
Hmm kenapa dia tidak menembak, aku bisa saja menyapu kakinya dan membuatnya jatuh kemudian meringkusnya, tapi pasti akan menimbulkan suara dan penjaga di depan akan terpancing ke sini. Aku dan Hikari tidak masalah, yang masalah Ayame, tidak mungkin kita berdua lari dan meninggalkan Ayame. Yo, katakan sesuatu, jangan diam saja, pikir ku.
“Bocchan ? Ojouchan ?” pria di belakang ku malah berbisik.
“Siapa ?” Tanya ku.
“Todo.” Jawab nya.
Hah Todo ? katanya mereka berkhianat, lalu kenapa dia ikut jongkok dan berbisik, apa yang terjadi, pikir ku.
“Bocchan, mundur dulu, di belakang ada rumah kosong, pergi ke sana, aku temui kalian di sana, cepat, biar aku alihkan penjaga di depan.” Ujar Todo sambil berdiri dan berpura pura menaikkan resleting nya.
Todo keluar sambil membawa kantung, merapihkan celana nya, seakan akan dia habis membuang hajat besar di semak semak. Aku langsung menarik Ayame untuk pergi ke rumah kosong yang terletak di bawah bukit, Hikari mengikuti ku dari belakang. Tapi kenapa Todo malah menolong ku ? apa dia berkhianat kepada keluarganya atau memang laporan nya yang salah. Sudahlah, sebentar lagi aku akan tahu jawaban nya. Aku melompat turun sambil menggendong Ayame bersama Hikari di sebelah ku. Kita sudah sampai di rumah kosong yang di sebutkan Todo. Di dalam, aku dan Hikari langsung mengganti pakaian kita berdua dan memberikan sepucuk pistol pada Ayame.
Setelah menunggu sekitar 15 menit, ada langkah kaki seseorang mendekati rumah dan hanya seorang, aku tidak bisa mengambil resiko, tetap bersiaga penuh. Todo membuka pintu dan mengangkat tangan, di tangan nya ada sebuah kantung berisi makanan dan minuman. Dia masuk dan menutup pintu nya, kemudian,
“Ikut aku.....”
Dia berjalan melewati ku masuk lebih ke dalam. Aku, Ayame dan Hikari mengikuti nya, kita di ajak masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya ruang kerja, dia menggeser rak besar di sana dan di balik rak ada sebuah tangga untuk turun ke bawah, Todo langsung meminta kita masuk duluan sementara dia menggeser rak dari dalam untuk menutup kembali pintu nya. Aku mengajak Ayame dan Hikari mengikuti Todo yang kubiarkan jalan duluan, karena aku tidak mau di bokong dari belakang dengan jalan duluan di depan nya. Ini jalan kemana, kenapa dia bisa tahu ada jalan ini, seperti jalur pelarian untuk shogun. Setelah turun, kita berjalan menelusuri lorong yang gelap dan tidak tahu ujung nya dimana. Todo menyalakan senter nya untuk menyoroti jalan di depan. Hanya langkah kaki kita ber empat yang terdengar menggema di lorong itu, tidak ada apa apa lagi selain itu. Setelah berjalan cukup jauh dan cukup lama, akhirnya kita sampai ke sebuah tangga yang mengarah ke atas. Ternyata tangga itu cukup tinggi walau tidak terjal, seperti tangga yang di bangun khusus untuk naik ke atas bukit.
Tak lama kemudian, kita sampai ke atas, Todo membuka pintunya yang terlihat seperti dinding tapi bisa berputar. Seperti pintu rahasia yang tidak di ketahui siapa pun. Begitu masuk ke dalam, ternyata kita berada di istana osaka yang memang dekat dengan kuil yang ingin ku datangi. Todo mengajak ku lebih ke dalam dan menuju sebuah ruangan, seseorang berdiri di depan pintu.
“Ossan aku kembali.” Ujar Todo.
