
Pesta pernikahan yang sederhana itu akhirnya telah usai. Para tamu yang tidak terlalu banyak jumlahnya karena memang itu keinginan Annisa yang menginginkan acara akad nikah yang sederhana dan hikmat hanya dihadiri kerabat dan orang-orang terdekat saja sudah selesai menikmati makanan yang dihidangkan dan sebagian sudah berpamitan pulang. Hanya kerabat dekat yang masih terlihat berbincang dengan orang tua Annisa. Sang besan juga sudah berpamitan pulang dengan dalih ingin mempersiapkan kamar untuk pangantin baru yang akan pindah ke rumah mereka.
Puji syukur tak henti dipanjatkan oleh keluarga kedua mempelai acara berlangsung lancar tanpa halangan suatu apa. Kedua mempelai juga terlihat bahagia sudah sah menjadi suami istri. Meskipun semuanya penuh dengan kesederhanaan, tak mengurangi keserasian mereka ketika dipersandingkan.Mereka sangat rupawan dan serasi laksana dewa Kama dan dewi Ratih.
Nampak Maya memberikan ucapan kepada kedua mempelai yang merupakan sahabat keduanya. Tak terasa air mata bahagia mengalir di ujung mata Maya ketika memberikan ucapan selamat kepada Annisa. Ia memeluk sahabat yang sekarang statusnya tidak lajang lagi itu dengan penuh rasa haru. Ia tak menyangka sahabatnya yang galak minta ampun bagai singa itu dan belum pernah sekalipun menjalin hubungan dengan pria akan secepat ini menikah.Ia ikut bahagia melihat sahabatnya mendapatkan keberuntungan sebesar itu, walau terbersit sedikit rasa iri karena dia belum juga mendapatkan pendamping hidup seperti Annisa. Ia tak kalah cantik dari sahabatnya itu, dalam hal bergaul tentu dia lebih pandai dari sahabatnya yang sedikit tertutup terhadap orang yang belum terlalu dikenalnya. Ia hanya bisa berdoa dalam hati agar segera dipertemukan dengan jodoh yang baik seperti Annisa.
Ferdi juga memeluk Zaid, sahabat karibnya itu memberikan ucapan selamat dan terlihat ia berbincang lama dengan mempelai pria. Terkadang tawa bahagia meledak diantara keduanya. Sesekali terdengar Ferdi menggoda sahabatnya itu. Yang digoda biasa saja, namun tanpa mereka sadari hal itu membuat wanita yang berdiri disamping Zaid malu, mukanya merah padam. Zaid biasa saja karena memang ia dan Ferdi begitu akrab, tentu saja mereka begitu akrab karena bukan hanya setahun atau dua tahun saja mereka bersahabat. Tak ada rahasia diantara keduanya. Mereka dekat selayaknya abang dan adik. Ferdi akan melakukan apapun untuk Zaid begitu juga sebaliknya Zaid tak segan-segan mengorbankan apapun demi sahabatnya itu. Dan mungkin kini akan ada jarak bagi mereka karena sekarang Zaid sudah beristri. Namun, Ferdi ikut bahagia Zaid akhirnya menemukan tambatan hatinya.
Akhirnya para tamu sudah pulang semua, Ferdi dan Maya juga sudah berpamitan pulang. Annisa melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya. Dan laki-laki yang sudah sah menjadi pemiliknya mengikutinya dari belakang. Walau acara tak begitu lama mereka sudah cukup capek. Annisa membuka pintu kamarnya dengan berdebar, Zaid yang mengikuti dari belakangnya tak berbeda dengan Annisa. Kali ini dia begitu gugup, Lebih gugup dan lebih berdebar dibandingkan ketika ia menghadapi klien penting dari luar negeri sekalipun.
__ADS_1
" Emm.. Ma.. Mas..aku mandi dulu sebentar ya, baru nanti gantian kamu, kalau kamu bosen nunggu aku mandi nyalain aja TV nya " kata Annisa gugup, jantungnya berdetak tak karuan.
