Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja

Second Life : My Past Is My Future That'S Why I Become A Ninja
Chapter 53


__ADS_3

Seminggu kemudian, Haruka, Shindo, Manabu, Youko, Kyoya dan Natsume sebagai perwakilan iga, sudah tiba di kyoto. Aku menggelar pertemuan akbar pertama kali untuk clan Yashiro. Jinguji dan Houndou menjadi perwakilan kyoto dan Xin Liang mewakili taiwan. Aku di dampingi oleh Ryota aniki menyewa sebuah restoran yang mewah dan ruang vvip yang besar supaya bisa muat semua orang. Malam itu, setelah semua duduk di dalam ruangan,


“Baiklah, dengan ini rapat akbar kita yang pertama resmi di buka, topik utama kita bagaimana kita menekan clan Amagaoka dan mencegah mereka masuk ke kyoto...tidak bukan hanya kyoto melainkan seluruh jepang.”


Pembahasan pertama mengenai kekuatan yang kita miliki, dari segi bisnis, spiritual dan pasukan fisik dari geng anak sekolah sampai ninja yang rahasia. Setelah itu masing masing memberikan laporan nya. Dari segi bisnis, jelas kita menang jauh, hampir seluruh tokyo dan kota besar lainnya sudah ada bisnis kita. Yang menjadi kekhawatiran di sini adalah kekuatan pasukan mereka. Semua clan ninja kecuali iga dan kagenuma, semua di bawah kepemimpinan mereka karena kouga yang paling besar di antar semua bergabung dengan mereka. Selain itu mereka juga mendapatkan bantuan dari triad hongkong dan mafia italia. Intinya pasukan mereka bukan main main.


“Masa kun, soal ninja kouga serahkan saja pada kami....” Ujar Kyoya yang sekarang menjadi pemimpin clan iga walau tetap menjadi aktor.


“Dan soal soal gangster dan lainnya, biar kami atasi, 20 orang karateka kami bisa mengatasi 100 orang mereka.” Tambah Shindo.


“Tidak usah khawatir yang berasal dari luar negeri, saudara ku, ada aku.” Ujar Xin Liang.


“Kita bisa himpun kekuatan di setiap kota untuk menendang mereka keluar, serahkan pada ku.” Ujar Jirou.


Jujur saja, melihat semua orang di depan ku ini bersedia mendukung ku 100% seperti ini, hati ku sedikit terharu. Hikari yang ada di sebelah ku tersenyum melihat ku. Kemudian Youko menjelaskan apa saja yang dia dapat ketika menyelidiki sekte di nara, mereka adalah pecahan Amagaoka dan membentuk sekte sendiri ketika Amagaoka di nyatakan bubar dulu, sekarang mereka kembali bergabung dengan Amagaoka, selain itu bahaya nya, mereka bisa menghasut orang orang yang mudah percaya untuk menjadi pasukan mereka. Youko menyarankan kalau kita tidak bisa frontal menghadapi mereka, harus menyusup dan hancurkan dari dalam. Dia sudah mengutus beberapa orang menyusup ke dalam, tapi dia butuh pancingan yang menyerang mereka dari depan, untuk itu Takeyoshi mengusulkan kalau dia akan mengirim orang kesana dan menantang mereka dari depan tapi menggunakan jalur spiritual. Youko menyetujui nya, dia juga bilang kalau sekte sesat yang lain di nara hanya menebeng kepada Amagaoka karena sama sama bersumber pada kekotoran (kegare). Menurut Youko, pihak Jinguji bisa mengatasi nya di tambah ninja Kagenuma yang di pimpin Youko karena mereka tidak besar.


“Baiklah, kalau begitu masalah ini ku serahkan pada Youko nee san dan Takeyoshi san....terima kasih.” Ujar ku.


“Ara...siap bocchan...” Balas Youko.


“Serahkan pada kami Masamune san.....memang dari awal tujuan kita juga mau mengembalikan kondisi seperti semula dengan menekan kegare yang mulai menyebar ini.” Tambah Takeyoshi.


