
"Maya..."teriak Zaid marah.
"Apa yang sudah kamu lakukan! "bentaknya penuh amarah, suaranya menggelegar memenuhi seluruh ruangan. Membuat nyali Maya sedikit menciut. Tak pernah wajah Zaid terlihat semarah itu dan terlihat sangat menyeramkan.
"Apa kamu lupa mas? Kita melakukannya tadi malam dengan penuh gairah dan panas, Setelah kamu menikmati tubuhku sekarang kamu mau memungkirinya? "jawab Maya dengan lantang.
"Brengsekk harusnya aku tak terjatuh dalam jebakanmu "umpat Zaid frustasi. Hampir saja dia ingin mencekik wanita ular yang ada dihadapannya. Namun diurungkannya karena hanya akan menambah masalah untuknya.
Segera diambil pakaian miliknya yang berserakan di lantai. Dan dengan gerakan cepat ia memakai bajunya dengan tergesa-gesa.
ia segera mengambil ponselnya dan memesan taksi ojek online agar tidak terjebak macet karena pada jam begini lalu lintas sangat padat. Ia ingin segera pulang menemui istrinya dan menjelaskan semuanya. Ia sangat takut jika Annisa akan meninggalkannya.
Tanpa kata ia keluar dari apartemen Maya. Maya sempat mencegat dan menghalangi kepergiannya. Namun dengan kasar Zaid membanting Maya ke sofa dan pergi begitu saja. Zaid tak menghiraukan teriakan Maya yang memintanya kembali.
Didalam taksi Zaid menggeram frustasi. Kenapa disaat mereka ingin memulai segalanya dari awal Tuhan selalu memberikan cobaan demi cobaan. Tak terasa air mata meleleh di pipinya. Andai saja ia tak menuruti permintaan Maya, semua tak akan jadi seperti ini.
"Semua salahku sayang, maafkan aku yang sudah menyakitimu. Semoga aku belum terlambat"batinnya putus asa.
***
Annisa mengemudi mobilnya dengan linangan air mata. Hatinya hancur berkeping-keping setelah melihat suami yang sangat ia cintai menghianatinya dengan sahabatnya sendiri. Sungguh ia kecewa, ternyata semua kata-kata suaminya bahwa ia sangat mencintainya dan ingin bersama selamanya hanyalah bualan semata.
Ia melajukan mobilnya diatas kecepatan rata-rata. Demi menghindari kemacetan ia melewati gang kecil yang menuju rumah mereka.
Sesampai dirumah ia langsung masuk ke kamar. Ia mengepak semua baju dan barangnya tak bersisa. Ia memantapkan hati ingin bercerai dengan Zaid. Terlalu banyak perbedaan dan halangan yang merintangi hubungan mereka berdua.
Annisa merasakan luka yang sangat dalam, bagaikan ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya. Air mata dan isakan kecil masih setia menemaninya mengemas barang di koper.
__ADS_1
Setelah selesai mengepak, ia duduk sebentar menangis dengan tubuh gemetaran. Sungguh ujian ini terberat baginya dibanding dengan penyakit yang ia derita.
Tiba-tiba ia melangkah ke arah nakas dekat tempat tidur. Ia melepas cincin kawinnya dan melempar ke dalam laci dengan kasar. Ketika ingin berbalik, ia tak sengaja menatap foto berbingkai yang terdapat foto pernikahannya dengan Zaid yang diletakkan diatas nakas. Dalam foto itu mereka berdua tertawa bahagia. Tiba-tiba ia marah kehilangan kendali, ia melempar bingkai foto sampai hancur.
Ia juga mengambil semua foto-foto pernikahan yang menggantung di dinding dan merenggut paksa kemudian membantingnya ke lantai.Keadaan rumah begitu kacau balau, Seperti ada perampok yang masuk rumah.
Ketika ia ingin melangkahkan kaki keluar rumah dengan membawa koper, Zaid berlari tergopoh-gopoh menghampirinya.
Zaid menahan kepergian Annisa dan menggendong istrinya masuk rumah dengan paksa.
"Nggak mau, lepasin aku brengsek.. "umpat Annisa yang dilanda emosi. Seumur hidup baru kali ini ia berkata kasar. Bahkan untuk suaminya sendiri. Tangan kecilnya memukul-mukul dada bidang suaminya. Zaid berhenti sebentar memandang suasana rumah yang begitu kacau akibat perbuatan istrinya.
Kemudian Zaid membawa istrinya ke kamar dan mengunci pintu. Ia menurunkan istrinya di ranjang dengan lembut. Zaid memeluk Annisa dengan erat tak mempedulikan penolakannya.
