SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Kalian Tega


__ADS_3

"Nisa, ini yang sudah di kasih solasi letak mana Nis? "teriak Maya yang membantu mengepak barang milik pelanggan.


"Letak saja dulu dikeranjang merah, aku belum print alamatnya. Tunggu bentar ya aku dah hampir siap masaknya, "sahut Annisa dari dapur.


"Eh, Maya.. Kalau capek istirahat saja dulu ya. Biar aku nanti yang selesaikan, "sambungnya melongok dari pintu melihat Maya yang tengah bekerja.


"Nggak kok aku nggak capek, "jawab Maya tersenyum.


"Assalamualaikum.. "


"Waalaikumsalam, "jawab dua wanita itu berbarengan.Bedanya Annisa menjawab tanpa menyambut karena sedang menggoreng ikan dan Maya dengan centil meyambut Zaid yang baru pulang kerja.


"Apa yang kau lakukan disini?Pulang sana !! "Hardik Zaid terkejut dan marah menarik lengan Maya.


"Kok sudah pulang mas? "tanya Annisa sambil berjalan menghampiri Zaid. Zaid seketika melepaskan cengkeraman tangannya di lengan Maya.


"Eh, iya sayang.. Hari ini kerjaan nggak terlalu banyak, "jawab Zaid merentangkan tangan minta pelukan istrinya.


"Apaan sih mas, ada Maya malu kan? "kata Annisa tersipu.


"Nggak papa kan May? Harap maklum ya May.. "Zaid menarik tangan istrinya mendekap erat di dadanya.


Maya mengepal erat karena geram. Antara cemburu dan marah. Kalau bisa Maya ingin menarik rambut Annisa dan menggantikannya di pelukan Zaid. Sayang ia tak seberani itu untuk dibuang Zaid. Ia belum menjalankan rencana yang akan dilakukannya sebentar lagi.


"Mas, Lepas.. Nisa bau asap dan keringat, " kata Annisa berusaha melepaskan diri.


"Mau bau dapur atau keringat aku tetap suka, "Zaid menghirup aroma shampo dirambut istrinya membuat Maya semakin panas.


"Udah ah mas.. mandi sana ! aku siapin makan buat kita ya? " Annisa melepaskan pelukan Zaid dan mendorongnya masuk ke kamar.


"Mandiin... "ucap Zaid manja sengaja ingin membuat Maya sakit hati.


"Mas... malu kan ada Maya. Jangan aneh-aneh deh, "kata Annisa sedikit berbisik.


Dengan terkekeh Zaid masuk ke kamar dan segera mandi. Namun di balik senyumannya terdapat kekhawatiran akan apa yang akan dilakukan Maya. Ia sangat tahu kalau Maya nekat dan memberitahukan segalanya pada istrinya.


"Maaf ya May udah buat kamu nggak nyaman, dan maaf mas Zaid jadi memergoki kamu disini. Aku nggak tahu dia pulang cepat, " ucap Nisa tulus setelah kembali ke ruang tamu tempat Annisa mengemas barang-barang jualannya.

__ADS_1


"Nggak papa kok Nis, "sebisa mungkin Maya tersenyum padahal ia ingin sekali mencekik sahabatnya itu.


"Ya udah aku siapin makanan dulu ya?Sebelum pulang kamu makan sama kami dulu oke? "


"Ya udah iya.. "


lima belas menit kemudian


Kini mereka bertiga duduk di meja makan dengan tenang. Hanya suara denting sendok garpu yang terdengar. Raut wajah Zaid sangat kusut, wajahnya begitu cemberut tak suka ada Maya yang ikut makan.


"Mas, nggak enak ya? "


"Ng- Enak kok sayang "


"Kok mukanya ditekuk gitu? "


"Maaf ya sayang, cuman masalah kerjaan kok, "


"Ya udah.. tapi senyum dong " kata Annisa membuat Zaid tersenyum menatap sayang Annisa.


Mereka melanjutkan makan bersama.Tapi tanpa Annisa sadari dua orang yang makan dihadapannya saling melempar pandang. Zaid melempar pandang tak suka sedangkan Maya melirik-lirik kegenitan.


***


"Iya mas, nggak papa, "


"Ya udah ya sayang, jangan lupa makan? oke? "


"iya mas..mas juga jangan telat makannya "


"Ya udah ya, Assalamualaikum.. "


"Waalaikumsalam mas.. "


Aku harus menanyakan maksud Maya, ini semua tak bisa dibiarin begitu saja.


Kamu temui aku di ruanganku jam istirahat nanti. Aku mau bicara penting. send.

__ADS_1


Dua menit kemudian Maya membalas.


Oke sayang aku juga kangen kamu.


Zaid membaca pesan dengan jijik seandainya tidak terpaksa ia tak sudi bertemu wanita itu. Ia segera menghapus pesan-pesan tersebut.


***


"Apa aku bawain makanan aja ya ke kantor? Kerjaan dah selesai dan tumben Maya nggak kemari kan jadi sepi , "gumam Nisa seorang diri.


"Iya deh, daripada nggak ngapa-ngapain juga dirumah, "Annisa beranjak dari duduknya dan menata makanan ke dalam rantang. Ia ingin mengantar makanan ke kantor Zaid.


***


"Kenapa mas? kamu kangen sama aku?Oh ya mas aku malu ketemu orang-orang kantor tadi. Semua berbisik-bisik membicarakan perutku yang membesar mas.. Aku malu, "kata Maya dengan wajah yang dibuat-buat sedih dan menggelayut manja.


"Buat apa kamu datang kerumah? "


"Kenapa? nggak boleh? "


"Kamu memang gila lah May.. Apa lagi mau mu aku kan sudah janji akan menikahimu.. "


"Tapi kapan mas? Kamu selalu bilang nanti nanti. Nanti kapan? Sampai anak ini lahir tanpa ayah? "Maya marah dan berteriak histeris.


"Aku nggak mau tahu, kamu segera ceraikan Annisa dan menikah denganku "ancam Maya.


"Kalau nggak aku akan bocorkan rahasia tentang kita, bagaimana ya ekspresinya jika tahu anak yang kukandung ini anakmu mas.. " kata Maya menyeringai.


"Hahaha, dia akan kecewa dan meninggalkan kamu "kata Maya terkekeh.


Braaakkk


Susunan rantang yang berada ditangan Annisa jatuh berhamburan dilantai. Ia ingin memberi kejutan untuk suami tersayangnya. Namun ketika sampai di kantor, dialah yang mendapatkan kejutan. Ia mendengar obrolan Zaid dan Maya sedari awal. Awalnya ia ingin langsung masuk dan mengejutkannya suaminya. Namun yang ia dapati malah mengejutkan. Sedari Zaid dan Maya membicarakan tentang menceraikannya dan akan menikahi Maya juga tentang kandungan Maya. Annisa yakin itu anak suaminya.


"Sayang, semua salah paham. Aku bisa jelaskan "


"Lepasin mas.. Aku nggak perlu penjelasan, cukup kamu bohongi aku selama ini, kalian jahat. Kalian tega, "Annisa berlari sekuat tenaga keluar dari kantor dengan air mata bercucuran. Ia tak menghiraukan pandangan banyak orang yang melihatnya menangis.

__ADS_1


Ya Allah kenapa terjadi lagi?


Zaid sangat frustasi dan tak tahu harus bagaimana. Ia yakin kehidupan rumah tangganya dengan Annisa akan segera berakhir.


__ADS_2