Untuk masalah ini aku serahkan pada mereka, karena mereka lebih ahli dalam bidang seperti ini. Setelah itu, Manabu membahas bisnis dengan ku secara pribadi dan mengatakan rencana nya untuk ke depan. Kita pindah ke ruangan lain sebentar, karena ada beberapa hal penting juga yang tidak boleh di dengar oleh yang lain, termasuk Hikari. Selain itu, dia juga memberitahu kabar mengenai Ayame yang selalu dia pantau kepadaku,


“Bocchan, Ayame ojouchan sekarang sudah resmi bercerai dari Naoto kun. Aku dapat infonya dari bekas anak buah ku, mereka semua adalah bekas anak buah Odasiga yang di ambil alih oleh ojouchan.” Ujar Manabu san dengan perlahan.


“Hmm begitu ya......lalu bagaimana keadaan ojouchan sekarang ? ada info ?” Tanya ku.


“Dia baik baik saja menurut info nya, malah sekarang dia mendukung Naoto kun bersama dengan Shizuka ojouchan supaya bisa bersama. Jujur saja, aku tidak mengerti pola pikir ojouchan.”

__ADS_1


Sayang nya aku mengerti Manabu san, dari waktu di osaka, aku sudah merasa kalau dia bersama Naoto itu demi diriku supaya aku bisa masuk ke keluarganya karena saat itu, hal itulah yang ku gembar gemborkan kepada nya dan Hikari. Tapi begitu aku memutuskan kalau aku memilih Hikari, barulah dia mencoba serius dengan Naoto. Maaf Ayame chan, biar bagaimana pun aku tidak bisa melihat mu sebagai lawan jenis selain adik. Memang benar, di kehidupan ku yang dulu, kamu adalah cinta pertama ku, tapi sekarang semua berbeda. Bukan hanya karena aku tahu kebenaran nya, melainkan memang perasaan ku sudah sangat berbeda jauh jika di banding kehidupan ku dulu. Setelah itu aku meneruskan berbincang dengan Manabu san dan kembali bergabung dengan yang lain supaya tidak ada yang curiga.


Setelah kembali ke ruangan bersama, aku menepuk tangan dan para pelayan membawakan makanan masuk, tentunya semua sudah di tes oleh pengetes racun yang kompeten. Aku mengangkat gelas,


“Demi kerjasama kita dan demi masa depan kita bersama......bersulang.”


“Bersulang (kampaii)...” Teriak semuanya.


Acara di teruskan dengan makan malam dan kemudian berbincang bincang mengenai pengembangan bisnis, pembagian dan lainnya. Selain bicara bisnis, kita juga membicarakan strategi menghadang Amagaoka supaya tidak masuk ke dalam kota. Tiba tiba saja, “Prang.” Bunyi sebuah gelas yang jatuh membuat seisi ruangan diam dan hening. Aku menoleh mencari sumber suara, ternyata yang jatuh adalah gelas yang di pegang Keiko, dia memegang perut nya yang sudah besar itu dengan wajah yang terlihat kesakitan. Air ketuban nya pecah di tengah pesta, Haruka dan Shindo yang kebetulan persis berada di sebelah nya langsung berteriak kalau Keiko akan melahirkan. Ryota langsung menggendong nya dan pertemuan pun berakhir. Acara selanjut nya langsung di rencanakan berpindah ke rumah sakit, karena semua yang ada di ruangan itu berniat pergi ke rumah sakit. Aku, Hikari, Ryota dan Keiko berangkat lebih dulu menuju rumah sakit. Begitu sampai, Keiko langsung di letakkan di tempat tidur dan para perawat mendorong nya ke ruang persalinan. Tangan Keiko tidak terlepas dari Ryota yang ikut berlari di sebelah nya. Mereka masuk lebih dulu, aku tidak bisa memaksa istri ku berlari juga karena perutnya juga sudah membesar walau masih harus menunggu beberapa bulan lagi.


“Semoga lancar.....” Hikari mengatupkan tangannya di dada dan berdoa.


