SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Maaf Aku Belum Bisa


__ADS_3

"Sayang, gimana perasaan kamu? Ada yang sakit? "tanya Zaid kepada Annisa yang terbangun dari tidurnya.


"Udah nggak papa, maaf saya mau tanya? Sebenarnya nama saya siapa? Dan tolong jelaskan hubungan kita. Dan saya mau bukti kalau benar kita adalah suami istri. "pinta Annisa sopan masih membatasi diri.


"Iya sayang..Kamu Annisa, istriku.. semua akan aku jelaskan dan aku buktikan, tapi tidak sekarang..Kamu harus pulih dulu, hm.. "kata Zaid lembut mengelus rambut istrinya.


"Sayang..Kamu sudah bangun nak.. "bunda menghambur memeluk Annisa yang diam kebingungan.Zaid berdiri dari duduknya menyambut ayah mertua.


"Terimakasih ya Allah.. kau berikan hidup kedua untuk putriku.. Puji syukurku ucapkan padamu.. "bunda masih memeluk Annisa dengan linangan air mata. Kini ayah turut mendekap istri dan anaknya. Seakan kelua


Mereka baru datang, karena Zaid tak langsung memberi kabar pada ayah bunda bahwa Annisa sudah sadar.Jikalau mereka mengetahui putri mereka sudah siuman, tengah malam pun orang tuanya akan nekat datang. Zaid baru mengabarkan keesokan harinya selepas sholat subuh agar tidak mengagetkan mertuanya .


Tentu saja bunda yang sudah menyerah dan mengikhlaskan apapun yang akan terjadi pada putrinya ini menjadi kabar yang sangat membahagiakan.


"Maaf kalian siapa ya? " Annisa melepas pelukan kedua orangtuanya dengan kebingungan. Ia sama sekali tak mengingat apapun termasuk kedua orangtuanya.


"Sayang, jangan bercanda.. Ini ayah dan bunda. Orang tua kamu nak.. "Annisa mengernyitkan dahinya berusaha mengingat wajah kedua orang yang ada dihadapannya itu.


" Shhh.. sayang, udah kamu istirahat aja ya, nggak usah dipaksakan. Kamu ingat kata dokter kan? Rileks okay.. "Zaid membaringkan istrinya kembali. Orang tua Annisa hanya terdiam kebingungan memandang putrinya yang terasa asing.


"Kamu mau makan apa sayang? nanti biar mas belikan. "tawar Zaid yang ditanggapi dengan gelengan kepala.


"Ya udah, istirahat ya.. Biar cepet pulih, "Kini Zaid menyelimuti istrinya yang kembali memejamkan mata.Ya, Annisa pura-pura tidur. Karena sebenarnya Annisa sudah tidak bisa lagi memejamkan mata karena sudah terlalu banyak waktu yang ia habiskan untuk tidur dan tidur. Ia pura-pura tidur untuk menghindar dari bingung dan canggung.


Sedari semua orang mengaku sebagai keluarganya ia menjadi semakin bingung.Ia tak mengenal atau mengingat orang-orang yang mengaku kenal dengannya. Ia masih dipusingkan perihal lelaki yang mengaku sebagai suaminya dan kini ada dua orang yang mengaku sebagai orang tuanya.Rasanya ia begitu canggung dan belum bisa menerima mereka. Benarkah mereka keluargaku? batin Nisa ragu.


"Bunda, ayah.. Mari kita bicara diluar saja biar Nisa istirahat. "ajak Zaid kepada mertuanya. Kini orangtuanya mengikut di belakang Zaid. Ketika mereka keluar mereka berpapasan dengan seorang suster yang masuk untuk memeriksa suhu badan Annisa. Mereka hanya saling melempar senyum. Dan berlalu sesuai aktivitas masing-masing.


"Kita cek suhu badan dulu ya bu "ucap suster mengeluarkan termometer yang berbentuk scanner.


"Ah.. 36 derajat. Demam sudah turun ya bu, makan yang banyak dan istirahat, jangan stress agar cepat pulih. "Nasehat suster tersenyum ramah seraya mencatat hasil pemeriksaan ke dalam buku pasien.


"Sus, boleh saya bertanya? " Annisa menggenggam erat tangan suster itu sebelum ia sempat pergi dari ruangan itu untuk melanjutkan tugasnya. Seakan mengharapkan bantuan dari suster tersebut.


"Iya bu, boleh silakan.. "


Sementara di kantin

__ADS_1


"Ayah bunda, kata dokter sementara Annisa mengalami amnesia, jadi Annisa tidak mengenal bunda dan ayah. "Zaid mulai menjelaskan setelah duduk di sebuah kantin rumah sakit.


"Apa? Bagaimana bisa nak? "tanya ayah.


"Zaid juga tidak mengerti ayah, mungkin karena benturan dikepalanya. Annisa juga tidak mengenali saya ayah "Jawab Zaid menitikkan air mata. Ayah dan bunda terdiam dalam keterkejutannya.


"Kamu yang sabar ya nak.. "hibur ayah.


"Nggak apa yah, saya ikhlas asal istri saya selamat.. "


"Tapi yang terpenting adalah menjaga Annisa jangan sampai stress karena berusaha mengingat masalalunya Yah bun. Jadi kita harus menjelaskan pelan-pelan dan tidak memaksanya untuk mengingat kita. "tambah Zaid lagi.