Aku melihat orang itu dan aku tidak percaya siapa yang kulihat, Hikari juga langsung menyimpan senjatanya.
“Manabu san ?” Tanya ku.
“Bocchan, ojouchan, kenapa kesini ?” Tanya Manabu.
Tanpa banyak bicara lagi aku berlari menghampiri Manabu dan memeluk nya, benar benar wajah yang ingin ku lihat dan tidak membuat ku tegang, melain kan lega. Setelah melepaskan Manabu san,
__ADS_1
“Jisan dimana ?” Tanya ku.
Manabu san tidak menjawab, dia menggelengkan kepala dan melirik ke dalam ruangan. Aku langsung menoleh dan melihat ke dalam ruangan, jisan sedang terbaring di tempat tidur dengan dua orang perawat yang menjaga dan mengurus nya. Ayame langsung berlari masuk ke dalam dan berlutut di samping tempat tidur. Dia melihat wajah jisan dan mengelus kepala nya. Aku berjalan masuk, aku melihat kaki dan tangan jisan di balut perban, berarti kabar dia terluka itu benar. Aku berdiri di samping tempat tidurnya sambil memegang pundak Ayame. Tiba tiba jisan membuka mata dan kaget melihat kita berdua ada di sana, aku tahu dia ingin marah, tapi sepertinya suaranya tidak bisa keluar dan hanya air matanya yang menetes.
“Maaf jisan, aku yang mengajak Ayame kesini.” Ujar ku sambil jongkok di sebelah Ayame.
Jisan tidak menjawab, dia hanya melihat saja dan akhirnya tersenyum, kemudian dia mengangkat tangan nya perlahan lahan dan menaruh nya di kepala Ayame dan kemudian kepalaku. Lalu dia menoleh ke kanan dan kiri seakan akan mencari seseorang. Jisan melihat ku dan menaruh tangan nya di atas tangan ku. Dengan jarinya, perlahan dia menulis sebuah huruf kanji, yang artinya cahaya. Aku langsung menoleh dan memanggil Hikari masuk ke dalam untuk bertemu jisan. Aku meminta nya berlutut di antara ku dan Ayame, Hikari terlihat sedikit takut dan menunduk di hadapan jisan, aku juga sebenarnya takut, kalau jisan tidak senang melihat Hikari dan memerintahkan sesuatu yang akan menyakiti Hikari. Tapi, dugaan ku salah, jisan mengangkat tangan nya dengan perlahan dan meletakkan nya di kepala Hikari yang menunduk. Aku melihat wajah Hikari yang terkejut sampai ternganga dengan air mata bercucuran dan aku melihat jisan tersenyum sambil mengangguk perlahan, syukurlah Hikari, pikirku. Setelah itu, tangan jisan masuk ke dalam pakaian nya dan mengambil sebuah amplop. Dia memberikan nya pada ku, setelah itu dia terbatuk batuk sedikit dan menatap kita bertiga.
Setelah itu jisan memandang kita bertiga sekali lagi dan melihat kelangit langit, kemudian menutup mata, mesin di samping untuk medeteksi detak jantung menjadi lurus tidak berdetak lagi. Jisan sudah berpulang dan sepertinya selama ini dia menahan nya sampai bertemu kita bertiga. Ayame merebahkan kepalanya di atas lengan jisan dan menangis tersedu sedu, aku merangkul Hikari dan memegang tangan jisan. Manabu san dan Todo masuk ke dalam, langsung menunduk. Aku membuka surat terakhir yang di berikan jisan. Isinya adalah pesan untuk meneruskan keluarga seperti yang sudah dia sampai kan sebelum nya. Jaga Ayame dan Hikari, di bawah nya, tertulis seperti ini,
“Jangan biarkan dunia tahu kalau aku sudah tiada, pegang teguh nama ku untuk mempemudah dan melindungi kamu dan Ayame ke depan nya. Ingat, masuk sarang macan jadilah macan, masuk sarang serigala jadilah serigala, jangan lengah.”
