
Hari ketiga Annisa dan Zaid di Swiss akhirnya mereka dapat menikmati liburan mereka. Sesuai rencana hari ini mereka akan menikmati pemandangan puncak Matterhorn .Tak lupa mereka memakai mantel tebal dan pakaian yang berlapis mengingat udara yang sangat dingin.
Dari stasiun Zermatt mereka menuju ke Gornergrat yang memiliki ketinggian 3028 meter dari permukaan laut tempat mereka menikmati pemandangan puncak Matterhorn dengan naik kereta api. Akan ada 4 titik yang dilewati yaitu Findelbach, Riffelalp, Riffelberg, Rotenboden, dan berakhir di Gornergrat.
Awalnya Zaid mengajak Annisa untuk naik cable car. Namun Annisa menolak karena belum sepenuhnya pulih. Bagaimana ia bisa meluncur di atas ketinggian 170 M dari jurang dengan kecepatan penuh sementara keadaannya belum pulih benar.Tubuhnya masih sangat lemah serta lemas.Ia harus tetap berakting bahwa ia baik-baik saja. Untuk menolak ajakan naik cable car Annisa beralasan bahwa ia takut ketinggian,Apalagi lantai cable car yang terbuat dari kaca transparan menambah kengerian. Dan Zaid yang menyayangi istrinya tak memaksa lagi karena yang paling penting istrinya bahagia.
Sepanjang perjalanan mereka menikmati pemandangan pegunungan Matterhorn dan gletser yang Indah. Beruntung cuaca sangat cerah berlangit biru. Kereta meluncur ke atas gunung dengan perlahan. Butuh waktu selama 30 menit untuk mencapai Gornergrat. Jadi mereka bisa menikmati pemandangan sepuasnya. Lama kelamaan pepohonan menghilang berganti bukit batu cadas yang terjal. Tak tampak lagi adanya kehidupan disana.Namun ternyata dipunggung bukit terdapat segerombolan kambing salju atau disebut black nose sheep memakan rumput.
Annisa yang begitu takjub tak henti-hentinya membidikkan kamera menangkap gambar pemandangan dan juga kambing salju yang terlihat lucu dan menggemaskan. Sedang Zaid hanya memandang wajah istrinya yang sangat bahagia menikmati pemandangan dan udara yang bersih bebas polusi. Ya Annisa sangat bahagia ini adalah liburannya ke luar negeri yang pertama. Tak segan ia memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dan Annisa yang terlarut dalam kekaguman terhadap ciptaan Tuhan itu, tak menghiraukan suaminya sehingga Zaid sedikit cemburu. Namun melihat senyum mengembang di wajah Annisa membuat ia sangat bahagia dan melupakan rasa cemburunya karena perhatian Annisa teralihkan.
Sesampainya di Gornergrat mereka begitu takjub dengan pemandangan disana. Sungguh indah alam semesta ciptaan Tuhan. Berada di tempat yang tinggi, udara dingin namun langit berwarna biru cerah.Puncak Matterhorn terlihat sangat jelas. Sangat indah.Mereka berdua main salju sebentar, tak lama mereka disana karena udara yang sangat dingin. Akhirnya kereta turun kembali, ketika sampai di stasiun Rotenboden Zaid mengajak Annisa menuju ke Rifelsee.
Riffelsee adalah sebuah danau dengan pemandangan indah. Menampilkan pantulan dari puncak Matterhorn yang sangat ikonik. Disekeliling danau ditumbuhi oleh bunga wolgrass berwarna ungu yang sangat cantik dengan pemandangan langit biru menyempurnakannya. Annisa sangat terpukau dengan keindahan tempat itu. Mereka istirahat sebentar dipinggir danau dan Annisa masih setia membidikkan kameranya. Zaid memeluk erat Annisa ketika mereka menikmati pemandangan. Sesekali mereka Meminta pengunjung untuk mengambilkan gambar mereka berdua dengan kamera Annisa.