"Iya nak.. maafkan ayah dan bunda jika tadi mengejutkan Annisa "ujar bunda ikut berkomentar.


"Tidak bunda, Zaid yang minta maaf tak mengatakan ditelepon dengan jelas. " ucap Zaid.


"Mari kita kembali ke kamar Annisa nak, kasihan dia sendirian "Ajak bunda.


Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke ruangan Annisa di rawat.


"Oke sus, terimakasih ya sus.. "kata Annisa tersenyum. Suster akhirnya pamit melanjutkan pekerjaan.


***


"Sayang, nggak tidur? "tanya bunda memeluk Annisa.


"Saya sudah terlalu banyak tidur nyonya."jawab Annisa canggung.


"Nak, ini bunda. Ibu kamu, panggil bunda ya nak? "pinta bunda.


"Baik nyo.. Eh bunda. ".


"Bagus benar seperti itu nak? Bunda kupaskan apel mau? "Annisa mengangguk setuju.


Zaid yang melihat interaksi antara istrinya dan mertuanya bernafas lega. Setidaknya Annisa nyaman dengan bundanya walau belum bisa nyaman dengannya. Suaminya.


***

__ADS_1


Seminggu berlalu kondisi Annisa semakin membaik. Dokter akhirnya mengizinkan Annisa pulang.


Bunda menginap di rumah Zaid karena setelah Annisa sadar, Zaid mulai bekerja kembali.Ia harus memikul tugasnya sebagai manajer yang sudah ia abaikan selama sebulan lebih sehingga tak bisa selalu berada disisi istrinya. Dan bunda yang mengetahui kesulitan Zaid membantu merawat Annisa yang belum pulih sepenuhnya. karena Annisa masih menggunakan kursi roda. Tangan kanannya juga masih dibalut dengan gips, sehingga dia masih butuh bantuan orang lain untuk melakukan apapun.


***


"Nak, maafkan bunda harus pulang. Kasihan ayah dirumah sendirian.. Bundq sudah terlalu lama disini"Ucap bunda setelah sebulan lebih menginap di rumah anak dan menantunya.


"Iya bun.. nggak apa-apa, Zaid sudah sangat berterima kasih atas bantuan bunda selama ini. Maafkan Zaid ya bunda sudah banyak merepotkan " jawab bunda.


"Nggak apa nak, Annisa kan anak bunda sendiri. Ya udah bunda pamit dulu ya.. " ucap bunda yang sudah membawa tas berisi bajunya.


"Biar Zaid antar ya bun.. "tawar Zaid.


"Nggak usah nak, bunda udah pesen taksi online, kamu jaga saja istrimu takutnya dia butuh apa-apa " tolak bunda dengan tersenyum.


"Hati-hati ya Bunda. " Zaid mencium tangan mertuanya.


"Ya nak, titip anak bunda ya..Annisa bunda pulang ya, jaga kesehatan ya nak "kata bunda sebelum masuk ke taksi dan meninggalkan rumah itu. Annisa hanya mengangguk.


" Sayang, masuk yuk.. kayaknya mau hujan "ajak Zaid sambil mendorong kursi roda. Annisa diam saja tak menolak atau mengiyakan.


Dalam hati Annisa sungguh ia takut, karena ia tidak mengingat satu kenangan pun bersama lelaki yang sudah menjadi suaminya itu. Apalagi kini bunda sudah pulang bagaimana jika suaminya menyentuhnya? Sungguh Annisa belum siap.


Malam harinya Annis semakin gugup, karena kini Zaid yang akan menemaninya tidur. Bukan bunda lagi.


"Sayang, aku rindu.. "ucap Zaid lirih memeluk tubuh mungil istrinya. Satu tangan Zaid menyikap piyama yang dikenakan istrinya. Ingin mencari sesuatu yang sudah sangat dirindukannya dalam dua minggu lebih.Ia mengelus lembut perut sang istri. Annisa hanya menahan nafas dalam kegugupannya. Tangannya memegang erat sprei karena ia sangat takut. Entah mengapa ia takut pada lelaki yang sudah jelas adalah suaminya sah secara agama dan negara.


"Ma-maaf mas aku sekarang nggak bisa, aku belum siap, "kata Annisa menegang.


"Ahh.. Maafkan mas sayang, mas terlalu emosional karena merindukanmu. Mas janji nggak akan melakukan apapun padamu. Sekedar memeluk nggak papa kan sayang? "tanya Zaid sembari menarik kembali tangannya dari balik piyama. Annisa mengangguk ragu. Jika bisa ia tak ingin tidur seranjang dengan laki-laki itu.


"Maaf mas, Annisa butuh waktu.. mungkin bukan sekarang" Annisa yang dipeluk Zaid dari belakang menggigit bibir bawahnya.


"Iya, iya mas tahu.. Sudah mari kita tidur. "Ajak Zaid seraya mematikan lampu.


"Ya Allah apa yang sudah kuperbuat, dia hilang ingatan pun sampai segitu takutnya kepadaku, maafkan aku sayang maaf.. "batin Zaid mengingat kembali pertengkaran malam itu.

__ADS_1


__ADS_2