SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Kilas Balik


__ADS_3

Flashback on


Setahun sudah Zaid dan Annisa merasakan kebahagiaan rumah tangga mereka. Kebahagiaan selalu menyelimuti rumah tangga mereka. Semakin hari mereka bertambah mesra. Zaid dan Annisa seakan tak bisa terpisahkan. Untuk memperingati hari jadi pernikahan yang Pertama mereka ingin membuat acara syukuran kecil-kecilan. Zaid menyerahkan semua urusan perayaan kepada istrinya. Annisa juga sudah menyiapkan rencana liburan mereka ke Pulau Bali. Annisa berharap setelah liburan mereka ia akan mendapatkan kabar gembira tentang kehamilan. Besar harapannya.


Sore itu akan di adakan pesta kecil-kecilan mengundang kerabat dan sahabat untuk memperingati hari jadi mereka. Siangnya Annisa pergi ke toko kue mengambil kue pesanannya untuk pesta. Ia pergi sendiri karena Zaid harus bekerja di kantor. Namun tak menyurutkan semangat Annisa untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.


Cuaca sangat panas, Annisa yang baru turun dari taksi merasakan pusing dikepalanya. Rasanya kepalanya seperti di tusuk-tusuk. Ia berjalan masuk ke toko kue sambil bepegangan pada dinding, Namun semakin lama sakit kepalanya menjadi jadi. Tiba-tiba ia merasakan dunianya berputar dan ia jatuh pingsan. Semua pengunjung terkejut, mereka panik. Salah seorang pegawai memeriksa tas miliknya berharap menemukan handphone milik Annisa untuk menghubungi keluarganya. Namun malang hp itu tak dijumpai, ternyata Annisa lupa membawa ponselnya . Mereka panik karena Annisa tak kunjung siuman, akhirnya pegawai toko menelepon ambulan dan akhirnya Annisa di bawa kerumah sakit.


Annisa mengerjapkan matanya setelah siuman, ia tak mengingat apapun yang terjadi padanya. Kenapa ia berakhir di ranjang rumah sakit? Setelah lama berpikir ia ingat kalau dirinya tadi tengah berada di toko kue. Ia segera turun dari ranjang ingin segera meninggalkan rumah sakit. Namun suster yang berjaga menghentikannya. Akhirnya ia berbicara dengan dokter. Dokter menyarankan Annisa agar menjalani pemeriksaan lebih lanjut.Akhirnya Annisa menuruti kata dokter dan menjalani serangkaian pemeriksaan. Dokter memberitahu kalau hasil akan keluar dalam tiga hari. Akhirnya Annisa kembali ke toko kue mengambil kue yang sudah ia pesan. Semua pegawai terkejut karena Annisa yang pingsan kembali ke toko itu untuk mengambil kue. Mereka berkerumun menanyakan keadaan pelanggan tetap mereka itu, karena setiap ada acara dirumah Nisa selalu memesan kue disitu. Jadi sebagian besar karyawan toko mengenalinya.


Dalam perjalanan pulang ia termenung di dalam taksi, apakah ada yang salah dengan dirinya? Akhir-akhir ini dia seperti kehilangan seluruh tenaganya. Badannya semakin hari semakin kurus, kepalanya sering sakit bahkan ia sampai pingsan. Dia kalut dan takut, semoga tidak ada apa-apa, pikirnya.


Annisa melamun sampai taksi yang ia tumpangi sudah sampai dirumah. Supir taksi sampai berkali-kali memanggil namanya baru ia tersadar. Akhirnya ia segera turun setelah memberikan ongkos taksi dan meminta maaf pada supir taksi tersebut.


Ia dibantu seorang asisten rumah tangga yang dikirim khusus mama mertuanya agar membantunya mempersiapkan pesta. Hampir semua persiapan selesai.


Annisa saat itu masih membantu bi Murni memotong bawang. Ia melamun dan terus melamun sampai tak terasa tangannya teriris pisau. Darah mengucur deras dari jari telunjuk kirinya. Annisa masih tak sadar dari lamunannya ketika darah tak berhenti mengucur. Bibi yang baru saja mematikan kompor melihat tangan majikannya penuh darah menjerit histeris.


