
Annisa masih mengemas barang-barangnya ke dalam koper, Ia hanya membawa barang yang dirasa penting saja. Pakaian yang dibawa juga seperlunya. Toh, setelah ia menjadi istri Zaid tentu dia akan berhenti bekerja dan memfokuskan diri mengurus suaminya, karena hal itu sudah dibicarakan jauh-jauh hari sebelum mereka menikah. Tak lupa beberapa novel kesayangannya ikut dimasukkan kedalam koper, sebenarnya ia merasa sayang dan ingin membawa semuanya. Namun mau gimana lagi, ia hanya bisa membawa seperlunya. Dan mungkin ketika mengunjungi orang tuanya nanti ia dapat membawa sedikit demi sedikit koleksi novelnya ke rumah barunya ketika mereka sudah tinggal sendiri. Karena ia dan Zaid akan berpindah kerumahnya sendiri ketika sudah menemukan rumah baru untuk mereka tinggali.Jadi hanya akan sementara saja tinggal dirumah orang tua Zaid. Awalnya ibu Rahma keberatan mengingat Zaid anak semata wayangnya. Tapi akhirnya ibunya luluh setelah dibujuk Zaid. Ia mengatakan ingin belajar hidup mandiri.
Suara gemericik air shower sudah berhenti tanda orang yang berada dikamar mandi sudah selesai mandi, saking sibuknya Annisa mengemas barang tak menyadari suaminya sudah keluar dan berjalan kearahnya. Annisa terkejut ketika tiba-tiba ada seseorang yang tak lain suaminya melingkarkan tangan kekarnya diperutnya.Pria itu menyandarkan dagunya dipundak sang istri perlahan mengecup tengkuk dan pundak sang istri dengan lembut. Ia menghirup aroma wangi istrinya, perasaannya begitu menggebu. Ingin ia segera menerkam sang istri namun diurungkannya karena mereka harus segera pindah ke rumah Zaid. Jadi ia berusaha mengendalikan dirinya.
"Sayang.. aku sangat mencintaimu.. " kata Zaid lembut dengan masih menyandarkan kepalanya di bahu sang istri. Annisa sedikit terhuyung menahan berat suaminya yang memeluknya dengan manja.Annisa kemudian membalikkan badannya menangkup wajah tampan suaminya yang semakin terlihat seksi karena masih sedikit basah oleh air.Sebenarnya perlakuan suaminya itu membuatnya hilang kendali tapi ia berusaha untuk terlihat biasa saja. Ia memberanikan diri mengecup lembut bibir suaminya. Hanya kecupan singkat, kemudian ia berkata, " Mas, ayo kita harus bergegas pindah kerumahmu.. ini bukan saatnya bermesraan, Lagian kalau disini kan masih ramai orang aku maluu didengar mereka. " kata Annisa lirih sedikit malu mengecup suaminya terlebih dahulu.Kemudian ia melanjutkan kegiatan beres-beresnya.
Zaid tergelak mendengar kata-kata istrinya.Apalagi ia begitu bahagia melihat istrinya berani menciumnya untuk pertama kali. Kemudian ia mengganti pakaiannya di depan Annisa tana malu seperti sudah terbiasa, sontak wanita itu menutup wajahnya karena malu.
Zaid yang sudah memakai celananya namun masih bertelanjang dada tiba-tiba menarik Annisa kembali kepelukannya.
" Sayang sentuh ini, ini sekarang seutuhnya milik kamu. Jadi kenapa harus malu melihat aku mengganti baju? "Zaid mengambil tangan Annisa di letakkan diperut six pack nya.
Kyaa...apa yang kusentuh tadi, batin Annisa kemudian ia menarik tangannya menghindar dari Zaid.
" Sudah gih, pakai bajunya ayo kita berangkat ini udah siap semua, keburu malam nanti sampai di rumah mama dan papa." kata Annisa yang sekarang mengikuti suaminya memanggil mertuanya dengan sebutan mama papa mengalihkan kecanggungan tadi.
Annisa ingin mengangkat koper besar miliknya untuk dibawa ke bagasi mobil Zaid, seketika suaminya menghentikannya ia tak mengizinkan istrinya mengangkat koper sebesar itu. Ia merasa itu adalah tugasnya sebagai suami sehingga Annisa disuruh membawa tas kecil yang tak seberapa beratnya, sedangkan koper besar tadi diangkatnya sendiri.
__ADS_1
Setelah barang sudah diangkat ke mobil semua Annisa berpamitan kepada orangtuanya. Dengan penuh haru ia memeluk kedua orangtuanya, mengucapkan beribu rasa terimakasih telah mengasuh menyayangi dan mendidiknya sedari kecil.Orang tuanya memeluk gadisnya dengan sayang dan memanjatkan doa untuk anaknya agar selalu berbahagia. Tak lupa Zaid meminta izin untuk membawa Annisa tinggal bersamanya. Ia menyalami kedua mertuanya dan meminta doa restu agar selalu bisa membuat anak mereka bahagia. Orang tua Annisa juga menasehati menantunya agar menjaga putri bungsu mereka dan untuk selalu membahagiakanya.