"Mau kamu apa mas? lepasin aku.. Jangan pernah sentuh aku lagi mas, aku mau cerai.. " Annisa meronta-ronta dan berteriak histeris.
"Dasar pembohong, penghianat.. Aku tetap mau cerai.. Aku jijik sama kamu mas.. "Annisa masih histeris dan memukul kasar dada Zaid.
Ucapan Annisa terasa seperti petir di siang bolong.Hatinya hancur mendengar ucapan istrinya yang mengatakan kalau Annisa jijik padanya membuat Zaid linglung.
Kini Zaid yang hilang kendali. Amarah dan kekecewaan melingkupi seluruh otaknya. Ia menarik paksa dan merobek baju yang dikenakan istrinya hingga telanjang bulat . Tentu saja Annisa yang bertubuh kecil kalah tenaga. Ia hanya bisa meraung-raung karena tindakan kasar suaminya.
"Jangan mas, jangan lakukan itu padaku.. Huhuhu"
Zaid mencium Annisa dengan kasar. Ia menggigit bibir istrinya dengan geram. Tak hanya itu ia juga menggigit seluruh bagian leher dan dada istrinya hingga bukan hanya tanda kemerahan yang tercipta namun juga luka-luka bekas gigitan yang begitu banyak. Tanpa mempedulikan teriakan dan permohonan Annisa yang meminta suaminya untuk mengampuninya dia terus mencumbu seluruh tubuh istrinya. Kini bukan hanya sakit hati tapi seluruh tubuhnya juga kesakitan akibat perbuatan suaminya.
Setelah melepaskan semua pakaian ditubuhnya Zaid memasukinya dengan kasar dan penuh amarah, Annisa yang sudah tidak bisa melawan akhirnya hanya pasrah terhadap perlakuan kejam sang suami.Air mata tak berhenti mengalir dipipinya membuat mata Annisa makin sembab. Zaid sendiri dengan perasaan marah dan gairah menggebu terus menghujam seakan tiada kata lelah.
__ADS_1
Setelah permainan panjangnya Zaid ambruk diatas tubuh istrinya yang masih sesenggukan. Entah karena lelah atau apa Zaid tertidur di pelukan Annisa.
Annisa yang mengetahui suaminya terlelap tidur segera mendorong tubuh suaminya kesamping. Dengan tubuh telanjang dan langkah tertatih ia menuju ke kamar mandi. Sungguh seluruh tubuh dan hatinya sangat sakit.
Ia menangis sejadi-jadinya di bawah kucuran air shower. Ia menggosok-gosok seluruh bagian yang di jamah suaminya. Baru setelah ia menggigil kedinginan ia keluar dari kamar mandi.
Ia melangkah hati-hati dan segera memakai bajunya. Ia menuliskan sebuah surat yang mengatakan bahwa ia akan segera melayangkan gugatan cerai dan juga meminta agar Zaid tak mencarinya . Ia mengambil dompet dan mengeluarkan kartu kredit dan atm yang diberikan Zaid. Ia hanya membawa atm miliknya.Dan dengan sengaja ia juga meninggalkan ponsel agar Zaid tak dapat melacak keberadaannya. Melihat Zaid yang masih tidur, ia segera pergi dari rumah itu.
"Aku bawa mobil ini mas, Agar aku bisa pergi jauh darimu Toh bagimu dan keluargamu mobil ini tak berarti apa-apa " gumam Annisa.
Ia melangkah masuk mobil dan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Ia ingin ke Bogor, tempat sepupunya berada karena jika ia pulang ke rumah dengan segera Zaid akan menemukan keberadaannya.Dan pasti akan memaksanya untuk kembali pada laki-laki itu.
Ia masih menangis pikirannya kacau dan tak bisa berkonsentrasi dalam mengemudi. Hingga akhirnya ada seorang penjual jamu yang melintas membuatnya terkejut membanting kemudi.
Duarrrr
Mobil Annisa menabrak pembatas jalan dan terjun ke jurang. Annisa kehilangan kesadaran dengan darah yang tak henti mengucur dari kepalanya. Ia tersenyum dalam keadaan tak sadar. Menertawakan kepahitan hidup yang ia jalani.
Hari ini aku update 2 episode ya.. Karena jiwa galauku lagi keluar..
Semoga pembaca suka dan tidak kecewa.
Saya author yang miskin like dan komen mengharapkan pembaca budiman mau sekedar memberikan like.Kalau ada waktu kasih like dari episode 1 dongg 😊😊 biar saya semakin semangat update.
Terima kasih atas dukungan like yang sudah diberikan.
Salam hangat dari author yang gaje. 😂😂😂
__ADS_1