SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Zaid Jatuh Pingsan


__ADS_3

Tak terasa sudah 3 bulan Zaid dan Annisa menjadi sepasang suami istri, dan sudah dua bulan mereka tinggal terpisah dari keluarga mereka. Zaid membeli rumah yang sederhana untuknya dan Annisa, bukan karena tak mampu membelikan rumah mewah, tapi karena mereka sudah sepakat ingin memulai segala sesuatu dari nol. Tidak menggantungkan kehidupan dari orang tua.


Begitulah Zaid, dia ingin dirinya dikenal bukan karena menyandang nama kedua orang tuanya tapi ingin dikenal dari kemampuannya. Sebenarnya sudah berulang kali papanya memintanya untuk segera menggantikan dirinya di kursi kepemimpinan, yang selalu mendapat penolakan darinya. Ia selalu berkata bahwa ia belum sanggup dan mumpuni.Namun jika ayahnya butuh bantuannya ia akan senang hati membantu. Ayahnya juga tak menyangka anaknya rela menjadi pegawai rendahan demi mendapatkan pengalaman kerja. Bahkan awalnya ia tak mengizinkan anaknya bekerja diperusahaan orang lain, dia punya perusahaan sendiri untuk apa bekerja untuk orang lain, begitu pikir ayah Zaid. namun perjuangan Zaid yang merangkak dari bawah akhirnya berbuah manis hingga ia menjadi manager di kantornya yang sekarang akhirnya membuat ayahnya luluh dan bangga.


Pernikahan yang baru menginjak tiga bulan itu masih hangat-hangatnya. Walau kadang rasa lelah menyerang seluruh tubuh Zaid karena menumpuknya pekerjaannya, namun setiap ia kembali kerumah ia akan bersikap ceria karena kepenatannya akan menghilang ketika dia disambut oleh senyum istrinya. Dan dua bulan sudah Annisa berhenti dari kerjanya karena ingin fokus mengurus suaminya, karena pekerjaannya benar-benar menyita waktunya. Kini ia belajar untuk menjadi istri yang baik walau masih jauh dari kesempurnaan. Meskipun Zaid belum sempat mengajak sang istri bulan madu karena tuntutan pekerjaannya,namun kasih sayang yang diberikan kepada Annisa seperti tak ada habisnya. Annisa sebagai istri juga memahami dan memaklumi kesibukan suaminya. Hal itu membuat Zaid semakin menyayangi istrinya. Setiap akhir pekan Zaid akan mengajak istrinya kencan, walaupun sekadar makan, nonton atau jalan-jalan di mall namun segala perlakuan manis suaminya selalu sukses membuat hatinya melumer.


Namun menginjak bulan ke empat, Zaid sangat sibuk, ia pergi ke kantor lebih pagi dari biasanya,dan pulang larut malam. Dan sudah 3 hari ini Annisa tak bisa berbicara dengan suaminya karena ketika dia terbangun suaminya sudah pergi kekantor, dan ketika suaminya pulang ia sudah tidur lebih dulu. Ketika dikantor suaminya juga hanya mengirimkan pesan menanyakan ia sudah makan atau belum, tak sekalipun menelepon. Ia sangat merindukan suaminya itu, karena walau pun ia pulang kerumah tapi yang didapatinya suami yang tidur terlelap karena kelelahan. Ia tahu suaminya banyak pekerjaan tapi dia juga seperti istri yang lain yang ingin mendapatkan sedikit perhatian dari suaminya apalagi mereka pengantin baru.


Akhirnya hampir sebulan, Zaid menjalani rutinitas seperti itu, mereka jarang bertemu dan berbicara. Kesepian menyerang jiwa dan raga Annisa. Ia sedikit kecewa dengan suaminya yang tak pernah ada waktu untuknya lagi. Akhir pekan yang biasanya dihabiskan untuk berkencan pun sekarang dihabiskan untuk bekerja. Ketika ia dirumah sendirian tak jarang ia menangis meratapi dirinya yang diabaikan suaminya, yang seakan tidak peduli lagi dengannya. Kadang ia keluar mencari udara segar sendirian untuk menghilangkan kebosanan atau sekedar curhat kepada Maya sahabatnya.


Zaid POV


Aku bahagia bisa menikah dengan gadis yang kupuja. Dia yang selalu mengerti aku, dan rela melepas pekerjaannya demi bisa fokus mengurusku.Dia yang mau hidup sederhana denganku, sungguh lain dari perempuan yang sebelumnya hanya mendekatiku karena mereka tahu aku pewaris perusahaan ayahku. Bahkan Tiara wanita yang dulu kupuja mungkin takkan sudi hidup denganku dengan kondisi yang seperti ini. Dia yang tak pernah protes dengan berapa pun uang yang kuberi, dia yang selalu menyambut kepulanganku dengan senyumannya yang manis. Oh sungguh semakin membuatku tergila-gila.


