SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Hei Gadis! Aku Akan Menakhlukanmu


__ADS_3

Seperti biasanya, dua hari setelah pesta pernikahan sang kakak Annisa sudah memulai rutinitasnya sehari-hari. Beruntung pesta diadakan hari jumat sehingga dia mendapatkan libur dua hari setelah kelelahan membantu menyiapkan pesta. Ada sedikit waktu untuk mengembalikan semangatnya.


Hari ini hari senin, seperti biasa hari yang membuat Annisa malas. Hari senin adalah momok untuknya. Selain karena masih malas setelah merasakan nikmatnya beristirahat di rumah, juga dikarenakan tugas dari atasan yang pastinya menumpuk setiap awal minggu. Apalagi hari ini akan masuk manager baru. Pekerjaannya menjadi semakin banyak. Dan sialnya lagi, hari ini dia terlambat karena bangun kesiangan. Semalam ia tidak bisa tidur sampai larut malam, dikarenakan siang harinya dia sudah tidur sepuasnya. Dan Annisa melupakan satu hal penting, hari ini akan ada manager baru yang datang. Dan menurut rumor yang beredar, dia galak dan sulit menerima kesalahan sekecil apa pun itu.


"Aduh, beneran telat nih. Gara- gara mama dan papa nggak ada di rumah, nggak ada yang bangunin. Mana pakai lupa lagi pasang alarm tadi malam," gerutu Annisa.


Kring kring


Ponsel Annisa berdering dengan kuat. Annisa mengangkat telepon itu setelah dia melihat nama pemanggil di layar ponsel. Dan ternyata itu telepon dari Maya. Tanpa basa basi dia menyerbu sahabatnya dengan omelan.


"Kenapa May? Aku nggak bisa berbicara lama-lama. Aku lagi buru-buru ini. Dan sepertinya aku akan telat. Kita sambung lagi nanti ya? Kamu juga sih May. Sudah tahu aku di rumah sendirian, malah nggak mau bangunin aku," ucap Annisa terus-menerus tanpa memberi kesempatan Maya untuk berbicara.


"Hei Makcik! Kenapa kamu malah mengomel kepadaku? Ini aku juga baru mau nanya kenapa kamu sudah jam segini belum datang? Kenapa nggak pasang alarm? Dasar Nisa O'on. Kamu pasti lupa hari ini hari apa?" Maya balas mengomel seperti emak-emak. Maya menjadi kesal dengan sahabatnya itu.


"Ingat dong May. Hari ini hari senin, hari banyak tugas dan hari ini ...." Annisa belum sempat menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba dia ingat sesuatu. "Alamakkk ... ****** deh! Hari ini hari kedatangan manajer baru ya?" tambah annisa sambil menepuk jidatnya.


"Nah tu inget ... buruan datang!" sahut Maya. Tanpa mendengarkan jawaban Annisa lagi, dia segera mengakhiri panggilannya.


***

__ADS_1


Dengan tergesa-gesa akhirnya Annisa sampai juga di kantornya. Setelah menyerahkan uang kepada sopir taksi yang ia tumpangi, ia segera berlari kecil masuk kekantornya. Ia yakin akan mendapatkan amarah, jika ia ketahuan terlambat lagi.


"Hah ... hah ... hah ...." Nafas Annisa tersengal-sengal setelah berlari-lari dari halaman kantor sampai di ruangannya.


"Akhirnya sampai juga Tuan Putri ini. Jangan-jangan tadi nggak sempat mandi," sindir Maya dengan nada bercanda. Ucapan sahabat Annisa itu memang sedikit pedas.


"Enak saja ... aku sudah mandi tau? Coba kamu cium, wangi kan? Memangnya kamu nggak mandi," jawab Annisa mengipas-ngipas wajahnya yang terasa panas. Gadis itu beristirahat sambil menetralkan nafasnya, setelah duduk di meja kerjanya yang berada tepat di sebelah Maya.


"Eh bagaimana tadi briefingnya?" tanya Annisa mulai serius.


