SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Sesuai janji mereka kemarin Annisa dan Ferdi bertemu di kafe queen. Annisa juga tak lupa membawa semua makanan yang sudah diisikan ke dalam tupperware. Annisa sampai di kafe terlebih dahulu, mungkin karena Ferdi masih dijalan terjebak macet sehingga ia terlambat datang.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 Annisa masih setia menantikan kedatangan Ferdi yang tak kunjung muncul. Ia memainkan ponselnya untuk menghilangkan kejemuan. Di bukanya aplikasi friendbook dan melihat notifikasi yang tertera di layar tak lupa juga dia membuka pesan-pesan yang kebanyakan dari teman lama dan teman jauh.


Ia mulai bosan, kemudian dia teringat sahabatnya Maya, ia begitu merindukan sahabat yang sudah lama tak di jumpainya itu. Iseng-iseng dia membuka profil Maya, dia sedikit terkejut mendapati foto-foto Maya bersama seorang lelaki.Berarti dia sekarang punya pacar, syukurlah.. Batin Annisa. Ia menjadi penasaran dengan pacar baru Maya. Ia bertanya-tanya Kenapa semua foto Maya yang dengan pacarnya wajah lelaki itu di samarkan. Dia merasa mengenali kemeja yang di pakai lelaki itu namun dia menyangkal mungkin kebetulan saja sama dengan milik suaminya.


"Hai.. maaf ya lama menunggu, macet bangett" Ferdi duduk di depan Annisa dan membuyarkan lamunannya ketika melihat friendbook Maya. Karena Ferdi sudah datang ia menutup ponselnya dan meletakkan dia atas meja.


" Nggak papa mas.. makasih ya udah mau datang.. Mas Ferdi mau minum apa ? " Kata Annisa sambil tersenyum.


"Americano aja.. " Jawab Ferdi


Annisa memesankan minuman untuk Ferdi dan tak lupa menawarkan makan, namun pria itu menolak.


"Mas, gimana kabar mas Zaid? Apakah dia baik-baik saja? "Tanya Nisa lirih.


" Sekarang udah baik-baik aja kok Nis, jangan khawatir. " Ferdi mengulas senyumnya.


" Maaf ya Nis aku nggak berhasil bujuk dia buat pulang. Dia keras kepala banget.. Emang sih aku nggak tahu masalah kalian apa tapi apa kamu nggak sebaiknya menemuinya dan membujuknya untuk pulang.Dia kan cinta banget sama kamu aku jamin dia gampang luluh sama kamu.. " Ferdi bicara hati-hati takut Nisa akan tersinggung.


"Makasih ya mas.. tapi semuanya tidak semudah itu mas..Semuanya terlanjur rumit, semua kesalahan Nisa sendiri, mungkin mas Zaid nggak akan pernah bisa maafin aku " Nisa menunduk dan air mukanya menjadi sedih.Ferdi merasa sedih melihat Nisa yang juga sama terlukanya dengan sahabatnya. Tapi ia merasa tak pantas kalau ingin ikut campur.


" Tapi dia selalu makan tepat waktu kan mas? Dia sering begadang nggak? " tanya Nisa penuh antusias.


" Sekarang udah baik-baik aja Nis. .jarang juga dia begadang, pulang bekerja langsung tidur.. " Ferdi merasa bersalah karena sedikit berbohong karena Zaid selalu pulang larut malam dan dia tak tahu sahabatnya itu kemana.


" Tapi Nis, kamu perlu tahu waktu kalian habis bertengkar ia pergi ke klub dan minum-minum dan aku jemput dia di bar dalam keadaan mabuk berat, padahal seumur hidup dia belum pernah ketempat terkutuk seperti itu. Jadi aku yakin masalah kalian pasti berat banget ya.. Tapi aku sebagai sahabat berharap kalian bisa baikan seperti dulu lagi..Karena tanpa kamu Zaid seperti mayat hidup, tak punya semangat sama sekali" Ferdi menceritakan betapa Zaid juga tersiksa.

__ADS_1


" Mungkin nggak akan pernah bisa seperti dulu lagi.. "Gumam Annisa pelan namun masih bisa di dengar oleh Ferdi.


"Eh mas ini aku bawain masakan aku tolong kamu makan sama mas Zaid ya.. Nanti simpan aja di kulkas kalau mau makan tinggal angetin di microwave.. tapi please jangan kasih tau kalau itu dari aku.. Karena kalau dia tahu pasti dia nggak akan mau memakannya. " kata Annisa mengalihkan pembicaraan dan menyerahkan tas kertas berisi makanan.


" Oke baiklah.. tapi nggak kamu aja yang ngasih? biar dia tahu kamu masih mencintainya dan peduli padanya? " Ferdi berharap Annisa mau menemui sahabatnya yang terpuruk. Annisa menggeleng lemas. Ia takut bertemu Zaid, takut mendapat penolakan yang menyakitkan.


"Ya udah nggak papa kalau kamu belum siap" Ferdi mengerti situasi mereka masih sangat buruk.


" Sama aku boleh minta tolong satu lagi mas? " Nisa berharap Ferdi mau membantunya. Ferdi menganggukkan kepala mengiyakan permintaan Nisa.