Karena lapar akhirnya mereka memutuskan untuk turun kembali menuju desa Zermatt. Mereka makan di restoran Petit Royal Cafe dengan bahagia, terkadang mereka saling menyuapi dan bersenda gurau. Sungguh kalau bisa Zaid mengharap waktu berhenti. Agar kebersamaan mereka tak segera berlalu.
Akhirnya selesai makan mereka kembali ke hotel untuk istirahat karena sudah penat dan udara yang semakin bertambah dingin menjelang sore.
Selama tiga hari di Zermatt Zaid dan Annisa tak dapat berhubungan suami istri karena Annisa sedang Haid. Zaid sedikit kesal, bukannya menikmati malam panas yang romantis. Tapi hanya sekedar tidur berpelukan. Ia sangat tersiksa menahan diri, padahal cuaca dingin seharusnya mendukung untuk bercinta. Annisa memberi semangat pada Zaid agar bersabar. Ia berjanji akan melayani dengan sebaik-baiknya setelah halangannya berakhir. Tentu saja Zaid menyambut gembira.
Hari keempat, mereka tak keluar dari kamar. Annisa yang sudah selesai haid akhirnya digarap habis-habisan oleh suaminya. Zaid seperti punya tenaga ekstra, tak henti ia meminta haknya pada sang istri. Mereka juga menikmati pelayanan berendam air panas di dalam hotel. Sungguh rileks dan menyenangkan, seakan beban pikiran dan kepenatan yang menumpuk berbulan-bulan hilang seketika.Tentunya bukan hanya berendam tapi mereka melakukan percintaan yang panas juga.
Hari kelima adalah hari terakhir mereka disana. Zaid dan Annisa hanya mengelilingi desa dengan santai.Mereka tak ingin pergi jauh-jauh karena besok dihari kepulangan tak ingin kelelahan. Tak lupa mereka mampir ke kedai-kedai yang menjual aneka souvenir dan oleh-oleh. Annisa membeli banyak sekali barang. Ia ingin memberikan pada ayah ibunya, mama papa mertuanya, Untuk Ferdi yang sudah membuat mereka baikan. Dan juga untuk Maya, sahabat baiknya yang walau kini dia rasa sedikit menjauh.Juga secara rahasia ia membeli hadiah untuk Ryan yang sudah membantunya mengalami masa-masa sulit.
Selama honeymoon, Annisa mampu menyembunyikan kesakitannya dengan apik. Tak pernah sekalipun Zaid menyadari bahwa istrinya sedang sakit parah.
Malam itu malam terakhir mereka menginap di swiss. Annisa masih berada di kamar mandi, Zaid yang sedang memantau pekerjaannya secara online segera menghentikan pekerjaannya mendengar ponsel istrinya berdering kuat. Tertera nama Ryan lagi di id pemanggil. Ia sangat murka, bisa-bisanya lelaki itu mengganggu bulan madunya. Namun Zaid memutuskan menjawab panggilan itu dengan tenang karena ingin mendengar kenyataan agar dia tak berprasangka buruk lagi dengan sekedar menerka-nerka.
"Haloo.. "sapa seseorang diseberang sana.
__ADS_1
"Nisa..Kamu baik-baik saja kan? jangan lupa ya diminum obatnya.. ingat ya Nis jangan sampai telat minum obat, jangan kecapekan juga.. " nasehat pria itu.
"Maaf anda siapa ya? saya suami Annisa.. " Zaid menjawab dengan menahan emosi.
"Ahh.. saya seorang dokter Tuan.. Nyonya Nisa pasien saya.. Beliau kan ada alergi, sehingga saya menelepon untuk mengingatkan agar dia minum obat. Tolong sampaikan pesan saya kepada istri Tuan..Maaf ya tuan sudah mengganggu waktu anda.. Selamat malam tuan "Ryan sedikit berbohong.
"Selamat malam.."jawab Zaid dingin.
Ceklek
Annisa keluar dari kamar mandi dengan tersenyum.Seketika senyumnya menghilang saat Ia menyadari ada yang berbeda dari raut wajah suaminya yang terlihat marah.
"Mas.. kenapa? "tanya Annisa mendekati suaminya.
