
Maya dan Ferdi yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka dibalik pintu akhirnya masuk dan bertepuk tangan kecil sambil tersenyum ikut gembira melihat kebahagiaan kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu.
" Selamat broooo... akhirnya berhasil juga mendapatkan dewi lo... " kata Ferdi memberi selamat kepada sahabatnya. Zaid menganggukan kepala dengan senyum yang mengembang.
" Gimana keadaan lo sekarang udah merasa baikkan? " tanya Ferdi lagi.
" Ye gue kan orang kuat , luka segini mah kecill.. " kata Zaid sok-sokan.Dengan nada dingin seperti biasa.
" Lo bilang luka sekecil itu? Lo nggak tau rasa takut gue sama Nisa semalam lihat perut lo. bersimbah darah, dan darahnya mengucur nggak mau berenti dan sekarang lo bilang ini luka kecil.. tau nggak bro apa yang dokter katakan? Luka itu jaraknya 3cm aja dari jantung, meleset 3 senti itu lo udah innalillah broo.. " kata Ferdi gemas.
" Yah.. nyatanya gue baik-baik aja.. dan aku malah bahagia sekarang ada Nisa disamping gue. " kata Zaid sombong.
" Jangan takabur deh pak.. untung Allah masih melindungi bapak.. " ucap Annisa.
"Iya..iya sayangku.. tapi kita kan udah jadian masak panggilnya masih Bapak, kan nggak lucu ?
" jawab Zaid lemah.
" te.. terus harus panggil apa dong? " tanya Annisa polos dengan gugup, dia merasa panas dimuka dan telinganya. Di belakangnya Maya dan Ferdi berdiri sambil menahan tawanya melihat Annisa malu-malu.
" Panggil suamiku dong.. " Ferdi nyeletuk.
"Tapi kan saya belum menikah dengan pak Zaid, mana bisa panggil kayak gitu" jawab Nisa semakin malu. Tergelaklah ketiga orang itu melihat Nisa semakin salah tingkah.Wajahnya semakin memerah bak buah tomat masak.
" Panggil mas aja,Nis..Mas akan panggil Nisa adek.. " kata Zaid lalu tersenyum.
" Cieee.. yang sekarang mas adek.. " Maya ikut-ikut menggoda Annisa. Yang kemudian dihadiahi sebuah cubitan diperutnya oleh Annisa. Sang empunya perut malah semakin terbahak-bahak.Pagi itu semua merasa berbahagia...
__ADS_1
Akhirnya setelah 4 hari dirawat Zaid sudah diperbolehkan pulang.Namun dia belum boleh bekerja, dia harus beristirahat sampai lukanya sudah pulih betul. Karena lukanya masih rawan untuk terbuka lagi. Zaid hanya bisa menurut walau dalam hatinya sudah tidak sabar untuk bekerja agar bisa dekat-dekat dengan kekasihnya.Selama Zaid di rumah sakit dan dirumah juga, Annisa selalu menyempatkan diri menengoknya sepulang bekerja. Hal itu membuat Zaid sangat bahagia dan mengurangi kebosanannya yang hanya duduk diam di rumah.
Dua minggu setelah kejadian itu Zaid mulai bekerja, walaupun kondisinya belum benar-benar pulih. Tapi karena tuntutan pekerjaan dan juga rasa bosan membuatnya ingin kembali bekerja seperti biasanya.
Ia semakin bersemangat bekerja, karena ia dapat lebih sering melihat senyuman sang kekasih. Ia mengerjakan tugas-tugasnya dibantu Annisa yang menjadi asistennya sampai ia pulih.
Sebulan setelah mereka jadian, Zaid mengajak Annisa makan malam. Ia ingin melamar pacarnya itu dengan serius dan dalam keadaan romantis.
Dia memesan restoran dengan konsep garden, Di dekat meja makan mereka terdapat kolam kecil kolam tersebut ditaburi dengan kelopak bunga mawar dan dihias menggunakan lilin berwarna merah.
Malam itu Zaid menjemput Annisa dirumahnya.Ia terpana melihat kecantikan kekasihnya itu. Dia begitu anggun dengan gaun berwarna maroon. Dengan riasan sederhana dan rambut yang di geraikan semakin menambah keanggunannya.
Annisa merasakan hal yang sama, matanya tak berkedip memandang sosok di hadapannya.Jantungnya berdegup kencang seakan-akan mau meloncat keluar. Kekasihnya itu sungguh tampan menggunakan tuxedo berwarna navy. Ia kelihatan semakin manly.
