SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Meminta Maaf


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa Zaid mengendarai mobilnya untuk pulang ke rumah. Tak sabar rasanya ingin segera berjumpa dengan istri kesayangannya.Terbayang wajah ayu dan imut istrinya selalu tersenyum padanya, sikap bawel dan galaknya tapi manja yang hanya ditunjukkan padanya. Juga kesensitifannya yang sangat mudah menangis. Ah, ia menjadi semakin rindu. Ia pun jadi teringat perkataan Ferdi, bahwa istrinya terlihat sayu. Pasti wanita yang sangat dicintainya itu menangis setiap hari karena kepergiannya. Zaid merutuki dirinya yang secara tak langsung melukai hati istrinya. Ingin ia berlutut meminta maaf atas segala kesalahan yang telah ia lakukan. Kini ego dan harga diri ia tepiskan semua. Kemarahannya sudah menguap entah kemana.Yang tinggal hanya rasa rindu dan rasa bersalah telah meninggalkan istrinya selama sebulan lebih. Rasa bersalah atas pengkhianatannya walau hanya sekedar jalan berdua dengan Maya tak lebih. Semoga ia belum terlambat, semoga pintu maaf masih terbuka untuknya.


Sepanjang perjalanan tak hentinya air mata mengalir dari pelupuk mata, namun sesekali senyuman tersungging diwajah tampannya. Ia bahagia akan segera bertemu namun sekaligus takut, takut Nisa tak memaafkannya dan takut kehilangan istrinya untuk selamanya. Ia menyesali kebodohannya yang telah menyiksa dirinya sendiri maupun istrinya. Padahal ia tahu kalau ia takkan bisa hidup tanpa Annisa. Terlebih waktu itu baru sehari mereka baikan setelah setahun lamanya dalam kehampaan, ia malah mengamuk dan memilih untuk menghindar dengan pergi dari rumah. Andai waktu dapat terulang kembali ia ingin melakukan yang terbaik.Namun berandai-andai hanya percuma tak ada gunanya. Maka sekarang lah waktunya ia memperbaiki segalanya.


Dua puluh menit terasa sangat lama untuknya. Seakan perjalanan dari apartemen Ferdi ke rumahnya ditempuh dalam beberapa jam. Begitulah namanya rindu dapat menghilangkan akal sehat manusia. Sungguh Zaid tak sabar ingin segera sampai dirumah.


Setelah sampai dirumah, segera ia memarkirkan mobilnya dihalaman rumah. Ia tak sempat memasukkan mobil ke garasi karena tergesa-gesa ingin masuk rumah. Namun ia masih ingat untuk mengunci kembali pintu pagar.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Keadaan rumah itu sangat lengang seperti tak berpenghuni. Hanya lampu halaman yang menyala , begitu Zaid masuk ke rumah keadaan dalam gelap gulita. Ia menyalakan lampu di ruang tamu kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Masih sama seperti waktu ia meninggalkan rumah. Dan tetap bersih tentunya, karena ia tahu istrinya rajin membersihkan rumah.


Ia melepaskan sepatunya dan meletakkan di rak sepatu. Pelan-pelan ia menaiki tangga menuju kamar tempat istrinya berada. Dibukanya pintu kamar yang ternyata tidak dikunci dengan hati hati takut mengagetkan penghuni kamar. Lagi-lagi keadaan gelap gulita. Hatinya begitu teriris karena setahunya istrinya sangat takut dengan kegelapan. Ia masuk tanpa menyalakan lampu. Ia mendekat ke ranjang dan samar dilihatnya sosok yang dirindukan tidur membelakangi dirinya. Namun terdengar isakan-isakan kecil yang hampir tak terdengar namun Zaid dapat mendengarnya. Tak terasa airmata mengalir ke pipinya, hatinya serasa diremas kuat. Sakit sungguh sakit melihat istrinya tidur sambil menangis. Lagi-lagi Zaid merutuki dirinya yang menjadi sebab kesedihan istrinya.


Dibaringkannya tubuhnya di dekat istrinya. Zaid melingkarkan tangannya diperut anisa. Ia menyandarkan kepalanya di tengkuk sang istri kemudian di kecupnya pelan. Ia merasa de javu dengan situasi ini.


"Maafkan aku sayang" gumam Zaid berulang-ulang.


Annisa yang tidur terlelap terkejut karena merasakan kecupan bibir yang terasa dingin dan lembut ditengkuknya. Ia menarik diri dari pelukan Zaid dan duduk, karena terkejut ia mendorong sosok yang memeluknya sekuat tenaga. Zaid pun terjungkal ke belakang.


"Si-Siapa kamu..?Beraninya kamu peluk-peluk aku "Tanya Annisa ketakutan. Ingin rasanya ia berteriak minta tolong.


" Ini aku sayang.. suamimu.. " kata Zaid sambil menangis. Dinyalakannya lampu meja dekat ranjang.


" Mas.. " Kata Annisa lirih menundukkan kepala.


" Sayang, Mas minta maaf sama kamu.. " Zaid menangis tersedu-sedu.


" Nggak ada yang perlu dimaafkan mas.. karena Annisa yang salah.. Aku tahu mas sangat kecewa padaku yang tak bisa memberi keturunan.. " jawab Nisa lemah. Air mata mulai membanjiri pipinya.


" Sayang.. please maafin aku.. Aku akan terima kamu apa adanya, dengan atau tanpa keturunan Mas terima sayang.. Mas nggak peduli kalau kamu nggak mau punya anak.. asal Mas tetep sama kamu.. Maafin aku sayang.. Kembalilah padaku.. " Zaid menghiba merengkuh tubuh istrinya dan dipeluknya erat. Annisa diam membeku tak membalas pelukan itu.