Aku memperlihatkan surat nya kepada Ayame dan dia langsung membacanya, Ayame terseyum membacanya sambil menghapus air matanya.
“Jisan banget ya....” Ujar nya.
“Ya....” Jawab ku.
“Tahu kan maksudnya Manabu san, tolong di atur semuanya, setelah selesai bawa abu nya ke kita.” Ujar ku sambil mengambil rokok di saku nya.
“Siap bocchan....” Manabu langsung pergi keluar dari ruangan.
Sekarang tinggal Todo yang ada di dalam, aku mengajak nya keluar dan mengajak nya bicara dan menyalakan rokok. Aku minta Todo menceritakan semua yang terjadi dan apa maksudnya dia ada di sini. Todo bercerita kalau keluarga nya tidak berkhianat, melainkan Kirishima yang mengambil alih keluarga nya dan membunuh papa nya, pengkhianat di dalam keluarga nya adalah adik nya yang seumuran dengan ku, alasan nya sangat sederhana dan sangat bocah, dia dendam kepada Ayame yang menolak nya ketika kelas 3 smp. Hanya itu ? dia menghancurkan segalanya hanya karena alasan itu ? menjual keluarga nya dan membunuh papanya haha. Ternyata itulah alasan Todo menjahati Ayame waktu itu dan untung nya aku ada di sana.
“Baiklah dimana dia ?” Tanya ku.
“Dia menuntun Kirishima ke kuil, tempat persembunyian awal bagi keluarga, sekarang mungkin dia ada di sana.” Jawab Todo.
“Ok, tunggu di sini. Jaga Ayame dan Hikari, kalau sampai mereka kenapa kenapa, kepala mu akan hilang.” Ujar ku.
“Siap bocchan.”
__ADS_1
Aku berjalan menelusuri lorong sambil terus menghisap rokok ku, aku menuju ke tempat kita datang tadi, begitu di dalam lorong aku berlari dengan kecepatan ku menuju rumah tempat ku datang. Dalam sekejap aku sudah sampai kembali ke rumah itu dan membuka rak nya, aku langsung menekan pakaian ku dan keluar melalui atap yang berlubang dengan melompat ke meja dan dinding. Dari atap aku kembali menaiki bukit dan kembali ke semak semak, masih ada 5 penjaga di depan, aku memanjat pohon dan dari atas aku melemparkan shuriken dan membunuh dua penjaga, tiga penjaganya langsung bersiaga dan melihat sekeliling mencari sekaligus memeriksa dua penjaga yang mati. Dengan menggunakan tali pengait dari pinggang ku, aku melompat ke gerbang kuil (torii) dan menyelinap ke atas nya tanpa terlihat. Aku sudah berada di belakang tiga penjaga yang dengan bodoh nya tetap mencari di depan dan sekelilingnya.
Wajar saja, aku menyembunyikan keberadaan ku, mereka tidak akan tahu, kecuali ninja juga. Aku turun dan langsung menghujamkan kunai ke leher seorang penjaga yang paling belakang dan menyeretnya ke balik mobil, aku memasang peledak mikro di tangki bensin itu. Dua yang tersisa makin kebingungan, seorang penjaga memutar dan aku masuk ke dalam mobil, ketika melihat teman nya tergeletak di samping mobil, dia jongkok dan memeriksanya, dari jendela aku menghujam kepala nya dengan kunai dan dia jatuh menimpa teman nya. Tinggal 1, untuk yang ini aku sengaja keluar dari mobil dan menimpuk nya dengan batu supaya menembak dan memancing penjaga yang di atas dengan suara tembakan. Begitu menoleh, dia langsung menembak sambil berteriak dan tentu saja aku sudah di belakang nya, menembak kepalanya dengan pistol yang ada di pinggang nya.
