
Dengan hati berbunga Zaid pulang kerumah. Mengingat ia akan makan malam buatan istrinya lagi membuat Zaid sangat bahagia. Ia melupakan kata-kata Maya dan juga janjinya. Ia memang ingin menikmati hari-harinya sebelum ingatan Annisa kembali dan menceraikannya.
Ia sungguh tak peduli seandainya Maya benar-benar hamil. Ia merasa tak pernah melakukan apapun dengan Maya. Namun jika ingin melakukan pemeriksaan sekedar ingin membuktikan omongan Maya pun ia belum berani. Zaid terlalu takut untuk menerima kenyataan pahit. Untuk itu ia ingin Maya memberi waktu sampai ingatan Annisa kembali. Ia tahu ia egois tapi bagaimana lagi cinta telah membuat ia lemah dan buta.
"Assalamualaikum "Zaid membuka pintu depan dengan tersenyum lebar.
"Waalaikumsalam mas.." Annisa menyambut dan mencium tangan suaminya.
"Sini mas, aku bawakan tasnya "
"Nggak usah, nggak papa sayang. Kamu pasti capek kan? " tolak Zaid dengan penuh kasih sayang.
"Nggak mas.. Mas mandi dulu sana. Biar Annisa menyiapkan makan malam untuk kita "kata Annisa.
Zaid menuruti kata istrinya dan segera mandi. Setelah mengganti baju ia menyusul istrinya yang ada di meja makan menata makanan.
"Wahh, kamu masak banyak ya sayang " mata Zaid berbinar menatap meja makan yang penuh dengan masakan Annisa. Ada tumis kangkung ada udang balado, tempe goreng dan ayam goreng. Bau sedap makanan membuat Zaid semakin lapar.
"Sekali-kali nggak papa kan mas ? Maaf kalau Nisa boros "jawab Nisa tak enak hati.
"Apaan sih sayang, mas malah seneng. Yuk makan "
"Bentar ya mas, Nisa ambil air putih "
Annisa menuju ke dapur mengambil satu teko air putih.
__ADS_1
"Ini mas, makan yang banyak ya.. Kamu kan udah capek-capek kerja "kata Annisa menyendokkan nasi ke piring Zaid dan mengambilkan lauk pauk untuknya.
"Kamu juga ya sayang, "giliran Zaid mengambilkan makanan untuk Annisa.
"Makasih ya mas, padahal kan Annisa bisa ambil sendiri, "
"Sekali-kali nggak papa kan sayang? "Zaid menirukan kata-kata Annisa sebelumnya membuat mereka tertawa bahagia.
Mereka menghabiskan makan malam dengan gelak tawa. Sesekali Zaid menceritakan kenangan-kenangan manis mereka dulu membuat wajah Annisa memerah sempurna karena tersipu. Kadang mereka juga bersenda gurau. Mereka menikmati makan malam romantis sederhana itu berdua.
Selesai makan, Zaid membantu istrinya membersihkan meja makan. Ia juga membantu Annisa mencuci peralatan makan. Semula Annisa melarang , namun ia keras kepala ingin tetap membantu istrinya. Mereka masih bersenda gurau sambil mencuci piring membuat semua perasaan canggung yang ada selama hampir dua bulan itu menghilang.
Setelah makan mereka berdua sholat berjamah. Membuat perasaan Annisa sangat tentram. Ia semakin kagum kepada imam rumah tangganya. Ia yakin akan menyerahkan diri pada lelaki itu. Tidak ada keraguan sedikitpun dalam hatinya.
"Sayang, udah malam tidur yuk " ajak Zaid menatap Annisa yang sibuk membaca novel di sofa.
Setelah lampu dimatikan mereka membaringkan tubuh yang lelah di ranjang. Namun Annisa tak kunjung dapat memejamkan mata. Dadanya berdebar kencang entah apa yang ia rasakan. Ia merindukan pelukan pria yang sudah tidur di sampingnya.
Annisa mengubah posisi tidurnya yang semula terlentang menjadi miring menghadap suaminya.Tiba-tiba memeluk Zaid dengan erat. Membuat yang empunya tubuh terbangun kembali.
"Mas.. "
"Hmm.. kenapa? nggak bisa tidur? "
"He,em"
__ADS_1
"Mau mas peluk? " Annisa mengangguk malu.
Zaid langsung mendekap erat istri kesayangannya. Ia tak berbeda dengan Nisa menahan gejolak hatinya yang begitu merindukan wanita itu.Sebenarnya ia dari tadi berusaha menahan gairahnya. Dan disadarinya bagian bawah tubuhnya mengeras karena sentuhan Annisa. Wajar ia lelaki normal.
"Mas, Annisa minta maaf jika selama ini Annisa menolak mas.. "kata Annisa mendekap Zaid semakin erat menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Nggak papa sayang, mas akan menunggu kamu sampai siap "
Sial, kenapa disaat seperti ini aku malah sangat bergairah? tahan Za.. Atau kamu akan menakuti Annisa.
"Aku sudah siap kok mas "
"Hehh" Zaid melepas pelukan istrinya karena terkejut.
"Aku mau menjalankan kewajiban sebagai istrimu "kata Annisa mantap, ia menatap Zaid intens.
"Kamu yakin? "tanya Zaid seperti bertanya keada seorang yang masih gadis.
Annisa mengangguk malu. Ia menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Kenapa sayang? Aku ingin melakukan atas dasar cinta dan aku nggak mau jika kamu terpaksa "
"Nggak mas, aku nggak terpaksa. Dan aku cinta sama kamu mas "kata Annisa malu-malu.
"Aku beneran cinta mas sama kamu. "
__ADS_1
"Aku juga sayang, banget malahan. "
Akhirnya dengan lemah lembut Zaid menunaikan kewajibannya pada Annisa. Ia benar-benar melakukan dengan lembut dan hati-hati takut menyakiti istrinya. Mereka melewati malam yang panjang dengan panas dan penuh gairah.