" Setiap minggu bisa nggak mas Ferdi temui aku lagi disini, aku akan membawakan makanan untuk mas Zaid dan tolong mas bawakan baju mas Zaid yang kotor nanti biar aku cucikan, mas bilang aja kalau dianter ke laundry karena nanti aku akan suruh orang anterin baju-baju yang udah bersih langsung ke apartemen biar nggak terlalu ngrepotin. Dan tolong rahasiakan pertemuan kita"


Sekali lagi Nisa merepotkan sahabat suaminya


" Iya nis.. " dalam hati ia merutuki kesialan hidupnya yang harus berurusan dengan pasangan suami istri yang rumit ini. Ia juga takut ketahuan Zaid dan akan menjadi salah paham. Bisa-bisa dia mendapat bogem mentah dari sahabatnya jika sudah dibutakan cemburu. Namun apa daya ia tak tega melihat harapan Nisa ia pupuskan.


" Sekali lagi makasih ya mas.. maaf sudah sangat merepotkan.. Ya udah aku pamit dulu ya.. " Nisa berpamitan menjabat tangan Ferdi dan pergi meninggalkan kafe itu.


Seperti kesepakatan akhirnya Nisa dan Ferdi selalu bertemu di akhir minggu. Namun hanya sekedar minum kopi bersama kemudian serah terima baju kotor dan makanan kemudian mereka berpisah pulang kerumah masing-masing .


Hari itu minggu ketiga pertemuan mereka. Seperti biasa mereka berbincang sebentar. Nisa selalu menanyakan keadaan suaminya dengan antusias.Menanyakan apakah suaminya mau makan makanan darinya. Apakah pekerjaannya lancar.Tapi selagi asyik mereka ngobrol, Zaid dan Maya ternyata juga datang ke kafe itu. Zaid sangat marah melihat Nisa menemui Ferdi. Bisa-bisanya istrinya itu tak peduli padanya dan malah bertemu dengan lelaki lain. Walaupun Ferdi itu sahabatnya tapi dia tetap cemburu . Mukanya merah padam tangannya mengepal erat penuh emosi.


" Maya..Zaid kebetulan ketemu disini..Sini duduk sama-sama " Ferdi yang merasakan hawa panas ingin mencairkan suasana. Ia dapat merasakan emosi sahabatnya dan dari sorot matanya yang seakan mau menelannya hidup-hidup ia tahu Zaid sedang murka.. Annisa hanya menunduk diam, wajahnya pucat pasi.


"Ayok mas Zaid kita gabung sama mas Ferdi.. " Maya menarik tangan Zaid tanpa malu seolah dialah pemilik laki-laki itu. Zaid mengiyakan dengan terpaksa. Matanya tak henti memandang wajah Annisa yang menunduk.Ada rasa marah yang memuncak namun ada sebuah kerinduan yang mampu meredam amarahnya itu. Ia setuju duduk bersama karena penasaran dan juga cemburu melihat istrinya bertemu sahabatnya sendiri tanpa diketahuinya.


"Eh, Maya.. apa kabar? lama nggak ketemu ya..? " Annisa berbasa basi meredakan degup jantungnya yang menggila.

__ADS_1


" Baik Nis,, kamu sendiri gimana? Kok kurusan nis.. mukamu pucat lagi.. " Maya pura-pura peduli. Mendengar kata-kata Maya Zaid menatap wajah istrinya intens. Memang benar adanya istrinya terlihat lebih kurus dari sebulan lalu dan wajahnya sayu juga pucat. Namun ia tak mau terlihat peduli sehingga ia bungkam tak berkata apa-apa.


"Ehmm.. masak sih May... aku sehat-sehat aja kok.. mungkin agak pucat karena nggak pakai lipstik aja.. " Nisa sedikit gugup mencoba berkilah.


" Ngomong-ngomong ngapain kalian berdua disini? " tanya Maya sinis.


"Cuman kebetulan May.. kami nggak sengaja ketemu disini dan ngobrol sebentar karena udah lama nggak ketemu. Baru aja kami mau pulang eh malah ketemu kalian. " Ferdi mengambil alih pembicaraan.


" Fer, apaan tuh yang ada ditas samping lo? " Tanya Zaid curiga sambil menyilangkan tangan di depan dadanya seolah acuh.


" Tadi gue janjian ketemu mama.. dan mama yang ngasih makanan ini ke gue. . tapi mama pulang duluan kemudian gue nggak sengaja ketemu Annisa dan akhirnya kami ngobrol bentar. " Ferdi sedikit gugup karena berbohong.


Kemudian Zaid melirik tas berisi pakaian yang dibawa Nisa, namun ia tak bertanya apa-apa. Ia acuh tak acuh. Sebenarnya dalam hati ia penasaran apa yang dibawa istrinya. Namun ia tak ingin terlihat lemah. Jadi ia memilih tak menyapa atau bertanya apapun.


" Eh,, aku lupa ada janji sama bunda.. bunda mau datang kerumah jadi aku duluan ya May Mas Ferdi .. " Annisa berpamitan tanpa melihat suaminya. Segera ia mengambil tas berisi pakaian suaminya dan berlalu darisana.


" Maafkan aku mas... Maafkan istrimu yang tak berguna ini... " batin Annisa sambil berjalan keluar kafe dengan tergesa-gesa. Dia berbohong lagi untuk dapat pergi dari tempat itu, karena ia tak sanggup menahan air mata yang sudah menggenang sedari duduk dibangku kafe tadi. Kini air mata membanjiri wajahnya , tak sanggup lagi untuk ditahan agar tak menetes.


Haloo pembaca setia... terimakasih ya sudah membaca karya amatir saya ini.. Semoga walaupun banya kekurangan dan juga typo kalian tetap suka.. Kalau bagus minta like nya ya...


Oh ya selain novel ini ada 2 lagi karyaku


1 Cinta Tuan sempurna


2 Bunga Bunga Cinta


kalau ada waktu mampir ya ke karyakuu..

__ADS_1


terimakasiiiihhh


.


__ADS_2