"Sayang.. Duduk dulu deh.. Mas mau tanya sesuatu tapi mas minta kamu jawab jujur." kata Zaid dengan wajah sendu.
"Iya mas.. ada apa? "jawab Nisa menggenggam tangan suaminya.
Deg..
Annisa sangat gugup.
"Mak-Maksud kamu apa mas? "tanya Annisa ragu takut salah bicara.
"Sayang jawab jujur, siapa itu Ryan? Mas lihat dia dua kali hubungi kamu.. "tanya Zaid penuh selidik.
"Oh dia dokter.. "kata Annisa belum selesai menjelaskan namun dipotong Zaid.
"Jadi benarkah dia dokter kulit yang menangani alergi kamu? Jadi dia tidak bohong? Kamu beneran nggak ada hubungan apa-apa sama dia kan sayang? Ku mohon sayang katakan tidak.. jika benar kamu ada apa-apa sama dia.. Hati mas akan sangat hancur.. "Zaid memberondong Annisa dengan banyak pertanyaan kedua tangannya yang besar mencengkeram lengan istrinya erat.
__ADS_1
Annisa yang menyadari suaminya cemburu menjadi ingin tertawa.Ia sangat bahagia suaminya cemburu, itu artinya Zaid benar-benar mencintainya. Ditangkupnya wajah sang suami dengan kedua telapak tangannya.
"Mas.. aku suka kamu cemburu.. "Annisa malah mengecup bibir Zaid lembut.
"Sayanggg.. aku mau jawabann..Tapi kenapa dia sangat peduli denganmu? "Rengek Zaid seperti anak kecil meminta mainan.
"Hahahhaha.. "Annisa tertawa terpingkal-pingkal.
"Kenapa tertawa? apa yang lucu? Mas sangat marah lho.. " Zaid mengerucutkan bibir tanda kesal.
"Iya.. iya.. habis kamu kayak anak kecil.. Aku berasa punya bayi gede mas.. Iya dia khawatir aku makan sembarangan dan kambuh lagi alergiku.. Dia kan tahu aku honeymoon. Jadi wajar dia bertanya keadaanku mas.. karena kemarin waktu kamu pergi aku alergi parah sampai sesak nafas..Makanya dokter Ryan takut penyakitku kambuh tiba-tiba "Annisa menjelaskan dengan kebohongan.
Ia mengambil tangan suaminya di letakkan di dada dekat jantungnya berdetak.
"Tuan Zaid Abdullah.. apakah anda bisa merasakan detak jantung saya? Jantung saya ini berdetak hanya untuk anda.. Jadi selamanya tak akan ada yang bisa menggantikan posisi anda dihati saya. .Sedangkan dokter Ryan adalah hanya dokter saya tak lebih.Apakah Tuan sekarang percaya pada istri yang cantik tiada tara ini? "jelas Annisa sambil bergurau.
"Benarkah? " Annisa mengangguk
"Sungguh? "Annisa mengangguk lagi
"Kamu nggak bohong kan? "Annisa yang gemas mencium bibir Zaid lagi.
"Iya mas.. kamulah satu-satunya untukku.."jawab Annisa penuh sayang.
"Sayang, jangan pernah berfikir buat meninggalkan aku. aku nggak akan pernah lepasin kamu sampai kapanpun.. ingat itu. "ancam Zaid memeluk Annisa possesif.
Annisa mengangguk lemah, hatinya sakit sekali jika mengingat entah sampai kapan ia bertahan dengan penyakit ini. Entah bagaimana hancurnya hati Zaid nanti jika ia meninggalkan dunia untuk selamanya.
"Maafkan aku mas.. maaf..berkali-kali aku membohongimu "gumam Annisa dalam hati.
__ADS_1
"Mas sayang banget sama kamu Nis.. "ucap Zaid lembut.
"Nisa juga sayang banget sama Mas.. "Air mata menganak sungai membanjiri kedua pipinya. Sakit sungguh sakit harus berbohong pada orang terkasih dan menjalani kehidupan yang menyeramkan ini sendirian. Sejujurnya Annisa takut, sangat takut bila Allah memanggilnya tiba-tiba tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan pada suaminya.