SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Maya Agustina


__ADS_3

Maya Agustina POV


Aku adalah gadis yang berusia 25 tahun. Aku sahabat dekat dari Annisa Febriyanti, kami sudah bersahabat sejak empat tahun yang lalu. Dia adalah sahabat terbaikku selama aku di kota metropolitan ini. Aku berasal dari luar kota, aku hanya seorang perantau di kota ini.


Dia begitu baik padaku, ketika aku kesusahan tanpa teman atau sanak saudara di tempat asing ini, dialah yang menjadi malaikat penolongku. Dia selalu tulus bersahabat denganku tanpa pamrih. Ketika aku masih baru di sini, aku pernah kehabisan uang, dia lah orang yang membantuku. Tanpa aku harus bercerita padanya, dia selalu dapat mengetahui jika aku berada dalam kesulitan finansial. Dia menolong tanpa harus merendahkanku atau menyinggungku.


Pernah suatu ketika aku kehabisan uang karena aku harus mengirimkan sebagian besar uang gajiku karena mama di kampung sakit. Aku dengan uang yang mepet ini mencoba menghemat uang makanku, aku sering tak makan dikantor. Aku menolak setiap Annisa mengajak aku makan dikantin, aku mengatakan kalau aku masih kenyang karena makan pagi agak banyak . Dia ikut-ikutan tak makan dikantin. Kemudian esok harinya dia membawa bekal makanan yang lumayan banyak, dan membaginya denganku. Sungguh aku merasa terharu punya teman rasa saudara seperti dia.


Tak jarang ia mengajakku menginap di rumahnya. Orang tuanya pun sama baiknya padaku. Memperlakukan aku seperti putri mereka sendiri. Setiap aku berkunjung kerumahnya bundanya akan memasak banyak makanan lezat, yang hampir semua adalah makanan kesukaanku. Dan ketika aku pulang bundanya akan membekali aku dengan berbagai lauk pauk yang dapat disimpan di lemari pendingin. Bahagia rasanya diperhatikan seperti itu, Merasa seperti ibuku sendiri yang memberikan aku bekal makan.

__ADS_1


Annisa dia memang sosok menyebalkan dan galak di mata orang lain. Namun dimataku dia bukan orang yang seperti itu. Dia adalah orang terbaik yang pernah aku kenal. Dia yang tak pernah bisa benar-benar marah pada seseorang , entah dia pandai menyembunyikan kemarahannya atau dia memang penyabar. Dia adalah orang yang sangat mudah memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain.Dia juga selalu ringan tangan suka membantu orang lain dan juga murah hati.


Ketika di pesta pernikahan Amalia, kakak Annisa .Dia begitu menyebalkan, tak henti mulutnya mengoceh mengeluh karena merasa direpotkan dengan urusan pernikahan. Namun aku tahu itu bukan kata-kata dari hatinya. Mulutnya mengatakan sebal tapi berlawanan dengan matanya yang berbinar kegirangan menyiapkan segala sesuatunya.


Dipesta itu Annisa tak sengaja ditabrak oleh seorang laki-laki. Demi Tuhan lelaki itu sangat tampan. Mulutku menganga lebar, mengagumi makhluk Tuhan yang sempurna itu. Hatiku berdebar memandang wajahnya yang tampan namun terlihat dingin. Mata bulatnya, bulu mata lentik hidung mancung bibir yang sempurna. Siapa yang tak jatuh hati melihat lelaki bak pahatan yang sempurna itu.


Lelaki itu meminta maaf karena sudah menabrak Nisa dengan tulus, namun sahabatku itu malah mengomel tak jelas. Satu hal yang membuat aku sedikit kecewa adalah tatapan laki-laki itu kepada Nisa. Laki-laki itu menatapnya Intens. Aku merasakan ada ketertarikan dalam pandangan matanya yang tak berkedip memandang Nisa yang acuh tak acuh. Benar-benar gadis bodoh mengacuhkan laki-laki yang penuh dengan pesona itu. Tidakkah dia terpesona dengan laki-laki yang sempurna ini? Kenapa bukan aku yang mendapat tatapan cinta seperti itu? Aku sungguh iri kepadanya.


