SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Kebenaran Yang Terungkap


__ADS_3

Sesampai di rumah, Zaid segera mengirimkan video yang ia ambil tadi pada Annisa lewat aplikasi whatsapp. Namun sayang pesan videonya belum masuk, terlihat dari centang satu dan berwarna abu-abu menandakan pemilik akun tidak aktif. Namun Zaid tak ambil pusing, toh setelah ini mereka akan berjumpa.


Ia menurunkan koper besar miliknya yang lama tak terpakai karena di dalamnya ada ransel berukuran besar yang akan ia pakai untuk mengemas barangnya. Koper tersebut berdebu karena lama tak digunakan membuat Zaid tak hentinya bersin-bersin.


Dengan semangat ia membuka koper. Diangkatnya tas ransel yang berada di dalam koper itu. Ketika ingin menutup koper itu kembali tanpa sengaja ia melihat sebuah amplop berwarna cokelat. Ia membaca pelan-pelan sampul amplop tersebut.


"Rumah Sakit Harapan " Zaid mengernyitkan keningnya. Zaid semakin penasaran dengan apa isi didalam amplop tersebut. Terdapat nama dokter Ryan Wijaya di dalam kertas tersebut. Ia mengingat-ingat nama tersebut karena merasa pernah mendengar nama Ryan. Mulut Zaid menganga lebar mengingat nama tersebut adalah orang yang membuat ia cemburu pada Annisa.Laki-laki yang dua kali menelepon Annisa malam-malam. Namun sekarang bukan waktunya ia cemburu. Ia lebih penasaran dengan hasil pemeriksaan apa yang tertulis di kertas tersebut. Dengan cepat ia membuka amplop dan mengeluarkan kertas yang berada di dalamnya. Ternyata kertas tersebut berisi hasil pemeriksaan Annisa. Rasa penasaran memenuhi pikirannya. Namun ia hanya orang awam yang tak paham apa arti dari tulisan-tulisan yang ada di kertas itu.


Segera ia memasukkan kembali kertas tersebut kedalam amplop. Ia membuka semua nakas di dekat ranjang. Satu per satu ia buka berharap menemukan apa yang ia cari. Akhirnya di laci paling bawah dua buah botol asing yang ia cari terjumpa. Ia mengambil paperbag dan memasukkan hasil pemeriksaan serta dua botol obat entah obat apa. Ia mengubah rencana semula yang ingin ke rumah mertuanya menjadi ingin ke rumah sakit yang tertera di amplop coklat.


Dengan sigap diambilnya ponsel dan mengetikkan nomor telepon yang ia ambil dari kertas. Ia membuat janji untuk bertemu dokter besok karena hari sudah malam tidak mungkin ia datang tanpa membuat janji. Ia sudah mengemas bajunya ke dalam ransel, namun tak serta merta pergi menyusul istrinya. Ia masih menunggu esok hari setelah berjumpa dengan dokter. Biarlah malam itu ia menahan kerinduan pada istrinya. Dan ia harus melewati makan sahur sendirian lagi.


Keesokan paginya, Zaid segera meluncur ke rumah sakit sesuai dengan alamat di amplop. Ia menuju ke resepsionis dan menanyakan ruangan dokter Ryan. Setelah suster mendata nama Zaid, Zaid segera menuju ruang tunggu. Beruntung ia datang awal dan mendapatkan urutan antrian nomor 2 sehingga tak perlu berlama-lama menunggu.


Dua puluh menit menunggu, kini gilirannya masuk. Ia masuk ke dalam ruangan dengan hati berdebar. Entah firasat buruk apa yang Zaid rasakan.


"Silakan duduk Pak, " ucap dokter tampan berkacamata dengan sopan. Dokter itu terlihat sebaya dengan Zaid.


"Apa yang menjadi keluhan anda? "tanya dokter setelah Zaid duduk.


"Saya suami Annisa, "kata Zaid membuat dokter terkejut. Senyum yang tadinya menghiasi wajah ramah sang dokter menghilang digantikan wajah pucat dan dingin.