Suara teriakan dan langkah kaki terdengar menuruni tangga, aku menyelinap ke semak semak di sebelah gerbang dan naik ke atas pohon untuk berlindung, aku berlari dari pohon ke pohon menuju ke atas. Aku melihat dari atas pohon, banyak sekali yang turun ke bawah, mungkin ada 10 orang atau lebih. Biarkan saja, yang penting pemimpin nya di tinggal di atas. Aku sudah sampai di pohon terakhir di atas bukit, sepertinya semua sudah turun dan meninggalkan dua penjaga, seorang yang sepertinya bos karena sedikit gemuk penuh perhiasan dan seorang anak muda yang mungkin seumuran dengan ku. Supaya di bawah tidak naik ke atas, aku menekan remote dan “Duaar.” Satu mobil meledak, menyambar ke mobil di belakang nya dan seterusnya. Ke empat pria ke atas langsung mendekat ke gerbang untuk turun ke bawah, langsung saja shuriken menancap di kepala dua penjaga yang berada di depan bos dan pemuda itu.
Pria yang gemuk seperti bos itu mundur dan anak muda itu juga mundur, mereka berbalik dan aku sudah di depan mereka.
“Yo....” Sapa ku.
“Siapa.....” Ujar bos itu sambil memasukkan tangan ke saku jasnya.
“Sriiing....” Kepala bos itu jatuh tanpa bicara lagi dan menyisakan pemuda yang kira kira seumurku yang jatuh terduduk dan mundur ketakutan. Hee tenyata aku kenal dia, teman sekelas Ayame yang kalau melihat ku dengan mata yang bagaimana gitu kalau di sekolah, walau aku tidak tahu namanya dan tidak perlu juga tahu namanya. Sepertinya Todo jujur.
“A..ampun.....” Ujar nya dengan gemetar dan wajah yang sangat pucat, celana nya pun basah haha.
Aku menyobek jas orang gemuk itu dan membersihkan katana ku sambil mendekat padanya. Tentu saja aura intimidasi pembunuh ku keluar menghantam nya biar semakin takut. “Sriiiing...sriiiing.” Aku mengibaskan pedang ku dua kali dan kedua tangan pemuda itu terlepas sehingga tubuh nya tidak ada yang menopang lagi dan dia jatuh terlentang di tanah.
“Aaaaaa....” Teriak nya sambil melihat kedua tangannya yang ada disebelahnya.
Aku berjalan menghampiri nya dan duduk di dada nya, aku melepas masker ku dan memperlihatkan wajah ku yang tersenyum.
“Tenang, kamu tidak akan kubunuh, tapi seumur hidup kamu akan seperti ini, renungilah sisa hidup mu.” Aku menutup lagi masker ku dan “sriiing...” sebelah kaki nya putus, membuat nya pingsan. Sekarang biarlah dia hidup dengan keadaan seperti itu, kalau hidup, dengan luka seperti itu, kecil kemungkinan dia hidup.
Aku mendengar banyak langkah kaki naik ke atas. Aku langsung melompat ke atas torii dan melompat lagi ke pohon untuk turun ke bawah dan kembali menuju rumah. Tentunya aku tidak lupa menutup kembali rak nya. Singkat cerita aku sudah kembali ke dalam istana dan Hikari langsung memeluk ku sambil memukul mukul dada ku sedangkan Ayame berada di belakang nya bersama Manabu, sepertinya Todo bercerita kalau aku pergi dan membuat mereka khawatir.
“Aku pulang....” Ujar ku.
“Selamat datang kembali Ma kun bodoh....” Balas Hikari.
Aku memeluk nya dan mulai menitikkan air mata, aku menoleh ke Manabu san, dia dan para perawat sudah mengurus jenazah jisan, Ayame mendekati ku dan kita berpelukan bertiga sambil menangis, Todo dan Manabu hanya berdiri di belakang menunduk dengan hening, menunjukkan duka mendalam.
__ADS_1