
Hari berganti hari, minggu telah berganti minggu. Seminggu lagi akan di laksanakan akad nikah Zaid dan Annisa. Persiapan demi persiapan sudah siap 90%, baru akad nikah yang akan dilaksanakan karena pesta akan dilangsungkan seminggu kemudian.
Seminggu sebelum akad nikah, Annisa sudah dipingit.Dia tidak boleh keluar rumah barang sejengkal pun. Ayah dan ibunya memaksa dia untuk mengambil cuti dari seminggu sebelum pernikahan. Seminggu pula ia tak berjumpa dengan kekasih hatinya, jangankan berjumpa sekedar menelepon atau mengirim pesan pun tak diizinkan. Handphonenya akan disita oleh sang ayah, hanya sebentar saja ia diberi izin memegang hp sekiranya ada pesan penting, itupun dibawah pengawasan kakaknya yang seminggu juga akan tinggal dirumahnya menjelang pernikahan adiknya. Memang itu sudah menjadi adat istiadat dikeluarganya. Sehingga rindu menggunung dihatinya ia begitu merindukan senyum manis di wajah tampan laki-laki berusia 30 tahun yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
Ia merasakan kebosanan yang amat sangat, Tak ada yang bisa dikerjakan, Novel-novel terbaru yang baru ia beli pun sampai habis dibacanya semua karena ia tidak ada kegiatan. Ingin membantu ibunya bekerja di dapur pun selangkah pun juga tak diizinkan.Segala sesuatu yang berkenaan dengan pernikahan sudah di atur oleh kakaknya tak ada kesempatan sedikit pun untuk berkomentar. Ia seperti ratu dirumah itu, seperti kakaknya dulu waktu menikah. Waktu itu dia iri karena kakaknya diperlakukan seperti ratu jika menginginkan sesuatu tinggal suruh , tapi ketika merasakan sendiri ternyata tidak sebegitu menyenangkan seperti yang dia bayangkan. Yang ada hanya rasa bosan menyelimutinya. Ia yang biasa menghabiskan waktu dengan bekerja merasa sangat bosan hingga ia merasa waktu berjalan sangat lambat. Namun ia merasa sedikit terhibur Maya sahabatnya kadang-kadang datang untuk berkunjung. Mengobrol dengan Maya bisa sedikit menghilangkan kebosanannya karena Maya akan berceloteh tentang banyak hal. Entah itu mengenai pekerjaan kantor, atau kelucuan dirinya dengan para gebetannya. Namun ketika Maya pulang, kesepian kembali menyerang dirinya. Terkadang Annisa membujuk agar Maya mau menginap tapi Maya menolak dengan dalih takut dimarahi ayah Annisa.Dan Annisa hanya bisa terdiam pasrah, mengetahui memang benar ayahnya takkan mengijinkan Maya untuk menginap.
Hal yang sama juga dirasakan Zaid, ia tak menyangka Annisa mengambil cuti lebih awal yaitu seminggu sebelum mereka menikah.Ia begitu merindukan gadisnya. Ia sedikit frustasi karena tidak bisa menghubungi calon istrinya.Akhirnya kekesalannya di lampiaskan kepada Ferdi sahabatnya, sungguh hal itu membuat laki-laki yang sudah berteman dengannya selama 10 tahun itu hampir gila.
Untuk menenangkan hati Zaid, Ferdi menyuruh ia menanyakan kepada ibunya soal calon istrinya.Baru kemarahannya sedikit mereda ketika ibunya menjelaskan bahwa Annisa memang sedang menjalani pingitan sehingga Zaid tidak boleh menghubunginya. Untung ia bertanya dengan ibunya dulu, karena sebelumnya ia ingin datang kerumah Annisa karena tak ada kabar darinya. Kalau sampai terjadi ia akan kehilangan muka dihadapan calon mertuanya.
Dan hari yang dinantikan akhirnya tiba juga. Pagi pagi setelah sholat id Annisa mempersiapkan dirinya. Setelah berganti pakaian kebaya yang sudah disiapkan kakaknya,ia dirias oleh juru rias pengantin.Berkali-kali ia melirik jam dipergelangan tangannya ia begitu gugup
karena hari ini ia akan menjadi istri orang. Ia akan menjalani kehidupan dengan suaminya bukan lagi dengan orang tuanya.
Setelah selesai berdandan Annisa dipakaikan kerudung putih senada dengan kebayanya. Dengan rok batik berwarna coklat tua dan kebaya putih ia sangat terlihat cantik.Ia sendiri takjub melihat pantulan wajahnya di cermin.
