SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Kejutan Honeymoon


__ADS_3

Pernikahan mereka yang sempat meredup, kini bersinar lagi. Rasa cinta yang sempat layu kini mekar bagai bunga di musim semi. Semenjak kepulangan Zaid ke rumah tak ada hari tanpa kemesraan. Kini Annisa menjadi prioritas utamanya.


Tak pernah lagi ia lembur dikantor. Kalau lah ada pekerjaan penting yang urgent, Zaid memilih membawa pulang kerumah untuk dikerjakan disamping istrinya. Kini ia tak lagi menyia-nyiakan waktunya. Seluruh waktu diluar kerja ia curahkan sepenuhnya untuk Annisa.


Untuk menebus kesalahannya Zaid juga sudah menyiapkan honeymoon untuk istrinya. Kali ini ia memastikan tidak akan gagal seperti dua tahun yang lalu. Tak tanggung-tanggung ia mengajak Annisa berlibur ke Swiss. Ia ingin membuat kenangan manis bersama istri tersayangnya yang akan diingat sampai kapanpun. Walau waktu terbatas hanya seminggu cuti yang diberikan kantor. Ia tetap merasa bahagia.Yang penting ia menikmati kebahagiaan dengan Annisa.


"Taraa... " ucap Zaid menunjukkan dua tiket pulang pergi tujuan Zurich. Baru ia pulang dari kantor sudah tak sabar ingin menunjukkan tiket itu pada istrinya.


"Apa ini sayang? "tanya Annisa kebingungan.


"Kita akan berlibur ke Swiss sayang,."kata Zaid lembut. Dipeluknya Annisa dengan penuh sayang.


"Tapi dalam rangka apa mas? bukannya kerjaan kamu banyak ya.. Dan ini juga bukan hari libur.. "tanya Nisa masih bingung.


"Dalam rangka peringatan Anniversary kita yang kedua sayang.Kemarin di hari anniversary, kita betengkar dan aku tak sempat memberimu hadiah.Dan juga demi memberikan honeymoon untukmu yang tertunda dua tahun lalu tentunya .. "Zaid memeluk istrinya posesif. Raut wajah Zaid menjadi sedih, mengingat ujian dan cobaan yang tak henti menerpa rumah tangga mereka berdua.


"Maaf ya sayang, semua karena aku.. "Nisa ikut sedih.


"Nggak sayang, kita nggak usah ungkit hal yang sedih-sedih lagi ya.. "Zaid mencoba menghibur istrinya.


"Tapi sebenarnya nggak perlu mas..


Aku sudah cukup bahagia ada kamu disampingku.. "kata Nisa tulus.Air matanya mulai menganak sungai. Ia membalikkan badan ke arah suaminya , menatap Zaid intens.


"Tidak.. kamu pantas mendapatkan semua itu, semua tidak sebanding dengan kebahagiaan yang kamu berikan padaku."Zaid mengusap air mata Annisa yang mulai meleleh.


"Makasih mas.. "Nisa mengeratkan pelukannya.


"Mulai sekarang mas nggak ingin melihat kamu menangis, kita harus bahagia dan membuat kenangan indah kita berdua" kata Zaid lagi. Membuat Annisa semakin mencintai suaminya.


"Mas, kalau begitu sekarang aku minta izin untuk keluar sebentar ya. ."kata Nisa.

__ADS_1


"Mau kemana sayang? Mas anterin ya? "tanya Zaid.


"Emm.. anu..mau ketemu teman sebentar mas.. ada sedikit urusan.Biar Nisa naik taksi aja.. Mas istirahat aja"jawab Annisa sedikit gugup. Zaid yang melihat reaksi istrinya menjadi sedikit curiga. Namun ia menahan perasaannya. Ia takut kecemburuannya dan kecurigaannya akan menghancurkan hubungan mereka lagi.


"Oh gitu ya udah.. tapi jangan malam-malam pulangnya ya sayang, kita harus bersiap-siap" Zaid masih berusaha menahan diri.


"Iya mas, mungkin satu jam..sekalian pulang pergi." jawab Nisa lega.


Annisa pergi setelah taksi datang, Zaid dengan berat hati mengizinkan istrinya pergi. Ia ingin membuntuti Annisa tapi ia sangat takut jika sampai ketahuan maka bisa-bisa rencana honeymoon akan hancur lagi.


Annisa duduk melamun di dalam taksi. Ia merasa sesak karena belum bisa jujur terhadap suaminya mengenai penyakitnya.


Setengah jam taksi sampai disebuah rumah sakit. Annisa langsung menuju ke ruangan dokter Ryan yang sudah menunggunya. Seharusnya Ryan sudah pulang, karena Annisa tiba-tiba membuat janji akhirnya ia mau menunggu pasiennya tersebut.