"Nyonya.. apa yang anda lakukan? " Bi Murni menjerit membuat Annisa tersadar.Namun ia tak mendengar pertanyaan asisten rumah tangga mama mertuanya itu. Rasa perih mulai ia rasakan dijarinya yang terluka. Bibi segera mencuci tangan majikannya dan dan menekan luka Annisa dengan kain bersih berharap darah berhenti.


" Nyonya tekan ini sebentar, saya mau ambil kotak obat" Bi Murni berlari mengambil kotak P3K. Segera ia berlari menghampiri majikannya dan merawat luka Annisa. Keringat mengucur di pelipisnya antara panik dan capek berlari-lari.


" Nyonya, apa yang sedang anda pikirkan? Anda melamun dengan membawa pisau, itu sangat berbahaya nyonya muda.. " Bi Murni berkata sambil membalut luka Nisa dengan plester.


" Nggak papa kok bi,, terimakasih ya.. " Annisa mengucapkan terimakasih dengan senyuman menghiasi wajahnya namun masih terlihat wajahnya begitu pucat.


"Bi.. Nisa mohon jangan ceritakan kepada Mama atau mas Zaid ya.. saya tak mau mereka khawatir.. dan karena semua sudah beres bibi istirahat aja dulu dikamar itu, baru nanti selesai acara bantu saya bersih-bersih. " Annisa menunjuk kamar dekat dapur.

__ADS_1


"Baik nyonya... " Bi Murni undur diri ke kamar yang ditunjukkan .


Annisa segera mandi dan mengganti pakaian dengan gaun yang dibelikan suaminya. Ia berusaha merias wajahnya untuk menyamarkan pucat diwajahnya. Ia begitu cantik mengenakan gaun berwarna peach itu.


Diliriknya jam dinding dikamarnya, Waktu hampir jam 5 tapi suaminya belum pulang juga. Ia berharap Zaid bisa pulang awal, kan tidak. lucu kalau perayaan Anniversary tidak dihadiri suaminya. Baru ia akan keluar dari kamarnya suaminya membuka pintu dan masuk ke kamar.


Dipandangi wajah istrinya yang cantik, diletakkan tas kantornya di sofa kemudian ia memeluk erat istrinya. Ia mengecup lembut bibir istrinya dan ingin melanjutkan ciuman panas mereka,tapi Annisa seketika mendorong dada suaminya.


" Sayang.. cepet mandi.. Lihat jam berapa.. tamu-tamu sudah akan datang. " Annisa memberikan perintah serta menunjuk jam dinding dikamar mereka.


"Tapi aku rindu kamu.. biar mama aja ya yang nemenin tamu rayain di bawah.. kita rayain di kamar aja ya.. " Zaid mengerling nakal.


"Dasar.. yang punya acara kita bukan mama.. Sana cepat mandi yang wangi ya aku udah siapin baju kamu.. aku tunggu di bawah.. " Annisa berlalu meninggalkan suaminya menyambut tamu dibawah.


Tak lama kemudian tamu mulai berdatangan. Tak banyak hanya kerabat dekat dan teman dekat. Ada juga beberapa anak yatim dari panti asuhan yang mereka undang. Agar mereka bisa berbagi kebahagiaan dengan mereka yang serba kekurangan.


Acara berjalan dengan lancar, semua tamu undangan sudah pulang. Tinggalah Annisa membereskan meja dibantu bi Murni. Tiba-tiba Zaid menarik tangan istrinya.


" To night is our time..aku mau kamu turuti semua mau aku malam ini" Zaid setengah memaksa.


" Bi Murni.. bibi bereskan semua sendiri ya.. saya bayar 5x lipat hari ini.. kami pergi dulu ya.. " Kata Zaid dengan muka berseri-seri.


" Baik tuann.. siap.. " Bi Murni mengacungkan jempolnya ikut bahagia melihat majikannya.


Zaid membawa Annisa makan malam yang romantis.Annisa menangis bahagia terharu atas perlakuan manis suaminya. Apalagi ketika Zaid tiba-tiba memasangkan kalung berinisial AZ diambil dari nama mereka. Annisa sangat terharu menangis dalam pelukan suaminya. Sungguh hidupnya sangat sempurna.Ia sangat berterimakasih kepada Tuhan.


Namun malam itu ternyata menjadi malam romantis terakhir mereka. Karena selanjutnya hanya ada malam-malam yang dingin. Yang membekukan hati keduanya..

