
Kebahagiaan tiada terkira menyelimuti hati kedua insan itu yang sedang dimabuk cinta. Tak berpikir dua kali apa yang akan menghadang cinta mereka di masa hadapan nanti, tidak masalah asal selalu bersama. Mereka terhanyut akan cinta, yang mereka rasakan murni tulus dari relung hati. Tak sabar rasanya untuk segera mengucap ikrar janji suci sehidup semati.
Seminggu setelah acara lamaran di restoran itu, Zaid berencana akan mengajak kedua orang tuanya untuk meminang Annisa untuk dijadikan istri. Setelah berbincang, keluarganya menyetujui anaknya untuk menikah dengan Annisa. Keluarga Zaid sudah lumayan mengenal Annisa. Karena sewaktu Zaid pulang dari rumah sakit akibat perampokan waktu itu,dia sering datang berkunjung. Ayah dan ibu menilai Annisa adalah gadis manis baik dan sopan. Ibu Zaid sangat bahagia mendengar kabar anaknya akhirnya mau menikah mengingat anaknya sudah puluhan kali menolak untuk dijodohkan. Berkali-kali ibunya merencanakan kencan buta, semua selalu digagalkannya karena tak seorang wanita pun yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Sehingga ketika kata ingin menikah keluar dari mulut putra semata wayanya, tanpa pikir panjang mereka langsung setuju.Asalkan dari keluarga baik-baik mereka akan menuruti keinginan putranya.
Rencananya hari minggu awal bulan puasa mereka datang ke rumah Annisa.Zaid juga sudah membicarakan rencana kedatangannya dengan orang tuanya kerumah Annisa untuk melamar dengan gadis pujaannya agar mereka dapat bersiap dan tidak terkejut saat keluarganya berkunjung.
Sore itu keluarga Annisa sudah bersiap-siap menyambut calon besannya. Ibu Ida, ibunda Annisa dibantu oleh asisten rumahtangganya menyiapkan makanan dan minuman yang akan disajikan. Lukman, sang ayah sibuk memberikan instruksi kepada tukang kebun untuk merapikan taman depan rumah, sesekali ia turun tangan ikut membantu.
Annisa hanya berada dikamarnya, dengan hati gelisah ia tak sabar menunggu kedatangan calon suaminya. Berkali-kali ia melirik jam dinding dikamarnya, entah berharap waktu cepat berlalu atau agar memberinya waktu sebentar untuk menyiapkan hatinya. Ia begitu gugup satu jam lagi keluarga Zaid akan datang, dia sudah mandi namun belum juga memilih baju yang akan dikenakan untuk menyambut calon suaminya. Ia bingung mau pakai yang mana, menurutnya pakaiannya tidak ada yang bagus. Ia mempertimbangkan banyak hal, takut terlalu ketat, takut tak pantas untuknya. Ia terlalu takut akan dipandang buruk oleh mertuanya.Untung Amalia datang membawakan gamis brukat berwarna putih untuk adik tercintanya.Tak hentinya Annisa mengucap banyak terimakasih kepada sang kakak, yang menyelamatkan reputasinya di depan calon mertuanya.
Setelah berpakaian dan didandani oleh kakaknya, dia menatap bayangannya dicermin . Ia terkejut ternyata kakaknya pandai memilihkan baju untuknya dan menyesuaikan make up agar serasi dengan baju yang dipakai. Annisa merasa takjub dan puas hati menatap hasil karya kakaknya itu.
10 menit kemudian terdengar suara deru mobil masuk halaman rumah, Anisa menyibak gorden jendelanya mengintip tamu yang keluar dari mobil. Mukanya memerah seketika memandang wajah tampan laki-laki yang akan menghalalkan dirinya. Laki-laki yang sekarang mengenakan kemeja batik itu memang benar-benar tampan. Jantung Annisa semakin berdegup kencang.
__ADS_1
Setelah para tamu masuk, Annisa menutup gordennya, ia tersipu malu. Dadanya bergemuruh, baru juga dilamar udah mau pingsan kayak gini bagaimana kalau menikah nanti, batinnya dalam hati.
Ayah ibu dan Amran kakak iparnya menyambut keluarga Zaid, sedangkan Amalia masih dikamar menemani Annisa untuk bersiap.
