
"Pagi sayang... " ucap Zaid serak khas suara orang bangun tidur berbisik mesra ditelinga istrinya sambil memeluk tubuh polos istrinya yang hanya tertutup selimut tebal. Karena istrinya tak bangun-bangun juga ia menusuk-nusukkan jari telunjuk dipipi cabi sang istri.
" Euuuuhhh.. " Annisa merasa terganggu oleh perbuatan suaminya mengerjapkan kedua matanya yang sebenarnya masih mengantuk sambil menggeliatkan tubuhnya. Tubuhnya serasa remuk karena semalaman penuh suaminya menggempur miliknya tanpa memberi jeda waktu untuk istirahat.Bahkan ia melakukan berkali-kali sampai pagi menjelang. Alhasil ia tak punya lagi kekuatan untuk bangun subuh.
"Pagi mas... "jawab Annisa masih setengah sadar. Kemudian Zaid mengecup bibir istrinya dengan lembut. Annisa terkejut seketika membelalakkan matanya.
"Morning kiss sayang, tambah energi pagi.. " katanya sambil nyengir.
Annisa menanggapi dengan senyum manis di bibirnya. Ia mengumpulkan kesadarannya. Dan ingin segera bangun, apa kata mertuanya nanti jika ia bermalas-malasan dihari pertamanya di rumah mertua.
Ia mendudukkan tubuhnya, ia mulai menurunkan kedua kakinya ke lantai baru ia akan melangkah tiba-tiba
Brukkkk
"Awwww...aduhhh.. " Annisa ambruk seketika merasakan nyeri dan sakit yang teramat dikewanitaannya.
"Ada apa sayang? " Suaminya yang hanya memakai boxer itu menghampirinya dengan cemas. Annisa menunduk malu, Ia sangat malu untuk mengatakan hal itu.
" Sayang jangan bikin panik dong.. Mana yang sakitt.. " Zaid semakin cemas melihat istrinya diam saja.
"Semua salah kamu mas.. aku sampai tidak bisa jalan.. " Annisa menitikkan air mata. Zaid paham maksud Annisa ia segera menggendong istrinya naik ke ranjang kemudian menyelimuti tubuh polos istrinya.
" Maaf ya sayang, bentar kamu tunggu disini. ." kata Zaid berlalu ke kamar mandi.Annisa kebingungan entah apa yang akan dilakukan suaminya itu. Zaid yang sudah masuk ke kamar mandi mulai mengisi bathup dengan air hangat kemudian ia memberikan beberapa tetes antiseptik kedalam bathup. Ia mencelupkan tangannya merasakan apakah suhunya sudah pas atau belum, karena takut jika terlalu panas. Kemudian ia menghampiri istrinya dan menggendong istrinya ke kamar mandi. Dengan pelan-pelan ia meletakkan istrinya di bathup berisi air hangat yang sudah ia siapkan. Rasa nyaman karena air hangat membuatnya rileks dan mengurangi sedikit nyeri di bagian bawah tubuhnya itu.
Annisa merasa terharu dengan sikap suaminya yang sangat menyayanginya.Ia merasa bersalah karena tadi sempat menyalahkan suaminya karena kondisinya.
Ia takjub melihat suaminya begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Ia dengan tulus dan penuh cinta membantunya mandi, dengan lembut ia menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun. Dengan sabar juga ia mencuci rambut istrinya. Ia begitu menikmati kasih sayang dari suaminya, tubuhnya rileks. Sehingga rasa nyeri itu menguap seketika entah kemana.
Kemudian ia memyuruh suaminya ikut masuk ke bathup dan berendam bersama.Kini gantian Annisa yang menggosok tubuh suaminya dan juga membantu mencuci rambutnya. Zaid begitu bahagia dengan perlakuan Nisa. Akhirnya mereka terlarut dalam keromantisan dan lagi-lagi bercinta di dalam bathup. Begitu lama mereka menenggak habis madu dari masing-masing pasangan seperti tidak akan pernah ada habisnya. Mereka begitu menikmati kemesraan mereka sebagai pengantin baru.
