SATU HATI SAMPAI MATI

SATU HATI SAMPAI MATI
Pil KB


__ADS_3

Zaid merasakan kebahagiaan yang sempurna setelah menikah dengan Annisa. Annisa juga merasakan hal yang sama merasa hidupnya dilimpahi kebahagiaan oleh Yang Maha Kuasa. Keduanya saling mengisi kekurangan masing-masing. Jika salah satu menjadi api maka yang satunya akan menjadi air yang mampu menenangkan hati pasangannya. Zaid dan Nisa bersyukur karena memiliki pasangan yang memahami dan menerima diri mereka masing-masing. Walau mereka belum dikaruniai anak mereka tetap sabar menanti rezeki dari Tuhan. Mereka percaya Allah akan merencanakan hal yang lebih indah. Namun kini kebahagiaan mereka tak bertahan lama. Seperti es yang mudah mencair. Kini kemesraan itu entah menguap hilang kemana.


Bukan Zaid yang berubah, malah cinta Zaid sebenarnya semakin hari bertambah kuat. Namun setelah perayaan anniversary mereka yang pertama Annisa berubah sikap padanya 180 derajat. Annisa berubah menjadi dingin dan selalu menghindarinya.


Setahun sudah hubungan mereka merenggang dan dingin. Setiap kali Zaid pulang kerja kini tak ada lagi sambutan manis dari istri tersayangnya. Tak ada lagi kecup mesra. Yang ada hanya sikap dingin istrinya. Setiap mereka berhubungan badan Nisa acuh tak acuh seperti kehilangan gairah. Ia sekedarnya saja melayani suaminya seperti tanpa cinta. Yang membuat suaminya kehilangan hasrat karena seperti bercinta dengan mayat hidup.


Jika dulu mereka akan tidur berpelukan setelah percintaan panas mereka. Kini Annisa akan memunggungi Zaid setelah ia melayani suaminya. Hal itu membuat Zaid menjadi sedih melihat perubahan istrinya. Salah apakah ia pada istrinya itu? sehingga istrinya sekarang berbuat sesuka hatinya dan selalu mengabaikannya. Padahal ia selalu menuruti setiap perkataan istrinya. Memang Annisa tetap melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga, Ia selalu melaksanakan tugasnya membersihkan rumah dan memasak untuk suaminya. Ia juga selalu menyiapkan keperluan suaminya dengan sempurna. Tapi kenapa sikapnya kepada suaminya seolah-olah seperti wanita yang dipaksa menikah dengan pria yang tak dicintai? Begitu dingin dan seperti tak berperasaan. Itu membuat Zaid semakin bingung.


Pertengkaran-pertengkaran kecilpun sering terjadi.Annisa semakin menjadi-jadi, ia sering keluar rumah tanpa izin suaminya. Tak jarang ia pulang larut malam bahkan kadang tak pulang sampai beberapa hari.


Akhir-akhir ini hubungan mereka semakin menegang. Pasalnya hari ini mama Rahma dan papa Hamdan datang kerumah. Mereka sibuk menanyakan cucu, mendesak Zaid dengan pertanyaan-pertanyaan kenapa Annisa belum juga memberikan mereka cucu? Bahkan mereka menjelekkan Annisa yang bahkan saat ini ketika mertuanya berkunjung tak menyambutnya bahkan tidak ada dirumah.Istri macam apa itu? begitu sindir mama Rahma.


Mama Rahma akhirnya mendesak Zaid agar menikah lagi. Zaid menolak ide mamanya yang menurutnya sangat gila. Ia mengatakan kalau ia sangat mencintai istrinya dan sampai kapanpun tidak akan menikahi wanita lain hanya demi mendapatkan keturunan. Ia mengatakan kalau ia dan Annisa belum dipercaya Tuhan.Tambah lagi pernikahan mereka baru juga satu tahun. Akhirnya Mereka bertengkar hebat. Mama Rahma mulai mengungkit Tiara, mama Rahma berkata kalau saja Tiara menjadi menantunya pasti sekarang ia sudah menimang cucu. Dan akhirnya papa Hamdan juga mendukung ucapan mama Rahma karena ingin segera menimang cucu.


Annisa yang ternyata baru pulang dari berbelanja mendengar pertengkaran mereka dari balik pintu yang setengah terbuka. Awalnya Annisa ingin masuk ke rumah namun mendengar pertengkaran mertua dan suaminya membuat ia mengurungkan niatnya dan akhirnya berdiri menguping di belakang pintu dengan air mata yang membanjiri pipinya. Hatinya begitu sesak mendengar percakapan mereka, apalagi mertuanya yang kini membandingkannya dengan Tiara mantan pacar suaminya. Hatinya serasa dicabik-cabik. Kakinya serasa lemas tak bertenaga. Sungguh ia sangat syok.


Terdengar suara pintu dibanting setelah Zaid setengah berteriak mengusir kedua orang tuanya, emosinya meluap-luap setelah pertengkaran dengan mamanya. Kepalanya begitu pusing memikirkan hubungan dengan istrinya yang semakin buruk dan sekarang mamanya mendesak menikah lagi. Satu hal yang tak mungkin ia lakukan. Ia takkan tega menghancurkan hati wanita yang sangat dicintainya. Untung mamanya tak tahu keretakan hubungan mereka, kalau mamanya tau pasti tak ada toleransi baginya dan dipaksa menikah lagi bahkan ia yakin mamanya akan menyuruhnya menceraikan Annisa.

__ADS_1


Mama Rahma keluar dari Rumah anaknya dengan marah-marah. Ia bahkan memaki Annisa sebagai menantu yang tidak berguna. Annisa yang merasa canggung karena menguping tadi bersembunyi di samping rumah.Ia juga belum siap untuk berhadapan langsung dengan mertuanya yang jelas-jelas sekarang tak menyukainya. Ia menyadari kalau dirinya begitu pengecut hanya bisa menghindari masalah. Hatinya semakin hancur mendengar makian mertuanya, benar ia memang istri tak berguna, pikir Annisa sambil meneteskan air mata.


