SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Memperbaiki Segalanya


__ADS_3

Hari itu hari minggu,diluar sana hujan rintik-rintik membasahi dedaunan. Bau tanah basah menguar menyengat hidung. Karena ini pertama kalinya hujan turun setelah kemarau. Sungguh menyejukkan hati. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi namun langit terlihat gelap karena mendung hitam.Udara yang dingin membuat Zaid enggan membuka mata, ia mengeratkan pelukan dibadan kecil istrinya. Seakan-akan tak mau melepas Annisa barang sedetikpun.


Pagi tadi mereka sudah bangun untuk sholat subuh berjamaah. Zaid berencana mengajak Annisa lari pagi bersama mengitari komplek perumahan mereka. Namun rencana tinggal rencana diluar hujan tak berhenti juga menambah dinginnya udara pagi itu. Bagi Zaid, itu malah semakin menyenangkan. Ia memiliki kesempatan untuk mengungkung istrinya dalam pelukannya dan takkan membiarkan Annisa bangun untuk mengerjakan apapun. Annisa yang terbiasa bangun pagi sudah ingin mengomeli suaminya, namun ketika Zaid membuat mimik wajah sedih ia hanya bisa pasrah tak mampu menolak rayuan maut suaminya. Ia menuruti perintah Zaid untuk seharian hanya bersantai berdua tanpa melakukan pekerjaan apapun.


Zaid juga sudah mematikan telepon dari semalam setelah mereka berbaikan. Ketika Annisa bertanya mengapa harus dinonaktifkan, Zaid hanya berkata tak ingin ada yang mengganggu momen romantis mereka berdua. Padahal satu alasan utama adalah untuk menghindari gangguan Maya.


Zaid sudah berjanji pada dirinya sendiri tak akan pernah lagi pergi meninggalkan Annisa sampai kapanpun dan apapun yang akan terjadi. Ia sudah bertekad akan mencintai dan membahagiakan Annisa disisa hidupnya sekalipun Annisa tak mau mengandung buah hatinya. Ia akan mengabaikan desakan-desakan mamanya yang menuntut untuk diberikan cucu. Karena sekarang kebahagiaannya cuma satu yaitu istrinya.


Ia benar-benar menyesali pengkhianatan yang ia lakukan. Walau ia tak pernah benar-benar serius dengan Maya atau melakukan hal yang melampaui batas, ia tetap merasa bersalah. Maya hanya ia anggap sebagai pelampiasan rasa sakitnya, hanya sebagai tempat ia berkeluh kesah, tak lebih.Walau memang yang Zaid lakukan dengan Maya tetap saja tidak bisa dibenarkan. Namun ia melakukan itu semua dalam keadaan labil, ia tak dapat berpikir dengan benar, karena waktu itu ia benar-benar depresi.


Kini ia mulai menjauhi gadis itu. Jika mereka bertemu dikantor maka sebisa mungkin ia menghindari Maya. Ia selalu menciptakan suasana yang ramai disekitarnya agar gadis itu tak berani mendekatinya.Zaid sangat takut kalau Annisa mengetahui ia sempat dekat dengan Maya. Zaid sangat takut jika Nisa sampai mengetahuinya dan meninggalkannya. Dan Zaid tak mau menyakiti hati Annisa lagi. Pasti sangat sakit rasanya dikhianati suami dan sahabat sendiri.Selain itu Zaid tak ingin Maya berharap lebih jauh, cukup sampai disini saja hubungan semu mereka. Biar saja Maya yang merasa sakit, toh sejak awal Zaid tak pernah mencintainya. Dan kalau Zaid tetap berpura-pura nyaman dengannya semakin lama ia hanya akan semakin menyakiti Maya. begitu pikirnya. Namun satu kesalahan Zaid adalah tidak segera menyelesaikan dengan baik-baik, tapi hanya dengan mengabaikan gadis itu. Membuat kebencian Maya terhadap Annisa bertambah besar. Dan itu akan menjadi bom waktu baginya yang siap meledak kapan saja. Zaid tak pernah menyadarinya.


"Mas.. Nisa bangun dulu ya.. mau masak buat sarapan.."kata Annisa berusaha melepaskan pelukan suaminya. Zaid tak bergeming, ia hanya senyum-senyum dengan mata yang masih terpejam.


