SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Sayang Kau Ada Dimana?


__ADS_3

Annisa menyusuri jalan tanpa membawa apapun. Hanya pakaian yang melekat di badannya dan selembar uang seratus ribuan ditangan.Air mata masih menggenang di pelupuk mata.Ia sangat putus asa dengan hidupnya.Terlalu berat beban yang dipikulnya sendirian. Seakan-akan Tuhan tak berhenti untuk memberikan ia cobaan dan ujian.


Awalnya Ia sangat bingung bagaimana caranya sampai ke rumah orang tuanya.Jika naik taksi maka uang yang dibawa takkan cukup. Akhirnya ia memutuskan untuk naik bus.


Hari makin siang beruntung sinar matahari terhalang oleh mendung. Namun satu hal yang dia khawatirkan adalah langit yang semakin menggelap pertanda akan datangnya hujan.Dan benar saja, kini tubuh ringkihnya mulai kebasahan tersiram hujan yang tiba-tiba turun. Dengan menggigil kedinginan ia berlari-lari menuju halte bus terdekat untuk berteduh agar tidak semakin basah.


Dia mendudukan diri dihalte tersebut, hanya sendirian ia disana. Tak ada orang lain, membuat ia semakin leluasa untuk menumpahkan kesedihan hatinya.Ia menangis lagi. Baru kemarin ia menyecap rasa bahagia bahkan berjanji akan sehidup semati. Kini ia lagi-lagi harus mengingkari janjinya. Satu hal yang ia pikirkan. Jika Zaid mendapatinya tidak ada dirumah, akankah suaminya mencarinya? Ataukah mama mertuanya akan mengatakan hal buruk yang membuat ia dibenci oleh suaminya? Kini ia pasrah, apapun yang terjadi biarlah terjadi.


Ia mulai kedinginan karena tiupan angin yang lumayan kencang dan derasnya air hujan membuat badannya makin basah. Beruntung tak lama kemudian sebuah bus yang menuju ke rumah orang tuanya berhenti di depannya. Segera ia melangkah masuk dan menaiki kendaraan tersebut.


Sepanjang perjalanan ia masih menangis, bagaimana ia bisa menahan air mata jika kehidupan yang ia jalani begitu pahit. Setelah dua puluh menit berlalu dia mencoba menenangkan diri. Agar ayah dan ibunya tak khawatir jika melihat mata sembabnya.


Setelah sampai di dekat kampung ibunya ia segera turun. Untuk menuju kampung ia biasanya harus berjalan kaki.Namun ketika melihat sekumpulan ojek di dekat tempat Annisa berdiri.Ia tak membuang waktu ,ia segera bicara dengan abang ojek untuk mengantar ke kampung halamannya yang jaraknya sekitar dua kilometer.Karena ia sangat kelelahan.


Ketika sampai di halaman rumah baru lah ia bimbang, apakah yang akan dikatakan pada ibunya? Ia melangkah ragu ragu. Kemudian ia mengetuk pintu rumah yang di tinggalinya selama 20 tahun.


"Assalamualaikum.. "Annisa mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam.."Wanita paruh baya tergopoh-gopoh membuka pintu.


"Annisa... " Bunda terkejut melihat anaknya yang kuyu dengan baju yang basah tengah berdiri di depan pintu.Annisa segera menjabat dan mengecup lembut punggung tangan ibunya.


"Sayang.. Mana suamimu?Kok basah semua? "tanya bunda kebingungan sambil menoleh kesana kemari mencari keberadaan menantunya.


"Annisa, sendiri saja bunda.. "jawab Annisa dengan senyum yang dipaksakan. Namun ibunya tak dapat dibohongi oleh senyuman putrinya. pasti ada masalah diantara anak dan menantunya.Apalagi melihat keadaan putrinya yang semrawut sudah pasti anaknya tidak dalam keadaan baik-baik saja.


"Aduuh sini masuk dulu.."ajak bunda. Annisa hanya mengangguk.


"Sayang, sebaiknya kamu mandi dulu sana.. Daripada nanti masuk angin.."perintah bunda.


"Iya bunda.. Ayah mana bun? kok nggak ada?? Oh ya bunda sementara Annisa tinggal disini ya.. "pinta Annisa dengan sedih.


