan telinga. Darah bercucuran dimana-mana .


Zaid berlari ketakutan seketika namun ke mana saja ia berlari istrinya yang berlumur darah akan mengejarnya.


"Kamu bukan istriku "Zaid mendorong tubuh Annisa dan lari menjauh.


"Aaaa... Aaaa... Tolong.. " Zaid berteriak-teriak minta tolong. Seluruh tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan. Kakinya serasa lemas dan seluruh tubuhnya dibanjiri oleh keringat.


"Tuan.. Tuan. "Bi Tini menggoyangkan tubuh majikannya yang berteriak dengan mata tertutup.


"Aa... "Zaid membuka mata dengan nafas tersengal. Dia mengalihkan pandangan matanya ke arah wanita ayu yang belum sadar di tengah kesadarannya.


"Astagfirullahaladziim" Zaid beristigfar dengan dada kembang kempis.


"Saya baik-baik saja bik, bibik tunggu Annisa sebentar ya?Saya mau pulang"kata Zaid setelah kesadarannya kembali dan ia mulai tenang.


"Kalau bunda datang katakan saya pulang mandi sebentar sekalian nengok rumah, " kata Zaid melangkah keluar.


Zaid segera pulang. Entah kenapa ia ingin pulang sebentar. Sesampai di rumah Zaid bercukur setelah ia melihat penampilannya yang sangat kacau. Kemudian ia berendam air hangat dengan wewangian milik istrinya. Membuat ia semakin merindukan Annisa. Rileks dan nyaman itulah yang ia rasakan.


Cukup lama Zaid berendam sambil mengenang masa indah bersama istrinya. Sampai ia tak tahu kalau ponselnya berdering berkali-kali.


Baru setelah satu jam ia keluar dari bathup. Setelah mengganti baju baru ia melihat ponselnya. Berpuluh panggilan dari bi Tini. Jantung Zaid semakin berdegup kencang takut terjadi apa-apa di rumah sakit. Ia berlari keluar dan segera memacu mobilnya ke rumah sakit. Ia tak berani menelepon bi Tini, Zaid takut mendengar kenyataan buruk sehingga memilih untuk mengetahui sendiri setibanya di rumah sakit.

__ADS_1


Ia berlari di lorong rumah sakit dengan terengah-engah. Di depan ruangan Zaid semakin gugup. Dengan gemetar ia membuka pintu.


"Ya Allah kuatkan hambaMu ini"Zaid berdoa dalam hati sebelum memutar kenop.


"Sa -Sayang.. "Zaid menghambur memeluk Annisa yang tengah di suapi bubur oleh bi Tini.


"Ya Allah bagaimana reaksinya ya? apakah aku akan diusir. Apakah aku akan diadukan pada ayah bunda? Jika kamu meninggalkanku bagaimana aku akan hidup sayang" gumam Zaid dalam hati.


Annisa diam mematung, tapi karena pria di hadapannya itu diam saja dan lama memeluknya seolah enggan melepas, dia meronta-ronta.


"Kamu siapa? "tanya Annisa.


"Aku suamimu sayang, maafkan aku.. gara-gara kesalahanku kamu jadi begini.. Ampuni aku.. "Zaid sesenggukan.


"Aku siapa? Kamu siapa? Argghhh kepalaku sakitt.. "Annisa mengerang kesakitan.


"Bi, panggil doktet cepat bi.. "Perintah Zaid.


"Iya Tuan.."Bi Tini berlari memanggil dokter.


Tak lama dokter datang dan memeriksa Annisa. Karena Annisa histeris dokter menyuntikkan obat penenang agar mengurangi rasa sakit yang di derita Annisa.


"Gimana ini dok? Istri saya sangat kesakitan dan dia tidak ingat saya dok" tanya Zaid khawatir.


"Tuan, sepertinya istri anda mengalami amnesia. Dan rasa sakit tadi karena istri anda memaksakan diri untuk mengingat. Untuk sementara nyonya dilarang memikirkan terlalu keras dan hindari stress. Buat nyonya senyaman mungkin tuan. "Kata dokter.

__ADS_1


"Baiklah , terimakasih dok "Zaid masuk untuk menemui istrinya yang sedang dalam pengaruh obat penenang.


"Sayang entah aku harus bersedih atau bahagia mengetahui kamu kehilangan ingatan, sejujurnya aku sedikit lega kamu tidak mengingat perbuatan buruk yang sudah aku lakukan. Aku belum siap untuk jauh darimu. Mungkin dengan jalan ini Allah memberi kesempatan untukku memperbaiki segalanya ..Aku janji sayang akan membuatmu bahagia kali ini" Zaid mengecup lembut kening istrinya.


__ADS_2