
Zaid mengerjapkan mata setelah dua jam lamanya ia tertidur. Segera ia meraba kasur disebelahnya. Namun yang dicarinya tidak ada. Ia bangkit dan memakai boxer miliknya. Dengan telanjang dada ia menuju ke kamar mandi, yang ia cari juga tidak nampak di ruangan kecil itu. Ia berkeliling ke seluruh ruangan dan sama saja tak dijumpainya sosok yang ia cari-cari.
Ia kembali ke kamarnya dan menyadari bahwa koper milik wanita kesayangannya sudah menghilang. Ia yakin ketakutannya kini menjadi kenyataan, hatinya begitu pedih. Ia merasa telah gagal menjadi suami. Dan semua janji-janjinya akan membahagiakan sang istri sudah hancur. Ia sudah menyakiti hati wanita itu terlalu dalam. Semua kesalahannya tak akan termaafkan lagi.
"Ya Allah..apa yang sudah aku lakukan" ucap Zaid menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan.
Bayangan pertengkarannya dengan Annisa kembali berputar jelas di ingatannya. Tak cukup dengan itu ia melampiaskan kemarahan pada istrinya dengan begitu kejam. Ia menyakiti wanita itu lahir batin. Kini hanya keputusasaan yang ia rasakan.
Ia berjalan ke arah nakas dan menjumpai sepucuk surat yang ditulis oleh Annisa. Ia membaca dengan seksama, hingga akhir kalimat yang menyatakan istrinya akan menggugat cerai barulah ia menangis tersedu-sedu.
*Assalamualaikum mas,
Annisa tahu Annisa bukan istri yang baik buat mas Zaid,
Maaf jika kehadiran Annisa dalam hidup mas hanya menjadi sebuah luka,
Maafkan aku yang tak pernah bisa membahagiakan kamu sehingga kamu mencari kebahagiaan dari wanita lain,
Mas lepaskan aku, aku akan segera mengurus perceraian kita.
Jangan pernah lagi menghubungiku apalagi mencariku.
Annisa*
Lama ia menangis dalam posisi memeluk lutut dan belum mengenakan pakaiannya kembali.
Triririing
My Wife calling
Ponsel miliknya berdering keras. Ia masih sibuk menangis tak menghiraukan panggilan yang ia yakini pasti bukan dari istrinya. Sekali dua kali berdering ia tak mau sekedar melihat. Akhirnya setelah bunyi yang ketiga kali ia mengambil ponselnya yang terletak di nakas. Ia menatap layar ponsel dengan tak percaya. Bagaimana mungkin istrinya mau menghubunginya? Namun belum sempat ia mengangkat telepon panggilan telah berakhir.
Dengan ceoat ia menghubungi nomor Annisa kembali. Dadanya bergemuruh takut Annisa tak mau menjawab panggilan darinya.
"Halo sayang.. "sapa Zaid.
"Halo selamat siang, "terdengar suara laki-laki diseberang sana. Zaid kebingungan kenapa yang mengangkat teleponnya seorang laki-laki .
"Benar ini dengan suami bu Annisa? "tanya pria itu lagi.
"Iya dengan saya sendiri, maaf dengan siapa saya berbicara ? " tanya Zaid.
__ADS_1
"Kami dari kepolisian pak, istri anda kecelakaan di area A ketika perjalanan menuju Bogor, dan kini istri anda dirawat di rumah sakit Kasih dalam keadaannya kritis.Untuk barang ibu Annisa dapat diambil di kantor polisi setempat." jelas polisi itu. Zaid sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan polisi. Sungguh ia sangat hancur mendapat cobaan bertubi-tubi hanya dalam satu hari.
"Baik pak saya akan segera kesana, terimakasih "Zaid menutup panggilan dan dengan tergesa-gesa mengganti baju ingin segera mengetahui keadaan istrinya.
***
Annisa tak sadarkan diri bersimbah darah. Satu jam kemudian Annisa beserta mobilnya baru berhasil di evakuasi karena medan yang sedikit terjal.
Mobil ambulance melaju dengan kecepatan tinggi menerobos jalanan yang untungnya cukup lengang tanpa kemacetan.Setidaknya Tuhan masih memberi kesempatan untuk selamat. Akhirnya setelah sampai di sebuah rumah sakit yang letaknya dipinggiran kota Annisa segera ditangani.
Keadaannya sangat kritis, dokter berupaya sekuat tenaga untuk menyelamatkan wanita malang itu. Ada sangat banyak luka ditubuhnya,kaki dan tangannya patah. Keadaan wanita itu benar-benar parah.
Polisi segera menghubungi Zaid, dengan melihat riwayat panggilan di ponsel Annisa. Zaid mendengar kabar itu sangat shock dan semakin merasa bersalah.
Setelah polisi memberitahu dimana Annisa di rawat, Zaid dengan segera menuju ke rumah sakit tempat istrinya dirawat.
Ia memandang tubuh istrinya yang terbaring lemah di dalam ruang ICU dari balik kaca. Tak dapat lagi ia menahan air mata mengalir dari kedua maniknya. Ia menangis. Ia menyesal, ia kecewa dan merasa penyebab keadaan istrinya sekarang adalah dirinya.