“Iya, kita doakan mereka, ayo pelan pelan kita ke dalam...” Balas ku sambil menuntun Hikari.


Kita berdua berjalan menuju ruang persalinan yang cukup jauh dari pintu lobby. Ketika sampai di depan ruang persalinan, aku melihat Ryota aniki sedang duduk sambil mengatupkan tangan nya di depan ruang persalinan, dari dalam sayup sayup terdengar suara teriakan. Aku minta Hikari duduk sedikit menjauh dari ruang persalinan karena aku takut Hikari mendengar suara teriakan dari dalam walau hanya sayup sayup, tapi Hikari ngotot dia mau duduk di sebelah Ryota aniki. Aku belajar di kehidupan ku yang lalu, jangan pernah menolak permintaan istri yang sedang hamil, aku menuruti nya dan mendudukkan nya sedikit lebih jauh dari ruang persalinan walau sederet dengan tempat duduk Ryota aniki. Aku duduk di sebelah Ryota aniki dan memegang pundak nya. Aku melihat sebenarnya dia ingin masuk ke dalam tapi sepertinya tidak di ijinkan oleh perawat. Kemudian Ryota aniki berdiri, dia mondar mandir di depan ruang persalinan dan kadang berhenti di depan pintu untuk mengintip. Tiba tiba perawat membuka pintu,


“Saya....” Ryota langsung berdiri di depan perawat.


“Istri anda memanggil silahkan masuk....” Ujar perawat sambil memberikan masker.


Tanpa menunda lagi, Ryota memakai masker nya dan masuk ke dalam. Yak, aku hanya berdua di depan ruang persalinan bersama Hikari sambil berpegangan tangan dengan harap harap cemas. Tak lama kemudian, Haruka yang berada di kursi roda sambil menggendong anak nya dan Shindo yang mendorong nya datang dan menunggu bersama ku. Mereka menantikan kelahiran keponakan pertama mereka dengan cemas bersama ku dan Hikari yang juga cemas. Setelah itu, mulailah satu persatu berdatangan, yang terakhir datang adalah Tetsuya bersama Rin dan Touka, sepertinya mereka di kabari oleh Jirou. Gen juga datang bersamaan dengan mereka. Suasana menjadi ramai di depan ruang persalinan dan tidak ada perawat yang berani mengusir kita haha. Kira kira sejam kemudian,


“Oeeeek....oeeeek....oeeeek....” Terdengar suara tangisan bayi dari dalam.


Seorang perawat keluar, untuk kembali ke pos nya, aku langsung mencegatnya dan bertanya bagaimana keadaan di dalam. Menurut perawat, bayinya lahir dengan selamat dan ibunya sehat. Jenis kelamin nya laki laki dan mirip sekali dengan ayah nya, begitulah info tambahan dari perawat yang terlihat senang juga. Semua yang menunggu langsung menarik nafas lega. “Ting.” Suara lift tiba di lantai ruang persalinan, seorang pria asing kurus, mengenakan topi dan masker sehingga wajah nya tidak terlihat, keluar dari dalam lift. Xin liang yang melihat pria itu langsung menyuruh semua menyingkir dan dia bersiap siap memasang kuda kuda nya. Melihat Xin liang bersiaga, tentu saja, aku, Kyoya, Natsume dan Shindo langsung bersiaga, Haruka yang sedang membawa anak nya dan Hikari yang sedang hamil menjadi prioritas utama yang di lindungi. Pria itu mendekati Xin liang,  setelah Xin liang melihat wajah nya, dia melepaskan kuda kudanya karena sepertinya dia mengenal nya, kemudian mereka berbincang menggunakan bahasa mandarin yang aku tidak mengerti. Setelah itu, pria itu memberikan surat pada Xin liang kemudian berbalik dan pergi begitu saja tanpa berbuat apa apa.


Xin liang membaca surat nya dan wajah nya terlihat kalau dia sangat terkejut. Dia langsung menghampiri ku,


“Maaf saudaraku Masamune, aku harus kembali ke taiwan. Yang barusan datang itu adalah pembunuh bayaran yang bekerja untuk keluarga ku, ayah ku ingin bertemu dengan ku, beliau sedang sekarat sekarang, aku tidak tahu apa aku bisa keburu bertemu dengan nya.” Ujar Xin liang.