Setelah mertuanya pergi ia segera masuk kerumahnya. Di masukkannya bahan makanan di kulkas. Kemudian ia membasuh wajahnya yang kusut karena menangis di wastafel dapur. Namun ia kembali menangis di depan wastafel tanpa suara karena takut suaminya tahu. Ia berpikir lama sambil berlinang air mata, kini ia memutuskan untuk tak menghindar dari suaminya. Ia takkan menyia-nyiakan suami sebaik Zaid. Biar ia egois untuk sekali ini saja.


Setelah tenang ia melangkah ke kamarnya, dia mendapati suaminya meringkuk di ranjang. Seluruh tubuhnya di balut selimut tebal. Padahal suhu diluar sangat panas bisa-bisanya suaminya tidur berbalut selimut tebal.


Annisa duduk di tepi ranjang, ingin ia menyentuh rambut suaminya yang sedikit terlihat. Namun diurungkannya, air matanya menganak sungai lagi. Namun kini ia takkan bisa menahan diri lagi, segera ia naik ke ranjang dan ikut berbaring disebelah suaminya. Disibaknya selimut tebal itu dan ikut masuk kedalam, kemudian dilingkarkan tangannya di perut suaminya.


Disandarkan kepalanya di punggung yang selama ini dirindukannya. Ia mengecup-ngecup lembut punggung suaminya yang masih terbungkus kemeja kerja.Punggung yang dirindukan siang malam selama setahun ini. Ia menangis sejadi-jadinya, air mata membuat Zaid membalikkan badan kearah istrinya.


"Sayang.. kenapa menangis? " Zaid mengusap air mata istrinya dengan kedua tangannya. Kemudian mengecup lembut kedua kelopak mata istrinya. Annisa menggeleng lemah sambil tersenyum manis.Senyum yang sudah menghilang selama setahun ini.


Akhirnya tembok yang menghalangi mereka selama setahun runtuh juga, Mereka tak dapat memungkiri kalau mereka takkan bisa hidup terpisah dan berjauhan. Mereka saling merindukan satu sama lain.


Sore yang panas itu menjadi sore yang panas pula bagi mereka setelah setahun lamanya hidup dalam perang dingin. Annisa memasang benteng tak kasat mata dengan suaminya kini merubuhkan benteng yang ia buat sendiri. Mereka begitu bergairah karena sudah terlalu lama menahan diri. Percintaan mereka menghilangkan semua prasangka dan keretakan hubungan mereka. Kini yang mereka rasakan hanya kebahagiaan dan hasrat untuk bersama yang menggebu-gebu.


***

__ADS_1


Annisa pergi mandi karena badannya terasa lengket setelah percintaan panas mereka. Ketika ia keluar dari kamar mandi dan menggosok rambutnya yang basah dengan handuk, ia mendapati suaminya dengan wajah yang memerah menahan amarah. Ia begitu takut, apa yang sebenarnya terjadi karena selama menikah ia belum pernah melihat wajah marah suaminya yang sekarang terlihat begitu menyeramkan.


"Mas... Aku udah siapin airnya.. mandi gihh.. " Annisa menghampiri dan membelai lembut lengan suaminya.Ia berusaha menenangkan suaminya yang dilanda emosi entah kenapa Annisa tak tahu sebabnya.


" ANNISA" Bentakan Zaid menggelegar memenuhi seluruh ruangan itu.


Annisa terkejut bukan main ia menarik tangannya yang sedang mengelus lengan suaminya, selama menikah belum pernah sekalipun Zaid memanggil namanya sekasar itu apalagi membentaknya. Biasanya ia akan bertutur lembut kepada istrinya. Kali ini ia membentak istrinya dengan begitu kasar, hatinya sakit bukan kepalang.


" JELASKAN, APA MAKSUD KAMU.. APAKAH HANYA AKU YANG MENGINGINKAN BUAH HATI KITA.. JELASKAN NIS, INI APA? INI PUNYA KAMU KAN? KENAPA KAMU MEMINUM PIL KB INI? SEJAK KAPAN? " Emosi Zaid meluap seketika itu juga, hatinya bergemuruh tak bisa menahan amarahnya pada istri kesayangannya itu. Bibir Nisa terkatup rapat tak tahu harus menjawab apa.


"Oh aku tahu.. pasti dalam hatimu sekarang sedang menertawakan kebodohanku yang mengharapkan keturunan darimu ya?? Jadi kamu benar-benar tak mau mengandung bayiku.. "Zaid lemas terduduk dilantai meremas bungkusan pil KB yang disembunyikan istrinya di pot bunga dekat pintu kamar mandi.


Mulut Annisa semakin terkunci rapat tak sepatah katapun keluar dari mulutnya tak ada pengelakan atau pembelaan darinya. Hanya air mata yang membanjir dari sudut matanya. Ia ikut lemas dan jatuh terduduk masih dengan bathrobe melekat ditubuhnya. Baru saja ia mengecap kebahagiaan bersama suaminya , kini ia akan kehilangan segalanya.


"Ok kalau ini mau kamu, aku akan turuti perintah mama untuk menikah lagi..biar hatimu puas. " Zaid membanting pil KB yang di remasnya ke lantai kemudian menyambar kemejanya dan pergi begitu saja meninggalkan rumah.


Hati Annisa begitu hancur tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menangis dan menangis meratapi nasib buruknya. Ia terduduk dilantai dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Oh Tuhan betapa berat cobaanmu. Annisa menjerit dalam hati.


__ADS_2