" Tapi mas.. Aku ini tidak sempurna untukmu.. Aku hanya akan mengecewakanmu.." Tak sempat Annisa melanjutkan kata-katanya langsung dipotong oleh Zaid.


" Nggak sayang, kamu terbaik untukku aku nggak bisa hidup tanpa kamu aku bisa gila.. kamu mau maafin aku kan.. " kata Zaid. Ia semakin mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


"Iya mas.. aku mau maafin kamu.. aku juga nggak bisa hidup tanpamu.. Rasanya sebulan ini begitu menyiksaku.. Please jangan pergi lagi dari rumah ini.. Aku juga minta maaf mas.. belum bisa menjadi istri yang terbaik untukmu.. " Kini Annisa memeluk suaminya dengan erat.


" Iya sayang.. kita mulai lagi dari awal lagi ya sayang.. Jangan ada yang disembunyikan lagi. " mendengar kata Zaid seketika wajah Nisa pias, Ia belum bisa mengatakan rahasianya pada suaminya. Maaf sayang, aku belum bisa jujur, Aku tak tahu bagaimana mengatakannya.Batin Nisa.


" Tapi mas.. untuk masalah pil KB Nisa belum bisa cerita sekarang.." kata Annisa sendu, nampak luka yang sangat dalam dari sorot matanya.


Sebenarnya dibanding masalah pil KB Zaid lebih penasaran tentang siapa sosok Ryan yang menelepon istrinya saat itu. Namun ia tak ingin merusak suasana yang sudah susah-susah ia perjuangkan saat ini. Akhirnya Zaid memilih untuk diam dan tak mau mengungkitnya lagi. Mungkin benar hanya seorang teman yang tak dikenal Zaid.


" Nggak papa sayang.. Mas akan menunggu kamu sampai kamu siap menceritakan segalanya.. Aku percaya kamu sayang.. "


Mereka berpelukan dan sama-sama menangis dalam waktu yang lama. Kini rasa sakit, marah kecewa telah hilang seketika. Hanya ada ketenangan dan ketenteraman dalam hati keduanya.


Setelah keduanya tenang, rasa canggung pun datang. Bagaimana memulai pembicaraan setelah sebulan lebih tak saling bicara.


" Mas... "


" Sayang"


Ucap mereka berbarengan. Keduanya tertawa.


Zaid mengecup kening kedua mata pipi hidung dan bibir Nisa. Kemudian ditariknya Annisa agar duduk didepannya dan dipeluk erat istrinya dari belakang. Ia meluapkan semua rindu yang ditahannya selama ini.


" Manisku.. aku merindukanmu.. sungguh rindu.. Sampai rasanya aku bisa gila... " Kata Zaid sambil mendekap Annisa dari belakang. Annisa menyandarkan tubuh kecilnya di dada suaminya.


" Aku juga mas.. " kata Nisa sambil memejamkan mata menikmati kehangatan suaminya.


" Mas.. "tanya Annisa lagi.


" Hemm.. " Zaid sibuk menghirup aroma shampo dirambut Annisa.


" Mas waktu ketemu aku di kafe kok bisa sama Maya? "tanya Annisa.


Zaid seketika menghentikan kegiatannya. Ia menjadi gugup apa yang harus ia katakan. Kalau ia jujur ia takut istrinya akan marah lagi dan tak mau memaafkannya. Akhirnya ia memilih untuk berbohong saja.

__ADS_1


" Emm.. kebetulan kami ketemu dijalan sayang.. kenapa memangnya..? Kamu cemburu?" tanya Zaid menggoda istrinya.


"E Enggak.. siapa juga yang cemburu" elak Annisa.


"Hahhaha.. Istriku kalau cemburu makin manis deh" Goda Zaid lagi sukses membuat wajah Annisa memerah.


" Apaan sihh. "Annisa pura-pura cemberut. Padahal hatinya sangat bahagia menikmati momen ini.


" Trus ngapain kamu ketemu Ferdi..?Jangan-jangan..." Zaid sengaja menggoda Annisa tak melanjutkan kata-katanya.


" Aku..Aku.. " Annisa sangat malu ingin mengatakan kalau ia mengantar makanan untuknya serta mengambil baju kotornya.


Zaid pura-pura pasang wajah marah. Namun ketika melihat wajah istrinya yang gugup tak bisa menahan tawanya


"Hahaha"


"Kok ketawa sihh?" tanya Annisa bingung.


" Aku tahu kok kamu nganter makanan buat aku, kamu juga nyuciin baju aku.. " Kata Zaid tak hentinya tersenyum.


" Kamu sengaja godain aku ya... " Spontan Annisa mencubiti perut suaminya dengan gemas.


" Aduhh aduhh sakit sayang.. udah dong.. " pinta Zaid.


"Dasar mas Ferdi, aku udah pesan jangan kasih tahu.. malah dikasih tahu.. " Gumam Annisa pelan.


" Aku malah berterimakasih sama Ferdi sayang, kalau dia nggak jelasin sama aku..mungkin aku nggak akan menyadari kesalahanku dan mungkin aku masih bodoh diluar sana mengabaikanmu.Maaf ya sayang.. " Zaid mengeratkan pelukannya.


" Iya.. iya... udah puluhan kali kamu minta maaf.. "


Akhirnya dengan kejujuran dan keterbukaan membuat hubungan mereka membaik.Karena kunci sebuah hubungan adalah kejujurab dan kepercayaan. Semoga setelah kejadian ini mereka dapat hidup berbahagia.


Malam itu mereka lewati dengan penuh kebahagiaan. Seperti kemarau yang tersiram hujan. Rasa dahaga akan cinta telah hilang seketika tersiram air hujan.

__ADS_1


__ADS_2