
Zaid mengunjungi Maya karena ingin memberi pelajaran pada wanita itu. Ia ingin mengamuk dan juga ingin membuktikan apakah benar yang diperut Maya itu adalah anaknya. Toh, sekarang semua sudah hancur dan Annisa sudah membencinya, jadi apapun hasilnya ia akan menerima. Namun ketika sampai di apartemen Maya, wanita itu tak ada. Zaid tahu wanita itu tak ada karena dulu ia diberi tahu kode aksesnya oleh Maya sehingga ia dapat masuk kedalam apartemen dan mencarinya dengan leluasa.
Dengan gusar ia pergi dari tempat itu karena orang yang ia cari tak ada. Ia berjalan lunglai menuju ke mobilnya kembali. Ketika ia ingin membuka pintu mobil ia melihat jelas sosok yang ia cari. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil dan ingin menghampiri Maya. Tetapi ketika melihat perut Maya yang tak besar seperti kemarin, ia menjadi penasaran dan semakin yakin ada yang tak beres. Ia mencari titik teraman dekat dengan pohon yang berada di belakang Maya ingin menguping pembicaraan mereka.
"Lo gila deh May..kayak nggak ada cowok lain aja lo nguber-nguber suami orang, "kata perempuan yang berbicara dengan Maya. Zaid dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka.
Zaid mengambil ponsel dan merekam pembicaraan mereka diam-diam. Ia berharap mendapatkan bukti agar ia dapat membela diri dihadapan istrinya. Ia semakin yakin jika malam itu tidak terjadi apa-apa antara dia dan Maya.
" Udah diem deh Feb.. Gue nggak akan nglepasin dia begitu aja.. Enak aja, udah mempermainkan gue dan kini mereka mau hidup bahagia berdua gitu? Terus yang menderita gue sendiri? "jawab Maya.
"Tapi lo nggak malu apa? Gara-gara lo pura-pura hamil, banyak yang ngecap lo cewek nggak bener. Apalagi yang lo mau suami orang May.. Lo kan cantik ngapain juga lo mau suami sahabat lo sendiri, "tanya wanita itu lagi.
__ADS_1
"Hasilnya nggak akan sebanding dengan pengorbanan gue Feb, gue akan lakukan apapun demi mendapatkan cinta gue.Gue udah cinta sama Zaid sebelum Annisa suka sama dia. Jadi gue akan lakukan apapun itu. Semua nggak adil..Masalah cantik juga cantikan gue, masalah penampilan ya jelas menang gue. Entah kenapa Zaid memilih wanita bodoh itu, "kata Maya dengan angkuh.
"Ya elah May nekat banget sih lo.. Terus apa arti persahabatan lo dengan Annisa selama ini? "
"Persahabatan? Lo pikir gue suka sahabatan sama dia. Dia yang suka maksa apapun tanpa menanyakan kemauan gue. Dia egois dan menyebalkan. Lo liat sendiri mana punya teman dia di kantor selain gue kalau gue nggak sabar ngadepin dia mana mungkin dia punya teman, "kata Maya mengeluarkan semua unek-unek dalam hatinya.
Plok Plok Plok
" Bagus.. Hebat kamu Maya Agustina, "
"M-Mas, sejak kapan kamu disitu? "
__ADS_1
"Emm.. baru saja kok. Eh mana perut besar kamu ? Jangan-jangan kamu keguguran ya? Kasihannya.. " Maya menundukkan kepala diam karena sudah tertangkap basah. Wanita yang bicara dengan Maya sudah lari entah kemana.
"Jadi ini caramu untuk memisahkan kami? Jadi begini kamu membalas kasih sayang tulus dari Annisa? Kamu kejam May.. Padahal dengan kakak kandungnya Annisa tak sesayang dan sedekat dengan kamu. Kamu memiliki posisi lebih tinggi di hatinya lebih dari Amalia bahkan dari aku suaminya. Tapi kamu tega menghancurkan hati wanita polos itu. Kamu bilang dia suka memaksa? Pernahkah hal yang ia paksakan itu merugikanmu? Aku rasa tidak. Pikir May siapa yang ada di dekatmu saat kamu terpuruk, siapa yang rela membagi kasih sayang orang tuanya denganmu? Dia wanita paling baik yang pernah aku kenal maka dari itu dia tak bisa dibandingkan dengan siapapun termasuk kamu. Kamu mengerti sekarang kenapa aku mencintainya? " kata Zaid semakin memojokkan Maya.
"Diammm.. aku nggak mau dengar lagi, "teriak Maya menangis.
"Hubungan kita berakhir di sini Maya, tak ada lagi tanggung jawab yang harus ku tunaikan padamu. Coba kamu tanyakan pada hatimu. Benarkah perbuatan yang kamu lakukan pada Annisa? Aku pergi, "Zaid segera masuk mobil pergi dari tempat itu meninggalkan Maya yang menangis.
"Maafkan aku Annisa... "Maya menangis di depan sebuah toko. Penampilan Maya Awut-awutan. Antara rasa bersalah dan egois masih mendominasi.
Zaid meninggalkan tempat itu dengan penuh kelegaan, akhirnya semua bisa ia perbaiki. Masih ada kesempatan untuknya kembali pada istrinya.Ia mengemudi mobilnya menuju rumah mereka. Ia ingin mengemas barangnya dan sementara ingin tinggal di rumah mertuanya menyusul Annisa.
__ADS_1