"Yah ...biasa saja. Gitu-gitu aja sih. Cuma perkenalan biasa, kemudian dilanjutkan dengan pemberian sambutan oleh manajer baru," ucap Maya datar. Annisa mendengarkan dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Eh tapi tahu nggak? Manager barunya ganteng lho. Masih muda lagi. Dan kayaknya aku pernah ketemu sama dia deh. Wajahnya nggak asing. Tapi dimana dan kapan aku pernah melihatnya ya? Aku lupa," kata Maya lagi dengan mata yang berbinar-binar.


"Eh ... kamu cepet deh selesaikan laporan penjualan bulan lalu. Manager barunya minta segera diantar ke ruangannya. Tadi nanya kamu dimana, aku jawab aja kamu lagi di toilet. Untung saja dia percaya," kata Maya.


"Makasih Darling. Kamu memang terbaik. Sudah siap kok laporannya, tinggal di-print dan diantar." Annisa tersenyum kepada Maya.


"Ya sudah buruan print dan antar ke ruangannya sudah ditunggu tuh," kata Maya lagi

__ADS_1


"Iya iya bawel ...," kata Annisa sambil mencari file yang diminta atasannya. Ia segera mengeprint data laporan yang diminta.


Setelah laporan di-print dan disusun dalam map, Annisa melangkah menuju ruangan manager. Kemudian Annisa mengetuk pintu ruangan itu pelan-pelan. Tak lama kemudian, terdengar sang atasan mempersilahkannya masuk. Dan gadis itu, segera masuk ke dalam.


"Selamat pagi Pak. Saya Annisa dari bagian penjualan. Saya mau menyerahkan laporan penjualan bulan kemarin sesuai yang Bapak minta," ucap Annisa sopan.


Manager baru Annisa terpana melihat pemandangan didepannya. Lelaki itu memandang Annisa tak berkedip. Tidak disangkanya wanita yang kini berdiri di depannya dengan menunduk, adalah wanita yang membuatnya kehilangan arah dalam tiga hari ini. Setelah pertemuan mereka yang pertama kali di sebuah pesta pernikahan. Ia masih larut dalam lamunannya, sehingga ia tidak menjawab kata-kata bawahannya itu.


"Pak ... maaf ada yang bisa saya bantu lagi? Kalau sudah tidak ada keperluan lagi, saya pamit undur diri mau mengerjakan pekerjaan saya yang lainnya," ucap Annisa kebingungan karena tidak mendapat respon dari atasan barunya itu.


"Ah iya ... terimakasih ya? Silakan kembali ke ruangan anda dan mohon bantuannya untuk kedepannya," kata Zaid yang kini menjadi manager baru Annisa. Lelaki itu terkesiap, setelah larut dalam angannya. Menyadari kalau gadis itu tidak mengingat dirinya, setelah ia melihat sikap gadis itu terhadapnya.


Annisa membungkukkan badannya sedikit dan berbalik meninggalkan ruangan atasannya untuk kembali bekerja. Di luar Maya sudah menunggunya untuk mendesak dia dengan berbagai pertanyaan.


"Gimana Nis? Kena marah nggak? Soalnya, katanya dia meskipun tampan tapi killer lho ...." Maya memberondong Nisa dengan pertanyaan.


"Nggak, biasa saja tuh. Normal-normal saja," kata Annisa menjawab pertanyaan temannya dengan acuh tak acuh. Sedangkan Maya hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


Mereka pun kembali berkutat di depan komputer masing-masing, untuk segera melanjutkan pekerjaan mereka selanjutnya.

__ADS_1


Sedangkan Zaid masih senyum-senyum sendiri di dalam ruangannya, selepas kepergian Annisa. Hatinya membuncah bahagia. Ternyata gadis yang membuatnya jatuh cinta adalah bawahannya. Sungguh takdir yang indah, begitu pikirnya. Ia mulai merencanakan sejuta cara untuk menarik perhatian dan hati gadis yang ia dambakan. Ia ingin menjadikan gadis itu sandaran hatinya. Ia berharap gadis itu akan menjadi wanita pendamping hidupnya, melengkapi hidupnya dan kelak menjadi ibu dari anak-anaknya.


"Hei gadis, tunggu aku! Aku akan mendapatkan hatimu." Zaid berbicara sendiri dengan senyum yang masih mengembang di wajah tampannya.


__ADS_2