
Zaid masih memikirkan ide dari Ferdi, sesungguhnya hatinya sangat bimbang menggunakan cara yang murahan seperti itu. Tapi tak ada cara lain yang terpikir olehnya agar gadis itu mau menerimanya. Ia sngat frustasi melihat penolakan gadis itu, apalagi sejak ia ketahuan. Gadis itu selalu menghindarinya.
Berpuluh kali ia mengirim pesan whatsapp agar dapat berbicara dari hati ke hati, namun tak ada satupun pesannya yang dibalas Annisa.Setiap ia mengirimkan pesan hanya akan tertera tanda centang dua berwarna biru. Huh, wanita yang sangat keras kepala begitu pikirnya. Ketika ia membuat panggilan juga tak sekalipun mendapat jawaban dari Annisa.Ia sering mengajak Annisa makan siang diluar berdua disaat tak ada staf lain, tapi hanya penolakan demi penolakan yang ia dapatkan. Pun ia sering mengajak Annisa berkencan di akhir minggu hanya sekedar makan atau menonton film dengan dalih ingin lebih dekat dan saling mengenal, tapi lagi-lagi ia mendapatkan penolakan yang menampar keras hatinya. Ia juga sudah berhenti memberikan hadiah-hadiah kecil kepadanya karena dengan tegas Annisa menyatakan bahwa ia merasa tak nyaman dengan tindakan atasannya itu.
Dia berakhir disini dengan rencana licik untuk menarik simpati orang tersayangnya itu. Ia sudah merencanakan matang-matang rencana perampokan palsu dengan Ferdi sahabatnya yang akan membantunya. Sesuai dengan rencana awal Ferdi akan menggunakan penutup kepala pura-pura merampok Annisa. Setelah dirasa rencana akan berjalan mulus, Zaid segera menjalankan misinya.
Hari itu telah tiba, pada akhir minggu ini kebetulan pekerjaan yang harus dikerjakan Annisa banyak. Ia menyuruh bawahan kesayangannya itu untuk bekerja lembur.Dengan alasan laporan-laporan harus sudah siap hari senin. Padahal pekerjaan itu sebenarnya masih memungkinkan untuk dikerjakan pada hari senin. Annisa ingin menolak dengan, tapi jika ia menolak maka dia termasuk kategori karyawan yang tidak profesional hanya karena masalah pribadi ia menghindar dari tugasnya.Untuk menghilangkan kecanggungan Annisa berniat akan diam saja dan berusaha agar bisa menghindar dari bosnya.
Disini, dikantor yang sudah sepi dua insan dengan dada bergemuruh menahan rasa di dalam hatinya. Rasa canggung semakin meliputi keduanya mengingat hanya ada mereka berdua didalam gedung bertingkat lima yang cukup besar.Untung saja tak ada apapun yang terjadi seperti yang dikhawatirkan Nisa. Ternyata dia profesional juga ya, batin Annisa sambil mencuri pandang kearah bos tampannya. Ada sedikit rasa aneh yang bersarang dihatinya, Ia merasa perasaan yang menggelitik didalam relung kalbunya.Tapi ia buru-buru menepiskan pikiran-pikiran aneh yang melingkupinya. Ia mencoba mengingkari hatinya dengan berpikir rasional dengan menyadarkan diri sendiri bahwa dia dengan Zaid dipenuhi dengan ketidakmungkinan.
Waktu menunjukkan pukul 21.00 malam. Zaid berkata kepada Annisa bahwa sebaiknya mereka mengakhiri pekerjaan sampai disini dulu saja mengingat hari sudah larut. Mereka juga sudah melewatkan makan malam. Zaid menawarkan makan malam bersama sambil membereskan dokumen dan menyimpan file-file pentingnya di flashdisk miliknya, namun dengan tegas namun sopan Annisa menolak. Ia juga menawarkan untuk mengantarkan Annisa pulang, namun hanya penolakan yang ia dapatkan. Ia hanya pasrah, namun dalam hatinya ia berdebar karena Ferdi sudah menunggunya di depan untuk menjalankan misi rahasia mereka.
Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju tempat Annisa menunggu taksi online yang sudah dipesan, Zaid memaksa untuk menemani Annisa sampai taksi datang, dengan dalih hari sudah malam jadi dia mengkhawatirkan keselamatan karyawannya. Mereka berjalan dalam keheningan tak sepatah katapun keluar dari mulut keduanya. Zaid sudah mengirimkan pesan ke Ferdi untuk menjalankan aksi mereka.