Setelah berpamitan mereka diantar sopir menuju ke rumah keluarga Zaid. Dikursi belakang Annisa menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Ia berdebar-debar karena mulai hari ini ia akan menjadi anggota baru di keluarga mertuanya. Semoga ia bisa menjadi istri yang baik bagi suaminya dan semoga mertuanya menyukainya,batinnya dalam hati.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai dirumah Zaid, terlihat beberapa pembantu menurunkan barang-barang majikan barunya dari dalam mobil. Mereka mengangkat barang Annisa untuk dibawa ke kamar majikan muda mereka.
Annisa dengan digandeng Zaid memasuki rumah mertuanya dengan sedikit berdebar. Dipintu masuk Rahma sang ibu mertua menyambutnya dengan mesra. Ia langsung memeluk menantunya dan kemudian menggandeng anak mantunya menuju keruang tamu.
"Sayang mulai sekarang tolong jaga Zaid ya nak, urusi kebutuhannya. Mohon maklumi sifat-sifat manjanya, dan semoga kamu betah tinggal disini. " kata ibu Zaid dengan ramah. Annisa menanggapi dengan senyuman. Ia sedikit terkejut dengan kata mertuanya itu tadi. Apa katanya? manja...? orang yang super perfect dan dingin ini apakah punya sisi manja? batin Annisa menjadi sangat penasaran.
" Iya.. iya.. ya udah sana ajak istrimu ke kamar kalian istirahat dulu, Nanti kalau makan malam sudah siap mama panggil.. "kata Mama sambil tersenyum.
Zaid menggandeng istrinya naik keatas menuju kamarnya, Ketika pintu kamar terbuka Annisa terkesima melihat kamar suaminya yang dua kali lipat lebih besar dari kamarnya. Warna abu tua mendominasi menampilkan kesan maskulin. Begitu tenang dan rapi.Mungkin ia akan nyaman, begitu pikirnya.Ranjang Zaid pun besar dan kelihatan masih baru mungkin memang sengaja dipersiapkan untuknya dan Zaid. Mengingat hal itu dia tersenyum diam-diam.Koper dan tas bawaannya teronggok di pojokan. Ketika ia menghampiri kopernya, Zaid segera memanggilnya seakan tahu apa yang akan dilakukan sang istri.
" Sayang, kemarilah.. Barang-barang kamu besok aja ditatanya. Sini kita istirahat sebentar, aku tau kamu juga capek" Kata Zaid yang sudah berbaring diranjang dengan kaki yang masih menggantung di tepi ranjang sambil menepuk-nepuk kasur disampingnya. Perlahan ia menggeser tubuhnya dan menarik kakinya naik keatas ranjang. Annisa menurut, karena sebenarnya ia pun sudah penat sekali. Ia berbaring disebelah suaminya. Baru ia membaringkan tubuhnya diranjang, ia langsung ditarik kepelukan suaminya. Ia merasa terkejut namun nyaman. Karena kelelahan ia langsung tertidur pulas, Zaid tersenyum melihat istrinya yang langsung pulas di dekapannya. Ia semakin mengeratkan pelukannya seraya mencium kening istrinya beberapa kali. Lalu Ia pun terhanyut dalam suasana yang menenangkan itu dan ikut tertidur.
Adzan maghrib mengejutkan tidur nyenyak Annisa di dekapan suaminya. Ia menggeliat kecil bangun kemudian mandi sebentar.Setelah mandi kemudian ia menggoyang-goyangkan tubuh suaminya perlahan agar terbangun.
__ADS_1
" Mas.. udah maghrib ni.. Bangun dong mandi. . yuk kita sholat berjamaah.. " panggil Annisa lembut.
"emhhh... " Zaid mengerjapkan mata. Ia menatap istrinya begitu takjub. Istri yang mengingatkan tentang kewajiban sebagai seorang muslim. Ia tersenyum seraya berkata " Iya.. sayang.. "
Ia bangun dan mandi, tak lama kemudian setelah bersiap, mereka sholat berjamaah.
Hati keduanya diliputi kebahagiaan untuk pertama kalinya sholat berjamah sebagai suami istri.
Annisa masih membereskan peralatan sholat ketika terdengar suara pintu kamar mereka diketuk. Zaid membuka pintu, nampak ibunya di depan pintu mengajak anak dan menantunya turun untuk makan malam.
Mereka makan malam bersama untuk pertama kali. Banyak makanan lezat yang sudah disiapkan dimeja makan khusus untuk menantunya. Annisa terkejut melihat semua yang di meja makan adalah makanan kesukaannya. Ada ayam bakar, udang balado dan juga rendang yang sangat di sukainya. Dan ada banyak lagi lainnya. Ia sangat terharu, Pasti suaminya yang menyuruh ibu mertuanya menyiapkan semua ini. Mereka menyantap makanan dengan begitu bahagia, sesekali terdengar gelak tawa memenuhi ruangan itu.
Annisa merasa beruntung dan bersyukur karena merasa sangat disayangi suami dan mertuanya.Senyum mengembang diwajah cantiknya merasakan hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Ia merasa sempurna.
Terimakasih Tuhan, batin Annisa.
bersambung
__ADS_1