__ADS_1


"Dokter, saya membawa ini "Zaid menyerahkan hasil pemeriksaan beserta obat-obat. Dokter Ryan menerima amplop tersebut dengan ragu.


"Tolong dokter jelaskan, sebenarnya istri saya sakit apa !!"kata Zaid memohon.


"Maaf Pak, tapi saya sudah berjanji untuk menjaga rahasia pasien..Jadi saya tak ada wewenang untuk mengatakan apapun pada Bapak, "ucap dokter Ryan.


"Tolong dokter, ini berhubungan dengan nyawa seseorang dan juga rumah tangga saya. Tolong katakan pada saya, saya suami Annisa dok.. "pinta Zaid menghiba.


Dokter Ryan menghela nafas dan menghembuskan kasar, sungguh ia dilema antara mengatakan pada Zaid atau menjaga privasi Annisa. Namun ketika ia mengingat wanita itu menderita sendirian, ia memutuskan untuk membongkar segalanya. Siapa tahu dengan bujukan suaminya ia akan mau di operasi.


"Baiklah Pak, saya akan katakan segalanya. Sebenarnya istri bapak dalam keadaan kritis. Di dalam otaknya terdapat tumor ganas. Dulu dua tahun yang lalu ketika pemeriksaan yang pertama kali, kami menyarankan untuk dioperasi. Namun ibu Annisa menolak karena kemungkinan selamat hanya 50 persen dan tumor berada di area yang rawan sehingga ada kemungkinan juga ibu Annisa akan melupakan segalanya jika dioperasi. Jadi beliau dengan tegas menolak pengobatan melalui operasi seperti yang kami sarankan karena takut melupakan anda. "dokter menjelaskan dan Zaid terdiam dalam keterkejutannya.


"Dasar gadis bodoh, "gumam Zaid dalam hati . Rasanya ingin ia menangis saat itu juga. Namun ditahannya karena malu terhadap dokter yang ada dihadapannya.


"Jadi dokter yang membuat istri saya tak mau mengandung? "Tanya Zaid marah.


" Benar, sebab obat yang di konsumsi untuk menekan pertumbuhan tumor membahayakan janin jika beliau sampai mengandung. Obat itu tidak dapat mematikan sel tumor tapi sekedar menekan pertumbuhan agar tak terlalu cepat. Melihat anda datang kemari tanpa tahu apa-apa, berarti istri anda ingin berjuang sendirian sampai akhir tanpa harus membuat orang yang ia sayangi khawatir. Bukan hanya anda, tidak ada orang lain yang tahu kecuali saya bu Annisa sendiri dan perawat yang bertugas. Ayah ibu beliau pun tak tahu menahu pak, "jelas dokter Ryan dengan perasaan sangat sedih.


"Sayang.. betapa besar dosaku padamu..Aku pernah suudzon padamu, pernah menyakitimu. Bahkan kamu lebih menjaga perasaanku daripada kesakitanmu yang kau hadapi sendirian. Aku merasa gagal untuk menjadi seorang suami sayang.. " tangis Zaid tak dapat ditahannya lagi.


"Yang sabar ya pak, masih ada jalan untuk sembuh..Walau kemungkinannya sangat kecil tidak lebih dari 30 persen jika anda bisa membujuk istri bapak agar mau dioperasi. Tapi setidaknya ada harapan untuk sembuh. Pikirkan baik-baik pak, semoga anda membuat keputusan terbaik, "dokter Ryan menepuk bahu Zaid ringan.

__ADS_1


"Baiklah dokter terimakasih, saya permisi dulu "Zaid berpamitan pulang dengan perasaan yang sangat sedih.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Menuju episode terakhir. Semoga tidak mengecewakan. Maaf jika kurang rinci sebab pengetahuan saya sangat terbatas. Maaf juga jika typo bertebaran. Saya kebut update novel ini biar cepat selesai. Takut semakin ngawur ceritanya.

__ADS_1


Terimakasih ya sudah membaca tulisan saya. Jangan lupa tekan like dan komen.


__ADS_2