Sesampai ditempat menunggu, tiba-tiba ada seseorang yang memakai penutup kepala sambil menodongkan sebilah pisau ke arah mereka. Orang berpisau itu menarik paksa tas tangan Annisa, Ia menjerit ketakutan.
"Hei.. serahkan tas ini kalau kamu mau selamat.. "ancam orang itu
"Jangan macam-macam kamu, berani-beraninya mengancam wanita, sini hadapi saya. " kata Zaid sok gentle.
Dengan sigap Zaid berusaha menolong Annisa, ia berusaha merebut tas itu dan terjadilah adegan tarik-menarik antara keduanya. Zaid mengedipkan matanya memberi tanda kepada pria bertutup kepala itu untuk mendekat dan berpura-pura dipukul Zaid. Zaid mengepalkan tinjunya dan ingin memukul perampok itu. Namun apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Pria berpisau itu menghujamkan pisaunya berkali-kali ke perut Zaid.
Darah segar mengalir dari perut Zaid,ia tumbang seketika. Annisa berteriak histeris ketakutan ketika dilihatnya perut Zaid bercucuran darah segar dengan luka yang cukup menganga lebar.
Perampok itu melarikan diri karena ketakutan setelah menusuk Zaid, Annisa berteriak minta tolong berharap ada yang membantunya untuk membawa Zaid yang sudah kehilangan kesadaran ke rumah sakit dengan segera. Annisa meletakkan kepala Zaid dipangkuannya, air mata membanjiri kedua matanya, ia sangat ketakutan dan shock.Ia memandang wajah Zaid yang mulai pucat dan matanya terpejam dengan pilu
Ferdi yang melihat sahabatnya bersimbah darah dipangkuan Annisa yang berteriak sambil menangis berlari menuju kearah mereka seraya melepas penutup kepala, ia melemparkan pisau palsu yang tadinya akan digunakan untuk menodong Annisa ke sembarang tempat. Badan Ferdi gemetaran ia tak menyangka recana perampokan pura-pura menjadi kenyataan dan sekarang sahabatnya menjadi korban rencananya sendiri.
__ADS_1
Dengan gemetaran Ferdi menelpon ambulan, kemudian ia melepaskan kemeja kotak-kotaknya dan mengikatkan ke perut Zaid beharap darah berhenti mengalir darisana. Ia juga merasakan ketakutan yang sama dengan Annisa, tanpa terasa airmatanya juga mengalir di pipinya membasahi wajahnya yang sedikit kasar dan pucat pasi. Perasaan menyesal juga melingkupi hatinya, andai saja dia tidak memberikan ide bodoh ini sahabatnya tidak akan berakhir seperti ini. Persetan soal kegagalan cinta yang di alami Zaid ia tak peduli, toh luka hati akan membaik seiring waktu. Rencana sialan, begitu pikir Ferdi. Ia menyalahkan dirinya, mungkin ia tak kan memaafkan dirinya kalau ada sesuatu hal yang buruk menimpa sahabat yang sudah dikenalnya selama lebih dari 10 tahun itu.
Ambulan datang 10 menit kemudian, dengan kecepatan penuh melaju melarikan Zaid kerumah sakit. Didalam ambulan Ferdi dan Annisa duduk menemani Zaid dengan mulut komat-kamit merapalkan doa-doa agar Zaid diberikan keselamatan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Akhirnya ambulan sampai juga di rumah sakit terdekat, terlihat perawat menyiapkan blankar untuk segera membawa Zaid ke UGD.
Ketika Zaid ditangani dokter dan petugas medis, Nisa menangis tersedu-sedu diruang tunggu menyalahkan dirinya sendiri .Ia memandang kedua tanganya yang berlumur darah.Lalu ia menangis dan menangis lagi dan tak henti-hentinya ia berdoa dalam hati, ia sangat takut sesuatu yang buruk menimpa atasannya.Ia baru menyadari bahwa ia juga sudah jatuh cinta pada atasannya itu. Miris ia baru tersadar setelah atasannya hampir kehilangan nyawa . Sedangkan Ferdi ke meja resepsionis untuk menyelesaikan segala urusan administrasi.
Terlihat perawat keluar dari ruang tempat Zaid ditangani, perawat menjelaskan bahwa Zaid banyak kehilangan darah dan kondisinya kritis. Annisa terduduk lemas di ruang tunggu.
