
Annisa berlari ke kamarnya tanpa sepatah kata setelah keluar dari mobilnya.Zaid semakin yakin kalau istrinya merajuk. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung bagaimana menjelaskan kepada istrinya. Akhirnya ia berusaha untuk mengungkapkan semua kebenaran kepada istrinya. Buru-buru ia menyusul istrinya yang sudah lebih dulu masuk ke kamar. Untung mama papanya tak dirumah sehingga takkan ada banyak pertanyaan kepo dari mamanya itu.
Begitu membuka pintu kamarnya ia melihat istrinya meringkuk di ranjang. Ruangan itu begitu gelap karena Annisa sengaja tidak menyalakan lampu. Kemudian dia menyalakan lampu kecil yang ada di pojokan yang tidak terlalu menyilaukan mata. Perlahan ia naik keranjang dan memeluk sang istri, samar ia mendengar istrinya menangis. Annisa berusaha menepis tangan suaminya yang memeluknya posesif, tapi tentu saja ia kalah tenaga.
Ia semakin mengeratkan pelukannya, Ia berkata lembut kepada istrinya " Sayang maafkan aku.. aku tak bermaksud menyakitimu..tiba-tiba aja Tiara meluk aku tadi, " Zaid mencoba menjelaskan.
"Bilang aja kamu suka kan.. "kata Annisa acuh tak acuh masih menangis. Zaid yang tak sabar menarik istrinya kepelukannya.Kini mereka berhadapan,Annisa menenggelamkan wajahnya didada bidang milik suaminya masih dengan menangis. Dada Zaid semakin sesak melihat istrinya terus menangis tak mau berhenti. Ingin segera ia menghapus kecemburuan dan luka dihati istrinya.
"Sumpah sayang aku sama Tiara udah nggak ada hubungan apa-apa, ya memang dulu aku pernah berpacaran lama dengannya. Tapi rasa itu menghilang setelah 5 tahun yang lalu dia meninggalkanku.. " Zaid mencoba jujur pada istrinya.
" Terus yang tadi itu apa, aku sekarang yakin kamu menikah denganku hanya sebagai pelarianmu kan? " Annisa mengeluarkan semua uneg-uneg dihatinya ia tak sanggup menahan perih dihatinya.
" Kamu salah manisku, hanya kamu yang ada di dalam hatiku, aku udah nggak punya perasaan apa-apa padanya. Rasa itu telah lama hilang. Sekarang cinta ini, debaran ini hanya milikmu..Rasakan sendiri sayang.. " kata Zaid sambil mengambil tangan istrinya dan meletakkan didadanya.
Annisa mulai berhenti menangis walau sesekali masih terdengar isakan kecil.
__ADS_1
"Tapi mas, benar kata tante Fina aku tidak pantas bersanding denganmu, yang pantas mendampingimu itu Tiara. Dia sempurna untukmu mas.. sedangkan aku... "
"Sstttt.. Yang mengerti tentang kebahagiaan mas, ya mas sendiri.. bukan orang lain, Mas sendiri yang menentukan siapa yang pantas mendampingiku..kebahagiaan mas yaitu hanya kamu.. " telunjuk tangannya berada dibibir Annisa menghentikan kata-kata istrinya. Sedangkan tangan kirinya mengepal erat geram mengetahui tante Fina sudah memprovokasi istrinya. Andai ia tak menuruti kata ibunya semua ini takkan terjadi.
Annisa mulai luluh mendengar penjelasan suaminya. Ia tidak ingin lagi memikirkan kata-kata tante Fina. Yang paling penting kebahagiaannya dengan suami tercintanya. Ia ingin melupakan segala hal yang terjadi hari ini.
Setelah Annisa mulai tenang, Zaid mulai menggoda istrinya. Ia mengajak istrinya itu bercinta lagi dan lagi. Annisa yang dimabuk asrama tidak sedikit pun menolak suaminya yang bahkan tadi sudah membuatnya menangis. Memang meluluhkan hati wanita itu gampang-gampang susah. Terkadang terkesan gampang karena dengan sedikit sikap manis saja mereka akan terbuai. Namun kadang ia susah dimengerti apa maunya dan begitu sensitif.
Hari-hari mereka jalani dengan romantis dan bahagia. Mereka juga ikut sibuk mempersiapkan pesta yang akan digelar mamanya untuk mereka. Dari fitting baju, melihat gedung pernikahan dan mencari katering yang sesuai. Mereka begitu sibuk namun bahagia.
Kedua mempelai di persandingkan di depan para tamu. Zaid terlihat sangat tampan, begitu juga Annisa terlihat sangat cantik. Mereka seperti raja dan ratu. Acara membosankan tersebut membuat mereka kelelahan. Seakan-akan tamu yang menyalami tak kunjung habis. Kaki mereka begitu pegal karena sedari tadi tak ada kesempatan untuk duduk.
Annisa sangat terkejut dengan kedatangan seorang gadis yang tak lain Tiara. Mertuanya memeluk gadis cantik itu dengan mesra ketika gadis itu datang. Kemudian Tiara dan Ibunya, yaitu tante Fina menyalami mempelai dengan terpaksa. Annisa menyadari kalo mereka tidak menyukainya. namun ia tak peduli, yang penting suaminya dan mertuanya suka padanya, begitu pikirnya.
Zaid yang kehausan pamit kepada istrinya sebentar untuk mengambil air minum untuk mereka berdua. Annisa menggangguk dan tersenyum melihat perhatian suaminya.
__ADS_1
Ketika Zaid pergi Annisa tidak sengaja mendengar pembicaraan mama mertuanya dengan tante Fina yang membuat hatinya sakit.
" Rahma, padahal aku berharap Zaid menikahi Tiara lhoo.. Aku kecewa dia malah menikah dengan wanita model kayak gitu.. Padahal dulu Zaid tergila-gila pada Tiara.Mereka sangat serasi bukan? " Kata tante Fina sedikit meninggikan volumenya agar didengar Annisa.
" Yahh.. mau gimana mbak, Dia kan pilihan Zaid.. sebenarnya aku juga lebih suka kalo Tiara yang jadi menantuku.. " kata mama Rahma tidak menyadari suaranya didengar Annisa. Hati Annisa begitu remuk, sungguh tega mama mertuanya berkata seperti itu. Berarti Selama ini dia hanya pura-pura menyukainya. Rasanya ingin sekali dia pergi dari tempat itu dan menumpahkan air matanya.
Zaid yang baru datang heran dengan perubahan wajah istrinya.Wanita itu terlihat pucat pasi.
"Sayang, kamu capek ya.. gimana kalo kita masuk ke kamar aja? " ajak Zaid sambil membelai puncak kepala sng istri. Yang dimaksud adalah kamar hotel tempat gedung itu disewa. Ia ingin bertanya lebih lanjut apa yang terjadi. Karena ia merasa ada yang janggal namun diurungkannya takut istrinya yang sensitif itu akan menangis.
" Tapi apa nggak papa kita pergi duluan.. " kata Annisa lirih.
" Udah.. nggak papa, tunggu bentar aku ngomong sama papa." Ia memilih bicara pada papanya karena malas menghampiri mamanya yang sedang mengobrol dengan tante Fina. Ia masih marah dengan kejadian yang lalu.
Zaid menghampiri papanya dan berbincang,, Papa memaklumi dan menyuruh Zaid membawa istrinya untuk istirahat. Kemudian dia menarik tangan istrinya diajak ke kamar untuk istirahat.
__ADS_1
Mereka begitu kelelahan setelah hampir seharian menyalami tamu. Setelah mandi mereka langsung tidur dengan saling berpelukan.