Setelah meminta izin dengan ayah ibu Annisa, Zaid membawa Annisa ketempat mereka akan makan malam.
Sesampainya di restoran Zaid masih tidak mengizinkan Annisa membuka penutup matanya, sehingga ia menuntun masuk Annisa sampai di dekat meja yang dipesan. Kemudian Zaid mengambil sebuket bunga mawar merah dan berlutut dihadapan Annisa. Dia menyuruh Annisa membuka matanya sambil menjentikan jarinya agar musik piano dimainkan.
Dengarlah bintang hatiku
*Aku akan menjaga mu
Dalam hidup dan matiku
Hanya engkau yang tunggu
Dan teringat janjiku padamu
__ADS_1
Sampai mati pasti akan ku tepati
Aku akan menjagamu semampu dan sebisaku
Karena kutahu engkaulah nyawaku..
Kuterima kekuranganmu dan ku tak akan mengeluh karena bagiku engkaulah nyawaku*..
Zaid menyanyikan sebuah lagu untuk Nisa sambil berlutut didepannya dengan diiringi alunan musik dari piano. Annisa terpana melihat kesungguhan laki-laki itu, ia menerima buket bunga itu. Jantungnya semakin tak terkendali.Tak terasa air mata merembes dari kedua pelupuk matanya. Wanita mana yang tidak bertekuk lutut jika diperlakukan semanis itu?apalagi dia lelaki tampan dan hampir sempurna. Ingin ia menghambur memeluk laki laki itu dan mengungkapkan betapa ia mencintainya. Namun, Annisa masih bisa mencoba mengendalikan dirinya.
" Annisa aku ingin mengatakan sekali lagi kepadamu kalau aku sangat mecintaimu dan aku ingin menikah dengamu, maukah kau mendampingiku sampai maut memisahkan kita? " kata Zaid sambil memegang kedua tangan Annisa. Annisa mengangguk pelan sambil tersenyum, masih terlihat air mata membasahi pipi putihnya. Sesaat kemudian Zaid mengecup tangan Annisa, dan merengkuh gadis itu kedalam pelukkannya. Ia mengecup kepala gadis itu sambil meneteskan air mata bahagia.
Zaid meregangkan pelukannya, ditatapnya wajah sang kekasih hati. Dengan lembut ia membelai wajah Annisa pelan.Kemudian dalam sentakan ia menarik Annisa kembali dan mendekatkan bibirnya kebibir Annisa, Dikecupnya pelan, Annisa terkejut namun tidak menolak apa yang laki-laki itu lakukan kepadanya. Kemudian Zaid mulai melumat bibir Annisa dengan lembut, Annisa yang belum berpengalaman hanya terdiam tanpa membalas. Zaid menggigit bibir bawah kekasihnya agar ia mau membuka mulut untuknya, Ketika Annisa tersentak dan membuka mulutnya karena gigitannya, Zaid mengambil kesempatan itu untuk memasukan lidahnya ke mulut Annisa dan membelit lidah Annisa. Ia mengecap rasa manis dari gadisnya itu. Walau gadis itu nampak kikuk Zaid sangat menyukai ciuman mereka, terasa manis lembut dan begitu hangat.
Mereka begitu lama berciuman terhanyut dalam suasana yang haru dan romantis. Malam itu seakan-akan kebahagiaan hanya milik mereka berdua.
Setelah saling melepaskan ciuman, Annisa begitu malu tidak sanggup untuk memandang laki-laki tampan yang barusan mengambil ciuman pertamanya. Zaid hanya tersenyum, ia tahu gadis yang sangat polos itu malu setelah ia menciumnya tadi.
Kemudian Zaid menarik kursi untuk Annisa dan mempersilahkannya duduk,Setelah duduk dikursinya yang berhadapan dengan Annisa, ia menjentikkan jarinya dan waitress dengan segera sudah siap membawa makanan yang sudah dipesan Zaid sebelumnya. Keduanya melanjutkan makan malam romantis yang akan diingat keduanya seumur hidup.
Dan Zaid berencana dengan segera akan datang kerumah orangtua Annisa beserta orang tuanya meminang Annisa untuk dijadikan istri. Ia tidak sabar untuk membina rumah tangga dengan pujaan hatinya.
Bersambung
semoga sukaaa..
maaf jika banyak kekurangan , banyak typo dan adegan ciumannya kurang mengena karena saya kurang pandai bermain kata-kata. terimakasih yang sudah mau membaca novel saya..
__ADS_1