__ADS_1
Setelah merasa sudah terlalu lama berendam di dalam bathup Zaid keluar dan membantu istrinya berdiri, karena takut istrinya akan masuk angin. Kemudian mereka membilas diri dibawah guyuran air shower yang hangat. Ia kembali membopong tubuh istrinya yang telanjang bulat ke kamar mereka, setelah meraih handuk dan menyelimuti tubuh istrinya ia memakai pakaiannya. Ia menyuruh Annisa tetap duduk karena dia lah yang akan mengambilkan dan memakaikan baju istrinya. Awalnya Nisa akan menolak, Tapi melihat tatapan suaminya yang tidak senang mendapatkan penolakan akhirnya ia hanya bisa mengangguk pasrah.
Dengan sabar dan telaten suaminya memakaikan bajunya. Annisa tersenyum lucu dimanjakan seperti itu. Ia merasa diperlakukan seperti anak kecil, namun ia bahagia. Setelah siap, mereka turun kemeja makan. Zaid memaksa untuk menggendongnya, tapi alangkah malunya ia nanti jika mertuanya tau. Ia menolak dengan keras keinginan suaminya. Ia meyakinkan kalau ia bisa berjalan pelan-pelan. Akhirnya dengan sabar ia menuntun istrinya sampai meja makan.
" Selamat pagi sayang.. Baru bangun?? sapa Mama sambil tersenyum.
" Iya ma.. " jawab mereka berbarengan.
" Ehm..iyalah mama tahu.. pengantin baru.. " goda mama Zaid.
"Mama ihh...kayak nggak ada topik yang lain.. " kata Zaid bersungut-sungut.
"Eh sayang.. mumpung ini masih suasana hari raya, kamu bawa istrimu berkeliling kenalkan pada kerabat kita.Kemarin kan hanya keluarga inti yang hadir di pernikahan, mampir juga ke rumah tante Fina, sedari kemarin dia nanyain kamu" kata mama mengalihkan pembicaraan.
" Tapi kan ma.. Seminggu lagi mama juga akan buat pesta kan?? nantinya juga mereka akan mengenal Nisa? " jawab Zaid malas.
"Udah lah daripada ribut-ribut turuti aja apa mau mamamu,toh bersilaturahmi kan hal yang baik juga" Kata papa akhirnya angkat bicara.
Akhirnya mereka pergi juga kerumah kerabat-kerabatnya sekedar mengucapkan selamat hari raya dan saling meminta maaf. Sebenarnya Annisa sudah mulai capek tapi ia tak. ingin mengecewakan mertuanya dan juga suaminya.
Sampai lah mereka di sebuah rumah yang cukup besar. Lebih besar daripada kediaman keluarga Zaid. Setelah keluar dari mobil Zaid menggandeng sang istri dengan mesra dan mengetuk pintu rumah itu.
Tak berapa lama nampak seorang wanita paruh baya yang berpenampilan lebih muda dari usianya membukakan pintu.
"Zaid... tumben datang kemari.." Kata bibi itu sambil memeluk Zaid erat. " Ini siapa? Oh.. ini pasti istri kamu ya.. tante udah dapat undangannya lho.. "kata bibi itu bersemangat.
"Iya tan.. kenalin ini istriku Annisa, "
" Nis, ini tante Fina saudara jauh mama.. " Kata Zaid. Annisa mengulurkan tangannya. Wanita paruh baya itu kelihatan enggan menerima uluran tangan dengan Annisa.
__ADS_1
"Mari mari masuk.. "bibi itu menyambut dengan ramah.
"Silakan duduk dan nikmati makanannya ya, tante ke atas sebentar panggilin Tiara katanya dia rindu sama kamu. "
Bibi itu beranjak naik ke lantai atas. Kedua pengantin baru itu tak sedikitpun bersuara. Keduanya terdiam dalam keheningan. Sebenarnya siapa sosok Tiara? kelihatannya orang itu penting untuk suaminya. Beribu rasa penasaran menyelimuti hatinya. Namun dengan segera ia menepis keraguan dihatinya ia sendiri sudah membuktikan rasa cinta suaminya.
Akhirnya wanita yang disebut turun, Wanita itu begitu cantik. Tubuhnya tinggi bak model kulitnya putih bersih. Mata yang bulat sempurna, hidung mancung, dan bibir yang merekah memanjakan mata. Seketika hati Annisa menciut membandingkan dirinya dengan wanita itu. Dirinya merasa bukan apa-apa dibanding wanita itu. Ketika Annisa terhanyut dalam lamunan, terdengar suara tante Fina memanggilnya untuk membantu menyiapkan minuman di dapur.Ia melangkahkan kaki dengan segera tidak enak hati menolak permintaan sang tuan rumah.