__ADS_1


“Baiklah saudaraku, langsung saja berangkat, aku akan minta anak buah ku mengantar ke bandara.” Balas ku.


Aku langsung menelpon anak buah ku dan meminta nya siap di depan lobby untuk mengantar Xin liang ke bandara. Xin liang menjabat tangan ku dan memeluk ku, kemudian dia langsung berlari menuju lift dan turun ke bawah. Aku sedikit lega karena orang yang barusan datang adalah kenalan Xin liang dan tidak mengincar salah satu dari kita di sini. Semoga Xin liang masih sempat bertemu dengan ayah nya, aku hanya bisa mendoakan nya seperti itu. Tak lama kemudian, perawat mendorong tempat tidur dengan Keiko yang masih lemas terbaring di atas nya dan di samping nya ada seorang bayi laki laki yang lucu untuk di pindahkan ke kamar mereka. Ryota berjalan di samping nya dan terlihat dia sangat bahagia, tangan nya tidak lepas dari tangan Keiko dan tangan kecil bayi nya. Semua orang yang melihatnya menjadi lega dan bersyukur karena persalinan nya lancar tanpa ada gangguan apapun. Setelah itu, kita semua yang berkumpul di depan ruang persalinan, mengikuti perawat yang mendorong tempat tidur dan Ryota menuju ke kamar mereka. Aku berjalan di paling akhir, karena aku tidak bisa memaksa Hikari berjalan cepat. Aku bersama dengan Haruka yang di kursi roda dan di dorong Shindo.


“Syukurlah aniki.....aneki....syukurlah....” Haruka menangis bahagia sambil menggendong anak nya dan membersihkan matanya.


“Iya syukurlah...” Tambah Hikari yang juga menitikkan air mata bahagia.


Aku dan Shindo hanya tersenyum, Shindo sedikit membungkuk dan memeluk Haruka dari belakang sambil mendorong nya, aku juga merangkul Hikari di samping ku sambil berjalan menuju kamar Keiko, Ryota dan bayi nya.


***


Seminggu kemudian, Ryota, Keiko dan bayi nya sudah boleh keluar dari rumah sakit. Untuk merayakan nya, aku mengadakan pesta kecil kecilan yang akan di adakan di rumah nya. Yang hadir hanya aku, Hikari, Touka, Haruka dan Shindo. Kita semua menyambut Ryota, Keiko dan anak mereka ketika masuk ke dalam rumah. Setelah memberi selamat pada keduanya,


“Aniki, anak mu di namai siapa ?” Tanya ku pada Ryota.


“Kenichi....Sawatari Kenichi.....” Jawab Ryota riang.


“Wow nama yang bagus, cocok sebagai penerus mu aniki.” Ujar ku.


“Hahahaha bisa saja kamu.....” Balas Ryota.


Akhirnya kita semua berkumpul di ruang makan dan makan bersama hidangan yang sedikit mewah bersama sama. Kita semua berbincang dengan riang gembira sambil menikmati makanan dan bersulang berkali kali. Aku melihat wajah Keiko nee san dan Ryota aniki yang terlihat sangat bahagia. Tiba tiba, “Ding dong...” Bel rumah berbunyi. Ryota berniat membukakan pintu, tapi aku mengambil alih nya. Aku berjalan ke depan dan membuka pintu nya. Ketika aku membuka pintunya, aku kaget setengah mati karena yang datang benar benar tamu yang tidak di undang.


“Mau apa kamu ke sini Shizuka chan.....” Tanya ku langsung sambil bersiaga.


“Ah aku hanya ingin mengucapkan selamat pada Keiko nee san atas kelahiran anak pertama nya...hehe.” Jawab Shizuka.


Ya, yang datang adalah Shizuka sambil membawa buket bunga dan dia di dampingi oleh Naoto yang menunduk melihat ku.

__ADS_1


__ADS_2