
Pertemuan kedua Zaid dan Annisa membuat Zaid semakin tergila-gila dengan Annisa. Ia mulai merencanakan sejuta cara untuk memikat hati gadis itu. Ia sangat yakin akan mendapatkan hati gadis yang selalu menghiasi mimpi disetiap malamnya. Gadis yang berhasil menggenggam jantung hatinya.
Zaid sudah menyelidiki latar belakang Annisa diam-diam. Ia begitu senang mengetahui Annisa ternyata adik ipar Amran yang notabene masih sepupu jauhnya. Dan dari info yang ia terima ia mengetahui bahwa gadis itu single dan belum pernah berpacaran. Ia semakin memantapkan hatinya untuk segera memiliki gadis itu. Kalau saja bisa ia ingin segera membawa kedua orang tuanya ke rumah gadis itu untuk meminang, tapi ia ingin memikat hati gadisnya terlebih dulu. Ia ingin membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Bukankah sangat indah jika menikah atas dasar saling mencintai? begitu pikirnya.
Rencana demi rencana ia jalankan. Zaid selalu datang pagi-pagi sekali sebelum para stafnya datang untuk memberikan kejutan untuk Annisa di setiap harinya. Ia kadang memberikan sebuket bunga, boneka cokelat dan lain-lainnya. Ia selalu menyelipkan sebuah kertas berisikan kata-kata romantis yang ditujukan kepada Annisa. Ia mengungkapkan kekagumannya, menyatakan kalau sudah jatuh cinta kepada gadis itu. Tapi disetiap memberikan buket dia tak pernah menulis namanya. Zaid hanya menuliskan inisial namanya 'Z'.
Annisa yang setiap hari menerima buket bunga bingung, siapa gerangan orang yang mengirimi dia bunga. Ia berusaha mengingat-ingat apakah ia punya teman atau kenalan yang namanya berawalan huruf Z. Tapi sampai pusing kepalanya mengingat, ia merasa tak punya teman yang mempunyai nama awalan dengan huruf Z. Begitu juga dengan rekan sekantornya, tak satu pun pria atau wanita yang berawalan huruf Z. Satpam depan namanya pak Zul. Tapi mana mungkin laki-laki yang berusia lima puluh tahun lebih itu, akan mengiriminya barang-barang dan merayu dengan kata-kata romantis. Begitu pikir Annisa.
Tiba-tiba ia mengingat kalau manajer barunya bernama Zaid, dia terkejut atas pemikirannya sendiri. Ia menepuk-nepuk kepalanya agar ia sadar dirinya siapa. Tidak mungkin Tuan perfect dan sekiller itu menyukainya. Ia bagaikan gunung es yang susah untuk mencair. Apalagi Annisa ingat beberapa hari lalu ada wanita cantik dan seksi datang ke kantor. Wanita itu mencoba merayu atasannya itu. Tapi jangankan tertarik, laki-laki itu sangat ketus dan mengusir wanita seksi itu. Apalagi dirinya yang tidak cantik, seksi juga tidak. Jadi sangat tidak mungkin atasannya akan tertarik padanya. Jangankan tertarik menoleh pun belum tentu sudi, batin Annisa masih dalam lamunan panjangnya. Kalau pun itu kerjaan orang iseng masa iya kasih barang barang yang so sweet, tiap hari pula. Semakin pusing Annisa memikirkannya.
"Cieee ... seneng banget ni ye? Yang setiap hari dapat surprise. Dapat kata-kata romantis dari penggemar rahasia. Aku juga mau tapi sayangnya nggak ada yang mau ngasih aku." Maya berusaha menggoda sahabatnya yang sedang melamun itu. Godaan itu dibalas Annisa dengan toyoran di kepala Maya.
"Aduuuhh, sakit tahu?" Maya pura-pura kesakitan sambil memegang kepalanya kemudian berbicara lagi, "Aku heran siapa yang bisa-bisanya tertarik sama cewek model kayak kamu ... udah dekil galaknya minta ampun melebihi emak-emak galau."
"Berisik deh! Aku lagi mikir nih siapa ya yang ngirim ini semua? Dibanding rasa bahagia malah lebih ke rasa takut tahu? Bayangkan bagaimana coba kalau orang yang ngasih ini punya maksud tertentu?" kata Annisa sambil melipat kedua tangan di dadanya.
"Positif thinking dong Non. Siapa tahu yang suka kamu cowok tajir yang kaya raya dan super duper tampan. Apa nggak seneng tuh kamu?" kata Maya .
"Iya kalau ganteng, kalau misalnya orangnya hitam tonggos terus tompelan gimana ?" kata Annisa bergidik ngeri.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Annisa keduanya malah tertawa terbahak-bahak. Untung masih jam istirahat, jadi suasana di ruangan itu masih sepi. Karena para karyawan masih makan siang. Namun tanpa mereka sadari ada sepasang mata dan telinga yang memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan mereka berdua dengan senyum di wajahnya. Laki-laki itu merasa akan segera berhasil menaklukkan hati gadis itu. Mengingat ia berhasil membuat gadis itu penasaran dengan kejutan-kejutan yang ia buat. Setelah cukup lama mendengarkan pembicaraan Annisa dan Maya, Zaid kembali ke ruangannya. Takut kepergok staf lain, karena jam istirahat hampir habis.
"Nis, aku punya ide untuk mengetahui siapa pengirim barang-barang ini," ucap Maya sambil menunjuk tumpukan bunga boneka dan cokelat yang Zaid berikan.
