SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Mama Datang


__ADS_3

Pasangan yang baru saja menikmati bulan madu di Swiss dalam waktu seminggu itu kini tengah keluar dari bandara Soekarno Hatta. Keduanya berjalan beriringan dengan bergandengan tangan. Wajah mereka terlihat berseri dengan mata yang berbinar penuh cinta. Sedari tadi senyum merekah di wajah mereka berdua.. Liburan seminggu itu membuat mereka semakin lengket, Cinta mereka membuncah tanpa bisa dicegah. Segala permasalahan sudah menghilang. Sebuah kata maaf telah melenyapkan semua luka-luka hati dan rasa kecewa yang pernah ada.


Ketika masih dalam pesawat, Zaid mendapat email penting tentang pekerjaan yang mengharuskan Zaid sesegera mungkin datang ke kantor. Sehingga Kini mereka harus naik taksi terpisah karena sang suami harus segera menyelesaikan masalah di kantor. Awalnya Zaid berencana mengantar istrinya pulang terlebih dahulu baru ia menuju kantor. Akan tetapi Annisa memberi usulan agar menghemat waktu sebaiknya naik taksi sendiri-sendiri. Koper bawaan dibawa sang istri pulang ke rumah kecil mereka. Tetapi Zaid sudah berpesan kepada supir taksi agar menurunkan barang bawaan sampai si depan pintu rumah agar istrinya tak kelelahan mengangkat barang. Tak lupa ia menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang jumlahnya melebihi dari ongkos seharusnya.


"Terimakasih ya pak. "ucap Annisa tersenyum pada supir taksi yang sudah mengantarkan sekaligus membantu mengangkat barang sampai depan pintu sesuai amanat sang suami.


"Iya bu.. sama-sama saya permisi dulu ya bu.. "ucap supir taksi beranjak pergi dan masuk kembali ke dalam mobilnya.


Annisa segera menarik koper untuk dibawa masuk. Namun ketika ia ingin membuka pintu menggunakan kunci, ia sangat terkejut mendapati pintu rumah sedikit terbuka tidak terkunci. Hatinya berdegup kencang ia sangat takut. Jangan-jangan selama ditinggal di Swiss rumah kemalingan atau kerampokan. Pikir Annisa.


Ia memberanikan diri masuk, ketika ia melangkahkan kaki betapa terkejutnya ia melihat mama mertua duduk di sofa dengan wajah yang dingin. Terlihat aura kemarahan menyelimuti mama Zaid.


Dengan takut-takut ia mendekat ke mertuanya,dengan susah payah ia menelan salivanya. ia mengingat kembali kedatangan mertuanya hari itu yang dipenuhi amarah. Hati Annisa menciut seketika.


Annisa ingin menjabat tangan mama mertuanya dan mengucap salam. Namun ketika ia mengulurkan tangan, tiba-tiba Rahma menepis tangan Annisa dengan sangat kasar.


"Sudahlah.. Tak perlu lagi bertingkah seperti menantu dan istri yang baik.. "bentak Rahma. Suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Annisa semakin menciut. Penolakan yang dia terima dari mama mertua membuat hatinya hancur. Dengan segala daya dan upaya ia menahan air mata yang hampir lolos dari kedua bola matanya.


"Assalamualaikum ma.. "ucap Annisa setelah mendapatkan penolakan dari Rahma.


"Langsung saja pada intinya.. mama nggak mau bertele-tele.. "Ucap Rahma dingin tanpa menjawab salam dari menantunya.Annisa diam saja tak berani menjawab perkataan mertuanya. Ia menundukkan pandangan selayaknya narapidana.


"Mama minta kamu segera pergi dari rumah ini, dan tinggalkan Zaid.. "perintah Rahma setelah berdiri membelakangi menantunya. Seakan-akan ia muak melihat wajah menantunya.

__ADS_1


"Mama yang akan mengurus perceraian kalian dan kamu tinggal tanda tangan, jangan khawatir mengenai harta gono gini, mama pastikan kamu mendapatkan jumlah yang layak.. " tambah Rahma kemudian.


"Maaf ma.. Sampai kapanpun Nisa tidak akan meninggalkan mas Zaid, Nisa sangat mencintai mas Zaid ma.. " tolak Annisa dengan halus dengan kepala yang tertunduk.


Plakkk


Rahma melayangkan sebuah tamparan keras di pipi menantunya. Annisa yang terkejut dan kesakitan hanya mampu memegang pipinya yang memerah.


"Kamu benar-benar kurang ajar.. "maki Rahma dengan wajah memerah dipenuhi amarah.


Annisa sudah tak dapat lagi menahan air matanya. Dengan deras air mata jatuh membasahi pipinya. Sungguh sakit ia menerima tamparan dari wanita yang dulu menganggapnya sebagai putri. Apa salahnya hingga mertuanya terlihat sangat membencinya? Annisa mengingat dengan jelas ketika Rahma sangat menyayanginya dan mengatakan bahwa ia beruntung punya menantu seperti dirinya. Apalagi keinginannya untuk memiliki putri yang tak pernah terwujud karena pernah mengalami keguguran sehingga sulit hamil lagi setelah melahirkan Zaid. Rahma mengatakan bahwa Annisa adalah anak perempuan yang dikirimkan Allah untuknya melalui Zaid. Dan sekarang? Wanita itu bahkan tak sudi melihatnya.