"Mass.. "kata Annisa gemas melihat suaminya masih pura-pura tidur dan tak mau mengendurkan pelukannya barang sedikitpun.

__ADS_1


"Sayang.. hari ini nggak usah masak.. Aku nggak izinin kamu turun dari ranjang" ucap Zaid genit.


"Kalau Nisa nggak masak, nanti mas mau makan apa? "tanya Annisa mulai geram.


" Mau makan kamu.. "goda Zaid semakin manja. Kini ia membenamkan wajahnya di dada Annisa.


"Benar-benar seperti bayi.. " sindir Annisa.


"Biarin,, aku kan udah bilang hari ini hari santai kita.. Urusan makanan aku udah order kok.. tinggal tunggu kurir anter.. "kata Zaid sambil menciumi dada Annisa.


"Udah mas.. geli. . "ucap Nisa mendorong kepala suaminya pelan. Walau dalam hati ia merasa bahagia diperlakukan seperti itu oleh suaminya. Ia dan Zaid sama-sama menderita setahun hidup di ranjang yang dingin. Ia begitu merindukan sentuhan hangat suaminya. Kini Annisa tak peduli tentang bagaimana besok, nanti atau masa depan. Yang ia tahu ia bahagia saat ini, ia ingin menikmatinya walaupun jika ini menjadi kesempatan terakhirnya.


"Iya sayang.. hari ini saja ya..Aku nggak akan membiarkan kamu melakukan apapun. Aku mau peluk kamu sampai puas, aku rinduu sayang.."Zaid semakin mendusel seperti bayi.


Annisa yang gemas pada suaminya mencubit kedua pipi Zaid. Ia menghujani ciuman di kening pipi hidung dan bibir suaminya.

__ADS_1


"I Love You sayang.. "Kata Zaid menatap tajam pada istrinya.


"Love you too suamiku.."kata Annisa kemudian mengecup lembut bibir suaminya.


Akhirnya sesuai ucapan Zaid ia tak membiarkan Annisa melangkah satu inci pun dari kamar mereka. Ketika kurir datang, Zaid dengan sigap mengambil makanan di pintu depan. Mereka makan pagi disofa kamar mereka dengan bahagia.


Selesai makan, Zaid juga lah yang membereskan semuanya. Sebelum Annisa memprotes, Zaid terlebih dulu mencium bibir Nisa tanda tak mau dibantah. Annisa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya yang begitu posesif.


Dan pagi itu menjadi pagi yang panas untuk mereka berdua. Tak henti Zaid meminta haknya sebagai suami kepada Annisa lagi dan lagi. Berkali-kali ** ***** Zaid memenuhi rahimnya.Annisa sampai kewalahan melayani suaminya. Mereka benar-benar menyalurkan rindu yang menggebu pada pasangannya.


Sampai siang mereka melakukan hal itu, seakan-akan tak ada lagi hari esok. Tubuh Annisa yang serasa remuk karena pergulatan panas mereka tak lagi dirasakannya. Ia hanya merasa bahagia, sangat-sangat bahagia.


Setelah kelelahan akhirnya mereka tidur berpelukan. Keduanya merasakan kedamaian. Baik Zaid atau Annisa begitu menyesali telah membuang waktu mereka yang sangat berharga dengan mengabaikan pasangan masing-masing. Kini apapun yang terjadi mereka berjanji akan terus bersama sampai mati.


"Maaf mas aku belum bisa membuka rahasiaku padamu.. Tapi yakinlah aku sangat mencintaimu dan selamanya akan begitu.Aku tak ingin membuatmu sedih. Sekarang yang aku tahu, aku hanya akan mencintaimu, menikmati cintamu dan berusaha membahagiakanmu. "Kata Annisa dalam hati.

__ADS_1


"Annisa maafkan aku yang pernah mengkhianatimu, namun sumpah hatiku hanya milikmu seorang tak akan pernah ada yang lain. Maaf aku belum bisa jujur sama kamu. Aku terlalu takut kamu akan meninggalkan aku. Tapi aku berjanji akan selalu mencintaimu, hanya kamu dan aku akan berusaha untuk memberikan kebahagiaan dan cintaku untukmu. "Batin Zaid.


Keduanya semakin mempererat pelukan mereka, merasakan kehangatan dari masing-masing.Dan akhirnya terlelap dalam mimpi indah yang mereka harapkan tak akan pernah berakhir.


__ADS_2