"Ide apa May?"
"Eits ... tapi yang bermutu ya? Jangan kayak biasanya, ide kamu gila dan nggak masuk akal," kata Annisa sedikit meragukan rencana Maya.
"Bagaimana kalau kamu besok berangkat pagian sekitar jam setengah tujuh. Kamu ngumpet tuh di dekat lemari. Kamu kan kecil jadi pasti muat ngumpet situ. Dari meja sini kan nggak kelihatan, tapi dari almari itu bisa memandang ke segala arah. Jadi tahu deh siapa yang ngirim semua ini," ucap Maya menjelaskan rencananya.
Annisa terdiam sebentar, Maya pikir sahabatnya itu tidak menyetujui rencananya. Mengingat Annisa susah untuk datang lebih awal ke kantor dan sering menganggap ide - idenya konyol. Tapi yang membuat terkejut ternyata Annisa malah ingin mencoba rencana Maya.
"Kalau orang itu mengantar sendiri akan aku tangkap basah, semoga bukan kurir tapi orangnya mengantarnya sendiri," batin Annisa.
Lima menit berlalu tidak ada apa-apa. Sepuluh menit satu lalat pun tidak nampak. Lima belas menit suasana masih sunyi senyap.
Ia merasa akan menyerah, kakinya mulai pegal berdiri di ruang sempit itu. Baru mau melangkahkan kaki keluar dari persembunyiannya, ia mendengar suara derap langkah dari arah pintu. Buru-buru ia menarik badannya masuk di sela-sela lemari. Ia menahan nafasnya, jantungnya berdetak kencang dengan tangan kanannya ia menutup mulutnya.
Annisa terkesiap, terkejut dengan apa yang dilihatnya. Untung ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya, kalau tidak pasti dia sudah berteriak. Ia menatap tak percaya ke arah manajer barunya itu. Ia sungguh tak menyangka orang itulah yang memberikan hadiah-hadiah dan mengungkapkan perasaan padanya. Ternyata memang benar inisial 'Z' itu berarti Zaid.
__ADS_1
Dilihatnya laki-laki tampan itu meletakkan sebuket bunga mawar merah di meja Annisa dengan senyum yang mengembang. Laki-laki itu baru membalikkan badannya ingin menuju ruangannya, tapi langkahnya terhenti mendengar suara yang familiar di telinganya. Suara wanita yang ia dambakan yang selalu menggetarkan relung hatinya.
"Oh ... jadi selama ini Bapak yang meneror saya dengan mengirim banyak hadiah-hadiah ya?" ucap Annisa keluar dari persembunyiannya. Ia tidak menyangka pengintaiannya membuahkan hasil. Dan hasilnya sangat mengejutkan. Laki-laki itu memutar badannya memandang gadis yang menurutnya sangat cantik dan imut. Sebenarnya ia terkejut dan sangat malu karena ketahuan. Tapi ini malah akan menjadi kesempatannya untuk semakin mendekati gadis itu.
"Maksud kamu saya meneror kamu bagaimana ya?" Zaid berkata sedikit dingin dan sedikit tak tahu malu seperti biasanya karena sudah kepergok.
"Bapak kan yang mengirimi semua ini? Apa maksud bapak sebenarnya?" kata Annisa dengan suara yang mulai meninggi.
"Ehm, karena kamu pun juga sudah tahu tidak ada yang perlu saya tutup-tutupi lagi. Saya melakukan semua ini karena saya tertarik sama kamu sejak pertemuan kita di pesta waktu itu," kata Zaid dengan suara datar.
"Pesta?" Annisa mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat di mana mereka bertemu. Sekelebat ingatan tentang cowok yang menumpahkan minuman di bajunya muncul diingatannya. Ternyata laki-laki itulah yang sekarang menjadi bosnya.
"Jadi Bapak yang menumpahkan minuman itu ke saya? Pantas saya sepertinya familiar dengan wajah Bapak. Tapi bercandaan bapak dengan mengatakan tertarik dengan saya itu tidaklah lucu. Saya tidak mempan untuk dikerjai," kata Annisa tegas.
Laki-laki itu tersenyum manis. Senyum yang bahkan belum pernah dilihat Annisa selama sebulan lebih ini, semenjak kedatangannya sebagai manager baru. Ia semakin yakin lelaki itu sedang mengerjainya. Tapi ia terkejut mendengar jawaban dari mulut laki-laki yang menjadi atasannya itu.
"Aku tidak sedang mengerjaimu. Aku rasa aku jatuh cinta padamu. Aku belum pernah merasakan debaran seperti ini sebelumnya. Aku hanya merasakannya ketika dekat denganmu. Aku ingin lebih mengenalmu. Maukah kamu menjadi pacarku? Atau aku akan langsung kerumahmu untuk meminang," kata Zaid serius.
Annisa sangat terkejut mendengarnya, hatinya berdebar tak menentu. Ia merasakan panas di wajah dan kedua telinganya. Ia sangat malu mendengar kata-kata atasannya. Dia merasa belum siap untuk menanggapi ungkapan perasaan Zaid. Ia masih bimbang dengan perasaannya antara mau menerima atau mau menolak. Untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut Annisa berlari keluar dengan dalih ingin pergi ke toilet.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya permisi ke toilet sebentar." Annisa berlari meninggalkan Zaid.
Zaid memandang punggung Annisa sambil tersenyum-senyum. Ia sangat yakin akan segera mendapatkan apa yang diinginkannya.