__ADS_1


***


Tiga hari setelah Annisa pingsan, ia kembali ke rumah sakit mengambil hasil pemeriksaannya. Ia meminta izin kepada Zaid dengan alasan ingin berbelanja. Ia berpikir tak perlu memberitahu suaminya. Ini kali pertama nya Annisa berbohong kepada suaminya.


"Apa dok.. Apakah hasilnya tidak salah? " Annisa gemetar memegang hasil pemeriksaa ditangannya. Air mata mulai menetes membasahi kertas hasil pemeriksaan tersebut. Rasanya dunianya gelap, hampir saja ia terjatuh karena terkejut.


"Iya Bu.. maaf dengan berat hati saya harus memberitahukan bahwa ada tumor ganas di dalam otak anda.. Tapi tumor belum begitu besar, Anda masih bisa dioperasi.. Namunn.. " dokter Rian menghentikan kata-katanya.


"Namun apa dok? " Annisa tak sabar mendengar penjelasan dokter selanjutnya.


"Kemungkinan keberhasilan operasi 50:50 karena tumor berada dibagian yang rawan. kalaupun berhasil mungkin anda akan kehilangan semua ingatan anda, atau anda bisa saja menjadi cacat" ucapan dokter membuat Annisa lemas.


Dunianya runtuh seketika, Tak ada lagi senyum di wajahnya. Kebahagiaan menghilang dari hidupnya menjadikannya Annisa yang dingin dan berubah 180 derajat. Karena ini pula ia memutuskan mengonsumsi pil KB karena dokter menyarankan agar ia jangan sampai hamil. Sebab, Obat yang dikonsumsi untuk menekan pertumbuhan tumor dan untuk menahan sakit dapat membahayakan janin. Ia juga sering keluar rumah untuk pemeriksaan rutin. Sehingga ia sering pergi tanpa izin suaminya karena ia tak tahu harus berkata apa. Ini berakibat buruk ada hubungan mereka yang semakin dingin.Juga menambah prasangka Zaid istrinya berubah sesuka hatinya entah melakukan apa diluar sana ketika sering keluar rumah tanpa izin.


Flashback off


Setahun sudah tumor ganas bersarang di otaknya. Selama itu ia menahan rasa sakitnya sendiri. Ia bolak balik rumah sakit sendiri. Kadang ia harus diopname beberapa hari karena kondisinya yang melemah. Semua dilaluinya sendiri tak ada sahabat,keluarga yang tahu. Bahkan suaminya sendiri tak tahu apa-apa. Ia juga memutuskan tak mau dioperasi karena belum sanggup untuk berpisah dari suaminya jika operasinya gagal. Apalagi ia tak mau melupakan semua kenangan manisnya bersama sang suami.


Agar tidak menimbulkan kecurigaan suaminya ia bersikap dingin acuh tak acuh. Ia mengorbankan perasaannya.Padahal ia sungguh tak sanggup berpaling dari lelaki yang menjadi nafasnya. Akan tetapi,asal ia masih bisa melihat suaminya saja ia sudah bahagia. Ia juga tak berniat memberi tahukan suaminya perihal keadaannya. Annisa tak ingin suaminya sedih. Ia menyembunyikan hasil pemeriksaan dokter di dalam koper yang ia letakkan diatas almari bajunya.


Namun hatinya hancur seketika ketika mertuanya ingin Zaid menikah lagi. Akhirnya ia ingin sekali saja egois untuk tetap merasakan kasih sayang suaminya sebelum ia mati. Ia meruntuhkan dinding pembatas yang ia buat. Akhirnya mereka berbaikan, namun belum sehari baikan mereka bertengkar hebat gara-gara Zaid menemukan pil KB nya. Ia tak mampu menjelaskan sebab ia mengonsumsi pil KB. Hingga membuat Zaid pergi dari rumah.


Kini yang ada hanya penderitaannya saja yang akan ditanggungnya sendiri. Suaminya, orangtuanya tak ada satupun yang tahu. Biar saja ia merasakan kesakitan ini seorang diri.


bersambung


Mampir ke novel aku yang lainnya juga ya kak.. ada dua lagi selain Satu Hati Sampai mati, diantaranya

__ADS_1


1 Cinta Tuan Sempurna


2 Bunga -bunga cinta


__ADS_2