Setelah tamu dipersilakan duduk, dan disajikan minuman. Mereka mulai mengobrol dan bergurau untuk mengurangi rasa canggung. Akhirnya orang yang dinantikan datang juga. Annisa turun dari kamarnya dengan digandeng Amalia, ia berjalan anggun sambil menundukkan kepalanya. Ia sangat gugup dan malu. Sesampai dibawah Annisa menyalami calon ayah dan ibu mertuanya. Zaid sesekali mencuri pandang kepada calon istrinya yang begitu cantik. Sikapnya itu membuat ia mendapatkan cubitan diperut dari ibunya,sambil berbisik "belum mukrim" kata ibunya sambil memelototi anak laki-laki kesayangannya itu.
" Assalamualaikum mas Lukman, niat saya sekeluarga datang kemari yang pertama ingin bersilaturahmi dengan mas sekeluarga dan yang kedua kami berniat baik untuk meminang Annisa putri bungsu mas untuk dijadikan istri anak saya Zaid Abdullah.Kami menunggu jawaban dari mas sekeluarga. "kata pak Hamdan ayah Zaid mebuka pembicaraan yang serius.
" Bagaimana nak? apakah kamu menerima lamaran kami, Apakah kamu bersedia menjadi pendamping hidup Zaid," tanya Hamdan lembut.
Annisa menganggukan kepalanya kemudian tertunduk malu dan tersenyum manis, rasanya jantungnya akan meloncat keluar saat itu juga.Rasanya ia sedang bermimpi indah.Zaid yang semula tegang menantikan jawaban Annisa seketika tersenyum lebar.
"Alhamdulillahirabbilalamiin.. " Seru semua orang yang berada diruang tamu tersebut menghela nafas lega. Akhirnya suasana lebih hangat setelah Annisa menerima lamaran Zaid. Mereka bergurau sambil menikmati makanan kecil yang disajikan karena adzan maghrib sudah berkumandang.Kemudian mereka membicarakan kapan akad nikah akan digelar. Zaid menyampaikan keinginannya untuk menikah di hari raya. Semua menyetujui keinginan Zaid. Rahma, ibu Zaid ingin mengadakan pesta pernikahan mereka diadakan secara meriah di gedung, kalau pun bukan di hari akad nikah, setidaknya ia ingin mengadakan pesta seminggu kemudian. Awalnya Annisa menolak, ia tidak ingin mengadakan pesta yang terlalu meriah tapi akhirnya ia luluh karena bujukan calon ibu mertuanya. Ia mengatakan jika ingin memberikan pesta meriah kepada anak semata wayangnya itu karena pernikahan hanya akan terjadi sekali seumur hidup.Ia memohon-mohon kepada Annisa agar setuju, akhirnya ia menurut dan mengiyakan keinginan ibu Zaid.
__ADS_1
Pertemuan keluarga itu diakhiri dengan makan malam bersama. Para orang tua sibuk makan sambil mengobrol dan sesekali terdengarlah tawa dari kedua belah pihak. Lain dengan kedua insan yang saling duduk berhadapan itu, mereka menyuap makanan dalam keheningan.Sesekali mereka beradu pandang menyiratkan rindu mereka yang menggebu dan juga keinginan untuk saling memiliki. Setiap Zaid memandanginya dengan mesra wajahnya akan memerah dan rasa panas menjalar ke wajah dan telinganya.
Setelah makan malam selesai Zaid sekeluarga berpamitan pulang. Annisa mengantarkan calon suami dan mertuanya sampai kedepan. Ibu mertuanya memeluk erat dan membelai kepalanya sebelum mereka berpisah, tak lupa Annisa mencium tangan kedua calon mertuanya. Akhirnya mereka masuk ke mobil, Rahma melambaikan tangan kearah calon mantunya. Annisa membalas dengan lambaian tangan dan senyuman.
Annisa masuk kerumah dengan perasaan yang bahagia, karena sebulan lagi ia akan menjadi istri Zaid. Ia akan menyandang nama nyonya Zaid, menjadi pendamping hidupnya.Hal yang ia idam-idamkan akhir-akhir ini.
**bersambung
terimakasih sudah membaca karya saya, semoga saya bisa menulis dengan lebih baik
maaf jika masih banyak kekurangan, kurang menarik dan banyak typo.
Amy Larahati**
__ADS_1