" Iya sayang..." kata Zaid sambil tersenyum menampilkan lesung pipit dikedua pipinya. Huhh.. manis, begitu pikir Annisa. Meskipun sudah beberapa kali melihat lesung pipit yang langka terlihat itu, selalu sukses membuatnya terkagum akan ketampanan laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu. Karena si empunya jarang tersenyum jadi jarang ada yang mengetahui bagaimana manisnya ia ketika tersenyum. Ia merasa beruntungmenjadi wanita yang bisa selalu melihat senyuman sang gunung es.
Annisa masuk kekamar mandi dengan membawa handuknya, ia pun segera membasuh wajahnya yang penuh dengan make up waterproof yang tebal dengan susah payah. Setelah dirasa bersih ia segera mengguyurkan badannya di bawah shower. Membiarkan air hangat dari shower mengilangkan penat di sekujur tubuhnya.
Sementara itu Zaid yang baru pertama kali masuk ke kamar wanita sangat terkesima. Kamar yang jauh lebih kecil dari kamarnya itu bernuansa pink, sungguh feminim sekali, begitu pikirnya. Terdapat ranjang single size yang hanya muat untuk satu orang saja.Ia mengedarkan pandanganya, terdapat meja kecil tempat make up wanita.Ia mengerutkan keningnya melihat alat-alat make up istrinya hanya sedikit, bahkan lebih banyak dari alat make up ibunya. Ada juga sebuah lemari berukuran sedang. Di sebelah jendela kamar ia melihat sebuah rak buku, kemudian ia mendekati rak buku itu, Ia melihat-lihat koleksi buku yang dimiliki istrinya. Ketika ia melihat semua koleksi bukunya hampir semua novel romantis, ia tersenyum sendiri tidak menyangka wanita yang galak itu suka novel romantis.
Annisa merutuki dirinya sendiri di dalam kamar mandi. Ia lupa membawa baju gantinya ke kamar mandi. Bagaiman ia menghadapi suaminya dengan hanya menggunakan handuk. Sungguh canggung pastinya.Ia sudah selesai mandi, akhirnya ia memberanikan dirinya untuk keluar hanya dengan menggunakan sehelai handuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Ceklek
Pintu kamar mandi yang terbuka mengagetkan Zaid yang masih memandangi foto kecil istrinya. Buru-buru ia meletakkan foto itu ke atas meja.
" M.. Mas, aku udah selesai mandinya.. maaf menunggu lama ya.. ka..kamu buruan mandi gih, didalam udah aku siapin air hangat dan handuk buat kamu.. " Kata Annisa malu karena sekarang ia hanya menggunakan handuk saja.
Zaid mengangguk tanpa menjawab, ia melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Ketika melewati Annisa ia berhenti sebentar kemudian mendekatkan wajahnya di telinga Annisa dan berbisik, " Sayang kamu cantik, Aku sukaa.. aku kan udah jadi suami kamu.. Nggak usah malu gitu.. Mungkin bukan sekarang waktunya aku memakanmu, Aku tak ingin ada yang mengganggu kita..tapi nanti malam setelah kita pindah ke rumahku kamu siap-siap..." kata Zaid menggantungkan kalimatnya dan mengedipkan matanya nakal menggoda,sukses membuat Annisa salah tingkah.
Zaid berlalu ke kamar mandi seperti tidak terjadi apa-apa, sedangkan wanita itu mematung karena ucapan suaminya. Ia bergidik ngeri karena teringat cerita teman-teman kantornya yang bercerita tentang malam pertama yang menyakitkan untuk wanita. Tapi mau tak mau dia harus menghadapinya. Itu sudah menjadi kodrat dan kewajibannya menjadi seorang istri. Ketika tersadar dari lamunannya ia buru-buru memakai bajunya dan menunggu suaminya mandi sambil membereskan barang-barangnya ke koper.
__ADS_1
bersambung