Aku sedih karena belum bisa membawanya pergi bulan madu. Hari itu aku mendatangi atasanku untuk meminta cuti agar aku bisa pergi berbulan madu dengan istriku. Namun dengan tegas ia menolak permohonan cutiku karena banyak sekali pekerjaan. Namun ia berjanji akan mengizinkanku asal aku bisa membantunya memenangkan tender dari perusahaan terbesar nomor 3 di Indonesia. Aku menyetujui syarat itu demi istriku tersayang. Aku mengira ini hal mudah bagiku mengingat pengalaman kerjaku, namun tak sesuai pikiranku. Banyak perusahaan lain yang juga kompeten memperebutkan tender itu. Namun, aku yang dari dulu pantang menyerah sebelum mencoba akhirnya mati-matian berusaha agar perusahaan memenangkan tender. Aku juga harus mengerjakan semua tugas-tugasku sebagai manager, jadi pekerjaanku dobel dan menumpuk. Sehingga ketika dikantor aku tak punya waktu sedikitpun untuk sekedar meneleponnya. Aku hanya akan mengirimkan sebuah pesan menanyakan dia sudah makan belum di sela-sela jam makan siangku. Aku juga berangkat kerja sebelum istriku bangun dan pulang ketika ia sudah tidur. Kami tak pernah berbicara lagi. Hal itu membuat ku setengah depresi. Aku merasa hubungan kami merenggang,aku juga tak tega melihat mukanya yang murung kurang kasih sayangku. Tapi mau bagaimana lagi semua demi honeymoon yang sempurna yang kurencanakan untuknya.


Sebulan penuh aku bekerja mati-matian, tak ku hiraukan mataku yang cekung dan menghitam karena kelelahan,kepalaku yang semakin hari semakin pusing ketika berlama-lama memandang layar komputer. Semua ini demi mengembalikan senyum di wajahnya. Akhirnya perusahaan kami memenangkan tender. Hatiku bersorak gembira, ingin segera pulang memeluk istri yang sangat kurindukan sebulan ini. Dan sepertinya Tuhan mendengar doaku, Pimpinan yang berterimakasih atas kemenangan ini mengizinkan aku pulang lebih awal dan memberikan hadiah honeymoon kepada kami. Dia juga memberi ku cuti 2 minggu.


Dengan hati yang membuncah aku melajukan mobilku pulang kerumah. Hatiku bergemuruh penuh dengan kebahagiaan ingin segera memeluk dan mengecup kening istriku dan memberitahukan kabar gembira ini. Tapi aku merasa kepalaku berdenyut-denyut, mungkin aku kelelahan, begitu pikirku. Sesampai dirumah kecil kami kuparkirkan mobilku, segera ku buka pintu depan dengan senyum mengembang diwajahku. Namun setelah itu aku tak tahu apa yang terjadi.Karena kepalaku terasa berat dan pandanganku menggelap.


Zaid POV end

__ADS_1


kriettttt


Terdengar suara pintu depan dibuka. Annisa yang sedang memasak didapur merasa terkejut dan takut siapa gerangan yang membuka pintu depan. Seingatnya ia sudah menguncinya. Tak mungkin suaminya karena waktu baru pukul empat sore. Jangan-jangan maling atau rampok? pikiran buruk menyelimuti kepalanya. Dengan berhati-hati ia melangkah ke ruang tamu, didapatinya laki-laki yang dirindukan selama 1 bulan itu tengah berdiri di di depan pintu sambil tersenyum manis. Hatinya dipenuhi kelegaan karena yang datang adalah orang yang dirindukannya selama sebulan ini. Baru akan menghampiri suaminya tiba-tiba


brukkkkk


Zaid ambruk pingsan seketika, sebelum sempat ia akan memanggil nama istrinya. Senyum di wajah Annisa menghilang, seketika wajahnya pias melihat suaminya jatuh pingsan. Ia berlari menghampiri suaminya, spatula yang tadi digenggamnya ia lemparkan entah kemana.