"Udah sana mandi, nanti kita bicara lagi.. " perintah ibunya dengan mendorong tubuh putrinya masuk ke kamar.


Annisa segera masuk ke kamar dan mandi dikamar mandinya dulu. Ia mengganti baju dengan baju lama miliknya.Tentu saja bajunya semua ada dirumah Zaid. Dan mertuanya tak mengizinkan ia membawa barang sehelai pun. Untung baju lamanya muat bahkan terasa longgar. Padahal dulu baju itu tak muat lagi.


"Ternyata makin lama, tubuhku semakin mengurus.."batin Annisa sedih.


"Sayang.. makan yukk,, "ajak bunda membuyarkan lamunan putrinya.


"Iya bun.. bentar Nisa menyisir rambut dulu.."sahut Annisa tanpa menoleh.Ia masih memandang kaca tempat ia bercermin. Sungguh ia terlihat pucat dan kurus.


Setelah selesai Ia beranjak menuju ruang makan dimana orang tuanya menunggu. Terlihat ayah dan bunda sudah menunggunya. Ia mendekat kepada ayahnya dan mengucap salam.


"Nisa, kapan datang?" tanya ayah basa-basi.


"Baru aja yah... "jawab Annisa tersenyum.


"Mari kita makan.."ajak ayah agar tak canggung. Barulah setelah perut terisi ia akan bertanya pada putrinya tentang apa yang terjadi.Ayah sebenarnya tak bisa menahan rasa penasarannya.

__ADS_1


Mereka makan dengan tenang, hanya suara sendok garpu berdenting.Mereka terlarut dalam pikiran masing-masing.


"Sayang, kenapa ke sini sendiri? Mana suamimu? "tanya bunda memulai pembicaraan di ruang keluarga. Annisa hanya terdiam tak tau harus menjawab apa.


"Annisa, ayah tak tahu apa masalah kalian.. Tapi sebagai istri kamu sebaiknya jangan kabur-kaburan kayak anak kecil.. Tak baik sayang.. Lebih baik kamu selesaiin bersama suamimu dengan kepala dingin"nasehat ayah dengan bijak.


"Maaf kan Annisa ayah.. Annisa belum bisa menjadi istri yang baik ."jawab Annisa.


"Tapi Annisa mohon,Izinkan Annisa tinggal disini sambil mendinginkan kepala sampai mas Zaid menjemput Annisa yah..Annisa mohon yahh.. " tambahnya memohon. Annisa tak dapat menceritakan perlakuan mama mertuanya yang dapat mengakibatkan konflik dua keluarga.


Ayah menghela nafas kasar. Sebenarnya tak setuju jika anaknya menghindari masalah.


"Ya sudah,, tapi kalau suamimu kesini kamu harus ikut pulang suamimu kembali ke rumah.."ucap ayah menyetujui dengan terpaksa. Ayah juga takut jika anaknya tak dizinkan tinggal dirumah. Ia akan kabur-kaburan entah kemana. Jika di rumah kan ayah bisa mengawasi.


"Baik ayah.. terimakasih ayah bunda.. "Annisa memeluk erat ayah ibunya.


***


Sementara itu dirumah Zaid.


Zaid mondar-mandir kesana kemari mencari keberadaan sang istri dengan wajah khawatir dan marah.Berpuluh kali pula ia mencoba menelepon sang istri, namun yang di dengar masih sama hanya suara operator.


Zaid bingung kemana gerangan istri kesayangannya itu. Jikalau kabur kenapa koper dan baju-baju istrinya tak ada satu pun yang dibawa.


"Dimana kamu sayang? "batin Zaid frustasi.


Wajahnya yang sangat bahagia ketika pulang berubah menjadi murka sangat menyeramkan. Dipikirannya muncul pikiran yang buruk dan tidak-tidak. Hari semakin sore dan tak ada satu kabar pun dari istrinya membuat ia makin meradang. Dia tak dapat berpikir jernih. Baru ketika adzan maghrib berkumandang ia sadar dan mengucap istigfar.Segera ia bangun dari duduknya dan menjalankan kewajiban agar pikirannya lebih jernih.


