
Annisa POV
Di sepanjang jalan aku terus termenung. Air mata sudah tak keluar lagi. Mungkin sudah habis karena aku tak hentinya menangisi nasib burukku. Pikiranku kosong menerawang jauh. Aku mengingat kembali jalan hidupku yang panjang dari perkenalan dengan suamiku hingga saat ini. Aku menyesal kenapa kecelakaan itu tak merenggut nyawaku saja. Jika aku mati mungkin aku tak akan merasakan sakit lagi. Kenapa aku terus hidup jika aku harus semenderita ini. Kurang menderita apa tubuhki digerogoti penyakit kronis dan menanggung sendirian. Dan kini aku dikhianati oleh orang yang paling aku cintai. Aku tak sanggup lagi berpikir jernih, aku hanya merindukan pelukan hangat bunda saja.
Ponselku yang entah berapa ratus kali bergetar tak ku hiraukan. Melihat nama pemanggil dilayar membuatku semakin kalut dan sedih. Aku memilih untuk mengatur ke mode silence memasukkan kedalam tas dan tak menghiraukan panggilan tersebut.
"Jangan hubungi aku dulu, aku mau sendiri. Kita berjumpa saja di persidangan nanti. Nikahilah Maya, kasihan anak itu tak berdosa."
Karena jengah dengan panggilan yang tak hentinya, akhirnya aku memutuskan untuk menulis pesan agar Zaid berhenti menggangguku .Aku mengetik kata demi kata dengan rasa sakit yang mendalam. Mana ada wanita yang rela menyuruh suaminya menikahi wanita lain. Tentu sedemikian rupa juga yang aku rasakan. Namun aku tak boleh egois karena bayi itu lebih membutuhkan seorang ayah daripada aku.
Akhirnya aku sampai dirumah bunda. Setelah membayar ongkos taksi aku menyeret koper masuk rumah. Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam beberapa kali sampai pemilik rumah membukakan pintu.
__ADS_1
"Lho nak? Apa-apaan ini? "tanya bunda.
"Bunda Annisa capek sekali. Nanti aja kita ngobrol ya? Annisa masuk kamar dulu ya bun.. " Aku mengecup tangan ibuku sekilas dan menyelonong masuk ke kamar. Bunda dengan keheranan menutup pintu rumah.
Bunda tak tenang hati melihat kelakuanku yang begitu janggal. Ia tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya. Akhirnya ia menyusul aku yang berbaring di kamar membelakangi pintu.Ya, aku menyembunyikan tangisku yang pecah kembali.
"Sayang, apa nyonya Rahma memarahimu lagi? "Aku hanya menggelengkan kepala tanpa menoleh.
"Cerita sama bunda nak, siapa tahu bunda bisa bantu? "kata bunda lembut.
"Sayang, bunda tak tahu masalah kalian apa, tapi apakah kamu sudah mencoba menyelesaikan bersama suamimu? "Aku hanya menggeleng lemah.
__ADS_1
"Apa ini masalah yang berat nak? "kini Aku menganggukkan kepala.
"Bunda, Annisa mau bercerai dari mas Zaid bun.. " ucapku tiba-tiba layaknya petir di siang bolong.
"APA? "bunda begitu terkejut mendengar ucapanku .
"Sayang, kamu nggak boleh sesuka hati mengucapkan kalimat tabu seperti itu nak. Pamali.. Allah nggak suka sayang, "kata bunda memberi nasihat untukku.
"Nggak bun, aku sudah tak sanggup lagi mempertahankan rumah tangga ini. Aku ingin agar berakhir sampai disini saja hiks, " aku menangis lagi.
"Pikirkan baik-baik nak.. jangan sampai kamu menyesalinya. Sebesar apapun kesalahan yang dibuat suamimu, ingat juga seberapa besar kebaikannya. Kamu yakin akan melepas lelaki sebaik dia? "Nasehat bunda masih memelukku semakin erat.
__ADS_1
Aku menyelami kata-kata bunda. Apakah aku terlalu buru-buru? Apakah seharusnya aku mendengar penjelasannya lebih dulu? Ah, bodohnya aku. Aku mengingat lagi kasih sayangnya dan juga perhatiannya. Aku mengingat ia yang dengan sabar merawatku ketika aku belum pulih dari kecelakaan. Juga cerita dari suster, mas Zaid lah yang setia menjagaku ketika koma. Dia juga satu-satunya orang yang memiliki keyakinan bahwa aku akan sadar dari komaku. Apakah benar lelaki seperti itu akan tega menyakitiku bahkan menghianatiku.Dia yang bahkan mau memberikan dunianya padaku? Dan bagaimana jika perkataannya benar bahwa Maya menjebak mas Zaid? Tapi bagaimana jika Maya benar mengandung anak mas Zaid? Arghhhh.. semua membuat aku bimbang. Apalagi kalimat terakhir bunda membuat aku ragu akan keputusan yang aku buat.
"Tahajudlah sayang, minta petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Semoga kamu mendapatkan jawaban yang kamu cari, "ucapan bunda menyejukkan hatiku dan aku sedikit melupakan emosiku. Aku dapat berpikir lebih jernih.