Tok tok tok


"Iya silakan masuk.. "


"Sebenarnya kondisi anda sangat lemah nyonya.. Untuk bepergian jauh juga sangat beresiko.. Saya mohon anda memberi tahu suami anda mengenai penyakit anda. Anda tak bisa lagi menahan dan melawan penyakit ini sendirian.."kata Ryan sedih.


"Tidak.. dokter.. Saya tak mau membuatnya sedih.. Kalau masih ada waktu yang tersisa saya akan menghabiskan sisa hidup saya dengan suami saya dengan penuh kebahagiaan. Saya ingin memberikan kebahagiaan untuknya, bukan memberi luka dengan mengatakan kenyataan pahit ini. Saya yakin bisa melalui ini sendiri..tanpa membebani suami maupun orang tua saya."Annisa tetap keras kepala. Ryan sudah lelah untuk membujuk pasiennya itu.


"Kalau anda sudah memutuskan akan begitu saya tak bisa bicara apa-apa lagi..saya faham perasaan anda nyonya.. Kalau begitu saya hanya bisa memberikan obat penghilang rasa sakit dan untuk mengatasi jika anda sewaktu-waktu koleps disana."kata dokter.


"Terimakasih dokter, terimakasih banyak sudah membantu saya selama ini.. "kata Nisa haru.


"Ya sudah tunggu sebentar saya ambilkan obatnya. "kata Dokter berlalu mengambilkan obat untuk Annisa. Karena untuk obat penyakit parah seperti Nisa, Dokter lah yang menyiapkan langsung.


Beberapa menit kemudian dokter datang dengan membawa obat Annisa. Annisa segera berpamitan pulang. Tak lupa ia mengucapkan banyak terimakasih.


Akhirnya Annisa cepat-cepat pulang takut Zaid marah jika ia pergi terlalu lama. Ia sampai rumah pada pukul tujuh malam.

__ADS_1


Ketika ia membuka pintu rumah, ia mendapati rumahnya sepi. Ia melangkah ke kamar mencari suaminya. Tapi dikamar juga tidak ada.


Sayup-sayup ia mendengar suara dari dapur. Segera Annisa menuju dapur, dilihatnya Zaid masih memakai pakaian kerja dan menggunakan celemek. Ia tengah sibuk menghangatkan makanan yang dimasak Annisa sore tadi. Saking sibuknya ia tak menyadari kehadiran Annisa.


Annisa mengendap-endap ke arah Zaid yang membelakanginya. Setelah dekat ia memeluk suaminya dari belakang. Menghirup aroma suaminya yang dapat menghilangkan rasa gelisah dan ketakutannya. Memeluk suaminya dapat membuat nya lupa akan beban berat yang ditanggungnya sendiri.


"Sayang.. bikin kaget tahu nggak.. Kapan pulang?kok aku nggak denger kamu buka pintu "Zaid melepas tangan Annisa karena sangat terkejut.


"Kamunya yang terlalu sibuk.. sampai nggak tahu aku pulang.. "Sindir Annisa. Zaid kembali berkutat pada masakan yang ada diatas kompor.


Annisa memeluk suaminya lagi.


"Sayang.. Aku belum mandi ni.. masih bau.. nanti aja peluknya kalau udah wangi ya.. lagipula ini masih sibuk.. "Zaid berbicara tanpa menoleh.


"Bentar aja mas.. Satu menit juga nggak apa-apa, Aku pengen tetep kayak gini.. "kata Annisa manja. Zaid hanya tersenyum , ia sangat bahagia dipeluk istrinya.


"Eh, udah mas, mandi sana biar aku lanjutin.. Makasih ya suamiku sayang sudah membantu istrimu yang cantik ini.. "rayu Annisa dengan percaya diri.


"Iya istri jelekku yang paling kusayangg.. "kata Zaid sambil tertawa. Ia sangat bahagia.


"Ya udah aku jelek.. "Annisa pura-pura marah. Ia mengerucutkan bibirnya lucu.


"Iya cantik..Mas kan bercanda aja.. Oh ya karena aku udah bantu siapin makan malam mana imbalannya. "goda Zaid nakal.


"Yee.. aku kan nggak suruh.. "jawab Annisa.


"Ya udah deh.. "Zaid pura-pura cemberut. Seketika Annisa berjinjit dan mengecup bibir suaminya lembut.


"Makasih sayang..Ajaib..rasa capek mas tiba-tiba menghilang setelah mendapatkan charge dari mu.. "gombal Zaid.


"Iya kali mas.. gombal.. " Kata Annisa mendorong dada Zaid.Annisa masih saja merasa malu walau setiap hari mereka terbiasa berciuman.

__ADS_1


"sudah sana mandi, aku mau selesai ini mas.. Nisa sudah lapar. "Kata Annisa menyembunyikan wajahnya yang memanas. Zaid berlalu pergi mandi. Namun sebelum pergi ia mengecup pipi Annisa yang semakin membuatnya salah tingkah.


__ADS_2