" Mas... mas.. kenapa?? huhuhuhu.. jangan tinggalkan adek mas... " Annisa memangku kepala suaminya dan menangis histeris. Zaid terlihat pucat pasi, saat itu juga dunia Annisa seakan runtuh baru tadi ia melihat senyum diwajah suaminya. Dan sekarang? suaminya tak sadarkan diri dengan wajah yang begitu pucat. Annisa kehilangan setengah kesadarannya terlalu syok akibat kejadian yang begitu tiba-tiba ini. Namun ketika ia sedikit tersadar segera di raihnya handphone dari saku celana suaminya. Ia menelepon Ferdi satu-satunya orang yang terpikir oleh Nisa. Dengan terisak-isak ia menceritakan keadaan Zaid kepada sahabat suaminya itu dan memintanya untuk segera datang.


Ia masih memangku kepala suaminya, tak henti - hentinya air mata mengalir dipelupuk matanya. Tangannya yang bergetar hebat mendekap kepala Zaid dalam hati ia berdoa agar suaminya baik-baik saja.


Sesampainya dirumah sakit Zaid ditangani dokter, dokter menyuruh keluarga menunggu diluar, namun Annisa keras kepala ingin selalu menemani suaminya. Akhirnya dokter dan perawat membiarkannya. Setelah di periksa dan dipasangi infus Zaid dipindahkan ke ruang rawat. Dokter mengatakan kalau suaminya dehidrasi dan kelelahan. Namun kondisinya sekarang sudah baik-baik saja, sehingga Annisa sedikit bernafas lega. Ia duduk disamping suaminya dengan berlinang air mata, sebulan penuh ia diabaikan. Dan sekarang suaminya tergolek tak berdaya. Sungguh cobaan yang berat baginya. Ingin marah bagaimana bisa marah dengan orang yang sekarang tak berdaya itu.


Ferdi berpamitan pulang karena masih ada urusan, Annisa mengucapkan banyak terima kasih karena pertolongan dari sahabat suaminya itu. Ia bersyukur sekali suaminya punya sahabat sebaik itu.


"Nis, aku masih ada urusan, aku pulang dulu ya.. kalau ada apa-apa kabari ok.. "kata Ferdi ramah.


" Makasih ya mas Ferdi, udah mau tolongin Nisa.. maaf merepotkan.. " kata Nisa.


" Nggak apa Nis, Zaid itu udah kayak saudara aku sendiri kalo ada apa-apa jangan sungkan, aku pergi dulu ya.. "Ferdi berkata sambil tersenyum dan menepuk bahu Nisa. Nisa mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Tak lama orang tua Zaid dan Nisa datang, Mereka terkejut mendengar kabar Zaid yang pingsan. Mereka menanyakan kronologinya kepada Annisa. Annisa menceritakan kepada orang tua serta mertuanya, ia juga menjelaskan apa kata dokter. Mereka mengangguk paham.


Zaid tersadar dari pingsannya, bau antiseptik menguar di hidungnya membuatnya menyadari bahwa dirinya kini tengah berada dirumah sakit. Ia menoleh ke kanan ke kiri tak didapatinya istri yang sangat disayanginya itu. Kemana Nisa? batin Zaid. Samar ia mendengar suara orang yang dicintainya sedang berbincang dengan kedua orang tuanya. Dengan suara yang lemah ia memanggil istrinya.


"Nisa.... Sayang... "


"Nis...Nisa... "panggil Zaid lagi karena tak mendapat respon.


Annisa yang samar mendengar suara suaminya, segera masuk melihat kondisinya.


"Mas sudah sadar... " tanya Nisa dengan wajah sumringah,namun masih terlihat mata sembabnya.Ia berkata sambil menghampiri sang suami. Berkali-kali ia mengecup tangan sang suami. Kedua orangtua mereka ikut masuk kedalam mendengar suara Annisa.


"Boy... Kenapa?? " kata mama Rahma mengelus puncak putranya.


" Mama, Za kan udah menikah, masak masih dipanggil boy? emang Zaid anak kecil apa? " Zaid bersungut-sungut tak suka dengan panggilan ibunya.


" Hahaha, ini lah sebabnya mama panggil kamu boy, udah besar belum juga bisa jaga diri.Anak mama lemah banget, bisa-bisanya pingsan gitu aja.. gimana kamu mau jaga istrimu? " goda Rahma lagi.


" mama.... " Zaid makin kesal.


"Nis, kamu yang sabar ya.. bentar lagi kamu akan tahu sifat dia yang sebenarnya.. Ya udah kamu juga udah nggak apa-apa mama sama papa pulang ya.. Nis, mama titip jagain anak manja mama ya.. " kata Rahma lagi sambil tertawa terbahak-bahak. Zaid memelototkan matanya kearah sang mama nya yang tak menghiraukannya kemudian melangkah pergi Sedangkan Annisa mengernyit bingung dengan perkataan mama mertuanya. Apa maksudnya?

__ADS_1


__ADS_2