SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Switzerland


__ADS_3

Butuh waktu 23 jam lebih perjalanan dari Jakarta menuju Zurich. Sungguh melelahkan seharian penuh duduk di pesawat. Rasanya otot menjadi kaku dan pegal. Annisa Juga merasakan hal yang sama. Ia sangat lelah, kadang-kadang kepalanya berdenyut nyeri. Walau sudah meminum obat penahan sakit, rasa nyeri dikepalanya itu tetap muncul. Namun ia tetap menahan rasa sakit itu tak ingin memperlihatkan pada suaminya. Annisa hanya ingin menunjukkan kebahagiaan pada suaminya. Ia sudah memoles wajahnya dengan riasan yang tebal dan fresh, agar menyamarkan wajah pucatnya. Sungguh demi Allah kepala Annisa rasanya sangat sakit . Namun apabila ia memandang wajah suaminya yang penuh senyuman dan kegembiraan, Ia rela kesakitan asalkan senyum itu takkan pernah menghilang lagi.


Akhirnya mereka sampai juga di bandara di Negara Swiss itu. Selesai urusan di bandara Mereka menuju desa Zermatt diwilayah Kanton Valais desa terdekat dengan Matterhorn. Karena memang tempat tujuan honeymoon mereka disana. Dengan menumpang kereta akhirnya mereka akan sampai di desa yang bebas dari polusi itu setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam. Mereka menggunakan alternatif kereta, sebab mobil tidak dapat masuk ke wilayah Zermatt yang sejak tahun 1947 sudah dibebaskan dari segala kendaraan berbahan bakar selain listrik.Sangat unik bukan, jika Jakarta setiap akhir pekan diadakan Car Free Day, maka di Zermatt setiap hari bebas dari kendaraan bermotor.


"Wooww... Cantiknya mas.. "Ucap Annisa yang terkagum-kagum saat masih di dalam kereta api. Annisa tak henti memuji pemandangan pegunungan,keindahan dataran tinggi yang dihiasi barisan pohon pinus dan juga padang rumput dengan sapi-sapi dan domba ternak yang sedang makan rumput. Sayup-sayup terdengar suara lonceng sapi yang terdengar merdu memanggil bersahutan. Terdapat pula rumah desa yang dipercantik dengan hiasan tanaman bunga berwarna-warni dalam pot di setiap depan rumah atau balkon, sungguh indah.


"Kamu suka sayang? "kata Zaid menatap lekat istrinya.


"Suka banget mas.. "kata Annisa tersenyum bahagia.


Setelah 4 jam akhirnya mereka sampai di stasiun Zermatt. Keluar dari stasiun Annisa semakin terkesima oleh pemandangan yang bagaikan sketsa dongeng grimm bersaudara. Kota apik nan mungil itu berisikan deretan rumah kayu dan bata ala-ala cerita Heidi dengan lukisan awan putih di kanvas biru langit.Jalan setapak berbatu menjadi jalan utama dan Pegunungan Alpen yang tegar memagarinya.


Zermatt adalah sebuah resort internasional teratas menggunakan kereta kuda, terdapat pondok-pondok kuno, restoran kelas dunia dan hotel. Untuk menjaga udara dan suasana damai di desa kendaraan bermotor dilarang. Jika wisatawan menggunakan mobil, hanya bisa sampai desa disekitar Zermatt. Sedangkan untuk menuju Zermatt bisa menggunakan kereta. Udara di Zermatt terasa ringan dan segar. Kota mungil dan cantik ini merupakan kota di Kanton Valais yang berbatasan dengan Italia. Berada di ketinggian 1620 m diatas permukaan laut dan dikelilingi oleh setidaknya 1/3 bagian dari ratusan puncak pegunungan Alpen.Dari sekian banyak puncak yang terbentang dari Swiss sampai Italia yang tertinggi adalah puncak Matterhorn.


Sesampai di Zermatt Mereka segera menuju hotel "Romantica" yang sudah dibooking sebelumnya. Setelah Check in mereka segera beristirahat karena terlalu lelah setelah perjalanan.


Zaid membaringkan tubuhnya diatas kasur, sedang Annisa mengeluarkan semua barang-barang miliknya dan suaminya dari dalam koper dan diletakkan ke dalam almari.