Aku semakin sebal kepadanya saat dia sok jual mahal dengan mas Zaid. Huh, kalau aku jadi dia tak perlu pikir panjang aku akan menerimanya menjadi kekasihku dengan senang hati. Apa yang harus dipertimbangkan ketika seorang laki-laki mapan, tampan dan baik hati bilang akan melamarmu? kalau aku jadi dia akan kuterima langsung dan segera kuikat dengan tali pernikahan agar tak direbut wanita lain. Panas hatiku melihat ia main tarik ulur. Dan kadang terang-terangan menolak mas Zaid. Mas Zaid terlihat kecewa dengan penolakannya, hatiku serasa diremas melihat kesedihannya.Sehingga aku memberi nasehat pada Annisa agar dia menerima cintanya.Kulihat Annisa juga sudah mulai jatuh cinta pada mas Zaid tapi masih ragu. Padahal sebenarnya aku tak mau melihat mereka bersama. Aku tak ikhlas.Semoga Annisa menolak dengan tegas agar mas Zaid tak mengharapkan dia lagi. Dan bisa sedikit saja melihat keberadaanku yang mencintainya.

__ADS_1


Namun setelah kejadian malam itu, harapanku pupus .Ya malam kejadian perampokan yang hampir menewaskan mas Zaid, lelaki yang kucintai. Mereka malah menjadi dekat. Aku makin sakit hati melihat mereka yang akhirnya jadian. Hatiku lebih hancur lagi ketika mereka menikah. Andai saja aku yang di posisi Annisa.. aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Menjelang pernikahan mereka aku sedikit frustasi. Aku tenggelam dalam kesedihan karena sebentar lagi pujaan hatiku akan menjadi milik orang lain. Ingin aku menghindar dan tak menghadiri pernikahan mereka tapi apa yang akan ku katakan pada Annisa yang sudah memohon padaku untuk mendampinginya ketika menikah. Akhirnya aku datang dan memasang wajah penuh kepura-puraan bahwa aku ikut bahagia. Padahal hatiku seakan ditusuk pisau dan berdarah-darah.


Ketika aku melihat kebahagiaan mereka aku sadar bahwa aku harus melupakannya pelan-pelan. Melupakan cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Dia sekarang adalah suami orang lain. Kesempatan untuk mendapatkannya nol persen. Memang sejak awal aku tak punya kesempatan karena hati mas Zaid adalah milik Annisa seorang. Namun melupakannya tak semudah yang ku kira, semakin aku melupakan semakin aku mencintainya.Kini aku hanya bisa menyimpan rasaku dan melihat dia dari kejauhan. Oh malangnya nasibku.


Setahun pernikahan mereka, mas Zaid terlihat berbeda. Dia lebih sering uring-uringan. Dia terlihat murung dan sedih. Apa yang terjadi? rasa penasaranku menggunung tapi bukan kapasitasku untuk ikut campur urusan pribadinya. Akhirnya aku diam tak bertanya apa-apa. Namun dalam hatiku mengutuk kebodohan sahabat ku yang aku yakini sebagai penyebab kemurungan lelaki pujaanku. Andai ia menikah denganku akan kulimpahi ia dengan kebahagiaan.Takkan aku memberikan kesedihan untuknya.


Hari ini aku melihat dia makan sendirian di kantin kantor, mukanya sangat murung lebih murung dari biasanya. Seperti tersimpan sejuta kesedihan dalam hatinya. Hatiku tak tahan lagi untuk mendekatinya mendengar keluh kesahnya. Akhirnya ku beranikan diri untuk mendekatinya, semenjak itu aku dan dia menjadi dekat. Ia mencurahkan semua perasaannya, kesedihannya padaku. Mengatakan bahwa hubungan mereka dalam ambang kehancuran. Aku berpura-pura simpati, memang benar aku juga sedih melihat keadaannya tapi hatiku bersorak atas keretakan rumah tangganya, berarti ada kesempatan buatku untuk mendekatinya. Ya aku memang jahat, tapi mau bagaimna lagi. Aku menginginkan dia menjadi milikku. Aku ingin egois sekali ini saja. Biar persahabatanku hancur asal mas Zaid menjadi milikku.


Dan segalanya semakin mulus, kami semakin dekat dan lebih sering bertemu. Walau sekedar makan bersama dan mendengar curhatannya yang kadang membuatku sebal karena yang dibicarakan hanya tentang Annisa. Aku akan tetap bersabar sampai dia berpindah hati dan melupakan istrinya itu. Aku yakin akan mendapatkan hatinya seiring kebersamaan kami. Annisa, sahabatku maafkan aku. Kamu yang menyia-nyiakan mas Zaid dan ini kesempatan aku untuk merebut darimu. Ini bukan salahku tapi salahmu sendiri.

__ADS_1


Maya Agustina POV End


__ADS_2