__ADS_1
Tak lama keluarga mempelai sudah datang kerumah Annisa karena memang menurut kesepakatan akad nikah dilaksanakan di rumah Annisa.Rombongan pengantin mulai memasuki kerumah Annisa.
Annisa menunggu akad nikah selesai dikamarnya dengan gelisah, dalam hati ia melantunkan doa-doa agar segalanya diberikan kelancaran. Ia berjengket-jengket ingin menguping prosesi akad nikah padahal acara belum mulai bahkan mempelai pria baru juga duduk. Maya yang mendampinginya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya karena heran terhadap tingkah sahabatnya itu. Huh, nggak sabaran amat padahal kurang 30 menit lagi kan ia sudah bisa bebas melakukan hal apapun karena mereka akan sah menjadi suami istri, batin Maya.
Penghulu juga sudah datang dan duduk ditempat akan dilaksanakan akad nikah. Zaid terlihat tampan dengan pakaian yang berwarna senada dengan kebaya Annisa, Ia yang baru datang kemudian duduk di depan penghulu.Disampingnya duduk pula orang tua dan sahabatnya Ferdi. Yang akan menikah hari itu adalah Zaid, tapi yang rewel sedari perjalanan dari rumah Zaid malah sahabatnya itu. Sejak pagi ia heboh menginginkan pernikahan sahabatnya berjalan sempurna. Sedangkan rombongan pengantin membawa barang-barang seserahan ketempat yang disediakan. Setelah semua rombongan duduk, akhirnya acara pun dimulai. Lukman menyerahkan kuasa kepada penghulu agar menikahkan mereka. Setelah menanyakan apakah mempelai sudah siap akhirnya ijab qabul dimulai.
"Bismillahirrahmanirrahiim, Saya nikahkan engkau Zaid Abdullah bin Hamdan Abdullah dengan Annisa Febriyanti binti Muhammad Lukman dengan mas kawin emas 20 gram dan uang sejumlah tersebut dibayar tunai.. " Ucap pak penghulu.
"Saya terima nikahnya Annisa Febriyanti binti Muhammad Lukman dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. " Ucap Zaid dalam satu tarikan nafas. Meskipun dia begitu gugup sampai tangannya berkeringat dingin dan gemetar, ia bersyukur dapat mengucapkan dengan benar dalam satu kali tarikan nafas.
"sah"
Kemudian penghulu membacakan doa-doa untuk kedua mempelai. Semua yang hadir menadahkan tangan hikmat mengaminkan doa-doa dari pak penghulu.
Sedangkan Annisa mendengarkan dari balik pintu kamarnya, meskipun samar ia dapat mendengar akad nikah berlangsung dengan hikmat.Tak terasa air mata haru mengalir dari matanya yang sebenarnya sudah ditahan dari tadi. Buru-buru ia menyekanya dengan tissue. Ia juga turut menadahkan tangannya ikut mengaminkan doa dari pak penghulu. Dalam hatinya ia berdoa agar kehidupan mereka kelak langgeng dan barokah.
__ADS_1
Kemudian Annisa turun dari kamar atas dengan digandeng oleh Maya, Ia menundukkan kepalanya malu-malu. Sang mempelai pria terpana melihat kecantikan gadis eh wanita yang sekarang sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Annisa berjalan mendekati laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya. Ia mengambil tangan suaminya kemudian mengecupnya dengan lembut,kemudian suaminya mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
Sambil mengecup kening sang istri Zaid membisikkan kata-kata dengan mesra sambil tersenyum manis
" Assalamualaikum wahai istriku"
" Waalaikum salam suamiku" Annisa menjawab lirih.Keduanya berpandangan mesra. Kemudian Zaid meraih kotak cincin dari saku celananya, Ia mengambil cincin dan menyelipkan kejari manis istrinya. Begitu juga Annisa mengambil satu lagi cincin couple itu dan dipakaikan ke jari manis suaminya. Kemudian mereka berfoto dengan menunjukkan cincin dan buku nikah mereka.
Mereka tersenyum bahagia, sangat bersyukur akhirnya cinta mereka dipersatukan oleh Allah.
Sekuat apapun kamu menolak jika sudah ditakdirkan bersama akan mengikuti jalan yang dipilihkan Tuhan.
Sekuat mana kamu mempertahankan jika Allah tidak berkendak maka kamu tidak akan sanggup untuk menahannya.
Karena kuasa Tuhan itu mutlak.
__ADS_1
**bersambung
Hari ini up double ya.. 2 episode sekaligus semoga pembaca suka. Maaf jika ada kekurangan dan banyak typo.. terimakasih buat yang sudah membaca novel saya**.