"Mama... apa salah Nisa pada mama? "tanya Annisa dengan air mata bercucuran.


"Aku kecewa padamu Nisa.. Ternyata bukan kamu tidak bisa hamil.. Tapi memang kamu tak menginginkan untuk mengandung keturunanku.. "imbuh mama Zaid dengan suara bergetar. Terlihat wanita itu sangat marah dan sangat kecewa.


Annisa tak dapat menjawab ataupun membela diri. Karena perkataan mertuanya memang benar adanya.


"Dan jangan kira aku tak tahu kalau kamu sudah menyakiti hati anakku, bahkan kamu sampai berselingkuh dengan sahabat suamimu sendiri..Dasar wanita murahan. " maki Rahma lagi.


"Nggak ma.. itu nggak bener.. Nisa tidak pernah berselingkuh dengan siapapun.. " jawab Nisa yang kini terduduk di lantai.


"Halah.. jangan pura-pura sok suci lagi.. Mama tahu segalanya, dan sekarang mama yakin kamu sudah mencuci otak anak mama sehingga Zaid berani membangkang. Benar kan? "Rahma semakin merendahkan menantunya.

__ADS_1


Annisa menangis tersedu-sedu, ia merasakan kesakitan yang luar biasa mendengar tuduhan demi tuduhan keji yang dilontarkan oleh mama mertuanya.


"Pokoknya mama nggak mau tahu.. Segera keluar dari rumah anakku.. Dan sekarang jangan pernah panggil aku mama lagi..Aku tidak sudi mempunyai anak atau menantu seperti kamu.. "kata-kata Rahma lagi-lagi menghancurkan hati Annisa.


"Nggak ma.. Annisa tidak akan pernah meninggalkan suami Annisa..Sampai kapanpun kami tidak akan bercerai.. "tolak Annisa dengan tetap lembut menahan rasa sakit hati. Ia tetap berupaya menahan diri agar tetap menghormati mama mertuanya.


"Kamu pikir kamu siapa Heh? Kalau aku bilang kalian harus berpisah ya berpisah. Kamu cepat pergi dari rumah ini dan jangan membawa apapun dari rumah ini karena ketika kamu datang juga tak membawa apapun.. Jangan sekali-kali kamu menghubungi apalagi merayu anakku lagi "Rahma mendorong Annisa sekuat tenaga hingga Annisa tejungkal.


"Pergi.. aku bilang pergi.. "teriak Rahma histeris.


Akhirnya untuk menghindari dari gunjingan tetangga , Annisa mengalah. Ia melangkah pergi dari rumah itu setelah mengambil dompet dan ponsel miliknya yang berada di dalam koper.


"Berhenti. " perintah Rahma.


Ia mendekat dan mengambil paksa dompet dan ponsel Annisa. Segera di ambil kartu kredit dan ATM milik Nisa. Uang dalam dompet juga di ambilnya menyisakan selembar uang seratus ribuan saja.


"Ponsel ini yang belikan Zaid kan? jadi kamu tak boleh membawanya, juga kartu-kartu ini.." rampas Rahma dengan kejam.


"Ma.. ATM itu tabungan Nisa sendiri..Tolong mama kembalikan pada Nisa.."Annisa menghiba dengan mengatupkan kedua tangan.Memang benar, ATM itu berisi tabungannya selama bekerja tak ada satu sen pun uang suaminya. Annisa membutuhkan kartu itu untuk membayar biaya pengobatan.


"Enak saja.. Ini uang anakku.. buruan pergi dari sini..baju kamu biar pembantu yang antar.. Jangan berani membawa apapun.. cepat pergi.. "usir mama Zaid lagi.


Dengan air mata berlinang dan hati yang hancur Annisa meninggalkan rumah yang penuh kenangan manis dan pahit bersama suaminya. Hatinya begitu hancur melihat kekejaman mertuanya. Ia juga bingung karena uang tabungan satu-satunya juga dirampas. Ia yang tidak berdaya diusir dari rumah sendiri. Ponsel juga diambil mertua. Ditangannya hanya ada seratus ribu. Dia bingung harus pergi kemana. Kalau ia pulang ke rumah dengan keadaan seperti itu pasti ayah dan ibunya akan terkejut. Tapi ia tak dapat lagi berpikir jernih. Hanya satu hal dipikirannya kali ini. Pulang ke rumah.

__ADS_1


"Aku tak pernah menyangka kalau akhirnya jadi begini, aku tak bisa menepati janjiku untuk selalu bersamanya dan tidak akan pernah meninggalkannya. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Ponsel uang semua diambil.. bagaimana caranya aku memberitahu mas Zaid" Batin Annisa dengan begitu pedih.


__ADS_2