"Sayang.. sudah besok aja disusun..Sini baring-baring.. Kan capek.. "kata Zaid menepuk kasur disebelahnya.

__ADS_1


"Bentar aja kok mas.. Udah mau selesai.. Mas, pesan makanan gih.. Nisa lapar.. "kata Nisa.


"Astagfirullah sayang.. maaf mas lupa kalau kita belum makan.. Ya udah mas pesan makanan dulu ya.. Untuk malam ini kita makan dikamar aja nggak papa kan? "tanya Zaid lembut.


"Iya mas.."kata Annisa sambil tersenyum.


Mereka pun segera makan setelah makanan diantar ke kamar. Selesai makan mereka berdua tidur karena kelelahan.


Pagi harinya mereka berencana memulai perjalanan mereka menuju ke Gornergrat untuk menikmati keindahan puncak Matterhorn. Puncak Matterhorn adalah puncak dengan tinggi 4.478 m dari permukaan air laut yang paling banyak di foto, di daki dan dinikmati pemandangannya. Sehingga ia diabadikan sebagai logo merk cokelat berbentuk segitiga yaitu "Toblerone" yang paling terkenal di Swiss. Dimusim panas piramida Matterhorn terlihat kokoh sebagai puncak batu berwarna abu-abu kehitaman dengan puncak salju abadi. Sementara dimusim dingin ia terlihat menawan dengan salutan tipis sutra tipis menutup seluruh tubuhnya.


Namun rencana mereka akhirnya batal karena kondisi Annisa yang sedikit memburuk karena terlalu kecapekan. Ia merasakan sakit dikepalanya.Ia mengatakan pada suaminya kalau mau istirahat dulu karena capek. Kerena Annisa semakin kesakitan, akhirnya ia menyuruh Zaid membelikan makanan direstoran yang agak jauh karena tak dapat lagi menahan sakit dikepalanya, agar Zaid tak melihat kesakitannya. Semula Zaid ingin memprotes istrinya namun Annisa dengan manja memohon dan membuat Zaid menyetujuinya.


"Sayang.. Lihat aku udah dapat pizzanya.. Mau makan sekarang? "kata Zaid yang baru kembali dari luar.


"Boleh mas.. Bentar nanti aku ambil piringnya.. Makasih ya Mas udah beliin.. Maaf udah ngrepotin kamu.. "kata Nisa dengan perasaan yang sedikit bersalah karenanya suaminya harus berjalan jauh mencari restoran yang menyediakan Pizza.


"Apa sih sayang..cuman gitu aja.. dan sesama suami istri tidak ada kata merepotkan sayang.."kata Zaid memeluk istrinya.


"Ya udah.. Aku ambil piring ya..kita makan.. " Nisa melepaskan pelukan suaminya.

__ADS_1


Baru ia memegang piring ditangannya tiba-tiba piring yang dipegang Annisa jatuh dan pecah karena tangan Annisa yang masih bergetar hebat.


Pranggg


Piring terjatuh dan pecahan beling berhamburan seketika.


"Sayang, kamu nggak papa? "tanya Zaid cemas.


"Nggak papa, maaf ya mas.. Piringnya licin jadi nggak sengaja terjatuh tadi.. "kata Annisa gugup.


"Nggak papa sayang, kamu kecapekan ya.. Kok kamu agak pucat sayang.. Sana tiduran aja.. biar aku beresin pecahan belingnya.. "Zaid menuntun istrinya agar berbaring.


Zaid dengan sabar dan telaten membersihan serpihan piring. Kemudian ia memangggil room service agar membersihkan lagi lantainya agar lebih bersih dan bebas dari serpihan piring yang berukuran kecil yang dapat membuat istrinya terluka.


"Maaf ya mas.. Gara-gara aku liburan kita hancur.."gumam Annisa dalam hati.


***


Saya menggambarkan suasana di swiss ini dengan bertanya pada mbah gugle. jadi kalau ada kesalahan kekurangan atau keganjilan dari cerita saya mohon maaff.. Terimakasih buat yang sudah membaca.. semoga suka dan tidak mengecewakan..Kalau suka bagi jempollnya ya..

__ADS_1


__ADS_2