Akhirnya Annisa menelepon Maya sahabatnya, ia menjelaskan apa yang telah tejadi di telepon dengan singkat. Ia sangat membutuhkan sahabatnya itu saat ini, saat dia dalam ketakutan dan kegelisahan seperti sekarang ini. Tak lama kemudian Maya datang, dia berusaha menenangkan sahabatnya. Ia memeluk sahabatnya itu dan menepuk-nepuk punggung Annisa seraya berkata semua akan baik-baik saja. Annisa merasa lebih tenang sedikit, namun dokter yang menangani Zaid tak juga keluar dari ruang penanganan.Hal itu semakin membuat pikiran Annisa semakin kusut. Ferdi yang juga sudah menyelesaikan urusan administrasi juga duduk disamping Annisa dengan harap cemas.
Karena hari semakin malam, Ferdi menyarankan Maya untuk membawa Annisa pulang kerumah. Namun Annisa menolak, tapi setelah Ferdi memberikan pengertian kepadanya barulah ia menurut untuk pulang dulu.
Keesokan paginya Annisa yang ditemani Maya menjenguk Zaid, semalaman penuh ia tak dapat tidur mengkhawatirkannya. Sehingga pagi-pagi sekali ia sudah sampai dirumah sakit.
"Pak Ferdi.. gi.. gimana keadaan Pak Zaid?? tanya Nisa gugup, rasanya badannya lemas tak bertenaga.
" Dia.. dia... huuuu... huuuu.. hu... " Ferdi semakin tersedu-sedu.
Hati Annisa mencelos seketika. Ia berlari kedalam ruangan Zaid. Dilihatnya wajah Zaid pucat pasi terdiam tak bergeming. Pecahlah tangis Annisa sambil mengguncang-ngguncangkan tubuh Zaid.
"Huhuhhuuu.. maafkan saya pak.. gara-gara saya, bapak menjadi seperti ini,.." kata Annisa sambil menangis meraung-raung.
"Semua salah saya.. kalau saja bapak nggak nolongin saya.. "Zaid diam tak bergeming
" Pak, jangan meninggal pak,, bukankah bapak belum tahu bagaimana perasaan saya yang sesungguhnya?? Apakah bapak tidak penasaran dengan jawaban saya?? " Annisa *** kuat baju Zaid sambil terisak-isak.
__ADS_1
"Pak saya mohon bapak banguunn.. Apa Bapak nggak mau nikah sama saya..Saya juga sangat mencintai bapak.. " Nisa mulai frustasi mengucapkan kata-kata diluar kendalinya dengan muka sembab.Ia menangis dan menangis.Lama ia menangis memeluk tangan Zaid, ia terkejut ketika merasakan kepalanya diusap-usap.Ia mengangkat kepalanya. Menatap tangan yang membelai kepalanya tidak lain Zaid. Ia sangat terkejut, wajahnya memerah seketika mengingat lamarannya kepada Zaid tadi. Dia berpaling sebentar menyembunyikan wajahnya yang memanas dan merah.
Sesaat kemudian ia memukul-mukul kecil dada Zaid.
"Dasar jahatt.. pura-pura mati untuk menarik simpatiku.. "kata Annisa dengan air mata yang kembali membasahi pipi cabinya.
"Aduuuhh.. aduuhhh.. " Zaid meringis mendapatkan pukulan dari Annisa. Sebenarnya sedikit pun ia tak merasa kesakitan, Ia hanya ingin mendapatkan simpati lebih dari Annisa.
" Eh maaf, maaf pak.. saya lupa bapak sedang terluka.. " kata Annisa menyesal, amarahnya tadi entah menguap kemana.
"Ehmm.. tapi kata-kata kamu tadi nggak boleh ditarik lagi ya,,,? goda Zaid sambil berdehem pelan menunjukkan sosok biasanya yang dingin.
"Kata-kata yang mana? " Annisa pura-pura lupa, pipinya bersemu merah lagi.
" Emmm.. pura-pura lupa ya?? Aku ingetin kata-kata lamaran kamu bahwa kamu mau menikah denganku. " kata Zaid
"Annisa jangan menolakku lagi, terimalah cintaku, menikahlah denganku aku berjanji akan membahagiakanmu seumur hidupku, jadilah ibu dari anak-anakku.." bujuk Zaid lagi
"Will you marry me..?? " tambah Zaid sambil membuka kotak berisi cincin berlian mungil dan sederhana tapi manis.
Annisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, air mata kebahagiaan mengalir dari ujung matanya. Zaid pun segera menyelipkan cincin itu kejari manis Annisa
"Ternyata dibalik musibah tersimpan hal yang indah. " kata Zaid dalam hati
*bersambung
beri komentar dan saran juga like ya pembaca yang baik. terimakasih sudah membaca karya saya yang masih jauh dari kesempurnaan.Maaf jika banyak typo. semoga saya dapat menghasilkan karya yang lebih baik lagi*
__ADS_1