"Kasihan ya Nad wanita itu, lukanya sangat parah,kaki dan tangan juga patah. Dan yang terparah, ada penyumbatan darah di otaknya sehingga harus segera dioperasi. Entah bagaimana sakit yang dia rasakan,"ucap seorang perawat yang keluar dari ruang ICU.
"Ahh, itu nggak sebanding Ris, Lebih kasihan lagi luka gigitan di seluruh tubuhnya.Mungkin wanita itu mengalami kekerasan rumah tangga ya, Aku ngilu melihatnya..Ya ampunn kasihan.. "ucap perawat yang berhijab.
"Kelihatannya dia juga kecelakaan karena depresi.. Malangnya wanita itu" para perawat itu masih asyik mengobrol sambil berlalu dari tempat itu.
Zaid yang mendengarkan percakapan para perawat semakin hancur atas perasaan bersalahnya. Ia sadar ia telah berbuat kejam pada istrinya dan sampai kapanpun tak akan termaafkan.
"Maaf, apakah anda keluarga dari nyonya Annisa? " tanya dokter yang menangani Annisa.
"Ya dok, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya? "tanya Zaid dengan bibir bergetar. Ia sangat takut istrinya kenapa -napa.
"Ibu Annisa mengalami cedera serius tuan, Didalam kepalanya terdapat pembekuan darah jadi harus segera dioperasi. Kami memerlukan persetujuan wali dan pengurusan administrasi lain untuk mengambil tindakan operasi. "Jelas dokter.
"Saya suaminya yang akan bertanggung jawab dok, saya akan melakukan apapun demi kesembuhan istri saya. Saya mohon lakukan yang terbaik untuk istri saya. "Zaid memohon.
"Iya pak kami akan melakukan yang terbaik" kata dokter
"Oh ya pak.. maaf dengan berat hati kami juga ingin memberi kabar buruk, Janin di dalam kandungan istri bapak tidak bisa kami selamatkan. "kata dokter lagi.
Duarrrrr
Zaid linglung seketika, Kepalanya terasa berat seakan-akan dihantam dengan benda yang keras.
__ADS_1
"jadi Annisa hamil? "batin zaid tak percaya.
Dia semakin tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Dia juga merasa dialah yang membunuh anaknya. Anak yang sudah ia nantikan kini telah tiada gara-gara dirinya.
"Sus, tolong antar tuan ini dan siapkan dokumen yang diperlukan untuk kepentingan operasi"Perintah dokter pada suster membuyarkan pikiran kosong Zaid.
"Baik dok"
"Mari pak saya antar ke bagian administrasi.."
Zaid mengikuti suster dengan langkah kaki yang lemas dan gemetar.
***
Sudah dua jam semenjak operasi dimulai, namun dokter belum juga keluar dari ruang operasi. Dengan hati tak tenang Zaid mondar mandir di depan ruang operasi. Entah sudah ke berapa kali ia melangkah kesana kemari. Dengan gelisah dan hati berdebar ia menunggu operasi istrinya seorang diri. Ia belum menghubungi mertuanya. Ia tak punya nyali untuk berhadapan dengan ayah ibu Annisa. Mungkin jika orang tua Annisa tahu apa yang ia perbuat, Mertuanya tidak akan mengampuninya.
Setelah tiga jam, dokter baru keluar dari ruangan yang menggantungkan nyawa seseorang itu.
"Selamat pak, operasi berjalan lancar. Pasien sudah melewati masa kritisnya, kini tinggal menunggu pasien pulih.."kata dokter sambil tersenyum.
"Terimakasih dok, terimakasih.. "ucap Zaid menjabat tangan dokter.
Ia bernafas lega, ia tak lagi takut Annisa akan meninggalkannya, ia bahagia istrinya selamat. Kini ia akan menerima semua keputusan istrinya untuk bercerai dan menerima segala konsekuensi atas perbuatannya.
Dengan segera ia menelepon mertuanya dan menjelaskan keadaan Annisa. Namun ia masih menyembunyikan fakta bahwa semua terjadi karenanya.Karena pertengkaran yang bersumber darinya sendiri.
***
"Ya Allah nakk..Bagaimana keadaan istri kamu? "tanya ayah Annisa yang baru datang.
"Alhamdulillah operasi lancar yah, kini Annisa baik-baik saja yah.. tinggal menunggu ia siuman.."
"Sabar ya nak.. "ucap bunda Annisa menangis.
"Maafkan Zaid ya bunda.. Zaid gagal menjaga keselamatan anak bunda. "ucap Zaid menangis.
" Bukan salah kamu nak, kita hanya perlu mendoakan agar Annisa segera membaik" kata Ayah.
Kini Zaid menangis sesenggukan dipeluk oleh kedua mertuanya.
"Andai kalian tahu penyebab anak kalian seperti itu adalah aku. maafkan menantumu ayah bunda"batin Zaid.
__ADS_1