***


"Assalamualaikum.. "Zaid mengucap salam sembari mengetuk pintu rumah mertuanya.


"Waalaikumsalam.. "Terlihat ibu mertua membuka pintu untuknya.


Zaid menjabat tangan ibu mertua dan mengecupnya.


"Maaf bun.. Annisa ada disini? "tanya Zaid kemudian. Bunda mengangguk dan tersenyum.


"Mari masuk dulu nak.. "ajak bunda.


Zaid mengangguk masuk mengikut mertuanya. Di ruang keluarga ada ayah yang sedang membaca koran. Segera dihampirinya ayah mertua dan memberi salam seperti yang dilakukan pada ibu mertuanya.


"Zaid.. sini nak ayah mau bicara sebentar.. " panggil ayah. Zaid kemudian duduk dihadapan ayah mertuanya.


"Nak.. apakah sedang ada masalah diantara kalian? "tanya ayah to the point.


"Maaf ayah..Zaid tak merasa bertengkar dengan Nisa, tapi maaf jika Zaid belum bisa menjadi suami yang baik yah.. "ungkap Zaid dengan kepala tertunduk.


"Ayah tahu kalian masih muda..kadang masih belum berfikiran dewasa..Dan pertengkaran adalah hal yang biasa, Tapi ayah harap kalian selesaikan baik-baik..Sana temui istrimu dikamarnya. "nasehat ayah sebelum akhirnya menyuruh menantunya segera menemui putrinya.

__ADS_1


"Baik yah.. terimakasih ayah"Zaid memeluk ayah mertuanya.


Segera ia masuk ke kamar bujang Annisa tanpa mengetuk pintu.


"Sayang... "Zaid menghambur memeluk tubuh kecil istrinya yang tengah duduk diranjang menonton televisi.


"Bagaimana mas tahu aku ada disini? "tanya Annisa yang kebingungan dipeluk erat oleh orang yang sedari tadi ia nantikan untuk menjemputnya.


"Bodoh.. kenapa kabur?Mas salah apa? "tanya Zaid menangis.


"Mas jangan menangis..Aku mau cerita tapi janji ya, mas jangan marah? "pinta Annisa.


"Iya.. iya.. "jawab Zaid tak sabar.


Annisa menjelaskan semua yang terjadi tadi siang tanpa ditambah atau dikurangi.


"Lalu kemana ponselmu sayang? "tanya Zaid lembut.


"Diambil mama mas.. semuanya"kata Annisa meneteskan air mata mengingat sikap mama mertuanya tadi siang.


"Mama... "ucap Zaid meradang.


"Mas.. udah janji lho ya? Jangan marah-marah.. Dan yang mama lakuin itu karena emang Nisa salah, aku harap hubungan mas dengan mama tetap baik-baik saja "kata Annisa sendu.


"Tapi nis... "protes Zaid.


Cup.


Annisa membungkam suaminya dengan sebuah kecupan sebelum melayangkan protesnya.


"Ini cobaan untuk kita.. kita harus sabar mas.. " Bujuk Annisa.


"Ya udah kita pulang ya sayang.. "ajak Zaid.


"Mas.. kalau mama datang lagi bagaimana? " tanya Annisa.


"Aku nggak akan biarin mama usir kamu dan nyakitin kamu lagi.. "ucap Zaid penuh amarah.


"Apa nggak sebaiknya kita pindah mas.. Aku takut.. "Ucap Nisa sedih.


"Nggak.. itu rumah aku hasil kerja aku.. bukan dari mama papa, kamu mau kan menghadapi semua bersama-sama? "


"Iya mas.. aku nggak bisa hidup tanpa kamu.. " ucap Nisa memeluk erat suaminya.


"Maafkan sayang, Mas tidak bisa melindungimu.. " gumam Zaid disela-sela pelukan mereka.


Hai...salam dariku penulis yang belum pandai ini.. Tapi aku selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik yang aku bisa..Kasih like ya.. kalau suka.. Dari episode awal kasih jempolnya dongg..


Terimakasih yang sudah membaca, memberi like.. kalau bisa vote juga agar saya semakin bersemangat.. hehehe

__ADS_1


Salam sayang buat pembaca setia 😘😘


__ADS_2