" Nisa, ini kamu bawa sirup cocopandan yang sudah dikasih biji selasih ini ke depan ya.. suamimu sangat menyukai minuman ini. " Kata tante Fina. Baru ingin mengangkat nampan berisi minuman itu tante Fina bicara lagi sehingga mengurungkan niatnya dan tetap berdiri mendengar wanita paruh baya itu bicara.
"Nis.. kamu udah kenal lama sama Zaid? Tante nggak menyangka selera nya soal wanita turun drastis setelah putus dari Tiara. Tante heran bisa-bisanya ia memilih wanita seperti kamu, Tante semula berpikir bahwa ia menikah hanya untuk pelarian dari rasa sakit hatinya setelah putus dari Tiara. " dengan sinis bibi itu berbicara.
Ia terdiam, hatinya sungguh sakit mendengar orang lain yang baru dikenalnya bicara seakan menghinanya. Hatinya menciut seketika mengingat perbedaan dirinya dengan suaminya dari segi apapun. Hatinya teriris, betulkah ia hanya sebagai pelampiasan sakit hati suaminya. Buru-buru ia menepis prasangka buruk itu, ia mencoba menahan air matanya dan hanya membalas ucapan bibi itu dengan senyuman. Ia melangkahkan kaki menuju ruang tamu tempat suaminya berada sambil membawa nampan air.
Ketika ia sampai di ruang tamu ia sangat terkejut dengan pemandangan di depannya. Tubuhnya gemetar melihat suaminya dipeluk wanita lain. Jantungnya seakan diremas-remas. Rasa sesak melingkupi hatinya, perih itunyang ia rasakan. Ia mencoba mengendalikan diri dan menyembunyikan kekalutannya. Ia tak ingin membuat masalah dirumah orang lain.
Zaid terkejut melihat istrinya datang, dengan paksa ia mendorong tubuh gadis cantik itu.
" Ini mas, silakan diminum.. kata tante Fina ini minuman favorit kamu, "Annisa menekankan kata-katanya sambil meletakkan nampan diatas meja, Ia mencoba tetap biasa namun ada getaran di suaranya.
Kemudian Ia melirik gadis yang menatap sinis kearahnya. Benar kata bibi itu aku kalah jauh dibanding putrinya yang sempurna, begitu batinnya.
"Mas, kayaknya aku kurang istirahat, kamu ngobrol aja dulu. Aku tunggu di mobil ya,, " Annisa berlari keluar tak mampu lagi menahan perasaannya.Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah juga. Wanita mana yang tidak sakit melihat suaminya dipeluk wanita lain. Apalagi kemarin mereka baru menikah, sekarang ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya begitu mesra dipeluk wanita lain. Sungguh apakah itu nyata atau hanya kesalahpahaman hatinya tetap merasa sangat sakit.
Zaid yang merasa ada yang tak beres dengan istrinya segera berpamitan untuk pulang. Walau tadinya Tiara mencoba tetap menahannya agar tinggal lebih lama,ia bersikeras untuk segera menyusul istrinya yang sudah berada dimobil.Ia merasa tak tenang hati. Apalagi istrinya tadi melihat dia dipeluk Tiara. Segera ia berlari ke mobil, Tiara melihat suaminya datang buru-buru menyeka airmatanya.
Zaid membuka pintu mobil dan masuk, seketika ia tahu istrinya habis menangis.Walau Nisa sudah menghapus air matanya, Namun matanya terlihat merah daan sembab.Sehingga lelaki itu langsung tahu kalau istrinya habis menangis. Ada rasa bersalah kepada istrinya karena ia dipeluk Tiara tadi. Namun ada sedikit rasa bahagia menggelitik hatinya melihat istrinya cemburu.
Ia membiarkan Nisa menenangkan diri, Ia memilih melajukan mobilnya dalam keheningan. Nanti kalau sampai rumah akan kujelaskan, begitu pikirnya.
__ADS_1
bersambung
maaf jika kurang bagus dan banyak typo